Dilema Muballigh Populer

Sudah bukan rahasia umum, Ramadlan di televisi mendahului ramadlan yang sesungguhnya. Belum juga kumandang ramadlan di mulai, televisi sudah mendengung-dengungkan gema ramadlan; sinetron ramadlan sudah tayang di beberapa stasiun televise bahkan beberapa iklan sudah mengumandangkan produk ramadlan.

Suguhan acara seperti itu sudah menjadi ritual televisi setiap tahunnya. Salah satu ritual lainnya dalam pertelevisian di bulan ramadlan adalah munculnya muballigh atau pensyi’ar agama yang hampir ada di seluruh stasiun televisi. Dalam persfektif televisi, menghadirkan mereka tidak semata-mata menyambut ramadlan dan menyuguhkan pesan keagamaan, namun juga sekaligus mendatangkan keuntungan. Tampaknya yang terakhirlah yang ditekankan dalam suguhan.

Bahkan kemunculan para muballigh yang demikian dipopulerkan oleh ramadlan terlebih oleh stasiun televisi sudah menjadi fenomena. Kemunculannya disejajarkan dengan eksistensi artis ibukota. Mereka pun bak selebritis yang menuai berbagai keuntungan di bulan ramadlan seperti show tabligh akbar di tempat-tempat tertentu yang bisa mengundang banyak orang, undangan tampil di stasiun televise, atau bahkan di tempat-tempat perbelanjaan seperti mall. 

Generasi Muballigh Popular dimulai oleh K.H.Zaenuddin MZ, bahkan karena popularitasnya Zaenudin MZ mendapat julukan da’i sejuta umat, dan dia sendiri sering menyebutkan Jargon “nggak kemana-mana tapi ada dimana-mana”, yang dalam pengertian penulis sangat pas untuk menggambarkan sosoknya yang popular. Artinya walaupun dirinya Cuma satu orang namun semua orang dapat menonton dan menikmatinya melalui televisi. Ceramah Zaenudin diproduksi secara massal oleh televisi. Ia menjadi bagian dari kepentingan media massa. Bahkan Zaenudin menjadi monopoli salah satu televisi agar popularitasnya tetap ekslusif dihadapan para penonton.

Generasi selanjutnya muncul K.H. Abdullah Gymnastiar yang kemudian seolah menenggelamkan pendahulunya. Kemunculan Da’i yang akrab di sapa ‘Aa’ menjadi begitu fenomenal. Kehadirannya disambut oleh hampir stasiun televisi. Fenomenalitas para penyi’ar agama ini seolah menjadi tunas yang subur, yang kemudian menumbuhkan tunas lainnya. Popularitas Aa Gym diikuti oleh muballigh lainnya; sebut saja, Ustad Jepri Al-Bukhori, Muhammad Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Subqi Al-Bughuri, dan lain-lain. Bahkan setiap ramadlan selalu saja ada muballigh yang dipopulerkan oleh media televise.

Bagaimana dengan ramadlan tahun ini? Apakah kehadiran mereka akan membantu merefresh mental pemirsa secara awet atau bahkan melelat selamanya?

Terlepas apakah mereka telah popular atau tidak sebelumnya, namun yang jelas kehadiran mereka selama yang saya cermati tidak banyak merubah kondisi bangsa dan masyarakat yang semakin tergerus oleh arus globalisasi. Para muballigh popular justeru menjadi bagian dari agenda budaya massa yang menjadi ciri khas globalisasi. Mereka diproduksi secara massal sesuai dengan sifat media masa yang menyebar. Bahkan dengan kemunculan dan popularitas mereka yang begitu cepat dalam dunia layar menunjukan bahwa mereka menjadi bagian dari kepentingan para pemodal. Mereka muncul secara instans, maka instans pula ingatan para pemirsa dengan apa yang telah mereka sampaikan. Apalagi selaan tayangan atau tayangan setelah mereka melakukan ‘orasi’ agamanya tidak kontinyu suguhan penyentuh kalbu, namun suguhan sinetron, atau iklan yang bombastis, atau acara humor ramadlan, makin tenggelamlah pemirsa dalam ramadlan yang hura-hura sehingga dengan segera lupalah apa yang disampaikan oleh para muballigh sebelumnya.

Apalagi kehadiran mereka (para muballigh), pada zaman dimana orang tidak melulu belajar secara berhadap-hadapan dengan komunikasi dua arah antara guru dan murid, Muballigh pada akhirnya bukan lagi masuk dalam kategori sosial, mereka tidak lagi duduk dalam singgasana kemewahan ilmunya, sehingga setiap ilmu yang diserap oleh para muridnya sama halnya dengan ilmu lainnya, yang bisa didapatkan dimana saja; dalam buku, majalah, koran, internet dll. Sehingga seperti dikatakan oleh Kuntowijoyo tersebut mereka bukan lagi masuk dalam kategori sosial, yang setiap kata-katanya menjadi petuah yang diikuti oleh para pemirsa sebagai muridnya. Para muballigh popular tidak memiliki ikatan emosional dengan para jema’ahnya. Sehingga jema’ah yang hampir menyebar di seluruh antero jagad nusantara tidak merasa memiliki keterikatan moral dengan para muballigh popular tersebut.


Mengail di Air Keruh
Yasraf menyatakan dalam buku ‘sebuah kebudayaan yang dilipat’ bahwa salah satu ciri dari budaya global atau abad postmodern adalah melubernya informasi dan dicirikan pula dengan instanitas. Begitupun keadaan para muballigh popular, berbagai informasi atau suguhan pelipur kalbu dan pencerahan yang disuguhkannya berbarengan dengan berbagai informasi dan hiburan yang ditayangkan oleh berbagai program televise lainnya. Apalagi jam tayang suguhan ramadlan yang disyiarkan oleh para muballigh hanya sepersekian persen dari keseluruhan tayangan. Dibulan ramadlan, tayangan masih tetap didominasi oleh hiburan walaupun kemasannya begitu tampak religius namun isinya tetap tidak meninggalkan substansi hiburan yang dapat melenakan pemirsanya.
Melubernya berbagai informasi dan tayangan hiburan di tengah ramadlan, bagi para muballigh sendiri yang menyampaikan berbagai pesan penyentuh kalbu seolah mengail ikan di air keruh, kemungkinan sampainya pesan secara efektif sangat diragukan karena berlomba-lomba dengan berbagai pesan hiburan yang dapat menjadi noise bagi pesan keagamaan.

Dengan demikian dakwah di televisi walaupun banyak dinilai efektif oleh kalangan pendakwah karena sifat ketersebarannya, namun menjadi dilema di tengah berbagai kepentingan yang mengedepankan ideology modal, mengeruk sebesar-besarnya keuntungan dari berbagai tayangan hiburan dengan melalui iklan, sehingga meminggirkan substansi dakwah itu sendiri. Bulan Ramadlan lebih baik matikan televisi kita, mulailah berpaling ke mesjid, untuk menerima kekhidmatan ramadlan. Selamat menjalankan ibadah puasa.

dimuat di Tribun Jabar edisi Sabtu, 22 Agustus 2009

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon