Ramadlan dan Bendera Partai

Bulan ramadlan sebagai bulan berkah ternyata tidak hanya bagi masyarakat umum. Tahun ini khususnya bagi para tokoh masyarakat lebih berkah lagi. Tidak seperti bulan ramadlan tahun lalu, kita akan menemukan pemandangan baru dalam ramadlan kali ini pemandangan tersebut adalah menjamurnya foto para tokoh dan bendera partai. Bila ramadlan tahun lalu kita hanya menemukan beberapa tokoh dan bendera dengan warna putih dan Hijau saja, tapi kini lebih meriah.. Dengan dalih ucapan Ibadah puasa mereka meramaikan “kontes” foto dan bendera partai. Di antara potret tokoh itu sebut saja ada tokoh partai, walikota, gubernur dan wakil gubernur, anggota dewan sampai Presiden pun tidak ingin kalah gagah berfose di antara perempatan-perempatan sudut jalan.

Fenomena menarik ini sebetulnya pernah terjadi tahun 2004 ketika menjelang Pemilu, bagaimana misalnya potret Presiden Megawati kala itu dipampang dalam ukuran reklame Jumbo di setiap posko PDIP, ada juga Ginanjar Kartasasmita yang lebih menyukai space spanduk untuk bersosialisasi dengan masyarakatnya bahwa dia merupakan ketua dari sebuah organisasi tertentu. Baik Dalam posisinya itu megawati tidak mengatasnamakan ketua partai atau calon presiden mendatang, begitupun dengan Ginanjar, dia tidak menuliskan secara eksplisit dalam spanduknya bahwa Dia sebagai calon anggota DPD RI. Tapi kemudian setelah musim kampanye tiba barulah ketua tokoh tersebut menampilkan sebagaimana keinginannya.

Begitupun dengan bendera partai dan potret tokoh dalam bentuk reklame atau spanduk yang bermunculan akhir-akhir ini, mereka tidak mengatasnamakan calon wakil rakyat misalnya, atau calon walikota, calon gubernur dan sebagainya. Mereka mengatasnamakan sebagaimana posisi mereka sekarang. Bila kita kaitkan dengan penomena tahun 2004, hemat penulis begitu mirip, sehingga menimbulkan satu pertanyaan apakah fenomena yang tejadi hari ini berkorelasi secara kuat dengan PEMILU 2009 mendatang seperti halnya terjadi tahun 2004? Bisa jadi tidak bisa jadi ya. Di katakan tidak, sebab suatu kewajaran bila tokoh-tokoh masyarakat tesebut yang sekaligus sebagai wakil dan atau pemimpin masyarakat tersebut dikenal oleh warganya, sehingga bulan ramadlan ini menjadi kesempatan terbaik untuk berilaturahim dengan warganya walaupun henya melalui reklame atau spanduk. Alasan selanjutnya adalah bahwa pemilu 2009 masih terlampau jauh untuk melakukan sosialisasi atau dengan kata lain kampanye, apalagi bila merujuk pada hukum, kampanye mempunyai rule of gamenya sendiri, kampanye tidak sagawayah dilakukan begitu saja tanpa merujuk pada aturan-aturan kampanye, apalagi musim kampanye belum dimulai.

Alasan selanjutnya bisa jadi iya, bahwa fenomena hari ini merupakan pengulangan kejadian ketika tahun 2004 menjelang pemilu, hal ini berdasarkan pada alasan aturan pemilu atau pilkada yang dilaksanakan secara langsung, sehingga adalah satu keharusan bagi siapapun yang ingin mencalonkan diri, baik pemimpin daerah atau wakil rakyat meraih simpati agar suara dan coblosan rakyat jatuh tepat pada nomor urutnya. Dalam pemilu model sekarang suara rakyat sangat menentukan kemenangan calon. Salah satu fenomena yang tidak terjadi ketika pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini merupakan taktik para tim sukses untuk meraih dukungan sebanyak-banyaknya. Bila dikaitkan dengan fenomena tersebut, maka bisa jadi bergentayangnnya foto dan spanduk para tokoh di sudut jalan merupakan persiapan untuk pemilu 2009 walaupun masih terlalu lama, tapi mengingat pemilu yang dipilih langsung oleh rakyat hal tersebut begitu masuk akal, walaupun dikemas dalam bentuk yang sangat wajar, misalnya ucapan selamat menunaikan ibadah puasa, ajakan memberantas narkoba, ajakan untuk tertib lalu lintas dan banyak lagi dalih yang bisa dipakai oleh para tokoh tersebut.

Dalam Komunikasi ada salah satu pameo yang menyatakan bahwa “kita tidak bisa tidak berkomunikasi”, begitupun dengan tokoh-tokoh yang muncul melalui media spanduk dan semacamnya di tiap sudut kota. Adalah satu kemustahilan bila maraknya bendera dan potret tokoh yang ada selama ini tanpa tujuan. Oleh karena itu kehadiran mereka mengundang interpretasi yang cukup beragam. Intepretasi kita akan ditentukan dengan latar belakang kita masing-masing, baik latar belakang sosial, agama, pendidikan dan politik, begitu juga budaya. Bila kita cermati dari sudut pandang komunikasi sosial budaya, kehadiran para tokoh dibanyak tempat melalui space reklame atau spanduk tesebut adalah salah satu bentuk interest dan kepekaan tokoh terhadap kondisi masyarakat. Di lihat dari kaca mata politik pemerintahan adalah kewajiban mereka untuk selalu terlibat dalam memajukan dan mengarahkan masyarakatnya ke arah yang lebih baik. Sedangkan dilihat dari kacamata politik praktis, kehadiran mereka dapat menimbulkan masalah, dengan alasan kehadiran merka dapat kita tafsirkan sebagai sosialisasi awal atau star kampanye mempersiapkan Pilpres, pilkadal atau pemilu mendatang tahun 2009.

Kecenderungan penafsiran yang terakhir diperkuat dengan bermunculannya berndera warna-warni partai tanpa ada tujuan yang jelas. Bila hanya akan ada Musyawarah partai, rapat keja partai, ulang taun partai dan lain sebagainya tidak cukupkah bendera dipasang ditempat diadakannya acara kenapa harus sampai ke jalan-jalan lain? Atau hanya mengucapkan ibadah puasa mengapa tidak setipa menjelang ramadlan bendera-bendera tersebut muncul.

Bila kita pakai sudut pandang ilmu komunikasi politik, bertebarannya bendera dan potret tokoh yang dipasang di setiap sudut kota termasuk ke dalam kampanye, walaupun musim pemilu belum tiba. Sebab kampanye tidak harus menunggu musim pemilu. Hal ini diperkuat dengan argumentasi Duncan seperti dikutif oleh Dan Nimmo (1989) bahwa himbauan atau sekedar ucapan menunaikan ibadah puasa merupakan masuk kedalam kampanye retoris dimana bertujuan meraih simpati dan merayu khalayak agar mengikuti kemauan apa yang dipropagandakan dalam simbol tulisan reklame yang disandingkan dengan potret tokoh. Bila masyarakat sudah bersimpati terhadap tokoh tersebut, tak syak lagi masyarakat tertentu yang bukan masa ideologis akan tertarik dan pada akhirnya akan mengikuti keinginan mereka. Ketika musim kampanye tiba, maka masyarakat pun berbondong-bondong mencoblos sang tokoh yang sering bermunculan di tempat umum itu tanpa pusing memikirkan siapa yang akan dipilih. Pelajaran ini dapat kita petik dari Pilkada Jakarta, bagaimana Adang Darajatun yang Notabene dicalonkan oleh satu partai dapat melebihi target pencapaian masa. Hal ini dikarenakan Adang lebih dahulu mengambil simpati masyarakat, khususnya melalui media massa.

Dengan demikian kehadiran “kontes” bendera partai dan banyak tokoh di setiap sudut kota melalui reklame atau spanduk merupakan kampanye retoris mereka sebagai sosialisasi awal mereka memasuki musim pemilu tahun depan. Apalagi kita mengetahui bahwa mereka akan ikut dalam bursa calon pemilihan PEMILU dan pemimpin dalam waktu dekat, sehingga memerlukan citra baik di hadapan masyarakat.

Tulisan ini dikirim ke Harian 'PR' namun tidak dimuat, teu nanaonlah...

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

First

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon