Tebar rezaki saat wisuda

Tanggung jawab rektor ternyata tidak hanya secara formal melepaskan mahasiswanya yang baru saja lulus, namun juga secara tidak langsung telah menyediakan lahan untuk mengais rezeki bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Hal ini karena fihak berwenang UIN yang ditanggungjawabi rektor mengizinkan para pelaku usaha untuk membuka stand-stand usahanya selama wisuda.
[www.uinsgd.ac.id] Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Nanat F. Natsir mewisuda 800an peserta dari mulai program D3, S1 serta S2 kemarin (23/ 08/ 08) di Aula utama UIN. Pad satu sisi Rektor telah melaksanakan tanggung jawabnya sebagai rektor, kemudian saat itu pula Raktor menyerahkan peserta wisuda tersebut kepada ketua Ikatan Alumni (IKA) UIN, Dr. H. Deding Ishak yang diwakili oleh Sekretaris IKA untuk kemudian ditanggungjawabinya.

Tanggung jawab rektor ternyata tidak hanya secara formal melepaskan mahasiswanya yang baru saja lulus, namun juga secara tidak langsung telah menyediakan lahan untuk mengais rezeki bagi mahasiswa dan masyarakat umum. Hal ini karena fihak berwenang UIN yang ditanggungjawabi rektor mengizinkan para pelaku usaha untuk membuka stand-stand usahanya selama wisuda.

Berdasarkan pantauan PusInfoKom, setiap wisuda jalan-jalan di sekitar UIN selalu dipenuhi oleh stand, baik stand usaha penjualan jasa, dari mulai jasa pemotretan sampai jasa konsultasi penyakit. Dari mulai stand barang kebutuhan pribadi sampai kebutuhan rumah tangga. Dari makanan kecil sampai makanan berat. Dan tentu saja banyak jenis barang yang diperjualberlikan disini. Dengan kata lain saat wisuda, kampus UIN menjadi pusat niaga.

Syarif, seorang mahasiswa jurusan PMI fakultas Dakwah dan Komunikasi, ketika ditemui distandnya yang berlokasi didepan Kopma UIN berseloroh, ” ya lumayan kang setiap kali wisuda saya bisa cari uang tambahan makan sehari-hari”

” Selain cari uang tambahan sekalian juga praktik entrepreunership” lanjutnya dengan mantap

Selain Syarif yang menjual VCD lagu dan film ini, menurut pantauan PusInfoKom banyak mahasiswa yang diuntungkan dengan wisuda, seperti yang buka stand jasa pemotretan, buka stand kerudung dan pakaian, makanan dsb.

Berbeda dengan syarif, seorang ibu asal Rancaekek yang menjual produk pakian, seolah senang dengan untung yang diraihnya, karena mencapai ratusan ribu. Stand yang ia dirikan didepan al-jami’ah tersebut ia tungguinya hingga matahari melewati posisi atas kepala.

Tentu saja situasi dan kondisi UIN saat wisuda ini berbeda dengan kampus tertentu yang melarang semua pedagang berjualan, termasuk pedagang yang sudah mempunyai kios. Mudah-mudahan UIN mah tetap memasyarakat, salah satunya dengan membiarkan masyarakat mengais rezeki dari acara wisuda.*** [dudi_PusInfoKom]

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon