Keserbamungkinan Lampaui Modernitas

Sungguh menarik tulisan saudara Sa’ban Subiadi pada edisi kampus_pr tertanggal 10 juli 2006. Menurut pandangan saya, tulisannya memiliki nilai akademis yang patut mendapatkan apresiasi, dan akan sangat menarik untuk didiskusikan, terlepas sejauh mana kemampuan saya dalam mengimbangi kemampuan berfikirnya yang runtut. Dan inilah barangkali salah satu manfaat dari adanya mailinglist kampus¬_pr yaitu sebagai media pelatihan berfikir para mahasiswa dan dosen yang mempunyai interest dibidangnya masing-masing yang bersifat akademis.

Setelah saya baca semua tulisannya, ada yang janggal (pandangan subjektif saya) dalam mendefinisikan modernitas. Terdapat ketidaksesuaian antara modernitas dalam tema dan modernitas dalam uraian. Definisi Modernitas bisa didefinisikan ke dalam dua klasifikasi, pertama modernitas bisa diklasifikasikan dalam fase dalam artian analisis sosiologis historis, dan modernitas dalam analisis pemikiran dan penggunaan logika. 

Modernitas dalam analisis sosiologis historis bisa dihitung sejak abad renaisans dengan ciri adagium terkenalnya Rene Descartes ,” cogito ergo sum”, bisa dikatakan modernitas dalam artian ini lahir pada abad 14-15 dimana terjadi pemberontakan besar-besaran terhadap dogma gereja yang menyesatkan. sedangkan modernitas dalam definisi analisis pemikiran dan penggunaan logika adalah dimana dogma gereja yang menekankan pada taklid dan keyakinan yang buta digantikan oleh penghambaan besar terhadap akal seperti apa yang dikatakan oleh Descartes di atas. Modernitas dalam persfektif jenis penalaran yang dipakai lebih menekankan pada pola pemikiran positivistik, sifatnya yang ilmiah dan memakai logika hitam putih seperti apa yang dikatakan oleh saudara Sa’ban dimana jenis penalaran hitam putih ini menurut hemat saya bukannya pelik tetapi terlalu kaku, kalau tidak A berarti B, kalau tidak B berarti A, Kalau putih berarti jelas bukan hitam dan begitu sebaliknya, menurut Kang Jalal (sapaan akrab Jalaluddin Rakhmat) ini termasuk pada circular reasoning—salah satu kesalahan berfikir. 

Corak penalaran ini yang disebut-sebut sebagai cerdas, mandiri dan dewasa justeru menurut hemat saya sebaliknya. Sebab corak pemikiran ini tidak mempunyai alternatif lain, tidak kreatif, pilihannya hanya yang sudah terkerangka, antara hitam dan putih. Pilihan hidup yang terkerangka antara hitam dan putih dianggap mempunyai prinsip. Apakah yang abu-abu tidak mempunyai prinsip?atau anggap saja merah, hijau dan kuning dianggap bukan warna? Jelas sekali bahwa antara abu-abu, merah, hijau dan kuning itu merupakan warna yang jelas, tetapi tidak masuk pada kategori hitam dan putih.

inilah warisan pemikiran zaman modern. Euforia modernitas berada dalam pola pemikiran yang serba kaku, tidak punya alternatif, tidak kreatif, tidak bebas dan terlampau panatis, mengklaim bahwa yang prinsip adalah antara yang hitam dan putih, sedangkan warna lain bukan prinsip hidup, bila orang memilih pola warna lain berarti tidak mandiri, tidak cerdas dan tidak dewasa. 

Inilah euforia modernitas. Euforia modernitas menyebabkan keterasingan (alienasi) manusia dari manusia lainnya, karena menyendiri dianggap sebagai punya prinsif, karena yang hitam dan putih merupakan prinsip hidup maka tidak melakukan interaksi sosial dengan manusia lain yang mempunyai corak warna yang berbeda.

Keterasingan sebagai akibat dari euforia modernitas mengundang reaksi dari para pemerhati sosial akademik. Logika hitam putih didekonstruksi sedemikian rupa, agar orang tidak terjebak pada logika; kalau tidak A berarti B, bagaimana kalau tidak kedua-duanya (antara A dan B), apakah ada kemungkinan pilihan yang lain? menurut hemat saya, tentu ada, yaitu C, D dan sterusnya, dan inilah prinsip hidup baru. Pada satu sisi menyebabkan orang bebas dalam memilih jalan hidup yang menyebabkannya kreatif, banyak alternatif walaupun disisi lain akan mendorong orang melakukan kebebasan dalam nilai. Dan inilah yang dinamakan kritik modernitas atau zaman posmodern.

Dari kasus-kasus yang dicontohkan oleh sa’ban Subiadi, bila merunut pada penjelasan di atas, jelaslah bahwa prinsip hidup menyelam sambil minum air, merupakan euforia posmodernitas, dimana orang banyak melakukan dekonstruksi terhadap pola atau cara belajar lama dengan alternatif-alternatif yang baru yang lebih menyenangkan dan bahkan menghasilkan, selain didapat tujuan dan manfaat utamanya juga didapatkan manfaat tambahan. Justeru prinsip inilah yang menurut hemat penulis cerdas, mandiri dan dewasa.

Cerdas karena orang yang menjalankan pola pikir ini lebih kreatif dalam mencari kemungkinan-kemungkinan baru yang lebih banyak memberikan manfaat pada dirinya. Mandiri karena orang memegang prinsip ini tidak mesti meniru terhadap pola pemikiran yang sudah terkerangka sebelumnya yang dianggap rumit olehnya, tetapi ia mampu menciptakan sesuatu yang berbeda dan tidak mesti tergantung pada hasil yang sudah terkrangka tersebut. Dewasa karena ia tidak terjebak pada pola pikir hitam putih sehingga menganggap yang lainnya tidak punya prinsip. Ia akan selalu menghargai perbedaan warna, lebih bijak dalam menyikapi perbedaan, tidak mengklaim bahwa prinsip hidupnyalah yang paling benar.

Dalam penjelasan akhirnya, Saudara Sa’ban mengatakan, “Kelebihan utama (atau mungkin masalah terbesar) kebanyakan manusia modern adalah bahwa dirinya tidak menginginkan kerangka-kerangka tertentu—macam apa pun—mengurungnya. Dalam hal ideologi dan pemikiran misalnya, manusia modern tidak suka dengan yang jelas, terkerangka, tertentu dan definitif. Ia seringkali memilih hal-hal yang bebas semaunya, seringkali adalah colourfull, kadang samar, bahkan hingga absurd”
Justeru manusia modern hidupnya terlalu positivistik dan deterministik, serba terkerangka dan kaku.

Pola yang dijelaskan di atas justeru prinsip hidup yang sebaliknya, yaitu zaman yang sudah melampaui modernitas, bebas, tidak mau terkerangka termasuk pada prinsip hidup, inilah euforia posmodernitas bukan modernitas. Hal ini saya coba urai agar diskusi kita tidak terjebak pada kebingungan istilah dan relevansi dengan penjelasannya. Sehingga kiranya sebelum mengurai lebih jauh perlu ada pembatasan dalam sisi penggunaan istilah.

Zaman yang sudah melampaui modernitas memang menakutkan, karena terkadang diinterpretasikan secara bebas nilai, tanpa mempertimbangkan nilai, sebab orang begitu memuja kreatifitas yang absurd, kadang hanya berupa absurditas kata-kata seperti halnya yang terjadi pada seni, filsafat dan sastra. Tapi inilah dunia baru, dunia baru yang harus kita sikapi dengan searif mungkin.

Pola pemikiran yang kaku dan hitam putih, sebagai warisan modern, dan akhirnya mendapatkan warna baru dengan dekonstruksi atasnya tetapi kemuadian timbul kembali reaksi terhadap kreatifitas absurd tersebut, kembalilah pola pemikiran hitam putih yang dianggap dewasa, mandiri dan cerdas. Bila ditarik pada wilayah sosial, politik agama, maka timbulah terorisme. Terorisme sebagai bentuk pemikiran yang hitam putih, memandang dunia dan sikap manusia lainnya atas benar dan salah, tidak ada pilihan lain. Bila orang lain tidak melakukan seperti apa yang dilakukan olehnya maka sudah barang tentu orang lain salah, saya putih mereka hitam. Ini lebih menakutkan daripada absurditas.

Dimuat di Pikiran Rakyat edisi 27 Juli 2006

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon