Pemuda Dalam Krangkeng Masyarakat Global

Prawacana;
Membincangkan pemuda dari akar teologis sampai sosiologis

“Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk” (Q.S. Al-Kahfi, 18:13)
Secara teologis pemuda disebutkan beberapa kali dalam Al-Qur’an, bahkan secara khusus Allah SWT mengisahkannya kepada Rosululloh SAW dalam satu surat khusus tentang perjalanan 6 pemuda. Kutipan di atas merupakan salah satu ayat yang mengisahkan perjalanan ashabulkahfi dan seekor anjingnya. Dari ayat –ayat yang penulis telusuri bisa dimaknai bahwa pemuda yang dikisahkan oleh Allah tersebut merupakan benteng Tauhid. Menurut Sayyid Qutb, kisah ini menawarkan keteladanan tentang iman dan jiwa setiap mukmin, bagaimana ia dapat menenangkannya, mempengaruhinya untuk tidak tunduk kepada perhiasan dan kenikmatan dunia. Secara filosofis pemuda yang diceritakan Al-Qur’an adalah wujud nyata dari pribadi-pribadi yang teguh dan tegas tanpa kebimbangan untuk selalu mempertahankan ideologi—dalam hal ini akidah Islam. Dalam konteks Indonesia jiwa pemuda yang tegas digaungkan oleh Soe Hok Gie dengan sebuah kalimat yang singkat tapi padat makna,” lebih baik terasing daripada tunduk pada kemunafikan. Dalam hal ini Ashabul Kahfi lebih baik terasing ke gua dan hidup bebrapa ratus tahun lamanya dalam keterasingan gua tersebut dari pada harus menggadaikan akidah Islamnya.

Dari kisah Ashabulkahfi dapat kita ambil kesimpulan bahwa hakikat pemuda dalam konteks apapun dan dimanapun adalah sebagai benteng dari kemunduran dan penyangga bagi hidupnya bangsa, negara, dan agama. Nyatanya Ia sebagai darah sekaligus jantung bagi agama dan negara yang mampu mengalirkan denyut nadi dalam kehidupan.
Kisah di atas menemukan titik kebenarannya dalam sejarah bangsa-bangsa dan agama dalam lapangan sosial. Kita tengok sejarah lahirnya Agama Islam, Nabi Muhammad sebagai Nabi mendapatkan gelar al-Amin (25 th) ketika ia masih sangat muda bahkan ketika menerima wahyupun ketika dia masih bisa dikatakan pemuda (40) dalam fersfektif psikologi dan KNPI bahwa batas pemudanya seseorang itu adalah 40 tahun. Begitupun dalam agama-agama lain, Zoroaster sebagai agama Asli bangsa Persia (Iran-Irak) dilahirkan dari seorang pemuda Ningrat, Agama Budha (sidharta Gautama) juga demikian.

Dalam persfektif lahirnya suatu negara, pemudapun menjadi tulang punggung yang sekaligus membidaninya disamping ada kaum Tua yang berada di belakang layar. Kita tengok lahirnya Republik Islam Iran tahun 1979 yang didahului oleh revolusi berdarah, pemuda dan mahasiswa bahu membahu membuat strategi perjuangan bagaimana menggulingkan rezim kapitalisme, salah satu tokoh kuncinya adalah seorang intelektual muda; Ali Syari’ati yang banyak dipuja dari kalangan pemuda dan mahasiswa. Ketika beranjak remaja Syari’ati sudah mulai mengabdikan diri untuk perjuangan politik menggulingkan rezim bersama teman-teman seangkatannya dan ketika beranjak pemuda dewasa, Syari’ati banyak menggerakan pemuda dan mahasiswa dengan retorika-retorikanya yang mengagumkan. Dari aksinya bahkan tidak saja kaum muda yang ikut turun ke jalan tapi juga kaum tua para buruh pabrik dan pedangan kecil.
Bila kita tengok dinamika sejarah lahirnya Indonesia sampai masa pasca reformasi peran pemuda mendapatkan tempat khusus baik dalam catatannya ataupun di hati rakyat. Soekarno misalnya, ketika membidani lahirnya PNI masih berumur 24 tahun. Bahkan ketika terjadinya tarik ulur masalah rengas dengklok kaum muda mempunyai pandangan tersendiri. Sejarah menceritakan keteguhan dan keunikan peran pemuda, sehingga presiden Soeharto karena ketakutannya terhadap kaum muda, untuk menutupi sikap kritisnya membuat satu wadah khusus pemuda yaitu KNPI yang notabene wadah berhimpunnya pemuda dari berbagai organisasi organisasi kepemudaan.

Pemuda; penyangga pilar Demokrasi
Apa jadinya suatu bangsa bila di dalamnya tidak ada pemuda, mungkin akan manjadi negara yang mati. Mungkin juga negara Indonesia tidak akan pernah lahir ataupun bila ada, bisa jadi masih dikuasai oleh rezim lama yang otoriter ( Orde lama dan Orde Baru). Kehadiran pemuda di Indonesia bisa dipastikan sebagai pilar demokrasi, hal ini berangkat dari satu argumentasi bahwa berdirinya NKRI merupakan bukti nyata peran pemuda, kemudian ketika demokrasi disimpan rapat-rapat dalam bingkai demokrasi terpimpin rezim orde lama, maka kaum muda yang kemudian membongkarnya kembali untuk dibagi-bagikan kepada rakyat, yang kita kenal dengan angkatan ’66. Angkatan 66 turun ke jalan untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan rezim yang tidak berfihak kepada rakyat. Angkatan ’66 banyak melahirkan tokoh orde baru yang kemudian menjadi penyangga kekuatan Orde baru. Salah satu tokoh kunci angkatan ’66 yang dirinya menolak bergandeng dengan kekuasaan diabadikan dalam sebuah buku dan film layar lebar; Soe Hok Gie; Catatan Seorang Demonstran. Keteguhan Soe Hok Gie merupakan karakter khas dari seorang pemuda. Ia lebih baik hidup tertindas dalam keterasingan dari pada harus menyerah pada kemunafikan. Tokoh lainnya yang diabadikan oleh sejarah adalah seorang intelektual Islam; Ahmad Wahib. Salah satu kritikannya yang sekaligus menjadi karakter khasnya adalah bahwa seorang pemuda harus menjadi dirinya sendiri, tidak perlu mengikuti jejak-jejak para tokoh negeri bila ketokohannya membuat seorang pemuda lupa akan dirinya sendiri. Ia merupakan seorang pribadi yang gelisah akan kondisi bangsa dan ummatnya.

Pada masa orde baru, ketika demokrasi pancasila dikuasai oleh kalangan cendana, hanya kaum mudalah yang berani merampasnya kembali dengan tangan terkepal. Pemuda seluruh indonesia turun ke jalan untuk menentang kebijakn-kebijakannya. Dari tangan pemuda ini lahir lah catatan reformasi ’98 yang menghasilkan pemerintahan reformasi dan banyak kebijakan-kebijakan yang dirubah. dengan demikian jelaslah peran pemuda dalam setiap masa merupakan penyangga pilar dan penyangga demokrasi yang sebelumnya dikuasai oleh sebagian elit.

Meluruskan Nalar Kebangkitan Pemuda
Kebenaran, kata Al-Ghazali, ibarat sebuah cermin pecah yang lantas pecahan-pecahannya tersebut dilempar-lemparkan pada setiap manusia. Dari pernyataan tersebut dapat kita maknasi bahwa kebenaran tergantung pada persfektif atau sudut pandang. Dalam sudutpandang anak-anak pemuda adalah entitas orang dewasa yang, baik umur, kecerdasan, pengalamanya lebih dari seorang anak-anak, persfektif orang tua barangkali berlainnan, seorang pemuda adalah satu entitas yang sedang mencari jati diri, emosinya belum stabil dan tetenunya pengalamnnya tidak akan melebihi pengalam orang tua oleh karena itu orang tua akan bilang bahwa pemuda anak kemarin sore,bila dilihat dari pengalamannya belum seberapa bila dibandingkan dengan mereka. Bagi pemuda sendiri tentunya berbeda apa yang dirasakannya, bahwa dirinya sebagai pemuda adalah masa yang penuh gejolak, penuh cita-cita dan keinginan dalam mengisi hidup. Bila kebenaran kita menggunakan sudut pandang pecahan kaca tadi maka sdutu pendang ketiga masa hidup tersebut merupakan kebenaran. Dalam kaitan ini, bagaimana kita harus mempunyai sudut pandang tertentu dalam sejarah kebangkitan nasional.

Dalam buku-buku sejarah, kita akan menemukan bahwa momen kebangkitan nasional bertolak dari kebangkitan pemuda yang diorganisir oleh organisai Boedi Oetomo pada tahun 1908. Dari persfektif nasionalis hal ini tentu benar dan sangat menguntungkan, tetapi tentunya hal ini merupakan salah satu sudut pandang saja tentang periode sejarah awal kebangkitan nasional. Bahwa Boedi Oetomo pada saat itu banyak membantu menyemaikan rasa nasionalisme Indonesia dengan banyak mendirikan sekolah-sekolah memang benar. Tetapi pertanyaan selanjutnya, apakah hanya Boedi Oetomo saja yang menjadi tulang punggung penyebaran kesadaran terhadap penjajah pada sat itu? Dari pertanyaan inilah kita bisa meluruskan sejarah awal pergerakan pemuda.

Sampai hari ini belum ada satu buku pun yang berani mengkritik sudut padangan yang menyebelah ini, bahwa sebelum lahinya Boedi Oetomo telah lahir satu organisasi yang digerakan oleh seorang intelektual muda, ia merupakan tokoh/ pahlawan pers nasional; Tirto Adi Soeryo, pada tahun 1905. organisasi ini yang dalam Roman Tetralogi Pulau buru dinamai Syarikat Priyai merupakan cikal bakal Syarikat Islam. Pram (Pramoedya Ananta Toer) sebagai penulis roman sejarah tersebut menceritakan bagaimana peran besar Syarikat Islam (SI) untuk menyuemaikan benih-benih kesadaran rasa Nasionalisme yang diikat oleh akidah Islam. Walaupun Syarikat Islam lebih bercorak organisasi politik ekonomi, tetapi justeru SI lah yang banyak membantu pendanaan seklah-sekolah Boedi Oetomo. Dengan kesaaran nasionalisme yang satukan dalam bingkai akidah Islam ini SI menjdai organisasi yang paling besar, baik dari sisi anggota ataupun gerakan, walaupun dilihat dari sisi intlekualitas berada di bawah Boedi Oetomo. Di bandingkan dengan Boedi Oetomo yang hanya digerakan oleh segelintir pemuda lulusan Belanda, SI telah menyebar ke hampir setiap pelosok, dan mempunyai pimpinannya masing-masing hampir di setiap daerah.

Di sisi lain, Boedi Oetomo lebih bersifat organisasi primordial Suku Jawa, karena lebih mengakomodir orang-orang yang berasal dari suku Jawa, begitupun bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Berbeda dengan Syarikat Islam, walaupun notabene bercorak dan mempunyai ideologi perjuangan politik ekonomi Islam, tetapi bahasa yang digunakan merupakan bahasa melayu yang pada saat itu telah menjadi bahasa pergaulan nusantara. Dengan demikian bila dilihat dari sepak terjang, gerakan, bahasa, yang seharusnya dijadikan pijakan kebangkitan pemuda atau kebangkitan nasional seharusnya bertolak dari gerakan Syarikat Islam bukan Boedi Oetomo. Disinilah rasa keaberislaman para sejarawan Islam Indonesia diuji. Termasuk kita sebagai pemuda Islam harus berani membantah kekuranglurusan sejarah tersebut. Forum-forum seperti ini adalah salah satu media efektif untuk peyebaran kesadaran sejarah ini.

Hilangnya Identitas Otentik Pemuda
Gairah bangkitnya dan kehebatan pemuda secara ideal, baik yang berangkat secara teologis maupun torehan sejarah sosiologis ternyata tidak diikuti oleh pemuda yang hidup pada zaman global ini. Kecenderungan ini berasal dari mengakarnya ideologi kapitalisme. Menurut Yasraf, ada dua ciri tumbuh suburnya ideologi kapitalisme; yang pertama keserbacepatan (instan) dan yang kedua libidonomic (syahwat). Ciri pertama ditandai oleh menghilangnya proses dari seluruh ekspresi intelektual (budaya), sehingga segala sesuatu harus tersaji secara cepat/ instan; katakanlah ada spiritualitas instan, seperti yang sering kita lihat di televisi, bagai mana perilaku para artis yang menunaikan ibadah puasa atau ibadah haji yang menjadi konsumsi publik, ada kerudung instan, mie instan, ideologi instan, fastfood dan lain sebagainya. Dalam bidang ekonomi, ideologi kapitalisme dicirikan oleh selalu ditawarkannya sudut pandang seksual dalam bidang ekonomi. Lihat saja misalnya iklaniklan yang ada dalam televisi. Hampir setiap iklan dalam televisi, bilapun bukan iklan kecantikan yang melibatkan secara langsung salah satu bagian dari tubuh seorang perempuan, misalnya iklan mobil, iklan pompa air, iklan obat, selalu melibatkan wanita yang cantik dan seksi. Dengan demikian kecenderungan untuk mencapai kenikmatan seksual dalam bidang ekonomi sangat menonjol dalam ideologi kapitalisme. Di sisi lain kemapanan dalam memperoleh taraf ekonomi yang mapan disejajarkan dengan pencapaian tingkat seksualitas yang tinggi, bahwa untuk mencapai ketercapaian seksual yang berkelas tergantung sejauh mana tingkat ekonomi kita.

Selain hal tersebut, salah satu hal yang dominan dalam ideologi kapitalisme adalah keserbaragaman, dan hal inilah yang melahirkan budaya pop di kalangan muda. Budaya kapitalisme memproduksi budaya bersifat TOP-DOWN, maksudnya bahwa budaya hari ini lebih cenderung diproduksi oleh kalangan bermodal, budaya diciptakan untuk kepentingan ekonomi belaka, hal ini dapat kita lihat dari keseragaman dalam bidang ekspresi fashion, gaya rambut, intelektualitas dan berbagai ekspresi intelektual lainnya. Sehingga bila kita tengok di jalan-jalan kita akan menemukan keseragaman dalam hal pakaian atau bahasa sekalipun.

Dengan adanya produksi budaya yang cenderung mengikis keberagaman ekspresi intelektual di atas, maka identitas khas pemuda yang cenderung kritis terhadap sesuatu yang bukan dirinya hilang, dari sinilah keotentikan karakter pemuda tergusur. Lantas bagaimanakah untuk mempertahankan keotentikan pemuda di atas? Hal ini akan mampu terjawab bila seorang pemuda sadar akan kediriannya dan kedisiniannya. Tahu akan sifat dasar manusia, tahu akan filosofi budaya setempat yang selama ini mengayominya, dan tahu akan kemana ia hidup.

Dilihat dari sudut pandang Culture studies pemuda merupakan satu entitas perantara antara masa kanak-kanak dan masa orang dewasa. Dengan psosisinya ini, menurut Hebdige, menjadikan pemuda tidak ikut kemana-mana baik pada posisi anak-anak ataupun orang dewasa, sehingga salah satu kecenderungan ekspresi intelektualnya adalah mengikuti keseragaman yang berbeda dengan keseragaman intelektual anak-anak ataupun orang dewasa. Mereka cenderung keluar dari pakem kebiasaan karena keberbedaan mereka dengan orangtuanya adalah suatu yang mereka anggap unik.. pada sisi lain keseragaman yang diproduksi oleh kaum mereka sendiri dalam kajian budaya pop cenderung bersifat ekstrem dari pekem orang tua. Maka lahir lah geng motor, gup musik punk dan lain-lain.

Visi Misi sang Hijau Hitam
Dalam AD/ ART HMI di sebutkan bahwa tujuan HMI adalah “ terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridloi oleh Allah Subhanahu WaTa’ala”. Tujuan ini biasa disebut kualitas insan cita yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Kualitas Insan Akademis:
• Berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, berfikir rasional, objektif dan kritis
• Memiliki kemampuan teoritis
• Sanggup berdiri sendiri dengan lapangan ilmu pengetahuan sesuai dengan ilmu pilihannya.
2. Kualitas Insan Pencipta;
• Sanggup melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang lebih dari sekedar yang ada dan bergairah besar untuk menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih baik dan bersikap dengan bertolak dari apa yang ada (yaitu Allah).
3. Kualitas Insan pengabdi
• Ikhlas dan sanggup berkarya demi kepentingan orang banyak atau untuk sesama umat.
4. Kualitas insan yang bernafaskan Islam
• Islam yang telah menjiwai dan memberi pedoman pola pikir dan pola lakunya tanpa memakai merek lain.
• Islam harus menjadi nafas pembentuk pribadinya yang utuh tercegah dari split personalityi dalam dirinya.
5. Kualitas insan bertanggung jawab atas terwujudnya mayarakat adil makmur yang diridloi oleh Allah SWT.
• Berwatak, sanggup memikul akibat-akibat dari perbuatannya sadar bahwa menempuh jalan yang benar diperlukan adanya keberanian moral

Cibangkonol , 03 Dzulka’dah 1428 H
13 November 2007 M
(disampaian dalam diskusi publik lintas organisasi di pesantren Al-Ihsan)

Sumber Rujukan:
Al_qur’an terjemahan DEPAG.
Sayyid Qutb, 2004, Tafsir fi Zhilalil Qur’an; di bawah naungan Al-Qur’an, Jilid 14, Jakarta: Gema Insani Press.
Chris Barker, 2005, Cultural Studies teori dan praktek, Yogyakarta: Bentang Budaya.
Soe Hok Gie, 2005, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta: LP3ES.
Ahmad Wahib, 2003, Pergolakan Pemikiran Islam, Jakarta: LP2ES.
Sukmajaya Asy’ari- Rosy yusuf, 2003, Indeks Al-Qur’an, Bandung: Pustaka.
Draft AD/ ART HMI 2006


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon