Pseudo Idealisme

Idealisme semestinya berangkat dari kehidupan sehari-hari, tidak ada dikhotomi antara sikap, perbuatan dan pikiran-pikiran benarnya, idealisme seharusnya tidak berbicara masalah jatah kursi, idealisme tidak pernah menyinggung perasaan orang, idealisme tidak pernah menunggangi konstitusi dan ayat suci untuk kepentingan pribagi dan golongan. Idealisme hakiki mempeerjuangkan kemanusiaan, bukan memperjuangkan manusia yang memberinya jatah makan.

Di kalangan Mahasiswa, khususnya para aktivis; baik itu aktivis Himpunan, aktivis Gerakan, aktivis kesatuan, aktivis kajian ataupun aktivis Dakwah termasuk aktivis jalanan, atau bisa dikategorikan aktivis yang berbau kekiri-kirian, aktivis yang punya corak kanan ataupun yang moderat termasuk di dalamnya yang berorientasi pada kekuasaaan ataupun yang tidak jelas keaktivisannya, kata IDEALISME seolah menjadi pakaian seragam. Yang namanya pakaian seragam bisa digunakan saat ngantor, jalan-jalan ke mall, ataupun saat nongkrong, adalah sah-sah saja, tapi yang jelas namanya pakaian seragam adalah sebuah aturan yang harus dilaksanakan bagi orang-orang yang mempunyai aktivitas tertentu, bisa juga sebuah pengguguran kewajiban dan dalam rangka mentaati peraturan. Memakai seragam bisa berangkat dari kesadaran ataupun dari keterpaksaan aturan. Pakaian seragam bukanlah pakaian sehari-hari bukan pula pakaian menuju surga tapi hanya sebuah lipstik belaka. Makanya kata Idealisme seringkali kita dengar dikalangan tertentu, termasuk aktivis mahasiswa.

Kata idealisme seolah menjadi kata-kata penggerak jiwa aktivis untuk memperjuangkan kepentinganya ataupun diluar kepentingan dirinya. Ia menjadi kata ajaib yang siap kapan saja mendorong jiwa mudanya untuk bergerak menuju singgasana kemenangan, kemengan dalam perjuangan, perjuangan dalam hidup untuk mencapai cita-cita yang telah ditentukannya, baik untuk ummat dan dirinya.
 
Bila diurai, kata idealisme berasal dari kata idea dan isme. Idea bisa diartikan dengan sejumlah gagasan hasil dari pemikiran tertentu yang berpijak dari norma atau aturan yang dianggap benar menurut takaran normatif yang pada praktiknya bisa bersandar pada realitas atau murni tanpa referensi empiris. Sedangkan isme secara sederhana bisa diartikan sebagai faham; idelisme dalam hal ini bukan salah satu madzhab dalam sejarah dan istilah pilsafat, tapi sebuah kata yang sudah menjadi teman sehari-hari kita.

Kata idealisme seolah menjadi pakaian seragam. Seringkali kita dengar pada ceramah atau obrolan mahasiwa; bahwa kita harus mempunyai idealisme, bahwa perjuangan kita harus harus berpijakpada idealisme. Atau sebaliknya, khususnya para aktivis yang bersebrangan dalam rangka popolitikan intra kampus atau organisasi kita, seringkali mendengar bahwa aktisvis ‘A’ sudah tidak punya idealisme, bahwa si ‘B’ sudah luntur idealismenya. Tapi apa itu idealisme??, apakah hanya pemahaman pribadinya tentang suatu kebenaran yang telah direduksi, atau hanya pikiran piciknya dalam memahami kebenaran, atau idealisme hanya dijadikan kuda tunggangan untuk mencapai garis finish. Apakah idealisme hanya sebentuk pendirian yang tak pernah goyah ataukah sebentuk keistiqomahan yang tak pernah berubah tanpa pijakan yang jelas, jangan-jangan hanyalah sebentuk sikap yang berangkat dari ego pribadi dan komunitasnya ataupun menuruti syahwat kepentingan pridbadi dan rengrengannya yang dikemas secara rapi dalam kata idelisme.

Begitu hebatnya para pembicara disuatu forum ataupun peserta diskusi dalam forum tertentu ketika mengatakan bahwa kita harus mempunyai idealisme, bahwa kita tidak boleh memihak, bahwa kita harus independen. Begitu bergema kita dengar kata-kata agung memenuhi ruangan mesjid--“ALLAHU AKBAR”— untuk memenangkan calon ketua, begitu bangganya para aktivis demo meneriakan ‘hancurkan tiran yang korupsi’, begitu bangganya memekikan kata –kata perjuangan untuk rakyat tertindas di depan Gedung Wakil Rakyat, begitu menggaungnya ketika para aktivis dakwah mengumandagkan Jihad fiisabilillah, seenaknya saja para politikus kampus berkata ini untuk kemaslahatan organisasi kita, mentang-mentang lidah tak bertulang para ‘idealis’ berkata kita harus berpijak pada kontitusi. Tapi apakah sebuah slogan, kata-kata, ucapan, pekikan, gaungan saja cukup untuk memperjuangkan idealisme hakiki, jangan-jangan itu hanyalah sebuah kemasan politik, jangan-jangan itu hanyalah sebuah niatan saja, apakah dengan niat yang baik saja cukup dan apakah itu adalah sebuah niatan baik.

Dalam rumus matetatika kita tahu bahwa plus(+) ditambah/kali plus (+) akan menghasilkan plus juga (positif) dan bila plus (+) ditambah/ dikali min(-) akan menghasilkan negatif begitu juga sebaliknya. Bisa diartikan ketika kita mempunyai sebuah niatan baik dalam rangka memperjuangkan idealisme maka selain idealisme kita harus berpijak pada pondasi utama kita (Al-Qur’an+Sunnah, tentunya dengan ragam tafsirnya), juga implementasi idealisme harus menggunakan metode dan cara yang positif pula. Apabila niatan kita sudah baik (+, positif, berangkat dari idealisme) dan implementasi kita pun menggunakan metode yang positif maka hasilnya pun positif. Hal ini bisa diukur (hasilnya) dari kehidupan sehari-hari.
Dalam ranah politik praktis, kata-kata idealime pun seringkali muncul. baik idealisme sebagai kemasan dan slogan ataupun idealisme yang hakiki. Toh, dalam citra umum bisa kita fahami bahwa politik praktis merupakan ajang memperebutkan kursi dan jabatan. Tetapi, tentunya kita tetap harus mempunyai etika berpolitik termasuk etika antar lawan politik harus dijaga. Dalam hal ini; pencitraan lawan poilitik yang menjatuhkan dan menjelek-jelekan lawan politiknya merupakan gambaran bahwa kita tidak berangkat dari idealisme hakiki tetapi idealisme hanya sebuah selogan, pencitraan ini bisa secara institusi ataupun secara personal para pelau politiknya.

Etnosentris golongan ataupun pribadi dalam hal ini sering pula terjadi, bahwa dirinya, komunitasnya, organisasinya adalah paling hebat, paling intelek, paling popular, paling mengerti dunia perkaderan, paling gesit dalam bergerak, paling tahu tentang managemen organisasi dan serba paling tahu yang lainnya, sehingga akan melahirkan sikap bahwa orang lain sebaiknya; bahwa orang lain tidak punya idealime, orang lain tidak punya orientasi perkaderan, orang lain tidak mengerti tentang organisasi, orang lain tidak cukup wawasan dalam dunia keilmuan, pokoknya yang paling hebat adalah dirinya dan paling berhak adalah dirinya, orang lain minggir. Tidak segan pula menggunakan sinisme daerah.
Yang jelas apabila suatu perjuangan berangkat dari idealisme hakiki maka akan melahirkan dan menghasilkan sesuatu hal yang positif. Tetapai apabila perjuangan termasuk perjuangan politik praktis, berangkat dari idealisme slogan akan menghasilkan sesuatu hal yang negatif. Secara psikologis pun sudah terasa.

Maka sudah terjadi pemerkosaan idealisme dan pembohongan publik, apabila kepentingan golongan dan pribadi dikemas dengan kata-kata idealisme, apalagi dengan penjualan kontitusi dan ayat suci, apalagi sudah merugikan secara psikologis personal dan ummat yang lain. Jadi tak perlu mengatasnamakan idealisme, tak perlu mengatasnamakan ummat jauh-jauh mengatasnamakan Islam. Yang ada hanyalah kepentingan manusia. Laknat bagi orang-orang yang mengatasnamakan agama demi kepentingan golongan dan kehidupan pribadinya. Laknat pula bagi orang-orang yang mengatasnamakan konstitusi dengan penafsiran sempitnya demi kepentingan pribadi dan rengrengannya.

Idealisme semestinya berangkat dari kehidupan sehari-hari, tidak ada dikhotomi antara sikap, perbuatan dan pikiran-pikiran benarnya, idealisme seharusnya tidak berbicara masalah jatah kursi, idealisme tidak pernah menyinggung perasaan orang, idealisme tidak pernah menunggangi konstitusi dan ayat suci untuk kepentingan pribagi dan golongan. Idealisme hakiki mempeerjuangkan kemanusiaan, bukan memperjuangkan manusia yang memberinya jatah makan.

Pada akhirnya kita kembali pada diri kita sendiri, Wallahu A’lam.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Anonymous
AUTHOR
Apr 6, 2013, 12:17:00 PM delete

Solid state lighting does not have any moving components inside it.
4 (blue) - to enhance wisdom and imagination, emotions, calm the anger.
These chips directly convert electricity to light without the use of a filament or glass bulb.


Here is my blog - Tischleuchten

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon