Gerakan Mahasiswa, Gerakan Aktivis atau Popularity Contest>

Sebuah Pengantar
Berbicara sejarah mahasiswa, khususnya di Indonesia tentunya akan terkenang sebagai pahlawan. Betapa tidak, sejak jaman penjajahan yang dipelopori oleh kaum muda priyayi, kepahlawanan mahasiswa diperlihatkan melalui berbagai aktivitas, sebut saja misalnya dengan organisasi gerakan Budi Utomo yang memelopori kebangkitan nasional dilanjutkan dengan kebangkitan pemuda. Di zaman Merdekakpun mahasiswa selalu berada di tempat yang elitis, mahasiswa masih menjadi pahlawan, katakanlah dengan angkatan 66 yang menumbangkan orde lama, angkatan 74 dengan peristiwa MALARI, dan angkatan 98 dengan lengsernya Presiden Soeharto.

Dari peristiwa-peristiwa penting yang dilakukan mahasiswa di atas membuat posisi mahasiswa begitu strategis dan diperhitungkan oleh kalangan manapun, entah itu politisi, birorat atau masyarakat umum. Sehingga suatu kewajaran apabila selama ini mahasiswa mempunyai predikat sebagai Agen Perubah Sosial (Agent social of Change) dan atau Agen Rujukan Moral (Agent Moral Force).

Status sosial agung yang disandang mahasiswa rupanya cukup ampuh dalam merubah pola pikir masyarkat, Sehingga latar belakang sosial-ekonomi —pendidikan dari mahasiswa pun beragam, tak seperti halnya pada era revolusi kemerdekaan yang notabene berasal dari kalangan priyayi atau sesudahnya yang didominasi oleh kalangan sadar pendidikan. Motivasi kuliah di perguruan tinggi kini sangat beragam, sehingga beragam pula pola pikir dan gerakan mahasiswa sehingga mahasiswa tidak berada dalam satu mainstream gerakan saja.

Memandang mahasiswa dengan menggunakan kacamata idealisme gerakan (masa lampau), akan melahirkan pandangan bahwa mahasiswa hari ini masih menempati posisi unik dan strategis. Mahasiswa dipandang sebagai sosok ideal rujukan moral dan agen perubah sosial, walaupun hanya pendobrak saja. Tapi kurang bijak, bila kita melihat entitas mahasiswa hanya dari mainstream gerakan dan idealisme saja. Di balik layar itu semua, gerakan mahasiswa tidak hanya bertumpu pada satu mainstream gerakan saja, tapi tersebar ke seluruh komponen minat bakat, menerjuni kultur hobi dan lain-lain. Di sisi lain, kalau mau kita jujur—sebelum berbicara yang lebih luas tentang kepentingan ummah, maka banyak hal yang mencengangkan perihal sikap mahasiswa, yang mesti diluruskan menyangkut sikap-sikap amoral, hal ini tidak hanya menerpa mahasiswa umum saja, tapi juga mahasiswa Islam.

Sungguh menarik apa yang telah didiskusikan dalam PR KAMPUS edisi 23 maret 2006 yang ditulis oleh saudara Usep Saefulloh, lantas ditanggapi oleh M.Ikhsan Shiddieqy dan Agustinus Ari Sutriesno pada PR KAMPUS edisi 06 April 2006 yaitu menyangkut berbagai aktivitas dan sudut pandang untuk mahasiswa Aktivis. Sayapun ingin mengomentari perihal diskusi tersebut sebab berdekatan dengan dunia saya di kampus. Saya ingin melhat dari suduit pandang yang berbeda tentang gerakan mahasiswa. Mudah-mudahan diskusi di PR KAMPUS lebih semarak.

Telaah Kritis Gerakan Mahasiswa
Tetapi walaupun beragamnya pola pikir dan kultur yang digeluti mahasiswa serta aib amoral yang menempa mahasiswa ada satu kecenderungan ideal penilaian terhadap mahasiswa yang masih melekat sebagai agen perubah sosial dan rujukan moral yang dibantu dengan pemberitaan media massa yang masih didominasi oleh gerakan mahasiswa, bukan oleh komunitas hobi, minat bakat atau komunitas kajian dam dunia kreativitas mahasiswa lainnya..

Dalam Tajuk Rencana PR edisi Sabtu, 12 maret 2005. Isu yang diangkat khusus mengomentari aksi-aksi mahasiswa, Tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya sudah menjadi peristiwa yang rutin. Aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya tidak ada skala pemilahan yang jelas, dalam kasus apa saja mahasiswa merasa layak untuk melakukan aksi besar-besaran. Lebih lanjut, tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi perlawanan terasa kurang bergema dengan menyandarkan pada kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Tanpa dukungan dari masyarakat luas, analisis HU PR mengkhawatirkan bahwa aksi yang dilakukan malah akan menjadi bumerang yang akan membunuh perjuangan mahasiswa sendiri serta tidak akan efektif lagi di masa yang akan datang.

Pada bagian lainnya, disebutkan bahwa aksi yang dilakukan (keberfihakan ).tidak memiliki pijakan moral dan sosial yang kokoh. Tampaknya pernyataan ini harus digaris bawahi serta diperhatikan dengan seksama oleh para mahasiswa, bahkan menjadi bahan renungan kita. Ketidakjelasan pijakan moral dan sosial rupanya menjadi sebab aksi-aksi mahasiswa terkesan hanya peristiwa rutin seperti yang dijelaskan dalam analisis tersebut.

“Di sisi lain memang marak aksi dan gerakan mahasiswa tapi tidak pernah membumi dengan rakyat, bahkan masyarakat pun merasa asing dengan teriakan-teiakannya. Mahasiswa hanyalah kelompok khusus yang tak bersinggungan dengan denyut nadi masyarakat” itulah salah satu komentar dalam pegantar buku aksi massa Tan Malaka yang ditulis oleh Siti Anisa.

Dengan menggunakan satu persfektif (Cultural Studies), saya ingin mengungkapkan bahwa Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda, secara psikologis adalah satu entitas sebagai sebuah kategori tunggal, dengan karakteristik-karakteristik psikologis dan kebutuhan-kebutuhan sosial tertentu yang dimiliki oleh sekelompok usia. Di mana masa muda merupakan tahap perkembangan yang bersifat formatif yang merupakan masa transisi dari ketergantungan masa anak-anak menuju otonomi masa dewasa normalnya melibatkan fase pemberontakan. (Barker:2005). Lebih lanjut Barker mengatakan, kalau orang dewasa hanya menganggap masa muda sebagai keadaan tansisi semata, kaum muda telah menjadikan kategori itu sebagai lahan untuk mengedepankan sensasi keberbedaan mereka. Contohnya adalah penolakan untuk mengidentifikasi diri dengan rutinitas kehidupan sehari-hari yang dianggap membosankan. Anak muda menjadi sebuah penanda ideologis yang mengandung berbagai gambaran utopis tentang masa depan (dalam Islam misal ada pernyataan Subhanul yaum rijalul ghodl: pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan) dan sekaligus menjadi sumber ketakutan bagi orang lain karena potensinya untuk mengancam norma dan peraturan-peraturan yang ada.
Hebdige (1988) Mencatat bahwa anak muda dikonstruksi di dalam melintasi wacana-wacana “masalah” (orang muda adalah masalah) dan atau kesenangan. Misalanya lewat figur-figur hooligan sepakbola, motorbike boys dan geng-geng jalanan, anak muda diasosiasikan dengan kriminalitas, kekerasan, kenakalan. Disamping itu anak muda juga direpsentasikan sebagai konsumen fesyen, gaya dan berbagai aktivitas waktu senggang yang suka bermain.

Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda yang intelek, dengan menggunakan sudut pandang di atas mempunyai substansi yang sama, tetapi warna dan bentuk yang berbeda. Bila kaum muda secara umum menunjukan keberbedaan mereka dengan style yang funki abis, dari mulai gaya rambut yang mencolok menggunakan warna-warni, pakaian yang serba modis, anting-anting dan tindik yang memenuhi seluruh wajah dan lain sebagainya. Atau kaum muda yang lain misalnya dengan masuk dan terlibat dalam geng motor, anak band, dan lain-lain yang menunjukan keberbedaannya dengan masyarakat dewasa secara umum, maka mahasiswa menunjukan keberbedaanya dengan melakukan aksi gerakan, membuat komunitas gemar membaca, komunitas kajian, berorgasisasi dan lain-lain, ada sebuah kebanggaan tersendiri bila kita masuk organisasi atau menjadi pegiat diskusi kopmunitas. Ruang diri kita menjadi terbuka terhadap masyarakat umum/ mahasiswa lain bila kita mempunyai kelebihan dalam keberbedaan, maka disitulah letak dan puncak eksistensi mahasiswa. Tidak kah bangga ketika kita mampu menonjolkan diri di depan mahasiswa atau masyarakat dengan orasi dengan slogan-slogan perubahan? Di mana kaum muda atau masyarakat secara umum tak mampu melakukannya. Disitulah kita akan menemukan eksistensi yang seolah-olah adalah identitas dirinya.
Dari penjelasan di atas bisa jadi mencerminkan hal yang sama, bahwa aksi/ gerakan yang dilakukan mahasiswa aktivis, terkena gejala yang sama, yaitu untuk menyatakan bahwa dirinya ada. Aku aksi, aku bergerak, aku diskusi, aku berontak, aku berbeda dengan yang lain maka aku ada (plesetan dari cogito ergo sum-nya Descartes seorang pilosof renaisssans). Hal ini tidak berangkat dari teori an sich, tapi dari kenyataan-kenyataan yang ada. Mahasiswa kini mengkotak-kotakan diri dalam wadah-wadah yang berbeda, baik organisasi atau komunitas-komunitas lainnya, baik dalam gerakan ataupun aktivitas lain.

Kita tengok misalnya gerakan mahasiswa terhadap permasalahan naiknya B.J.Habibi menjadi presiden tahun 1998. Mahasiswa Islam terpecah menjadi 2 kubu antara yang mendukung dan yang tidak. Pada satu sisi kedua kubu tersebut sama-sama menyatakan mahasiswa Islam, tapi pada sisi lain tidak mendukung Habibi sebagai representasi dari umat Islam yang pada saat itu sebagai motor ICMI. Pada era Gus Dur (Presiden Abdurahman Wahid) pun umat Islam seolah terpecah dengan kepentingannya masing-masing. Demikian pula gerakan mahasiswa di Era pasca kepemimpinan Megawati, terlebih masa sekarang.

Kita tengok aksi dan gerakan mahasiswa dalam kesatuan gerakannya dalam sejarah. Tahun 1908 bersatu dan dilanjutkan dengan 1928 dengan sumpah pemuda dan menghasilkan NKRI 1945, 1966 bersatu di bawah bendera KAMI dan menghasilkan Orde Baru, 1998 bersatu di bawah BEM se-Indonesia dan menghasilkan reformasi. Sekarang kita tengok, khusus di Bandung saja Gerakan Mahasiswa yang menggolongkan diri Intra Kampus selain ada BEM se-Bandung raya ada juga LIMA BARA sebagai kompetitor dari BEM-Bandung Raya. Selain itu gerakan Mahasiswa Islam pun terkotak-kotakan dalam ideologi gerakan yang berbeda HMI, PMII, IMM, KAMMI, GEMA-P, organisasi besar lainnya, PMKRI, GMNI dan masih banyak lagi gerakan-gerakan baru yang muncul.. Setiap gerakan yang mereka lakukan, walaupun dengan issu yang sama, saya cermati di media massa seringkali membawa bendera masing-masing. Itu artinya ada kecenderungan dari organ ekstra tersebut untuk mengeksistensikan dirinya masing-masing—barangkali memenuhi kebutuhan psikologis seperti apa yang diungkapkan oleh Maslow. Dalam Pandangan saya Gerakan-gerakan yang dilakukan sekarang tak lain adalah perebutan kekuasaan eksistensi organ ekstra atau denga istilah lain politisasi eksistensi. Siapa yang banyak tampil di media masa, dalam orasi aksi, massanya paling banyak, seberapa sering gerakan aksi yang dilakukan, siapa yang menguasai kampus.itulah organ ekstra yang paling eksist.
Apabila benar perkiraan saya, sebagai hasil komparasi antara teori dan kenyataan, tak ubahnya Mahasiswa seperti kaum muda lainnya yang hanya mengedepankan keberbedaan secara ekstrem, untuk lebih diakui oleh komunitas khalayak kebanyakan, baik mahasiswa sebagai kaum muda akademik atau kaum muda secara umum, para birokrat, politisi dan masyarakat umum. Menurut Idi Subandy Ibrahahim, Dalam masyarakat tontonan, popularisasi gerakan mahasiswa menyebabkan aktivitas mahasiswa tak bisa menghindar dari popularity contest. Di mana setiap orang/ kelompok berkompetisi untuk diakui kebesarannya oleh orang diluar dirinya Inilah logika kebudayaan pop sebagai anak kanduk media. Akhirnya gerakan ini hanyalah gerakan baru dalam mendukung kapitalisme gerakan.walaupun di didi lain sedikit mampu menggugah kesadaran publik. Naudzubillah.

Berangkat dari sudut pandang di atas, saya sepakat dengan tulisan M.Ikhsan Siddieqy, bahwa aktivis kampus tidak bisa diidentikan dengan aktivitas politik atau hanya demonstarasi saja, lebih dari itu semua aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa adalah dalam rangka berkreativitas. Berkreativitas dalam menuangkan ide tentu tidak mesti dengan berdemonstrasi dan berpolitik kampus, tapi banyak jalur-jalur lain yang bisa dimasuki oleh oleh mahasiswa, misalnya yang menekuni dunia wirausaha, saya pikir itupun bisa masuk pada wilayah aktivis, dimana aktivis disini mesti dimaknai sebagai seseorang yang mempunyai aktivitas yang positif. Senada apa yang ditulis Oleh agustinus bahwa seseorang yang berhak menyandang aktivis adalah mereka yang mau berfikir, berjuang.

Menurut pandangan saya, tidak ada yang salah dengan aktivitas “mahasiswa nongkrong” seperti apa yang sebutkan oleh Usep, selama apa yang dilakukan oleh Usep adalah sesuatu hal yang memang bisa berdampak positif bagi mahasiswa.

Pada akhirnya apapun yang dilakukan oleh mahasiswa dalam pandangan kaum muda adalah dalam rangka mencari self identity, walaupun menggunakan wadah popularuty contest yang berbeda. Seperti halnya perkataan nabi SAW bila kita berijtihad benar benar maka kita mendapat pahala dua, dan jika salah kita mendapat pahala satu, artinya bila apa yang dilakukan oleh mahasiswa berangkat dari keyakinan benarnya dan ternyata hasilnya positif, maka apa yang dilakukan mahaswa tersebut mendapat nilai plus karena bermanfaat bagi orang lain, ttetapi ternyata salah minimal menjadi pelajaran untuk dirinya sendiri, tak ada satu aktivitas pun yang sia-sia pada akhirnya.

*) Dibuat untuk menanggapi tulisan mimbar akademik PR namun tidak dimuat, juni 2006

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon