Konvergensi Komunikasi; shifting paradigm komunikasi atau chaos komunikasi ?

Abstrak

Kemajuan yang cepat dalam dunia teknologi informasi semakin memanjakan masyarakat. Segala kebutuhan dapat disediakan dengan satu layanan teknologi. Kini, hanya dengan menggunakan satu media baru, masyarakat dapat melakukan segala kebutuhan. Kebutuhan yang tidak hanya terbatas pada kebutuhan konvensional seperti telepon atau sms saja, tapi juga dapat melakukan kebutuhan kerja, hubungan sosial, transfer uang, mendapatkan informasi aktual seputar trend fashion, dunia bisnis, wacana pemikiran, ataupun mengirimkan foto terbaru yang langsung bisa dikirimkan pada teman-teman kita di facebook atau komunitas kita di tagged. Kemudahan dan pemanjaan oleh teknologi tersebut tidak mungkin tanpa adanya konvergensi teknologi. Konvergensi teknologi yang menghasilakan satu jenis media baru dapat menyediakan segala kebutuhan. Media konvergen tersebut merupakan produk baru teknologi yang telah menggeser paradigma baru dalam hubungan sosial manusia. Namun demikian, dengan segala kemudahan fasilitas yang ada tersebut, manusia seolah asyik dengan dunianya. Hubungan sosial menjadi hubungan yang maya yang tidak menyentuh realitas. Hiperealitas menjadi dunia baru bagi masyarakat yang gandrung akan konvergensi teknologi yang ada di depan mata. Masyarakat pun akan menemukan realitas lain sebagai masyarakat yang semakin atomistic dan anonim. Asyik dengan dunianya sendiri dan terasing dari realitas yang sebenarnya.

Kata kunci: konvergensi teknologi, paradigma, masyarakat atomistic, manusia, hiperealitas, budaya dan chaos komunikasi.

PENDAHULUAN
Dua puluh tahun yang lalu atau ketika kita duduk di bangku Sekolah Dasar, kita barangkali pernah berangan-angan tentang Televisi yang banyak salurannya (chanel) seperti halnya Radio. Bisa dipindah-pindahkan ke saluran yang berbeda, mencari acara-acara yang menarik untuk didengarkan. Dalam tayangan televisi dulu, setiap hari kita disuguhi tayangan TVRI saja, yang untuk ukuran anak-anak terlalu membosankan. Acara anak-anak hanya ditayangkan pada hari minggu, dan itupun tidak semua acara dapt diketegorikan menyenangkan kecuali film si Unyil dan Dash Yonkuro (pembalap mobil tamiya). Hari lainnya adalah acara orang dewasa yang membosankan untuk ukuran anak-anak. Namun Angan-angan ini segera terwujud setelah munculnya televisi swasta pada tahun 1990-an yaitu RCTI dan SCTV. Kehadiran RCTI dan SCTV menjawab angan-angan waktu kita kecil dahulu walaupun baru 3 saluran yaitu TVRI, RCTI dan SCTV. Walaupun baru tiga saluran televisi, kita sudah bisa berpindah-peindah chanel sehingg menonton televisi layaknya mendengarkan radio yang bisa digeser-geserkan chanelnya untuk mencari tayangan yang menarik. Kini di abad ke 21, kita dapat dengan bebas menggeser-geserkan saluran ke stasiun televisi yang menayangkan acara yang menarik. Bahkan, kini acara televisi menayangkan program yang sesuai dengan permintaan pemirsa. Ada belasan saluran televisi Indonesia yang bisa kita nikmati, belum lagi televisi lokal.

Waktu menginjak usia remaja, penulis pernah berandai-andai tentang sambungan telepon yang bisa saling berinteraksi satu sama lain, melihat wajah masing-masing sang penelepon. Namun kemudian angan-angan ini tidak lama kemudian hadir dengan istilah teleconference yang seringkali menjadi media interaksi antara Presiden Soeharto dengan masyarakatnya di seberang Pulau Kalimantan. Walaupun belum bisa dinikmati secara massif, kehadiran teleconference tersebut seolah memberikan harapan akan hadirnya teknologi yang kini disebut 3G. Teknologi tersebut kini telah hadir, interaksi dapat dilakukan dengan memandang wajah masingmasing sang penelepon pada telepon genggamnya. Teknologi 3G kini hadir secara massif tidak hanya terbatas pada kelas menengah atas saja namun juga kelas menengah bawah dengan harga yang terjangkau.

Di awal-awal perkembangan teknologi Komunikasi, misalnya dengan kehadiran telepon, kini kita tidak memerlukan lagi telegram, atau surat konvensional yang memakan waktu lama dalam penyampaiannya. Dahulu, agar sebuah pesan dapat cepat terkirim ke tangan yang dituju, karena urusan yang sangat penting misalnya, orang menggunakan telegram dengan memakan waktu berjam-jam bahkan hari. Namun setelah kehadiran telepon, terlebih telepon genggam kita tinggal pijit-pijit keypad maka pesan kita telah terkirim dalam hitungan detik, yaitu melalui SMS. Pada perkembangan selanjutnya pada dunia teknologi komunikasi, telepon genggam tidak hnya digunakan untuk menelepon atau mengirimkan pesan singkat namun juga bisa mengirimkan foto keluarga kita kepada sanak famili. Ketika kita membutuhkan foto teman kita yang jaraknya jauh tidak perlu menunggu lama untuk dikirim melalui pos, tapi cukup kirimkan foto kita melalui MMS, maka dalam hitungan detik foto kita sudah terkirim. Foto yang dikirimkan adalah foto terbaru yang kita shoot saat itu juga dengan telepon genggam yang memiliki fasilitas kamera.

Lima tahun terakhir ini perkembangan teknologi komunikasi semakin pesat. Melalui telepon genggam yang kita miliki, kita tidak saja mengirimkan pesan singkat dan foto, kita juga bisa melakukan kiriman data lain, tukar buku (ebook), melakukan transaksi bisnis, kirim uang, cek saldo tabungan, buka dan kirim tulisan ke media cetak, up load tulisan di blog, curhat dengan teman sekantor, cari kenalan baru, dan itu semua bisa kita lakukan sambil mendengarkan musik MP3 dari telepon genggam kita. Hal itu bisa kita dilakukan dalam satu media komunikasi yang popular dikenal dengan iPhone atau communicator. Dalam satu media ini sudah tersedia layanan berbagai macam fasilitas; telepon, sms, mms, kamera fhoto, kamera recorder, MP3, MP4, MP5, world wide web, Televisi, Radio, game, memori yang dapat menyimpan data ratusan megabite, bahkan bila layer telepon kita terlalu kecil untuk melakukan chating dengan teman kita, telepon genggam tersebut dapat kita fungsikan sebagai modem, dengan menyambungkannya ke PC atau notebook kita maka internet mobile sudah didepan mata. Kita tidak perlu lagi pergi ke warnet yang LOLA alias loadingnya lama.

Perkembangan Teknologi Komunikasi dan Informasi
Dalam sejarah perkembangan teknologi, perpindahan penggunaan tenaga manusia oleh mesin dikenal dengan revolusi industri. Pada perkembangan selanjutnya pada kisaran waktu 1960 computer muncul(Bungin; 2004; 135) kehadiran computer menggantikan tenaga manusia yang menjalankan mesin dan sekaligus mesin itu sendiri walaupun tidak secara mutlak, namun sistem yang digunakan dalam produksi sudah menggunakan sistem computer. Sistem komputerisasi mendorong efektifitas dan efisiensi pekerjaan dalam dunia industri. Menurut Bungin terdapat 4 fase dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi khususnya dengan sistem komputerisai yaitu era computer (1960-an), era teknologi informasi (1970-an), era sistem informasi (1980-an), era globalisasi informasi (1990-an), titik balik era globalisasi informasi dimulai ketika penyelenggaraan seminar internasional di San Fransisco (bungin;2004; 143). Keempat era tersebut dapat dijelaskan melalui table di bawah;

Era konvergensi Teknologi Komunikasi
Dalam perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di atas, pada satu sisi merupakan kemajuan teknologi computer dan pada sisi lainnya tidak bisa menghindarkan diri dari penggabungan berbagai teknologi, seperti halnya memasuki era globalisasi informasi; penggabungan computer, teknologi radio, visual, satelit tidak bisa dihindari. Dengan demikian pada perkembangan tekonologi informasi tersebut bisa dikatakan pula memasuki era gabungan berbagai teknologi. Teknologi yang pada awal kelahirannya mempunyai fungsi masing-masing kemudian digabungkan dengan fungsi dari teknologi yang lain, seperti halnya telepon dan mesin faks, pager dan telepon, kamera foro dan telepon genggam, internet dan telepon genggam, kemudian digabungkan menjadi satu sehingga mempunyai fungsi yang saling terkait dan melengkapi. Dalam istilah popular gabungan berbagai teknologi dan fasilitasnya tersebut dikenal dengan istilah konvergensi teknologi.

Secara bahasa konvergensi berasal dari bahasa Inggris, convergence, yaitu tindakan bertemu/ bersatu di suatu tempat, pemusatan pandangan mata mata ke suatu tempat yang amat dekat (Echols; 1975; 145) sedangkan secara istilah dapat dimaknai sebagai suatu gabungan berbagai teknologi dalam satu media. Menurut Bungin teknologi konvergensi dimulai sejak ditemukannya sistem jaringan internet pada kisaran waktu 1960-1990 (Bungin; 2006; 135). Internet telah mampu mentransmisikan informasi dengan cepat, dengan internet semua orang dapat saling berhubungan tanpa dibatasi oleh Negara, tanpa dihalangi oleh lautan dan udara, dengan internet setiap orang dapat menjangkau jarak yang terlampau jauh, dengan internet kita bisa melihat saudara-saudara kita yang sedang melaksanakan ibadah haji dengan fasilitas google earth melalui telepon genggam kita, dan dengan teknologi konvergensi melalui internet tersebut kita akan mampu mencengkram dunia dalam waktu sekejap. Kita tahu bagaimana kondisi Amerika sebenarnya, kita akan tahu bagaimana keadaan masyarakat Irak, Iran, Afrika, orang Eskimo, dan berbagai belahan dunia lainnya, bahkan dengan konvergensi teknologi tersebut kita dapat mengetahui letak posisi rumah tempat kita tinggal dari kantor kita.

Internet seperti dikatakan oleh Bungin adalah generasi awal teknologi konvergensi komunikasi yang menggabungkan beberapa fasilitas seperti e-mail, netnews, telnet, file transfer Protocol dan world wide web. Belakangan, melalui internet kita dapat melakukan komunikasi secara interaktif melalui fasilitas chating baik yang disediakan oleh penyedia layanan jasa internet seperti yahoo dan google, menerima artikel gratis, iklan, bahkan curhat organisasi melalui fasilitas mailgroups. Dengan difasilitasi internet kini kita bisa mencari teman pada komunitas friendster, tagged, hi5, facebook dan menungkinkan juga mencari pasangan hidup seperti yang ditawarkan oleh beberapa situs jodoh seperti meetic, muslimmatrimonial dan lain-lain. Melalui fasilitas yang ada dalam internet kita tidak hanya bisa berkomunikasi secara tertulis interaktif, namun juga bisa langsung melihat wajah lawan komunikasi kita dengan adanya fasilitas webcam. Dus, dalam satu tahun terakhir perkembangan internet mengalami perkembangan pesat. Melaui internet kita tidak saja dapat melakukan pencarian dokumen penting melalui google search engine, tapi kita juga bisa berkomunikasi secara tatap muka dengan saudara kita yang berada di luar pulau, kapan saja kita dapat melihat anak dan isteri kita melalui layar monitor laptop kita ketika kita bertugas keluar, kita dapat saling mengirim foto terbaru dengan kenalan baru kita melalui situs pertemanan, ketika kita suntuk kita dapat mencari film terbaru atau mencari joke-joke melalui fasilitas internet tersebut. Melalui internet tersebut ita dapat melakukan apa saja yang kita butuhkan.

Sebagai gambaran, kemudahan ini dapat kita ilustrasikan ketika seorang konsultan IT dari Telkom Solution bercerita dihadapan para peserta workshop dalam rangka pembangunan IT Centre di UIN (Universitas Islam Negeri) Bandung bahwa ICT hari ini merupakan bagian dari sistem yang tidak terpisahkan dari kehidupan siapapun, baik secara pribadi atau lembaga, baik di lembaga pendidikan atau lembaga bisnis. Suatu lembaga pendidikan yang pada awal sebelum kehadiran sistem ICT memperoleh nilai akredeitasi A, kemudian setelah kehadiran sistem ICT tidak menggunakan fasilitas ICT maka dipastikan bahwa lembaga tersebut akan memperoleh nilai akreditasi yang anljok. Bagaimana tidak Sistem informasi akademik, pelayanan mahasiswa, sistem keuangan kampus, publikasi internal kini sudah menggunakan fasilitas Teknologi Informasi dan komunikasi. Peran Teknologi konvergen ini telah banyak membantu secara efektif dan efisien para karyawan dan dosen. Dengan teknologi informasi data-data kemahasiswaan, keuangan, akademik bisa didigitalkan sehingga jumlahnya menjadi padat dalam bentuk data computer.

Dalam kehidupan sehari-hari Konsultan IT tersebut mengilustrasikan bagaimana misalnya ketika kita berada di luar rumah dan bertugas ke luar kota. Dengan kehadiran ITC maka kerinduan kepada keluarga akan terobati dengan melakukan komunikasi tatap muka langsung melalui handphone kita dan hal itu bisa kita lakukan di sela-sela kesibukan kita, tidak dibatasi waktunya kapan, dimana dan dalam keadaan seperti apa.

Bisa kita bayangkan bagaimana koneksitas internet ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Seseorang yang memiliki mobilitas yang tinggi dalam pekerjaannya akan sangat terbantu oleh fasilitas ini. Misalnya saya akan mengilustrasikan sebagai berikut; Seorang eksekutif sebuah perusahaan yang memiliki mobilitas yang tinggi, akan melakuan presentasi bisnis di kantornya, namun bahan presentasinya belum selesai, kondisi ini menuntut ia melakukan efektifitas waktu, kapanpun dan dimanapun, maka dengan bantuan notebook dan internet mobile, ia dapat melakukan proses penyelesaiannnya. Dengan menggunakan notebook dan internet mobile penyelesaian ia selesaikan di dalam kendaraannya, sebelum akhirnya tiba di kantor, begitu pula jika bahan presentasinya telah selesai sementara ia masih dalam perjalanan maka ia dapat mengirimkannya melalui email kepada sekretarisnya di kantor, dan jika ia telat karena macet misalnya, maka sang sekretaris dapat memperbanyak bahan presentasinya kepada peserta rapat sambil menunggu bosnya datang. Ketika pekerjaannya selesai dan bahannya telah dikirimkan kepada sekretasinya sementara ia ingat belum sarapan dan perutnya terasa keroncongan, ia dapat membuka toko fizza online melalui mobile internetnya dan langsung memesannya. Tanpa menyebutkan posisinya dimana, karena sudah terkomputerisasi datanya dalam sistem jaringan global dan mengetahui dimana letak posisi mobilnya maka layanan delivery order tersebut dalam waktu beberapa menit sudah mengetuk pintu mobilnya dan mobilpun menepi untuk menerima pesanan online tersebut, pembayaran dilakukan via online melalui kartu kredit melalui sms banking. Sementara sang eksekutif sedang melakukan sarapan sambil menuju kantornya, sanak keluarga di seberang pulau menelepon dan memberikan kabar bahwa salah satu adiknya sakit keras dan harus dioperasi sedangkan biaya operasi tidaklah sedikit, lagi-lagi dengan menggunakan sms banking, ia bisa mentransfer uang kepada saudaranya di seberang pulau melalui telepon genggamnya dari dalam kendaraannya. Semua pekerjaan di atas ia lakukan dalam waktu yang relative singkat tanpa beranjak dari tempat ia melakukan penyelesaian pekerjaannya di dalam kendaraannya.

Ilustrasi tersebut merupakan hasil rekaan penulis, namun di tengah-tengah generasi mobile, dimana tersedianya fasilitas internet mobile, layanan makanan 24 jam melalui delivery order, sistem pendataan pengguna jasa selular, sistem informasi jaringan global, sms banking, pembayaran online, maka ilustrasi di atas merupakan penomena kehidupan kita yang bisa kita lakukan hari ini. Kita membutuhkan sarapan tinggal pesan dan diantarkan ke rumah, membutuhkan barang yang tidak terdapat di pasaran Indonesia, tinggal buka toko online yang berhubungan dengan barang yang kita butuhkan melalui google search engine atau Yahoo yang baru-baru ini menyediakan layanan search engine, kita membutuhkan data atau mengirimkan data bisa dikirim melalui email, baik berupa dokumen tulisan ataupun dokumen foto, kita membutuhkan buku tinggal buka google page book tanpa harus membeli buku secara fisik—kita bisa langsung baca dari layanan google page book. Semua layanan akan fasilitas di atas hadir

Menuju Hiperealitas Sosial
Akhir abad ke 20 sebagai awal mula peradaban postmodern, para ilmuwan postmodern mengkritik bahwa telah terjadi dehumanisasi terhadap manusia, salah satu filosof Islam yang mengkritik akan dehumanisasi ini adalah Ali Syari’ati. Ia mengkritik akan perilaku faham modern yang menghilangkan sifat kemanusiaan. Manusia dianggap sebagai mesin. Ibarat mesin, manusia digerakan oleh jadwal kerja yang padat, manusia digerakan oleh perintah atasan yang secara otoritas dapat menentukan jalannya suatu perusahaan. Manusia digerakan oleh kebutuhan-kebutuhan para capital, sementara para pekerja dijadikan mesin penggilingan yang menghasilkan suatu produk, apabila mesin (manusia) ini tidak jalan maka berhentilah produksi, sehingga tenaga manusia sangat dibutuhkan untuk menjalankan mesin-mesin peroduksi tersebut. Dengan demikian manusia menjadi bagian dari mesin itu sendiri. Dengan hubungannya yang begitu lekat dengan mesin, maka manusia menjadi asing dari kehidupan sosialnya, Syari’ati dengan mengutif Marks mengatakan bahwa pada akhirnya manusia menjadi teralienasi. Oleh karena itulah terjadi dehumanisasi terhadap manusia karena manusia dianggap sebagai mesin, padahal sejatinya manusia sebagai makhluk sosial harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktifitas sosial .

Sementara pedasnya kritikan terhadap faham modern yang menjadikan manusia sebagai dehuman, di satu sisi kemajuan yang pesat di bidang teknologi mendorong manusia pada peralihan penggunaan mesin-mesin tersebut dengan sistem computer, tenaga operator manusia dalam menjalankan mesin-mesin produksi digantikan oleh tenaga computer. Mesin-mesin yang tadinya dijalankan oleh 10 tenaga manusia, maka dengan kehadiran computer cukup satu orang operator computer saja yang menjalankan mesin-mesin produksi tersebut. Mesin kini dijalankan oleh computer dan computer dijalankan oleh manusia. Manusia pada akhrinya selalu berhubungan dengan computer.
Memasuki jaman globalisasi dan sistem informasi, kini dengan computer manusia bisa saling berhubungan satu sama lain. Sehingga bila menengok pada kritikan para filosof tentang prahara modern, ada semacam rekonstuksi kembali sisi kemanusiaan (rehumanisasi), karena manusia tidak berhadapan lagi dengan mesin atau computer yang tidak mampu merespon keadaan kita. Kini computer bisa merespon pesan yang kita kirimkan, bahkan kita bisa curhat dengan computer, computer pun bisa mengirimkan feedback dalam jangka waktu yang singkat. Hal ini tentu saja bukan komputernya yang melakukan itu semua, namun manusia jua yang meresponnya, Dengan bantuan sistem jaringan informasi, computer mampu menghubungkan seorang karwayan yang berada pada satu kantor berlainan ruangan dengan yang sedang berada dikantor lain, seorang yang berada satu institusi di Bandung dengan insitusi lain di Jakarta, orang yang berada di jawa dengan orang yang berada di Sumatera, bahkan dengan sistem jaringan informasi kita bisa berkelana menjelajah orang-orang yang tidak kita kenal untuk sharing tentang apapun; msalah pribadi, kerjaan kantor, masalah bangsa dan Negara, maslah global, perkembangan teknologi dan lain sebagainya. Dus, dengan kemajuan yang pesat di idang teknologi, semua orang tanpa disekat oleh batas geografis, sekat ruangan dan tembok, bahkan sekat lautan dapat berhubungan satu sama lain walaupun tanpa saling mengenal.

Dalam kerangka di atas Hubungan sosial pun terjadi, satu orang dengan orang yang berada dalam satu ruangan berkomunikasi melalui chating, orang oaring yang berbeda ruangan melakukan komunikasi atau interaksi sosial melalui chating, orang orang yang berbeda kantor dan institusi pun demikian, dan demikian juga dengan orang-orang yang yang tidak kita kenal di belahan benua lain dapat melakukan interaksi melalui fasilitas chating dalam sistem informasi jaringan yang terpasang pada computer. Namun demikian interaksi sosial tersebut tidak seperti halnya interaksi dalam pengertian konvensional, yaitu saling bertemu satu sama lain dalam ruang dan waktu tertentu. Interaksi tersebut adalah interaksi sosial yang dilakukan melalui dunia virtual, dunia yang dihubungkan oleh dunia jaringan sistem informasi. Tentu saja kita berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kenal, kita berinteraksi dengan orang-orang yang tidak kita ketahui jelas bagaimana latar pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan bila pun kita mengetahui siapa lawan bicara kita, bisa jadi bukan yang sebenarnya. Bahkan bilapun kita mengetahui bagaimana perwajahannya melalui foto yang dipasangkan dalam layer fasilitas chating, bisa jadi bukan foto aslinya. Bila pun kita mengetahui latar belakang dirinya, bisa jadi hanya cerita yang di reka-reka sehingga membentuk apa yang disebut oleh Piliang sebagai simulacrum yaitu sebuah repsentasi diri yang palsu yang ditampilkan ke permukaan atau sebuah citraan diri yang dibuat-buat agar kemuadian seperti nampak yang sebenarnya. Hubungan interaksi yang dilakukan di dunia maya tersebut yang merupakan hubungan yang tidak real, maya, virtual dapat dikategorikan sebagai hubungan sosial yang semua atau hiperealitas sosial.

Yasraf A. Piliang dalam bukunya hipersemiotika; tafsir cultura studies atas matinya makna menyatakan bahwa hiperealitas merupakan efek, keadaan, atau pengalaman kebendaan dan atau ruang yang dihasilkan dari proses tersebut (Piliang; 2003; 149). Hiperealitas sosial dengan demikian merupakan efek dari hubungan sosial yang dihasilkan oleh sistem jaringan informasi. Hiperealitas sosial merupakan efek dari interaksi yang dilakukan oleh manusia melalui dunia maya. Hiperealitas sosial sendiri merupakan efek dari kerja intelektual dalam menciptakan simulasi hubungan sosial di dunia maya. Hiperealitas sosial adalah duplikat dari kehidupan sosial yang seolah-olah nyata. Ia merupakan penampakan di dalam ruang, berbaur dan meleburnya realitas dengan fantasi, fiksi, halusinasi, dan nostalgia, sehingga perbedaan antara satu sama lainnya sulit ditemukan (Piliang; 2003; 150).
Dalam dunia hiperealitas sosial, interaksi yang sering dan intensif bukanlah untuk meningkatkan hubungan sosial, seperti dinyatakan oleh Piliang (1998;104) bahwa dalam keimpahruahan informasi, apa yang diperoleh manusia justeru bukan peningkatan kualitas kemanusiaan dan spiritualitas, sebaliknya sebuah ironi kemanusiaan dan spiritual. Lebih lanjutnya menurut Piliang, kondisi ini yang kemudian memunculkan anonimitas di dalam orbit komunikasi. Disebut anonimitas komunikasi karena dalam dunia hiperealitas sosial, interakis yang terjadi dilakukan oleh orang orang yang tidak saling mengenal satu sama lain secara utuh, bila pun mengenal hanyalah permukaan dan bisa jadi penuh kebohongan atau pseudo alias palsu. Coba kita tengok organisasi pertemanan yang dibentuk oleh Friendster (FS), Komunitas Tagged, hi5, sahabat plasa, facebook, berbagai komunitas dalam dunia blog yang seolah-olah membentuk suatu organisasi maya yang disesuaikan dengan wilayah geografis goeografis, organisasi massa tertentu, institusi tertentu, minat bakat dan lain sebagainya.

Dalam friendster, tagged, hi5, sahabat plasa, facebook, dan dunia blog, para pelaku sosial dunia maya melakukan aktifitas sosial; bertanya, berkomentar, sharing, saling kirim foto, bulletin, jurnal, video tanpa dibatasi oleh umur dan stratifikasi dengan orang-orang yang tidak dikenal secara nyata, mereka hanya mengenal satu sama lain dalam bentuk simulasi yaitu citraan realitas yang disemukan, menyimpang dari keadaan yang sebenarnya.

Dari Konvergensi Teknologi menuju Konvergensi Komunikasi

Dengan adanya konvergensi teknologi melalui satu media yang sedang popular akhir-akhir ini, misalnya melalui communicator, iPhone atau smartphone, dimana berbagai fasilitas dan teknologi bergabung di dalamnya semua orang bisa melakukan apa saja; dari mulai kirim sms, layanan telepon, kirim foto, ambil gambar, bikin film pendek, nonton cinta fitri, liputan 6, layanan internet mobile, transfer uang, kirim artikel ke Koran, baca berita, baca buku melalui google page book kirim tugas, blogging, cek saldo, cek pesanan barang, pesan makan siang melalui counter fastfood online, beli sepatu dan lain sebagainya. Dengan internet mobile hasil teknologi seperti radio, televisi, media cetak; Koran, majalah, tabloid, jurnal, bulletin bisa muncul dalam layer telepon genggam, Perconal Computer atau notebook sehingga kita tidak perlu lagi berlangganan Koran, majalah, dengan radio konvensional, nonton televisi, karena hal itu sudah tersedia dalam satu media. Dengan adanya konvergensi teknologi orang bisa melakukan dan menyediakan kebutuhan sehari-hari hanya dari satu media konvergen. Dengan adanya konvergensi teknologi orang begitu bebas melakukan interaksi komunikasi dengan siapapun. Meminjam Istilah David Giles (Media Pshychology; 2003; 266), era konvergensi teknologi mendorong orang berbuat apa yang dinamakan dengan liberating dan emancipatory, kebebasan dan persamaan. Kita bebas berkomunikasi dengan siapapun, dimanapun, kapanpun tanpa memandang siapa lawan bicara kita. Dengan layanan teknologi konvergensi para user bisa online 24 jam dengan siapapun tanpa memandang jenis kelamin, ras, warna kulit, negara tanpa mesti takut dihakimi oleh warga karena berinteraksi dengan lawan jenis jam 12 malam. Kita juga tidak mesti takut digerebeg oleh pihak keamanan karena membuat focus group discussion dalam dunia maya yang menyangkut mobilisasi massa untuk aksi besar-besaran pada hari buruh misalnya.

Di masa depan, menurut Giles, media massa bisa langsung berinteraksi langsung dengan para user. Hal tersebut belakangan terbukti, bagaimana misalnya setiap media massa menyediakan fasilitas citizen journalism, seperti halnya Koran-koran besar sekelas Pikiran Rakyat di Jawa Barat sebagai Koran regional dan Kompas—koran nasional. Setiap warga dapat menjadi user dan berinteraksi langsung dengan media besar tersebut serta menjadi seorang wartawan langsung media tersebut dengan mengirimkan berbagai bentuk tulisan dari sudut pandangnya masing-masing.

Kehadiran personal homepage, web pribadi, blog dan semacamnya, seseorang dapat menjadi pemilik sebuah media yang sejatinya sebagai media massa. Melalui Personal homepage, web, atau blog tersebut seseorang dapat menjadi sorang jurnalis, kolumnis, propagandis, da’i, pengkritik media, pengkritik pemerintahan, juru iklan, bahkan seorang user dapat menceritakan pengalaman yang sangat pribadi sekalipun kepada milyaran orang di dunia, kepada massa yang tak dikenalinya. Sebaliknya Feedbak/ respon pun berdatangan, baik berupa nasihat, komentar positif dan negative dari orang-orang yang tak dikenalinya pula. Seseorang bisa masuk dalam komunitas tertentu yang tidak terbatas jumlahnya untuk mendiskusikan dan membahas satu topik tertentu, semua orang bebas melemparkan masalah, semua orang bebas menanggapinya dari sudut pandangnya masing-masing. Di sinilah letak konvergensi komunikasi, di mana telah terjadi konvergensi antara komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi massa bahkan bisa pula seseorang melakukan komunikasi bisnis dan ini diketahui oleh milyaran orang. Komunikasi antarpribadi, dimana isinya begitu sangat pribadi atau isinya tidak layak diketahui oleh public tetapi dengan adanya konvergensi teknologi maka orang dengan bebas bercerita tanpa takut akan dihujat atau dimarginalkan secara sosial.

Dalam komunikasi antarpribadi misalnya seperti dikemukakan oleh De Vito adalah komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai hubungan yang jelas dimana didasarkan atas dasar data psikologis, pengetahuan yang jelas tentang masing-masing komunikati , kemudian perilaku yang di dasarkan atas aturan-aturan yang ditetapkan secara pribadi. (De Vito;1997; 242). Dalam konvergensi komunikasi yang dilakukan melalui media konvergensi baik itu fasilitas chatroom, komunitas pertemanan, masanger, web atau blog orang berkomunikasi tidak didasrakan pada apakah hubungan diantara komunikati baik atau tidak, begitu pula secara psikologis orang berkomunikasi tidak ditentukan oleh apakah para komunikati memiliki pengetahuan tentang kondisi psikologi masing-masing komunikati, namun perlakuaan komunikasi dilakukan secara acak.
Konvergensi komunikasi melalui media baru dengan bantuan teknologi informasi dapat digambarkan sebagai berikut;

Konvergensi Komunikasi menggabungkan beberapak bentuk komunikasi dalam bentuk apa yang disebut dengan cybercomunity. Melalui dunia cyber orang menjadi konsultan, jurnalis, konselor, bahkan menceritakan dirinya sendiri ke orang banyak; masalah pekerjaan, menumpahkan unek-unek, menulis artikel opini public, ruwetnya pekerjaan di kantor, mndengarkan radio, sekaligus membaca buku. Melalui berbbagai fasilitas media orang melakukan komunikasi. Bila digambarkan maka konvergensi komunikasi jika dilihat dari bentuknya dalah sebagai berikut;

Konvergensi komunikasi dalam hal ini dapat ditinjau dari sisi bentuk komunikasi serta media yang digunakan. Di lihat dari sisi pesan bila dalam komunikasi massa sifat pesan bersifat umum tidak seperti halnya pesan-pesan yang beredar di ruang kuliah atau bar seperti diungkapkan De Vito. Namun dalam kenyataannya, komunikasi yang dilakukan dalam media konvergensi tidak sedikit yang bersifat pribadi yang menjadi konsumsi umum. Jika ditinjau dari feedbacknya pun bersifat langsung, tidak seperti dalam pengertian komunikasi massa konvensional dimana feedbacknya tertunda, seperti halnya dalam Koran, majalah, artinya bahwa feedback ini dalam pengertian feedback ke media pelaku atau penyedia informasi. Namun sekarang dengan adanya media konvergensi seperti dalam blog dan web, siaran interaktif, maka feedback dapat dilakukan secara langsung.

Shifting paradigm komunikasi atau chaos komunikasi ?
Mulyana dan De Vito dalam masing-masing bukunya menyatakan beberapa Prinsip Komunikasi. Mulyana menyatakan ada 12 prinspip komunikasi sedangkan De Vito menyebutkan 8 prinsip komunikasi. Prinsip komunikasi yang dikemukakan oleh De Vito sudah tercakup dalam prinsip komunikasi yang diungkapkan oleh Mulyana. Keduabelas prinsip komunikasi tersebut adalah; pertama, komunikasi adalah suatu proses simbolik. Kedua, setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi. Ketiga , Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan. Keempat, Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkatan kesengajaan. Kelima, komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu. Keenam, Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi. Ketujuh, Komunikasi itu bersifat sistemik. Kedelapan, semakin mirip latar belakang sosial budaya semakin efektiflah komunikasi. Kesembilan, Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional. Kesebelas,Komunikasi bersifat irreversible. Keduabelas, Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah (Mulyana; 1999)
Dalam kehidupan hiperalitas sosial, dimana hubungan menjadi semu dan komunikasi dilakukan melalui dunia virtual, ada beberapa prinsip komunikasi yang dikemukakan di atas mejadi chaos dan meaningless. Dalam prinsip ketiga yaitu Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan, dalam kenyataan komunikasi virtual tidak akan terlalu mempermasalahkan bagaimana hubungan para komunikati, orang bisa bebas meminta, berbicara apapun tanpa memeprtimbangkan sipa lawan bicara kita. Tidak seperti halnya dalam komunikasi antarpribadi dimana dimensi isi bisa ditentukan oleh dimensi hubungan, dalam konvergensi komunikasi dimensi isi dan dimensi hubungan tidak menentukan. Misalnya ketika suatu hari saya melakukan chating dengan seseorang, lantas saya bertanya tentang umur dan dan pekerjaannya, namun feedback yang saya dapatkan ternyata sangat mengejutkan. Lawan chating saya malah balik bertanya bahwa apakah sayatidak comfort (nyaman) ketika saya tidak mengetahui lawan bicara saya dari sisi latarbelakang pendidikan, status sosial, dan pekerjannya, dan tentu saja saya menjawabnya tidak, artinya saya tentu tetap comfort walaupun tidak mengetahui siapa dia. Dalam contoh tersebut walaupun sifatnya kasusistik namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada setiap orang yang melakukan komunikasi melalui fasilitas chating. Orang ketika mengajukan pertanyaan tentu tidak mempertimbangkan siapakah lawan bicara kita, pejabatkah, orangtuakah, teman kuliahkah, tidak kenal sama sekali kah?. Begitupun setiap orang bisa bertanya apa saja, apakah masalah-masalah umum sampai yang sifatnya privasi seperti masalah “ranjang”. Dengan demikian dalam konvergensi komunikasi prinsip mempertimbangkan dimensi isi dan hubungan menjadi kabur.

Dalam hubungan sosial, aspek moral merupakan pertimbangan prinsip dalam interaksi sosial. Dalam prinsip komunikasi kelima yang diungkapkan Mulyana yaitu bahwa komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu. Dalam komunikasi sosial sehari-hari, kita tentu mempertimbangkan dimana kita membicarakan apa dan kapan ketika kita akan mempraktikan komunikasi. Kita akan sangat mempertimbangkan aspek materi pesan ketika kita melakukan praktik komunikasi, materi pesan apa, dalam ruang yang bagaimana dan seperti apa dan waktunya kapan; siangkah, malam kah, atau pagi kah. Seorang teman seringkali menyela ketika seorang teman lainnya tiba-tiba saja curhat pada saat menjelang waktu Isya. Menurutnya pembicaraan masalah pribadi yang dalam seperti cinta tidak pantas dibicarakan pada saat-saat masih ramai, menurutnya curhat cinta hanya pantas dilakukan menjelang tengah malam ketika orang-orang pergi tidur dan dalam keadaan sepi. Tentu saja karena teman saya tadi mempertimbangkan aspek waktu. Ketika kita akan melakukan pembicaraan serius dengan seorang teman wanita kita menyangkut hubungan yang lebih sensitive dan mendalam, kita akan menentukan dimana hal itu akan kita lakukan. Tentu saja tidak dilakukan di terminal atau di bis, tapi lebih cocoknya di cafe atau restoran sambil melakukan makan malam berdua. Dalam Konvergensi komunikasi orang berbicara apa, kepada siapa tidak akan mempertimbangkan apakah lawan bcaranya sedang berada di warnet, bis atau di rumah. Orang akan dengan bebas berbicara apa saja sekalipun materi pesannya kurang pantas dalam kategri moral. Seorang teman wanita saya suatu kali pernah chating, tiba-tiba ada pesan masuk,” ML yu” (maksudnya bercinta yu), tentu saja teman saya kaget dan akhirnya menutup fasilitas chatboxnya sambil menggerutu. Dengan konvergensi komunikasi yang dilakukan melalui media konvergen para komunikati ketika mengirimkan pesannya tentu tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Apakah pada waktu malam orang pantas membicarakan pekerjaan, atau apakah pada siang hari orang pantas membicarakan “ isi ranjang”. Dengan demikian dalam konteks konvergensi komunikasi para komunikati tidak terikat oleh konteks ruang dan waktu ketika melakukan praktik komunikasi, tidak berbicara pantas atau tidak pantas mengenai materi komunikasi tertentu pada ruang tertentu. Penjelasan ini pun sekaligus menepis prinsip keenam bahwa komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi. Seseorang tidak pernah menyangka bahwa orang yang baru dikenalnya secara semua langsung mengajaknya melakukan adegan percintaan (maaf; ML). begitu juga orang tidak akan menyangka ada orang yang tiba-tiba saja menawarkan keuntungan yang besar kepada kita tanpa harus mengeluarkan modal. Tentu saja semua di atas tanpa kita prediksi sebelumnya.

Dari uraian di atas penulis dapat mengambil kesimpulan sementara bahwa dalam komunikasi bermedia konvergensi teknologi atau konvergensi komunikasi ada beberapa prinsip-prinsip komunikasi yang chaos/ kacau. Para komunikati berbicara kepada siapa tidak mesti mempertimbangkan siapa lawan bicaranya. Para komunikati ketika mengirimkan pesan tidak mesti mempertimbangkan konteks ruang dan waktu, tidak mesti berbicara apakah ini pantas atau tidak pantas, begitu juga reaksi atau responnya tidak dapat diprediksikan sebelumnya. Dengan demikian apakah hilangnya beberapa prinsip komunikasi ini sebuah kemajuan dalam praktik ilmu komunikasi, apakah ini sebuah pergeseran dalam paradigma komunikasi ataukah ini suatu chaos dalam komunikasi? Pertanyaan ini akan menjadi titik awal dalam membangun ilmu komuniasi yang humanis tanpa tercerabut dari kehidupan sosial yang nyata atau apakah realitas sosial pada abad 21 adalah hiperealitas sosial itu sendiri, yang dibangun di atas puing-puing keruntuhan realitas sosial. Dengan konvergensi komunikasi selain mengchaoskan beberapa prinsip komunikasi juga meleburkan bentuk komunikasi antar pribadi bahkan intrapersonal menjadi bentuk komunikasi massa.

Kesimpulan
Perkembangan teknologi Komunikasi dan informasi mendorong para pelaku dan praktisi di bidang teknologi untuk mengefektifkan dan mengefisiensikan penggunaan teknologi sehingga menjadi sebuah media yang benar-benar multifungsi. Kemultifungsian sebuah teknologi media komunikasi melahirkan apa yang dinamakan konvergensi teknologi. Dengan kemunculan teknologi komunikasi tersebut melahirkan konvergensi media komunikasi sehingga berefek pada peleburan bentuk komunikasi seperti meleburnya komunikasi antarpribadi bahkan intrapribadi menjadi semacam komunikasi massa seperti terlihat pada personal homepage, chating, blog. Konvergensi teknologi juga menyebabkan terjadinya ke-chaos-an dalam prinsip-prinsip komunikasi. Namun demikian pergeseran ini harus di tanggapi secara akademis, sehingga memunculkan sebuah pertanyaan apakah ini pergeseran dalam komunikasi atau ke-chaos-an dalam komunikasi di abad 21 karena selain menghilangkan beberapa prinsip komunikasi sosial juga menghasilkan apa yang diistilahkan dengan hiperaalitas social; hubungan sosial yang semu, maya dan mendorong hubungan manusia pada sisi kualitas yang rendah.
Pertanyaan di atas mudah-mudahan menjadi titk awal kajian akademis terhadap komunikasi yang terjadi akhir-akhir ini dalam dunia maya. Bagaimanapun hilangnya interaksi sosial dalam hubungan sosial menjadi kajian yang sangat menarik dan penting dalam membangun komunikasi sosial yang humanis yang menyentuh realitas bukan komunikasi sosial yang dibangun dalam dunia maya. Sehingga kajian konvergensi komunikasi meskipun pada akhirnya menghasilkan jawaban sebagai sebuah chaos komunikasi namun demikian dalam bangunan akademis menjadi sebuah dinamika keilmuan sehingga menghasilkan kajian baru dalam dunia ilmu komunikasi.
Tulisan ini tentu bukan sesuatu yang sudah final, namun baru permulaan dalam membangun ilmu komunikasi yang berdasarkan pada media konvergensi agar menarik para akademisi untuk mengkaji dari berbagai sisi sehingga tidak ada pernyataan bahwa komunikasi kehilangan makna seperti apa yang dinyatakan oleh Piliang, namun komunikasi dunia virtual yang maya melalui media konvergensi haru menghasilkan bangunan ilmu komuniksi yang baru atau seperti yang dinyatakan oleh Ibrahim dengan hilangnya komunikasi empatik.


DAFTAR PUSTAKA
A. De Vito, Joseph;
1996 Human Communication, Jakarta: Profesional Book.
A. piliang, Yasraf;
2001 Hipersemiotika; Tafsir Cultural Studies Atas Matinya Makna,Yogyakarta; Penerbit Jalasutra
A. Piliang, Piliang;
1998. Sebuah Dunia yang Dilipat, Bandung: Mizan.
Bungin, Burhan;
2004 Sosiologi Komunikasi; Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Indonesia.Jakarta: Prenada Media.
Giles, David;
2003 Media Psychology, London; Lawrence Erlbaum Associates, Publishers.
Mulyana, Deddy;
1999 Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar,Bandung: Remaja Rosdakarya.
Syariati, Ali;
1988 Ideologi Suatu Wawasan Islam, Bandung; Mizan.
www.kompas.com
www.poe3.blogspot.com.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon