Di Tunggu ya…

Ini pengalaman yang cukup menyadarkanku bahwa komunikasi adalah sesuatu yang gampang-gampang sulit. Gampang untuk diucapkan namun sulit dalam praktik sehari-hari. Seperti halnya dalam pratik komunikasi yang pernah penulis simulasikan ketika mata kuliah Prof Deddy saat pertama kali masuk pasca UNPAD.

Kejadian ini beralangsung 5 Tahun yang lalu, ketika penulis aktif sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Bandung. Saat itu merupakan musimnya Orientasi Mahasiswa Jurusan, begitupun jurusan kami saat itu melaksanakan Ospek jurusan yang dilaksanakan di pesantren Al Washilah Garut.

Kejadiannya sangatlah sederhana. Saat itu penutupan OSPEK dilakukan pada siang. Setelah para peserta OSPEK selesai melaksanakan shalat dzuhur barulah pihak panitia mengumumkan untuk pelaksanaan penutupan. Dan seperti tradisi di kami setelah selesai penutupan kami melakukan musafahah atau besalam-salaman. Sebagai ketua umum atau saat itu dipanggil presiden mahasiswa (keren banget tuh namanya pake presiden segala…he..he) tentu saja harus memasang wajah dan kata-kata yang ramah dan bijak walaupun badan capek dan lemes karena tidak tidur seharian karena selesai jurit malam.

Setiap bersalaman dengan anggota baru mahasiswa KPI yang baru saja diambil sumpahnya untuk setia kepada jurusannya, saya selalu tersenyum lebar dan tentu saja sambil berucap,” ditunggu ya keatifannya di BEM”. Perkataan itu penulis ulang kepada setiap mahasiswa baru yang selesai melaksanakan OSPEK sebelum akhirnya mereka naik ke Bis untuk pulang.

Ada sekitar 150-an mahasiswa pada saat itu, dan itupun tidak mengikuti kegiatan seluruhnya. Setiap bersalaman penulis ucapkan kata-kata di atas dan lama kelamaan karena mungkin merasa capek tanpa penulis sadari kata-kata” ditunggu keaktifannya di BEM (HMJ)” direduksi oleh penulis menjadi “ ditunggu di BEM ya…”

Singkat cerita akhirnya para peserta pun pulang ke rumahnya masing-masing dengan menggunakan BIS sewaan dan penulispun pulang ke rumah penulis karena dirasa perlu istirahat setelah selama empat hari berkegiatan; cape hati, otak dan tentu saja fisik.

Setelah istirahat sehari di rumah (Garut) akhirya penulis berangkat lagi ke Bandung untuk langsung kuliah. Nah…, ketika di bis tersebutlah ada seorang perempuan menelepon,

” Kakak, Billa udah ada di BEM nih…” katanya manja
Kontan saja saya kaget,” apa maksudnya” Tanya dalam hati…
“ maaf siapa ini terus ada perlu apa ya…” tanyaku
“ Kakak gimana sih, ini Billa Kakak, katanya kemarin disuruh ke BEM…”
“ Kakak dimana” katanya lirih
“ Kakak lagi di bis” jawabku

Saya terheran-heran, perasaan gak janjian sama siapapun, “siapa lagi Billa” Tanyaku dalam hati.

Tanpa pikir panjang akupun mengiyakan

“ O ya tunggu aja ya sebentar lagi nyampe, nih lagi di Bis, baru nyampe Ranca Ekek” tambahku tegas walupun agak bingung.

Setelah sampai di kampus, aku smsan akhirnya yang kemudian diketahui bahwa namanya Salssabilla, mahasiswa baru yang baru di OSPEK kemarin.

“ Kakak Billa Tunggu di mesjid aja ya..” pesan singkat aku terima dari Billa
“ Ya Kaka udah masuk kampus nih..” jawabku

Setelah akhirnya bertemu akhirnya aku konfirmasi dengan bertanya sambil pura-pura ga bingung..

“ Gimana salsabilla?” tanyaku seolah menanyakan apakah dia siap untuk aktif di HMJ apa tidak…

“ Kaka gimana sih katanya ditunggu ini malah masih di Bi, bila nunggu dari tadi nih”
“ Eh sebentar, emangnya Kakak janjian sama bila untuk ketemu di secretariat gitu?” tanyaku heran

“ Idih si Kakak gimana sih, bukannya kemaren bilang, kalo katanya billa besok ditunggu ya di BEM” jawabnya memelas

Barulah aku tersadar bahwa telah terjadi misskomunikasi. Mulai dari situlah aku jelasin bahwa aku tidak mengatakan “ditunggu besok” tapi “ditunggu ya di BEM” maksudnya bukan menunggu Billa seorang tapi secara keseluruhan mahasiswa baru agar ikut akitf memajukan BEM/ HMJ KPI.

Setelah dijelasin seperti itu akhirnya Billa mengerti bahwa telah terjadi salah faham. Bahwa yang dimaksud ditunggu itu tidak hanya ditujukan pada Billa namun untuk semua mahasiswa KPI. Dan sejak saat itulah, Billa akhirnya sering ngajak ketemuan karena katanya aku tipe cowok idamannya….(waduh Cape deh…)

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon