Mencari Eksistensi dan Makna Hidup

Beragam cara untuk memajukan diri, memajukan kampus, agama, bangsa dan negara ini. Dan dengan caranya maing-mainglah mereka menyumbangkan kebanggaan untuk negeri ini, sumbangan mereka tentu sangat berharga walau aktivitasnya hanya nongkrong melihat orang lalu-lalang, tapi itu adalah cara yang paling dianggap baik dari pada para maling jemuran dan maling uang negara yang telah meresahkan dan membuat sengsara rakyat banyak.


Bintang film pun punya caranya sendiri untuk memperjuangkan revolusi Indonesia…

Sepenggal kalimat di atas merupakan pernyataan seorang tokoh dalam Roman revolusi; Larasati, buah karya dari Pramoedya Ananta Toer. Pernyataan itu diungkapkan tatkala orang disekelilingnya meragukan eksistensi perjuangannya, layaknya seorang wanita yang lemah, banyak orang yang meragukan kesungguhan perjuangannya bertempur di Medan perang. Bagaimana mau percaya, seorang bintang film besar yang terbiasa dengan hidup mewah, makan enak dan selalu dilayani dikelililingi godaan pragmatis, imbalan yang menggiurkan dari Belanda untuk main film, tiba-tiba ingin bergelut dengan lumpur, darah, mayat-mayat dan kelaparan. Tapi larasati mempunyai tekad untuk membantu revolusi. Tekadnya sebagai seorang pejuang tak cepat surut dengan gambaran kepedihan. Walau pada kenyataannya ia (Larasati) takut akan darah, orang-orang mati dan tak pernah memegang revolver, tapi dengan caranya dan kesungguhannya berjuang, ia tetaplah seorang pejuang. Ia tetap konsisten, ia bahkan lebih memilih hidup sengsara daripada melacurkan diri untuk Belanda.

Secara fisik ia adalah orang yang lemah, takut melihat darah dan mayat-mayat yang bergeletakan di jalan raya bahkan iapun tak bisa mempergunakan senjata. Ia tetaplah seorang pejuang, dibanding dengan para mata-mata dan pejuang munafik yang melacurkan diri menerima tawaran menjadi nica atau menjadi mata-mata untuk Belanda, Larasati berjuang dengan caranya sendiri.

Ada satu pelajaran yang bisa saya ambil dari roman tersebut, bahwa sekecil apapun peran kita dalam masyarakat, sekecil apapun sumbangan kita untuk bangsa dan negara, tapi kita punya niat, tekad, tujuan dan sifat sebagai seorang pejuang yang memperjuangkan keyakinan benar kita.Kita bukanlah apa-apa di abnding para pengambil kebijakan negeri ini, tapi kita menjadi sesuatu yang berharga bila dibandingkan dengan penjilat negara, bila kita konsisten dengan perjuangan moral walaupun hanya untuk pribadi dan keluaraga kita, toh kita tak memberatkan siapapun.

Pada tulisan saudara Usep Saefulloh dalam PR suplemen KAMPUS Edisi Kamis (wage) 23 maret 2006 dengan tema: Aktivis Kampus Bisa dengan Caranya Sendiri, cukup menggelitik otak saya untuk segera menaggapi. Ada hal yang sama saya rasakan dengan Usep sebagai cerminan dari realitas para aktivis, baik ekstra kampus atau pun intra kampus.

Ada pergeseran orientasi yang kini saya lihat dengan berbagai aktivitas aksi para aktivis . perubahan orientasi ini meruapakan karakter umum dari mahasiswa dan pemuda lainnya. Kalaupun yel-yel dan pernyataan yang selalu mereka katakan adalah perubahan, menurut saya hanyalah lipstik belaka. Hal ini berdasarkan beberapa pandangan:
1.terpolarisasinya ideologi gerakan mahasiswa. Gerakan yang dilakukan mahasiwa cenderung membawa bendera masing-masing, kalaupun wacana yang dijadikan isu sama, mereka tak pernah menyatukan suara dan massanya untuk digabungkan. Sehingga kesan yang kita tangkap bahwa para aktivis ini cenderung masing-masing. Hal ini disebabkan;
2. merujuk teori Cultural Studies, mahasiswa tergolong ke dalam kategori tunggal (masa transisi dari anak-anak menuju dewasa), dengan karakteristik-karakteristik psikologis dan kebutuhan sosial di mana ia butuh identitas karena masa muda merupakan tahapan perkembangan yang bersifat membentuk di mana ia butuh media untuk mengeksiskan diri. Secara biologis dan psikologis mahasiswa merupakan bagian dari pemuda sehingga karakaternya pun sama secara umum.

Polarisasi gerakan mahasiswa atau aktivitas aksi yang dilakukan mahasiswa sesungguhnya apabila dilihat dari pandangan cultural studies pada point dua di atas merupakan gejala yang umum dan mencirikan hal yang sama ingin sama-sama eksis pada dunia mereka masing-maing. Para aktivis dengan aksi demonstrasinya dan teriakan-teriakan perubahannya. Bagi mereka para aktivis adalah suatu hal yang luar biasa bisa berteriak-teriak didepan banyak orang bahkan di depan presiden dan para anggota dewan, pada saat itu dunia mereka menjadi segala-galanya, dan itu merupakan corong kebanggaan mereka.

Bagi para aktivis imaginer pun, aktivis dakwah, aktivis mesjid, anak Band, dan aktivis yang lainnya apabila kita lihat dengan menggunakan sudut pandang di atas mencirikan gejala yang sama, bahwa pada dasarnya mereka ingin eksist dan ingin diakui oleh kawan-kawanya pada dunia mereka masing-masing. Bagi seorang playboy atau anak muda yang senang gonta-ganti pacar (pasangan) eksistensi bagi dirinya adalah ketika seberapa jumlah perempuan yang sudah ia taklukan hatinya. Bagi seorang anak band, sebuah kebanggaan kalau dia bisa tampil optimal di atas panggung dengan disoraki ribuan penonton. Bagi seorang kutu buku, adalah sebuah kebanggaan ketika dalam satu hari ia dapat faham dan mampu melahap sekian banyak buku. Bagi aktivis EO (Event Organizer) menjadi sebuah kebanggaan apabila event yang dilakukannya sukses besar dan menuai untung. Termasuk bagi seorang tukang nongkrong pun menjadi sebuah kebanggaan pula apabila dari aktivitas nongkrongnya menghasilkan sesuatu. Dalam hal ini pun sama untuk aktivis politik kampus akan menjadi sebuah kebanggaan apabila ia bisa meraih massa sebeanyak-banyaknya demi kepentingan politik kampusnya.

Yang menjadi kebanggaan para aktivis di atas merupakan bentuk eksistensi dari masing-masing dirinya, mereka besar dan mandiri dengan cara pandang mereka sendiri, anak nongkrong pun bukan berarti tanpa tujaun, siapa tahu karena ingin mendapatkan inspirasi dalam menulis atau merelaksasikan diri dari pekerjaan berat maka nongkrong adalah sebuah kegiatan yang sangat menyenangkan, apalagi dari kegiatan nongkrongnya menghasilkan sesuatu, misalnya inspirasi menulis atau bisa menggoda seorang perempuan. Dari pandangan di atas menunjukan gejala yang sama, bahwa aktifitas yang dilakukan oleh seorang pemuda atau seseorang yang beada dalam wilayah transisi secara psikologis, maka kebutuhannya adalah pengakuan dari dunia selain dirinya yang menunjukan akan eksistensinya..

Beragam cara untuk memajukan diri, memajukan kampus, agama, bangsa dan negara ini. Dan dengan caranya maing-mainglah mereka menyumbangkan kebanggaan untuk negeri ini, sumbangan mereka tentu sangat berharga walau aktivitasnya hanya nongkrong melihat orang lalu-lalang, tapi itu adalah cara yang paling dianggap baik dari pada para maling jemuran dan maling uang negara yang telah meresahkan dan membuat sengsara rakyat banyak.

Itulah subkultur atau kekhasan gaya hidup anak muda termasuk mahasiswa yang selalu ingin beda dengan orang lain. Hal ini sebagai bentuk mencari identitas dirinya yang berada dalam masa transisi. Anak-anak muda yang kurang perhatian dari lingkungan sekitarnya termasuk dari keluarganya seringkali memisahkan diri dan mencari kelompok atau orang yang bisa mengakui bahwa dirinya ada. Pada satu sisi yang negatif apabila salah pergaulan anak muda yang mencari identitas ini akan terjerumus pada hal-hal yang tidak diinginkan oleh norma keluarga dan masyarakatnya bahkan dirinya, misalanya terjerumus dengan komunitas pemakai narkoba, free sex, dan lain-lain, tapi pada sisi yang positif anak muda (mahasiswa) ini akan cenderung menonjolkan diri terhadap aktivitas yang membuat dirinya bangga; menjadi aktivis organisasi atau politik, anak band, komunitas hobi, komunitas minat bakat dan lain-lain. Seperti halnya cerita roman Larasati di atas, ktidakberdayaan dan kelemahan Larasati bukan penghalang untuk berkeinginan dirinya berjuang, perjuangan larasati bukan melulu berjuang untuk revolusi Indonesia, tapi karena dirinya ingin diakui, dihargai oleh para pejuang dan masyarakat sekitarnya sebagai bentuk dari eksistensi dirinya. Dan disitulah kita menemukan makna hidup. Pengakuan ini menurut Maslow, seorang fsikolog, merupakan salah satu kebutuhan manusia yang beranjak dewasa.

Menurut Kang Jalal (Jalaludin Rakhmat), ada berbagai teknik untuk mengungkap makna hidup, pertama; Makna kita temukan ketika kita menemukan diri kita sendiri. Anak nongkrong yang hidup sederhana dan masih dalam bimbingan orang tua akan menemukan dirinya ketika melihat anak muda broken home yang terjerumus pada komunitas narkoba dan kumpul kebo. Anak muda nongkrong leboh baik dari pada merke yang kehilngan kasih sayang orang tua lantas terjerumus.
Kedua, Makna muncul ketika kita menentukan pilihan. Seorang aktivis yang kebingungan memilih antara organisasi dan aktifitas nongkrongnya akan menemukan makna hidup ketika dia punya tujuan jelas dengan apa yang dipilihnya. Anak muda nongkrong akan akan menemukan makna hidup ketika membandingkan bahwa banyak aktivis hanya ikut-ikutan belaka dan ternyata menjerumuskan aktivis pada bolosnya kuliah, sedangkan aktivitas nongkrongnya mempunyai tujuan jelas untuk relaksasi atau mencari inspirasi menulis cerpen.

Ketiga, Makna ditemukan ketika kita merasa istimewa, unik, dan tak tergantikan oleh orang lain. Kita akan menemukan hidup kita ketika hidup kita benar-nar dibutuhkan oleh orang sekeliling kita.seorang pasangan yang membutuhkan kita, seorang pimpinan yang baik yang selalu dibutuhkan dan dipuji oleh mitra kerja dan bawahannya.
Keempat, makna membersit dalam tanggungjawab. Seorang aktivis organisasi akan menemukan makna hidupnya apabila ia mampu mempertahankan idelaismenya sebagai aktivis mahasiswa, tahan godaan tawaran pragmatis, money politic dari penguasa dll.
So, jangan pernah khawatir bahwa kita tidak pernah berguna untuk negeri ini, seekor lalat dan nyamukpun Tuhan ciptakan dengan manfaatnya agar kita berprilaku hidup bersih dan sehat, apalagi kita sebagai manusia yang Tuhan ciptakan dengan banyak kelebihan. Yang perlu kita tanamkan hari ini adalah tujuan hidup kita; kenapa kita hidup, untuk apa kita hidup, dana mesti bagaimana kita hidup. Itulah sejumlah pertanyaan yang mesti dijawab degan action real untuk memberikan kontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan negara ini wabil khusus untuk menemukan makana hidup diri kita.

Kemajuan keluarga, kampus, agama, bangsa dan negara tergantung pada kemajuan hidup diri kita sendiri. Mengutif perkataan; Marwah Daud Ibrahim; bahwa kemajuan/ keberhasilan organisasi adalah akumulasi dari kemajuan/ keberhasisan individu. Jadi walaupun untuk saat ini aktivitas kita hanya nongkrong, tapi selama itu memberikan dan bisa makna hidup bagi kita jangan pernah takut apalagi selama nongkrong imajinasi kita mengembara melintasi batas kemajuan, melintasi batas keinginan yang mulia untuk membangun diri dan negeri, bukankah maju tidaknya seseorang, besar tidaknya kita ditentukan oleh seberapa besar mimpi dan imajinasi kita untuk maju menjadi manusia multiguna?.

Menegaskan kembali pernyataan di atas, Tuhan tak pernah menciptakan manusia dalam rupa dan bentuk yang sama, sekalipun kembar shiam. Allah menciptakan manusia yang beragam dengan nasibnya yang beragam. Manusia menemui makna hidup dengan cara dan bentuknya sendiri. Begitupun Allah memberi jalan masing-masing kepada Manusia sesuai dengan keinginan dan kemampuannya, seperti halnya pernah Nabi Muhammad SAW ungkapkan,” kamu lebih tau urusan duniamu sendiri”. Itu artinya bahwa kita sendirilah yang mengetahui bahwa kita akan maju atau tidak, bahwa kita sendirilah yang tahu makna hidup kita akan kita temukan dimana dan dengan cara bagaimana, bukan orang lain, bukan guru kita atau dosen, bahkan pula orang tua kita, mereka hanya memberikan fasilitas dan arahan kepada kita agar terarah sesuai dengan tuntutan agama dan etika masyarakat (norma).So, berkreatifitaslah sesuai dengan dunia kamu sendiri, kamu sendiri yang mengetahui apakah aktivitasmu berguna atau tidak untuk orang lain dan kehidupan, apakah aktivitasmu bermakna bagi dirimu sendiri?.. Lalatpun punya caranya sendiri untuk memberikan manfaat untuk kehidupan. Begitupun dengan yang aktivis kampus lakukan akhir-akhir ini, dia punya caranya sendiri untuk memberikan manfaat untuk negeri ini walaupun ungkapan perubahannya sangat klise begitupun anda! Itu semua dalam rangka menemukan identitas, makna hidup dan mengeksistensikan hidup kita.

**) Dikirim ke PR, Maret 2006 tidak dimuat.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon