Meramadlankan Televisi


”Cing atuh ulah nyetel nu kieu, kalahkah ngan gogorowokan hungkul, teangan nu keur ngaji ari bulan puasa mah” ( Coba jangan setel tayangan yang seperti ini, Cuma teriak-teriak saja, cari tayangan yang sedang mengaji kalau bulan puasa itu).
Itu adalah ungkapan ibu saya di kampung ketika mengomentari tayangan televisi pada hari kedua puasa, tepatnya saat sahur. Saat itu kebetulan chanel televise berhenti di acara kuis yang dipandu oleh Komeng dkk, yang barangkali pemirsa mengetahui bagaimana kekonyolan dan kocaknya Komeng dapat mengocok perut kita. Tentu saja kita juga dapat menilai bahwa acara seperti itu sama sekali tidak ada pesan religiusnya, namun akan cukup melenakan para penontonnya untuk lupa akan aktivitas yang lainnya.


Setelah dapat tanggapan yang bisa dikatakan negative dari seorang ibu akhirnya chanel saya pindahkan ke stasiun lain, dengan maksud ingin mencari tayangan yang religious; bisa ceramah atau Tanya jawab seputar agama. Tetapi Apa nyana, tidak ada satupun tayangan yang diharapkan, suguhan acaranya hampir sama, ada juga salah satu stasiun televisi yang menyuguhkan sinetron religi Para Pencari Tuhan, namun tetap saja tidak bisa dikatakan sebagai religi karena hanya menyuguhkan kekonyolan udin dan Asrul, kisah cinta segitiga azzam dengan Ayya dan Kalila serta Praktik politik para calon Ketua RW antara incumbent dan tukang sayur. Dengan demikian, entah ini kebetulan atau memang sudah settingan setiap stasiun televise, bahwa di bulan ramadlan justeru tayangan hiburan pindah jam tayang. Padahal seharusnya ramadlan dijadikan moment untuk jeda dari segala aktifitas hiburan yang melenakan, nafsu yang sangat halus dari seseorang, termasuk untuk sekedar menikmati tayangan hiburan.
Bulan Ramadlan, merupakan jeda bagi segala aktifitas yang dapat menimbulkan gejolak nafsu yang cenderung negatif. Dalam keseharian kita pun segala aktifitas yang berbau hiburan yang hura-hura harus ditertibkan demi menghormati jeda tersebut. Tempat hiburan malam yang biasa dipakai untuk kegiatan dugem wajib break selama bulan ramadlan. Bahkan jika ada pelaku usaha hiburan malam yang tidak patuh, pemerintah melalui petugas Satpol PPnya siap turun tangan.

Di setiap rumah dan mesjid, aktifitas keagamaan menunjukan peningkatan, disamping tentu saja aktifitas konsumtif dalam pengelolaan makanan terutama menjelang magrib, di lain waktu aktifitas keagamaan menunjukan peningkatan kembali terutama menjelang tarawih dan selepas taraweh orang-orang berlomba-lomba untuk mengkaji dan mengaji kitab suci Al-Qur’an dengan caranya masing-masing, pagi hari menjelang sahur orang-orang berlomba untuk menunaikan kebaikan demi memanfaatkan moment ramadlan. Begitupun ketika siang hari orang-orang ingin meraih khidmat ramadlan dengan menahan segala macam hawa nafsu yang dapat merusak atau mengurangi kekhidmatan puasa. Jika dalam kesaharian sesungguhnya orang-orang begitu khidmat dalam mengalap berkah dan kekhidmatan ramadlan, lantas bagaimana dengan televisi, apakah televisi juga ikut moment yang penuh berkah ini?

Bila kita cermati, jauh-jauh hari sebelum ramadlan, televisi sudah menunaikan ramadlan lebih dulu, mendahului ramadlan yang sesungguhnya. Tentu saja, televisi pun tidak ingin kalah dalam menyambut ramadlan. Televisi telah melakukan simulasi ramadlan melalui berbagai tayangannya atau kita kenal dengan istilah simulacrum untuk menunjukan bahwa telah terjadi reduksi realitas oleh televisi atas ramadlan, bahkan melebih-lebihkan realitas yang sebenarnya. Berbagai acara dibalut dengan pekik ramadlan ‘ marhaban ya ramadlan’, walaupun tayangan tersebut sama sekali tidak menunjukan makna yang sesungguhnya dari puasa. Tayangan gossip berpindah tema menjadi gossip bagaimana para selebritis menjalankan aktifitas ramadlannya. Iklan-iklan dibalut dengan pekik dan symbol yang berbau ramadlan, tanpa meninggalkan substansi iklannya sendiri.

Namun demikian, karena sifatnya simulacrum, tentu saja ramadlan dalam televisi tidak seperti ramadlan dalam keseharian kita. Televisi menyuguhkan program-program ramadlan namun tidak memenuhi syarat dan kriteria religious. Isi dan cangkang tidak berbanding lurus, walaupun tentu saja ada beberapa acara yang benar-benar sesuai seperti Kultum,, Tanya jawab seputar aktifitas selama ramadlan.
Kita tengok tayangan saat jam makan sahur, sekitar pukul tiga atau setengah empat, seperti pengalaman penulis di atas, hampir semua stasiun televisi menayangkan program yang serupa, yaitu menyuguhkan acara-acara pengocok perut. Acara ini tentu tidak jauh berbeda dengan jam menjelang maghrib, acara utama yang disuguhkan adalah acara pengocok perut yang dibalut dengan tayangan sahur dan buka puasa, yang tentu dalam pandangan penulis dapat mengurangi khidmatnya puasa. Ini justeru dapat mengurangi makna dari ibadah puasa. Bahkan ketika adzan magrib banyak stasiun televisi yang menayangkan sinetron dan acara pengocok perut. Dalam pencermatan penulis, hanya Metro TV antara sahur dan buka puasa menyuguhkan tayangan yang dapat menggugah rasa beramadlan kita sebagai muslim. Saya akan sebutkan satu persatu acara sahur dan menjelang buka puasa diantaranya adalah; Indosiar pada saat sahur menayangkan survivor (reality show dari luar) dan sinetron angling darma, sedangkan menjelang magrib tayangan sinetron kasih asmara dan muslimah. SCTV pas sahur sinetron Para Pencari Tuhan dan sinekuisnya begitupun ketika menjelang magribh. Trans TV acara pengocok perut saatnya kita sahur dan menjelang magrib suami takut isteri dan aku ingin pulang. Tran TV menayangkan opera sahur pengocok perut dan menjelang magrib si unyil dan tamu tak terduga. RCTI menjelang sahur acara liga champion dan dahsyatnya sahur dan menjelang magrib sinetron manohara. TPI menjelang sahur acara jejak rosul dan menjelang magrib acara nunggu bedug. Metro TV menjelang sahur acara tafsir Al-Misbah dan menjelang magrib acara ensiklopedi Islam.

Puasa dari tayangan gaduh.
Kehadiran televisi tak dapat kita bendung, semua program acara pasti ditimbang dan dianalisis dengan matang oleh para pekerja media agar dapat diterima oleh para pemirsanya. Namun sebagai penonton yang kritis, kita harus mampu memilih dan memilah tayangan mana yang kira dapat membantu menemukan hikmah dari puasa ramadlan, karena nyatanya kebanyakan acara justeru tidak meramadlankan secara substantif, kehadiran mereka hanya ikut meramaikan suasana saja, seperti halnya petasan yang hanya meramai-ramaikan puasa tanpa memberikan arti yang dalam, dalam menjalankan puasa. Kehadiran acara-acara di bulan ramadlan ibarat petasan yang hanya memberikan sumbangan kegaduhan di bulan ramadlan.

Dengan demikian, kita sendiri yang harus berani meramadlankan televisi, pilihlah tayangan yang kira-kira memberikan sumbangan terhadap kekhidmatan ramadlan, matikan televisi ketika acara kegaduhan mulai tampak, seperti halnya kita memilih untuk tidak menyulut petasan untuk meraup berkah dari ramadlan.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon