Sumbangan Muthahari untuk Pendidikan Islam

“Muthahari adalah seorang ulama intelektual, ia menguasai dengan baik berbagai disiplin ilmu Islam, ia juga menguasai ilmu-ilmu Barat dengan baik sehingga ilmu yang dikuasainya tidak pernah kehilangan aktualitasnya” Demikian dikatakan oleh Rektor UIN, Prof. Dr. H. Nanat F. Natsir, M.S. ketika memberikan sambutan pada Seminar Internasional di Aula Pascasarjana UIN (11/05/09).

Acara yang bertajuk “ Muthaharis Thought” tersebut diselenggarakan atas kerjasama Pascasarjana, Yayasan Muthahari dan Atase Kebudayaan Kedubes Iran untuk Indonesia. Dari Pascasarjana semua Direktur hadir, dari Muthahari langsung dihadiri oleh ketua Yayasan Muthahari dan pendiri; Dr.K.H.Jalaluddin Rakhmat, Prof.Dr. H. Ahamad Tafsir dan Haidar Bagir yang langsung menjadi pembicara, sedangkan dari kedubes diwakili oleh Mr. Behraz.

Dalam sambutannya, Rektor menekankan bahwa Muthahari menaruh perhatian yang besar pada filsafat sejarah dan etika, salah satu karyanya adalah filsafat al-Akhlak.

“ Dari sekian banyak karya Muthahari menyimpan agenda yang jelas yang hendak dicapai” Lanjutnya menggarisbawahi keragaman karya yang dihasilkan oleh Muthahari.

Seorang Murid Muthahari yang langsung diajar olehnya, yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut, Prof. Shoojai Fard, dari Tehran University mencoba menggali bagaimana pemikiran sesungguhnya dari Muthahari. Ia menjelaskan bahwa pemikiran Muthahari berangkat dari Sunnah.

“ Muthahari menggunakan Sunnah dan Modernity dalam pemikiran-pemikirannya, ketika setengah dari pemuda Iran terpengaruh oleh pemikiran Marxisme, Muthahari tampil kedepan”. Ungkapnya

“ Dengan berangkat dari Pesantren tradisional, Muthahari menggempur pemikiran Marxisme dengan menguasai dahulu pemikiran marxis dengan baik” Lanjutnya

“ Muthahari menguasai Marxisme melebihi para marxis sendiri, dia menguasai dan lebih faham Filsafat Barat melebihi pemahaman orang Barat sendiri terhadap Filsafat Barat” komentarnya.

Dalam pandangannya tentang Modernitas dan Sunnah, Muthahari seperti yang disampaikan oleh Prof. Shoojai menilainya sebagai sama-sama baru. “ Modernitas adalah hal baru dalam sejarah, Sunnah adalah kebaruan karena sunnah selalu ada dalam perubahan oleh karena itu modernity adalah Sunnah sehingga Sunnah lebih modern dari yang modern, namun mengapa Sunnah selalu dianggap sebagai statis?” jelas Guru Besar Universitas Tehran.

“ Modernity melahirkan ilmu pengetahuan tapi Islam dilahirkan dari Ilmu pengetahuan, sebab sejak awal turunnya ayat Islam sudah mengembangkan Ilmu pengetahuna” ujarnya.

Dalam memberikan penjelasan tentang sosok yang sedang diseminarkan, Shojai memaparkan bahwa Muthahari adalah orang yang mampu berhadapan langsung dengan modernitas dengan mengikuti tradisi para Filsuf Yunani. Seperti halnya Aristoteles yang mengagungkan tradisi. Ia mngungkapkan bahwa Aristoteles mendorong tradisi agar memiliki kontribusi terhadap perkembangan masyarakat, dan itulah yang dikembangkan oleh Muthahari ketika tahun-tahun terjadinya revolusi Iran tahun 1979.

Pembicara lain, pendiri Yayasan Muthahari, Prof. Dr. H. Ahmad Tafsir, yang juga Guru besar Pendidikan Islam di UIN Sunan Gunung Djati, menyoroti berbagai macam problema pendidikan di Dunia Islam, sekaligus mengkritik para Jamaah Haji yang sudah sekian kali pergi berhaji.

“ Coba jika dana jemaah haji bagi yang telah beberapa kali pergi berhaji digunakan untuk dunia pendidikan Islam, kita tidak akan ketinggalan” ungkapnya

“ Oleh karena itu kita mesti mempertanyakan, orang yang akan pergi berhaji yang kedua kali atau yang ketiga kali dan seterusnya, apakah Sunat atau apa? Seharusnya ada fatwa yang mengharamkan bahwa pergi haji kedua atau ketiga kalinya tersebut haram” ungkapnya.

“ Haji yang mabrur adalah ketika seseorang tidak jadi pergi berhaji karena dananya disumbangkan untuk pendidikan Islam “ lanjutnya.

Sedangkan Kang Jalal, sapaan akrab Cendekiawan Muslim, Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat membeberkan filsafat pendidikan sejak jaman ‘embah’nya Filsafat, yaitu Plato, Aristoteles, dan Sokrates, Martin Bubber, Paulo Freire, Ivan Ilich.

Dalam pandangannya mengenai Filsafat pendidikan Muthahari, secara ontologis Muthahari menekankan hakikat pendidikan pada dua aspek.

“ Filsafat pendidikan adalah telaah hal ihwal pendidikan dari persfektif Filsafat, hakikat pendidikan, untuk apa kegunaannya. Menurut Muthahari pendidikan harus bisa berperan untuk mengangkat harga diri, Self Esteem”.

“ Hakikat pendidikan dalam persfektif Muthahari pertama bahwa pendidikan harus mampu mengembangkan potensi manusia dan membantu manusia menjadi manusia sejati dan aspek kedua bahwa pendidikan harus mampu menghilangkan egoisme, salas satunya adalah egoisme individualisme” ungkapnya

Cendekiawan Muslim asal Bandung ini mencontohkan bahwa apa yang terjadi dengan para caleg selama ini menunjukan egoisme individualisme, ia senyum agar orang memilih dirinya, ia menyapa orang, memberikan sumbangan kepada masyarakat, memasang Spanduk dan lain-lain adalah agar dirinya dipilih, bukan karena sayang kepada masyarakat.

Pembicara terakhir dari session pertama ditutup oleh Dr. Sri Mulyani dari UIN Jakarta yang menyoroti bagaimana pendidikan bagi perempuan dengan berangkat dari kondisi pendidikan bagi perempuan.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon