Bedanya Mobil dan Kendaraan

Pada tanggal 11-15 Desember minggu lalu penulis bersama seorang teman di Pascasarjana diminta bantuan oleh teman sekelas untuk melakukan tugas survey tentang Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Perjalanan saya dimulai dari Bandung kemudian ke Semarang dengan menggunakan Bis Nusantara. Sesampai di Semarang saya bermalam di Hotel Terboyo, pas berada di sebelah terminal terboyo. Menjelang siang sekitar pukul 09.00 kami berdua menuju ke Dinas ESDM Provinsi. Dalam proses pencarian tersebut memakan waktu yang lama, sampai harus muter-muter dulu, karena lokasinya berada sedikit ke dalam, walaupun sebetulnya jika sudah mengetahui ada jalan pintas. Setelah akhirnya Tanya kesana kemari akhirnya lokasi kami temukan juga—dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah. Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari dinas ESDM mengenai lokasi-lokasi PLTMH di Seluruh Jawa Tengah, kami pun menuju salah satu lokasi sesuai dengan petunjuk dari Dinas ESDM. Lokasi yang kami pilih pertama adalah daerah Pekalongan.

Sebelum akhirnya tiba ke Pekalongan saya pesen ke temen, wah jangan pake hotel-hotel yang mahal, tapi yang sederhana saja. Pesen itu disampaikan ke temennya yang kebetulan kerja di pekalongan. Namun setelah itu kami diantarkan malah ke sebuah penginapan yang menurut kami itu di bawah standar, artinya untuk ukuran kami saat itu, karena perubahannya drastis dari hotel pertama yang kami inapi. Namun tidak menjadi masalah toh bila masalah tempat tidur kita bisa lakukan dimana saja sekalipun mesti di mushala.

Setelah istirahat satu malam dan bertanya mengenai lokasi yang akan kami kunjungi yaitu daerah Petungkriyono tepatnya desa Curug Muncar, kami kebingungan harus naik apa kami kesana, sedangkan lokasinya jauh, sedangkan jika naek kendaraan umum pasti tidak akan keburu waktunya karena kebetulan saat itu hari jum’at. Akhirnya teman saya mengusulkan dengan naik taksi agar bisa cepat…

”Wah gila naik taksi”, pikirku, padahal kita belum tau lokasinya seperti apa, kondisi dan jaraknya juga belum tahu. akhirnya saya sarankan untuk menyewa motor, disamping akan lebih murah dari taksi yang jelas bisa sampe cepetnya, pikirku saat ini.

Inti cerita yang bermadzhab Mulya terjadi disini ketika kami mendatangi pangkalan ojeg di jalan urip.

setelah kami ngobrol tentang maksud untuk mencari sewaan kendaraan akhirnya salah satu dari kami bertanya tentang lokasi Curug Muncar, tempat PLTMH.

” Pak kalo ke Petungkriyono desa curug muncar berapa lama? tanya kami

“ Kalo pake Mobil itu sekitar satu jam setengah, tapi kalo pake Kendaraan paling tiga perempat jam bahkan bisa setengah jam”

Saat itu saya belum conect tentang mobil dan kendaraan yang dicetak tebal di atas karena kebetulan teman saya yang kebetulan orang jawa yang berbicara dengan mereka.

Namun setalah agak lama saya berfikir dan hanya dipendam dalam hati karena takut-takut salah karena saya orang sunda, ga ngerti bahasa jawa (pekalongan), saya pun berpikir, “lho ko kalo pake mobil sampe satu jam setengah, tapi kok kalo pake kendaraan Cuma setengah jam”. pikirku

Setelah sampe di Penginapan saya tanyakan ke temen saya mengenai ketidakmengertian tersebut, yaitu antara pengertian mobil dan kendaraan. Temen saya sambil ketawa menjelaskan,” Iki loh maksudne, mobil itu angkutan umum seperti angkot atau bis sedangkan kendaraan itu maksudnya motor atau kendaraan ojeg (motor)” jawab teman saya

Walah piye toh mas, pantesan bingung saya dari tadi, padahal kan dalam kosakata bahasa sunda mobil itu adalah bagian dari jenis kendaraan darat. Mobil sama motor sama-sama jenis kendaraan darat.

Di sinilah mungkin letak komunikasi antar budayanya, ketidakmengertian mengenai kebiasaan kekurangfahaman terhadap bahasa tertentu akan menjadi noise dalam melakukan praktik komunikasi.

Begitupun dengan yang saya alami pada saat itu, kata mobil dan kendaraan menjadi faktor kebingungan saya ketika mengeintrepretasikan satu jam setengah dan setengah jam karena ketikdamengertian saya terhadap kosakata tersebut dalam kebiasaan orang pekalongan, padahal kalo mobil dan kendaraan itu sama mengapa mesti beda waktu tempuhnya...kilah saya waktu itu di dalam hati.

(Pekalongan, Jum’at 12 Desember 2008) perjalanan bersama A. Ganjar Runtiko—dosen Universitas Jendral Sudirman Purwokerto.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon