Yakin Usaha Sampai

Satu tetes motivasi, Yakin usaha Sampai!!
Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Puji Syukur marilah kita panjatkan kepada Allah SWT yang akan senantiasa menemani hari-hari kita dalam mempersiapkan ujian Test masuk Uin SGD Bandung, Shalawat serta salam semoga tercurahlimpahkan kepada junjunan kita, pembawa obor cahaya menuju jalan surga di dunia dan akhirat, Nabi Muhammad SAW, penolong orang-orang yang sedang menghadapi ujian. Keselamatan semoga tetap sampai kepada keluarga serta para shahabat, dan syafaatnya semoga bisa sampai kepada kawan-kawan peserta dalam menghadapi ujian tes masuk UIN SGD Bandung dan juga kepada kita smeua.Amin.

Kawan-kawan sekalian, hingga tahun 1960-an semua ilmuan dan orang-orang yang mengikuti atas penelitiannya masih mempunyai keyakinan bahwa faktor utama yang menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam mencapai cita-cita adalah kecerdasan intelektual {Intelligence Quotient (IQ)}. Begitu kejamnya hasil penemuan ini hingga orang-orang yang berada di bawah rata-rata IQ dipastikan tidak akan berhasil dalam mencapai keinginannya, bahkan orang yang mempunyai keahlian tertentupun dianggap tidak cerdas sama sekali. Tetapi masuk periode tahun 1960, hasil penelitian ini dibantah oleh seorang psikolog Daniel Goleman, bahwa yang menentukan keberhasilan seseorang bukanlah Kecerdasan Intelektual, tetapi kata Goleman adalah kecerdasan Emosional (emotional intellegences).

Dari hasil penemuan ini ternyata banyak fakta yang mendukung hal ini, di antaranya semasa zaman kaum sofis dan babak filosof sejak thales; seorang filosof awal dan sokrates, plato serta aristoteles para jenius yang tak terkalahkan yang tidak diragukan lagi tingkat IQ-nya sampai masa para filosof yunani ini habis, tidak seorangpun dari para filosof ini yang mampu menciptakan satu buah rodapun untuk membantu keberlangsungan hidup masyarakat disekitarnya, pekerjaan mereka hanya berfikir dan merenung tentang alam ini tanpa peduli terhadap keadaan disekitarnya, tanpa menghasilkan satu karya nyata yang mampu dipergunakan oleh masyarakat.

Setelah masa hampir dua 14 abad dari kehidupan mereka, seorang awam yang dinilai secara intelektual tidak menonjol bahkan tidak pernah menghasilkan karya pilsafat, menggemparkan alam ini dengan penemuannya, ia berhasil menerangi seluruh dunia dengan bola lampunya, ia adalah Thomas Alfa Edison. Sebelum mencapai keberhasilan tersebut, ia telah seribu kali melakukan percobaan membuat bola lampu, namun karena ia bukan masuk pada kategori yang mempunyai IQ tinggi, maka pekerjaannya mesti diulang-ulang hingga seribu kali, tetapi rupanya yang keseribu kali ini telah banyak memberikan pelajaran hingga akhirnya mengantarkan dirinya menemukan bola lampu. Jelas dari cerita ini bahwa ketekunan dan keuletan Alfa Edison sangat menentukan penemuannya. Nah, kata Goleman, ketekunan dan keuletan ini masuk dalam kategori kecerdasan Emosi. Bayangkan jika Alfa Edison pada waktu itu termasuk orang yang cepat bosan, barangkali ia sampai hari ini kita akan masih menggunakan cempor dalam sistim penerangan, kita tidak akan pernah mengenal neon putih yang terang benderang, jalan raya pun akan tetap gelap, kehidupan malam akan begitu sepi karena tidak akan ada kendaraan yang menggunakan bola lampu sebagai sistim penerangannya, kecuali andong yang menggunakan lampu minyak tanah. Dengan keuletan dan ketekunannya, Alfa Edison menerangi seluruh dunia dengan bohlam lampu. Dan faktor dominan yang menentukan itu semua, kata Goleman adalah kecerdasan emosi (EQ). Ia melanjutkan bahwa IQ atau kecerdasan intelektual hanya 7 persen saja dalam menymbangkan keberhasilan seseorang.

Pada Tahun 570 Masehi telah lahir seorang yang ummi, tidak bisa membaca dan menulis, yang beberapa tahun kemudian paska kelahirannya, ia mampu merubah kondisi masyarakat yang jahil menuju masyarakat yang dipenuhi iman Islam, Ia mampu membuat peradaban paling menakjubkan sepanjang kehidupan manusia, Ia adalah Nabi Muhammad SAW. Yang semasa kenabiannya 22 tahun2 bulan 22 hari mencapi keberhasilan-keberhasilan. Dan bahkan keberhasilannya telah sampai kepada bangsa yang bar-bar sekalipun.
Memasuki periode tahun 1990-an seorang psikolog menyatakan bahwa faktor keberhasilan tersebut adalah kecerdasan spiritual (Spiritual Quotien/ spiritual intellegence) seperti halnya yang terjadi pada Nabi Muhammad. Pada zaman ini tercipta peradaban-peradaban besar, bukan hanya karya pilsafat dan keilmuan tapi juga di bidang militer, ekonomi, budaya, sastra, politik bahkan teknologi dan karya arsitektur. Dan jauh sebelum penemuan Zohar Nabi Muhammad telah menemukan bahwa yang menentukan keberhasilan tidaknya seseorang adalah ditentukan oleh bagaimana seorang manusia meyakini adanya yang Maha Penolong, sejauh mana umat manusia yakin bahwa do’a sangat berperan dalam kehidupan umat beragama.

Dari ketiga kecerdasan tersebut, faktor kecerdasan spiritual dan emosional adalah paling menentukan dan kecerdasan intelektual hanya menyumbangkan 7-10 persen saja. Komponen-komponen dari kecerdasan Emosi, Goleman menyebutkan ada 5 komponen, yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Dalam hal ini, berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi oleh kawan-kawan peserta bimtes dan try out adalah bagaimana agar kawan-kaan sedini mungkin mempersiapkan proses ujian saringan ke UIN. Di samping itu ada faktor motivasi, sebesar mana kawan-kawan motivasinya untuk masuk UIN ini. Kedua faktor yang saya sebutkan perlu digarisbawahi sebagai element pembantu yang akan menentukan meloloskan kawan-kawan ke UIN. Sedangkan komponen-komponen dari Kecerdasan spiritual adalah berhubungan dengan kegiatan sehari-hari kita dalam menjalankan Islam. sejauh mana do’a yang anda panjatkan anda yakini akan mampu membantu proses mendapatkan ilham dalam menghadapi ujian saringan masuk UIN. Sebagaimana disebutkan Goleman di atas. Komponen-komponen SQ berkaitan dengan keyakinan kita dan komponen-komponen yang ada di dalamnya; kesabaran, kejernihan emosi, berhusnudzon, adalah salah satu komponen-komponen dalam SQ ini. Shalat dan do’a—bila shalat dan do’a anda berkualitas—akan menciptakan itu semua; keyakinan akan lulus, berfikir positif bahwa apa yang anda lakukan adalah dalam proses mencari ridlo Allah, ketenangan mengerjakan soal dan wawancara, itu semua tidak akan anda dapatkan tanpa adanya emosi dan spritual kawan-kawan. Sepintar dan sejenius apapun kawan-kawan tetapi dalam menghadapi ujian dan wawancara kawan-kawan grogi, maka wawasan dan pengetahuan anda yang sudah anda hapal selama tiga tahun di SLA sebagai bahan ujian akan hilang begitu saja, disinilah perlunya kecerdasan emosi dan spiritual.

Sebelum diakhiri saya ingin mengutif salah satu pernyataan dari rakanda alumni Bunda marwah Daud ibrahim,” Keberhasilan organisai adalah akumulasi dari keberhasilan individu, itu artinya bahwa sang aku (anda) merupakan faktor utama dalam menentukan keberhasilan tidaknya menghadapi tes saringan UIN. HMI sebagai organisasi kemahasiswaan yang sangat peduli terhadap kelulusan para calon mahasiswa, hanya menjadi mediator dan pembantu untuk membukakan hati kawan-kawan, memberikan motivasi dan tip-tips secara psikologis menghadapi test masuk UIN dan tentunya trik menjawab soal.

BIMTEST dan TRY OUT HMI Cabang Kabupaten Bandung bisa dan disediakan untuk menumbuhkan tidak saja kecerdasan intelektual, tapi juga kecerdasan emosional dan spiritual. diantara kita bisa saling bertukar ide, sharing pengalaman, dan saling menumbuhkan motivasi dan kepercayaan diri. Hal ini akan sangat efektif bila dilakukan dengan intensif. Bimtest ini bisa dan harus juga dijadikan media konsultasi, memberikan masukan dan arahan kepada calon mahasiswa baru.

Akhirul kalam

Yakin usaha Sampai

Yakin Usaha Sampai

Yakin Usaha Sampai

Yakin bahwa Allah menemani kita dalam menghadapi Ujian

Yakin bahwa do’a dan shalat yang kita lakukan akan sedemikian dahsyatnya dalam membantu proses kelulusan kita dan tentunya akan smpai kepada Allah..

Yakin bahwa Bimtest ini tidak sia-sia…

Selamat berproses menjadi pejuang…


Disampaikan pada try out mahasiswa baru di HMI Cabang Kabupaten Bandung

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon