Hilangnya Spiritualitas Pergerakan Mahasiswa

Kenaikan BBM berbanding lurus dengan kesulitan rakyat kecil, rupanya memicu para aktivis untuk menentang kebijakan pemerintah. Jelas saja dengan dalih dan isu membela rakyat kecillah para mahasiswea ini melakukan aksinya.

Bagaimanapun mahasiswa adalah masyarakat yang unik, kretaif dan elitis bila dibandingkan dengan komunitas masyarakat lainnya. Mahasiswa merupakan fenomena tersendiri dalam catatan sejarah. Betapa tidak, hampir di semua negara dunia, eksistensi mahasiswa selalu diperhitungkan oleh fihak manapun. Selain citra yang disandarkan pada mahasiswa yang serba ideal, sebut saja misalnya bahwa mahasiswa adalah agent social of change, bahwa mahasiswa adalah menjadi sumber rujukan moral bagi masyarakat di sekitarnya, mahasiswa adalah para intelektual muda, sehingga tidak jarang bahwa mahasiswa dianggap segala-galanya oleh orang awam. Di balik itu semua, kini citra mahasiswa sebagai serba yang paling ideal mulai luntur oleh beberapa kejadian yang cukup menggemparkan semua kalangan, yang bersifat kriminal ataupun amoral. Sebut saja misalnya, kasus “Bandung Lautan Asmara”, pemerkosaan, penodongan yang dilakukan oleh oknum mahasiswa, yang baru terjadi adalah bosa pengedar VCD porno melalui belanja maya (internet). Tapi tampaknya hal tersebut tidak mengurangi citra ideal mahasiswa.

Citra ideal yang disandarkan pada mahasiswa masih memang layak. Sebagai agen perubahan, mahasiswa telah menunjukan kemampuan merubah suatu keadaan. Dalam sejarah kita tentunya kenal dengan angkatan ’66, yang menumbangkan kekuasaan Presiden Soekarno dan pada tahun 1998 menumbangkan kekuasaan otoriter Presiden Soeharto. Kedua fenomena yang dilakukan mahasiswa tersebut mendapat dukungan penuh dari rakyat. Dengan pengangkatan isu yang merata. Semua mahasiswa di Seluruh Indonesia bersatu untuk menentang kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat kecil. Mahasiswa dan rakyat Indonesia bersama-sama, bahu membahu memperjuangkan kepentingan futuristik Bangsa Indonesia. Ibarat pepatah, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, akhirnya mahasiswa dan masyarakat berhasil menentang kebijakan yang tidak berfihak tersebut dengan lengsernya penguasa pada zaman masing-masing.

Pasca 100 hari kepemimpinan Presiden SBY dan JK. Tepatnya 1 (satu) Maret 2005, pemerintah menaikan harga BBM, dengan dalih yang sangat diplomatis. Kenaikan BBM di satu sisi, diperuntukan membantu masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tetapi justru hal ini malah menyulitkan masyarakat.yang sudah jatuh, tertimpa tangga pula, itulah yang dirasakan masyarakat. Sudah hidup susah ditambah kebutuhan bahan pokok naik karena kenaikan BBM, tambah sulitlah kehidupan rakyat.

Kenaikan BBM berbanding lurus dengan kesulitan rakyat kecil, rupanya memicu para aktivis untuk menentang kebijakan pemerintah. Jelas saja dengan dalih dan isu membela rakyat kecillah para mahasiswea ini melakukan aksinya. Aksi yang dilakukan tidak hanya di kota besar saja seperti halnya Jakarta, tetapi hampir merata di semua kota Indonesia. Bahkan di beberapa kota, sampai terjadi bentrokan dengan aparat keamanan. Semua koran dan media elektronik pun tidak sepi dari memberitakan aksi mahasiswa. Seolah-olah menjadi menu yang asik dan renyah untuk diliput dan diberitakan.

Dari berbagai pemberitaan di media massa, khususnya media cetak, ada yang cukup menarik, dari analisi Harian Umum Pikiran Rakyat dalam Tajuk Rencana edisi Sabtu, 12 maret 2005. Isu yang diangkat khusus mengomentari aksi-aksi mahasiswa, Tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya sudah menjadi peristiwa yang rutin. Aksi yang dilakukan mahasiswa tampaknya tidak ada skala pemilahan yang jelas, dalam kasus apa saja mahasiswa merasa layak untuk melakukan aksi besar-besaran. Lebih lanjut, tulisan tersebut menjelaskan bahwa aksi perlawanan terasa kurang bergema dengan menyandarkan pada kurangnya dukungan dari masyarakat luas. Tanpa dukungan dari masyarakat luas, analisis HU PR mengkhawatirkan bahwa aksi yang dilakukan malah akan menjadi bumerang yang akan membunuh perjuangan mahasiswa sendiri serta tidak akan efektif lagi di masa yang akan datang.

Pada bagian lainnya, tulisan tersebut menyebutkan bahwa aksi yang dilakukan (keberfihakan ).tidak memiliki pijakan moral dan sosial yang kokoh. Tampaknya pernyataan ini harus digaris bawahi serta diperhatikan dengan seksama oleh para mahaiswa, bahkan menjadi bahan renungan para aktivis. Ketidakjelasan pijakan moral dan sosial rupanya menjadi sebab aksi-aksi mahasiswa terkesan hanya peristiwa rutin seperti yang dijelaskan dalam analisis tersebut.

Saya pun sebagai mahasiwa melihat hal yang sama, dengan merujuk dan menanggapi analisis Harian Umum Pikiran Rakyat tersebut. Tampaknya bukan tidak kokoh lagi pijakan aksi mahasiswa tersebut, malahan dalam pandangan saya justru tidak jelas. Apa benar aksi yang dilakukan mahasiswa tersebut tersebut membela kepentingan rakyat, sedangkan entitas mahasiswa sendiri mempunyai jarak yang cukup jauh dengan kehidupan masyarakat. Entitas mahasiswa adalah entitas yang terpisah dari masyarakat, ia bahkan tidak langsung berbaur dengan kondisi masyarakat. Hal ini bisa ditunjukan bahwa kehidupan mahasiswa adalah kehidupan kos-kosan yang ekslusif, tercerabut dari akar masyarakat sebagaimana mestinya, walaupun tidak seluruhnya, bagaimana mungkin bisa mewakili perasaan masyarakat secara menyeluruh. Hal ini tampaknya menjadi pertanyaan mendasar apakah benar aksi-aksi mahasiwa untuk kepentingan rakyat kecil atau kepentingan eksistensi mahasiswa?

Lebih jauh saya memandang, bahwa aksi yang dilakukan mahasiswa adalah ajang unjuk gigi organisasi kemahasiswaan, baik yang disebut sebagai ekstra kampus ataupun intra kampus. Hal ini sebagai reaksi terhadap kebutuhan eksistensi tiap organisasi tersebut. Rupanya sudah menjadi rahasia umum di kalangan aktivis, perebutan kursi kekuasaan di tingkatan mahasiswa, sebut saja perebutan kursi BEM, banyak melibatkan organ ekstra kampus. Sebut saja misalnya ada HMI, PMII, GMNI, KAMMI, PMKRI dan yang lainnya. Hal ini saya lihat dari beberapa aksi, bahwa orgasnisasi ekstra seperti yang telah disebutkan misalnya, ketika melakukan aksi selalu membawa bendera dan organisasinya masing-masing. BEM dengan bendera BEMnya, HMI, PMII, KAMMI dan lainnya pun melakukan hal yang sama. Belum kita lihat aksi yang dilakukan untuk menolak BBM mengatasnamakan satu kesatuan mahasiswa, untuk kepentingan keseluruhan. Sehingga boleh jadi benar aksi yang kerap ada seputar kenaikan BBM ini hanyalah program seremonial mahasiswa.

Apabila analisa di atas benar, bahwa aksi dilakukan untuk memenuhi eksistensi masing-masing organisasi ekstra, masing-masing ingin menunjukan bahwa organisasinya besar, mempunyai massa banyak dan paling berpengartuh dalam melakukan aksi, membela kepentingan rakyat kecil hanyalah isu renyah yang dijual para mahasiswa agar terpublikasikan media, maka aksi yang dilakukan sampai kapanpun tidak akan menemukan ruh pergerakan, sampai kapanpun tidak akan menemukan ruh pembebasan. Sebab aksi yang dilakukan tidak berangkat dari idealisme, tidak berangkat dari Iman sosial sebagai manusia beragama. Ia hanyalah memenuhi kegiatan rutin seperti biasa dilakukan sebelum-belumnya.

Kepentingan eksistensi masing-masing organisasi mahasiswa tersebut lebih jauh adalah persoalan politik di antara mereka untuk lebih menyebarkan gaungnya di kampusnya masing-masing. Hal ini dilakukan sebagai ajang promosi dan publikasi bahwa organisasinya adalah yang terbaik, sehingga akan membius mahasiwa lainnya agar menggabungkan diri dan menjadi anggota. Tentu saja hal ini dilakukan untuk meraih massa ketika ada moment perebutan kursi Presiden Mahasiwa di kampus masing-masing.apabila hal ini terjadi maka bukan saja mahasiswa menjadi terkotak-kotakan tapi lebih jauh, selamanya pergerakan tidak akan menemukan spiritualitas pembebasan. Tidak akan menemukan tujuan dari pergerakan. Dalam istilah populer, gerakan mahasiswa yang terjadi sekarang adalah adalah gerakan politik kekuasaan, kekuasaan dalam arti luas tentunya (power politic movement), bukan gerakan politik nilai (value politic movement).

Apabila anggapan di atas benar, bahwa aksi yang dilakukan sebagai ajang politisasi eksistensi organisasi ekstra mahasiswa, dengan meminjam analisis kuntowijoyo (Muslim Tanpa Mesjid:2001), maka akan terjadi beberapa hal;

Pertama, terhentinya mobilitas sosial. Hal ini terjadi, sebab para aktivis sibuk dengan urusannya masing-masing, lebih jauh terlalu disibukan oleh uirusan politik kampus. Sehingga program-program keummatan yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat tidak terealisasi. Termasuk dalam hal ini mengurusi penentangan kebijakan pemerintah yang tidak berfihak kepada rakyat kecil.
Kedua, terjadinya disintegrasi mahasiswa. Kalau di tahun 1965 seluruh mahasiswa berada di bawah satu bendera yaitu KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Atau di tahun 1998 di bawah bendera Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia. Maka sekarang berada di bawah benderanya masing-masing, mahasiswa mengalami pengkotak-kotakan.

Ketiga, Mahasiswa menjadi miopis. Aksi yang dilakukan menjadi ajang unjuk gigi, bahwa organisasinya ada dan bisa mengada. Tujuan aksi hanya untuk jangka pendek mencari eksistensi organisasinya masing-masing. Apabila hal ini sudah terpenuhi, maka tujuan utama aksi tidak akan tercapai.

Keempat, runtuhnya proliferasi. Di tahun 1965 kita kenal Arif Rahman Hakim sebagai pahlawan yang bisa dijadikan panutan, sebagai rujukan berjuang. Begitu juga di tahun 1998 tentunya kita kenal Rico Marbun, sebagai simbol dan rujukan suara dalam gerak perjuangan. Mahasiswa disatukan oleh simbol satu komando dan satu pemimpin yang bisa dipercaya dan di anut agar bisa bersatu memperjuanagakan kepentingan rakyat kecil. Tapi ketika perjuangan terpecah-pecah dalam benderanya masing-masing, maka tidak ada panutan yang jelas baik bagi mahasiswa sendiri secara keseluruhan yang tidak duduk dalam berndera tertentu maupun bagi masyarakat.

Untuk menyatukan kembali langkah perjuangan mahasiswa dan mengembalikan spiritualitas pergerakan, hendaknya semua aktivis, baik aktivis intra ataupun ekstra meluruskan niatnya dalam melakukan perjuangan, menghilangkan sekat-sekat yang ada di atara organisasi ekstra maupun intra, duduk dan aksi bersama dalam satu simbol mahasiswa, bersatu melakukan perjuangan membela kepentingan rakyat kecil dan juga kepentingan bangsa untuk jangka panjang. Maklumi perbedaan pemikiran dan ideologi, hilangkan panatisme dan egoisme organisasi masing-masing. Mari bersatu melangkah dalam satu ritme perjuangan,.kita rebut kembali spiritualitas perjuangan dan pergerakan mahasiswa dengan berpijak pada Iman Soial kita.wallohu a’lam.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon