Jalan terjal kebenaran

Rabbi, bila kiranya kekosaongan jiwa ini bisa merupakan permulaan dari sebuah renungan baru tentang rahasiamu, masukanla aku lebih dalam pada kekosongan itu agar aku lebih tekun mencari artinya


Entah dari mana saya mendapatkan “ilham”, Penyebutan kitab (Al-Qur’an) di atas saya menginginkan bukan makna dalam bentuknya yang formal sebagai sebuah teks tertulis atau teks alam raya, kita mengenalnya dengan sebutan ayat Qauliyah dan ayat Qauniyah. Mungkin terpengaruh oleh cerita-cerita hikmah, cerpen spiritual atau bacaan-bacaan yang bersifat psikis. Kitab (Al-Qu’an) yang saya maksudkan disini adalah kondisi mental seseorang dimana seseorang bisa merasakan sedih, gelisah, gembira, takut, berani, tidak PD dan lain sebagainya yang menunjukan kondisi kejiwaan seseorang. Kondisi-kondisi seperti itu bagi saya adalah sebagai sumber nilai, yang dapat memberikan bimbingan hidup.

Gelisah dan kawan-kawannya sebagai kondisi mental yang tidak stabil merupakan tarik menarik antara id, ego dan super ego (dalam istilah psikoanalisis freud, lihat). Id merupakan bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (libido, tuntutan hewani) yang tidak akan pernah memuaskan sesorang ketika id nya terpenuhi. Ego merupakan jembatan id dengan realitas. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Dan super ego, ia adalah hati nurani yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan kultural masyarakat. Ego berada ditengah-tengah, antara memenuhi desakan id dan peraturan super ego.(RAKHMAT : 1986)

Kondisi mental yang telah disebutkan merupakan pertarungan antara id, ego dan superego. Apabila kita sering melakukan perbuatan maksiat (berzina, minuman keras, judi dll) yang merupakan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma masyarakat terlebih agama yang kita anut. kita semata-mata hanya memnuhi hasrat dari id kita, sedangkan disisi lain kondisi mental kita tidak hanya dipengaruhi oleh id tapi juga ego dan superego yang menuntut adanya rasionalitas dan menjungjung nilai yang di anut. karena ketiga komponen psikis tersebut berada di alam bawah sadar (naon nya alam bawah sadar teh?) maka tanpa kita sadari ego dan superego akan menuntut id agar melakukan rasionalitas dan penjungjungan terhadap nilai, sedangkan id keukeuh ingin ngalajur nafsu. Apabila antara ketiga komponen psikis ini saling menuntut sebagaimana perannya, maka akan terjadi pertarungan. Pertarungan ini akan mengakibatkan kondisi mental kita yang tidak stabil (gelisah, gembira dan kawan-kaannya). Pada satu waktu tertentu akan mencapai ujung, di mana ia berada, kalau tidak pada kehancuran berarti sebaliknya. Id, ego atau superego yang akan memenangkan pertarungan tersebut.

Pada sisi lain ego dan superego bekerja sama menuntut keberfihakannya terhadap rasionalitas dan nilai, bisa jadi id pun kalah. Dan pada kondisi inilah seseorang yang dalam keadaan kacau tersadarkan oleh keadaan kejiwaanya, ia akan melakukan rasionalitas dan menjungjung kembali nilai. Tetapi sebelum ia “kembali”, kondisi kejiwaanya akan benar-benar kacau. Karena kelebihan manusia salah satunya terletak pada akal maka ia akan mempertanyakan tentang kondisinya yang kacau. Kenapa dan mesti bagaimana melakukan penyembuhan.

Keadaan kacau tersebut merupakan pelajaran (yang tentu saja saya menyebutnya dengan kitab kehidupan/ Al-Qur’an) yang akan membimbingnya kepada kebenaran. Maka sesungguhnya perbuatan dosa yang akan membuat kita gelisah, atau seorang pacar yang membuat kita terus merasa gundah gulana adalah sesuatu hal yang patut kita syukuri. Siapa yang telah membuat kita melakukan dosa?! Dalam bahasa agama ia disebut syetan, maka selayaknya kitapun berterimakasih kepada syetan karena telah membimbing kita juga. Syetan telah membuat jalan terjal itu, sehingga kita sangat ingin merasakan dengan jalan halus, kita akan haus akan pertemuan kita dengan Sang Maha Benar.

Kalau dalam teks NDP keterbelengguan terhadap sesuatu selain Tuhan (termasuk ikatan tradisi) adalah penghambatan terhadap kemajuan peradaban, tapi saya pikir justru bisa sebaliknya. Tentunya kita ingat tentang kebangkitan Adam dan Hawa dari Surga. Bukankah itu pelajaran berharga bahwa kita messti bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada iblis. Adam telah melakukan dosa maka terjadilah proses peradaban. Adam mengembara dalam kegelisahan, jalan terjal menuju Surga. Ia melakukan perjalanan gelisahnya selama empat puluh tahun. Dan kondisi gelisah (pertaubatan) itu telah menghantarkannya menuju Sang Kebenaran kembali, taubatnya diterima Tuhan.

Maka bentuk-bentuk kegelisahan dan kawan-kawannya, kondisi mental psikis yang tidak stabil sesungguhnya merupakan bentuk lain menuju kokohnya kepercayaan. Sebab dengan realitas seperti itu, pelaku kegelisahan akan melakukan sejumlah rasionalitas yang mempertanyakan kenapa kondisi kejiwaannya mengalami gelisah yang tiada ujung, dari semacam pertanyaan kecil pelaku kegelisahan akan mencari jawaban dan solusi sesuai dengan kadar kemampuan serta pengetahuannya.

Walaupun kondisi mental sangat bersifat subjektif, tapi kiranya kita mesti menghargai dan mengapresiasi kawan-kawan kita yang hidup seolah olah terasing dan nyleneh, bisa jadi kawan kita itu sedang mencari Kebenaran, asal disesuaikan degnan situasi dan kondisi di mana lingkungan dia menampungnya. Bukankah sufi besar sepanjang zaman lahir karena kegelisahan ? atau pelopor postmo juga lahir karena kegelisahan, walupun tidak pernah bertemu dengan Sang Kebenaran?bahakan ia dicap gila.

Akhirulkalam, mudah-mudahan catatan ini membuka tirai diskusi.Amin
Wallahu A’lam.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon