Innalillahi versus Anjing

Innalillahi dan anjing, memang tidak ada kaitannya secara bahasa, khususnya bahasa formal. Tapi kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, Innalillahi dan anjing, menunjukan tanda-tanda dalam mengungkapkan makna yang (mungkin) hampir sama


Innalillahi merupakan potongan dari kalimat innalillahi wainnailaihi rojiun. Dalam kehidupan sehari-hari pernyataan tersebut sering dan dianjurkan untuk digunakan penerapannya apabila kita terkena musibah; kecelakaan, kematian dan musibah lainnya. Atau dalam hal yang sama dengan ruang lingkup musibah yang paling kecil, pernyataan innalillahi digunakan penerapannya ketika kita mendapatkan kareuwas atau sesuatu hal yang mengagetkan kita. Anjuran ini tentunya kita dapatkan dari guru kita sewaktu kita kecil di pengajian.

Sedangkan anjing, dalam artian yang sebenarnya adalah binatang peliharaan yang dianggap najis. Sehingga seorang muslim sangat pantang untuk menyentuh yang namanya anjing. Bahkan saking najisnya, kita mesti mencuci hingga tujuh kali apabila kulit kita bersentuhan langsung dengan salah satu bagian dari anggota tubuh Si Anjing.

Innalillahi dan anjing, memang tidak ada kaitannya secara bahasa, khususnya bahasa formal. Tapi kalau kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari, Innalillahi dan anjing, menunjukan tanda-tanda dalam mengungkapkan makna yang (mungkin) hampir sama. Kenapa saya berani mengungkapkan hal ini?. Sebetulnya mudah saja, karena kata innalillahi yang seharusnya digunakan ketika kita mendapatkan musibah, sudah digeser penggunaannya oleh kata anjing. Hal ini tejadi dalam kehidupan keseharian kita. Coba saja tengok ke teminal, anak-anak kecil di kampung-kampung bahkan para mahasiswa di kampus kita, tidak sedikit yang kurang merasa sempurna apabila panggilannya tidak menggunakan kata anjing.(anjing)

Tidak tebatas pada penggunaan kata/ ungkapan saja sebetulnya, tapi sudah menyatu dengan sikap keseharian. Sikap-sikap anjing, yang menunjukan sifat kebinatangan sudah menjadi sifat sebagian manusia. Sifat ini merambah ke semua stratifikasi sosial pendidikan manusia. Tidak terbatas pada orang yang tidak berpendidikan atau yang bependidikan rendah saja. Sikap-sikap anjing (anjing dalam bahasa sunda) sudah merambah pada wilayah institusi agama, mahasiswa, dosen, para pejabat, para petugas haji. Bahkan kalau kita dengar berita-berita di Televisi, sikap-sikap ini sudah merambah pada seorang bapak/ ayah, guru ngaji dan banyak lagi.

Sikap anjing yang saya maksud adalah kecenderungan penggunaan naluri kebinatangan yang berlebihan, kecenderungan mengukur kenikmatan atau kebahagiaan hanya dengan ukuran materi, kebahagiaan akan didapat apabila sejauh mana kita mencapai hal-hal yang kita inginkan secara kebendaan. Entah ini karena pengaruh budaya dan keilmuan Barat yang cenderung materialistik, mengukur segala sesuatu dengan ukuran kebendaan dan tampilan pisik, atau memang kurangnya benteng diri dengan sesuatu hal yang transenden, entahlah.

Innalillahi, saya mendengar bahwa penyelenggaraan haji yang merupakan “proyek” rukun islam justeru banyak terjadi penyimpangan khususnya dalam hal pinancial, keuangannya dikorupsi oleh (oknum) petugas. Ini menunjukan institusi yang berbau “proyek” keimanan pun telah tergadaikan dengan sesuatu yang materi. Institusi yang seharusnya memberikan uswah, ternyata sebaliknya. Innalillahi, saya pun mendengar banyak berita tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang ayah tehadap anak kandungnya, seorang adik memerkosa kakak kandungnya, kakek-kakek memerkosa cucunya, bahkan seorang anakpun sudah tega menodai ibu kandungnya. Seorang Guru ngaji pun yang seharusnya membimbing muridnya secara moral, justeru “membimbing” muridnya untuk melakukan perbuatan tuna susila.

Para (oknum) mahasiswa pun menunjukan hal yang sama. Tidak sedikit yang terjaring kumpul kebo, kasus perkosaan, ayam kampus, bandar narkoba dan lain-lain. Bahkan kalau kita baca buku “Kuda Troya Komunisme”, gerakan mahasiswa yang mengatasnamakan moral dan reformasi tahun 1998, justeru dilumuri dengan perbuatan asusila, Innalillahi. Betapa tidak, mahasiswa yang terkenal dengan jargon agen perubahan itu, ternyata tidak konsisten dengan jargonnya. Lebih parah adalah yang seharusnya membimbing dan memotivasi mahasiswa untuk menentukan masa depannya, justeru merusaknya, dengan “membimbing”nya ala “privat” gratis di kostan alias ngamar. Sungguh tidak pantas, apalagi dilakukan di sebuah Perguruan Tinggi Islam.

Contoh kasus di atas, menunjukan gejala kebinatangan, tidak beda dengan anjing alias Anjing, gejala yang sudah tidak lagi berbicara perasaan kemanusiaan. Gejala tersebut lebih mengedepankan penonjolan sisi kebinatangannnya daripada sifat kemanusiaannya. Salahkah bila kita menyebutnya anjing? Innalillahi ternyata di sekitar kita sudah banyak anjing…., ya anjing-anjing berkeliaran di mana-mana, di rumah sendiri, di kampus sendiri, di dalam institusi agama, masuk ke kelas-kelas, masuk ke ruangan sidang rakyat, masuk ke mesjid dan langgar, masuk ke institusi pemerintahan. Salahkah bila kita seringkali mengucapkan dan memanggil teman kita, atasan kita, para oknum di semua bidang dengan panggilan anjing, karena sikapnya tidak beda dengan anjing. Innalillahi ada anjing…., jangan-jangan kita juga anjing, lebih innalillahi lagi.


Dibuat ketika banyak kasus guru mencabuli muridnya, atau dosen mencabuli mahsiswanya, bahkan seorang ustadz (guru ngaji) bahkan sampai pejabat yang berbuat cabul...

span>

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon