Pram Seorang Pembela Islam; Menelusuri Jejak Kebangkitan Nasional dalam Karyanya

Sejarawan Islam Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara menggugat hari lahir kebangkitan nasional, hal ini diketahui dari peluncuran bukunya setebal 600 halaman berjudul ‘ Api Sejarah: Peran Ulama dan Santri dalam Menegakan NKRI. Seperti dikutif dari ‘Bandung.detik.com’.

Menurutnya hari kebangkitan nasional itu bukan tanggal 20 Mei namun tanggal 16 Oktober dan tokohnya bukan Boedi Oetomo melainkan Samanhudi.

Pram, sapaan popular novelis dunia, Pramoedya Ananta Toer, Jauh-jauh hari sebelumnya telah menggugat tokoh dan pelopor kebangkitan Nasional dalam ‘magnum ovus’nya ‘Tetralogi Pulau Buru;bumi manusia, anak semua bangsa, jejak langkah dan rumah kaca’.

Gugatan Pram terhadap tokoh dan pelopor Kebangkitan Nasional terdapat dalam roman Jejak Langkah, buku ketiga dari Tetralogi Pulau Buru. Dalam ‘Jejak Langkah’ tersebut Pram yang selama ini dituduh sebagai Komunis namun tanpa bukti, justeru banyak membela umat Islam. Paparan Prof. Mansur substansinya serupa dalam Jejak Langkah, yaitu bahwa umat Islam, baik yang berasal dari saudagar, priyayi ataupun santri banyak berperan dalam menumbuhkan kesadaran umat Islam.

Pram menyebut-nyebut dan bahkan membela mati-matian bahwa pelopor kebangkitan Nasional adalah Syarikat Islam. Namun tentu saja, Roman yang diangkat dari dokumen-dokumen sejarah ini memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya lahir Syarikat Islam.

Kelahiran Syarikat Islam diawali oleh lahirnya Syarikat Priyayi yang digagas oleh Tirto Adi Suryo. Dalam karyanya tersebut, Pelopor pertama Pers Nasional tersebut disamarkan dengan nama Minke. Minke atau Tirto Adi Suryo (TAS) merupakan tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru yang kemudian mati diburu Belanda.

Syarikat Priyai yang digagas TAS setelah beberapa tahun kemudian tidak juga berkembang. TAS yang cerdas dapat membaca situasi, setelah banyak melakukan pengamatan konsultasi dengan beberapa Priyayi yang berada di Banten akhirnya dapat mengambil kesimpulan bahwa Syarikat Priyayi akan sulit berkembang karena golongan priyayi dalam hitungan angka sangatlah sedikit. Bahkan Koran Pertama Nasional yang didirikannya tidak juga mengalami kemajuan sebagaimana dicita-citakannya.

Dengan kebuntuan tersebut, TAS dapat membaca potensi besar yang ada, yaitu potensi umat Islam. walaupun TAS bukan seorang santri dan lebih cocok disebut abangan sebagaimana dalam kategorisasi Geertz, TAS membaca potensi akan bersatunya umat Islam dalam satu panji.

Dari sinilah ia mulai bergerak, mengkoordinasikan Syarikat Priyayi yang telah disokong oleh para priyayi muslim untuk kemudian dirubah namanya menjadi “Syarikat Islam”.

Dibantu oleh Koran yang diterbitkannya, Medan Priyayi, dengan Ideologi Ekonomi Islam; yaitu melalui politik ekonomi jaringan Islam. Semua jalur usaha dan monopoli yang dikuasai oleh Belanda dan China Tionghoa akhir dapat dilangkahinya. Pembelaan terhadap kaum ekonomi lemah menjadi simpati tersendiri bagi masyarakat yang menganut agama Islam. Syarikat Islam pun menyebar ke hampir seluruh tanah Jawa dan luar Jawa.

Besarnya Syarikat Islam yang didukung oleh banyaknya perusahaan; dari mulai percetakan, pabrik kertas, Media Massa Koran, dan hotel menjadi ketakutan tersendiri bagi tumbangnya ekonomi Belanda di Indonesia. Sehingga Belanda perlu menempel terus kegiatan yang dilakukan oleh Minke (namun intelensi tersebut dibahas dalam roman rumah kaca). Sedangkan pada awal perkembangannya justru Minke sangat dekat dengan Gubernur Belanda saat itu sebagai seorang sahabat yang berbeda dengan pengganti selanjutnya.

Berpusat di Buitenzorg atau Bogor, Syarikat Islam semakin berkembang dan besar. Beranggotakan tidak hanya para Priyayi Muslim, saudagar, atau santri namun juga masyarakat muslim yang berada dibawah garis kemiskinan pada saat itu berbondong-bondong mendaftarkan diri menjadi anggota Syarikat Islam.

Syarikat Priyayi dirintis tahun 1904 sedangkan dalam catatan Pram, bergantinya menjadi Syarikat Islam tahun 1906. Ditengah perkembangan SI tersebut yang sudah memiliki AD/ ART dengan bahasa Nusantara (Melayu) munculnya beberapa orang terpelajar Jawa yang baru saja lulus dari Belanda mendirikan organisasi pergerakan elit, Boedi Utomo.

Dalam catatan Pram, Boedi Otomo, merupakan organisasi pergerakan elit yang bergerak elitis tidak merakyat, dengan memakai bahasa resmi organisasinya adalah Bahasa Jawa dan demikian lebih banyak menghimpun orang-orang Jawa.

Sedangkan Syarikat Islam yang lebih dulu lahir walaupun belum ada konvensi Nusantara tentang persatuan namun menjadi pelopor kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan, tidak hanya antara para priyai namun juga dengan rakyatnya. Yang tentu saja berbeda dengan kelahiran Boedi Utomo yang bergerak dari elit ke elit.

Walaupun demikian tentu, Pram tidak bermaksud meminimalisir peran Boedi Oetomo, karena dalam perjalanannya Boedi Oetomo memiliki peran yang sangat mulia, yaitu mendirikan sekolah untuk rakyat. Disinilah peran saling melengkapi antara SI dan Boedi Oetomo. Pergerakan Boedi Oetomo saat itu mendirikan sekolah di beberapa daerah dan SI telah memiliki Cabang-cabang perusahaannya. Karena Boedi Oetomo bukan organisasi usaha seperti halnya SI, maka barang tentu sangat membutuhkan banyak dana untuk pergerakannya tersebut, sehingga SI pun yang melihat gerakan Boedi Oetomo sebagai gerakan mulia tergerak untuk membantunya. Mulai saat itulah, SI menjadi donatur tetap dalam pegerakan Boedi Oetomo khususnya untuk dana operasional pendidikannya.

Pram tampaknya ingin mengangkat realitas yang sebenarnya, Boedi Oetomo memang sangat berperan dalam rangka menyadarkan dari sisi kognisi, namun jauh hari sebelumnya kesadaran itu telah ditanamkan oleh Syarikat Islam, yaitu kesadaran bersatunya masyarakat Indonesia untuk menghilangkan segala monopoli dan penindasan ekonomi yang dilakukan pihak pendatang. Dan tidak hanya itu Syarikat Islam pun mengikat kesadaran rakyat dengan bahasa melayu yang kemudian dijadikan sebagai term dalam Sumpah Pemuda.

Dengan demikian Pram, layaknya menjadi seorang Pembela Islam, karena dalam roman Jejak langkah tersebut membela dengan ungkapan data sejarah bahwa yang layak menjadi pelopor kebangkitan nasional itu adalah Syarikat Islam yang mengikat rakyatnya dengan kesadaran bersatu dan kesadaran dalam penggunakan bahasa nusantara yang mampu menggerakan semua stratifikasi dalam masyarakat.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

4 komentar

Write komentar
Fikar
AUTHOR
Dec 20, 2011, 10:26:00 PM delete

Biarpun demikian, tapi dinamika kehidupan yang terjadi di sekitar Minke (Tirti Adhi Suryo) dalam novel karya Pram tersebut bukankah lebih kental dengan aura Marxisnya dari pada Islam...

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
Dec 21, 2011, 5:39:00 PM delete

Minke tidak sedang mempraktikan marxisme tetapi mencoba peka dengan keadaan sekitarnya...dan pada akhirnya perjuangannya itu sebagai hasil dari dialektika hidupnya, dari yang semula hanya mengabdi untuk Belanda hingga berhadapan-hadapan melawannya melalui tinta...

Reply
avatar
itachi
AUTHOR
Dec 20, 2012, 9:30:00 PM delete

tapi kenapa dalam buku Api sejarah Minke dituduh sebagai kaki tangan Van Heutz dan mendirikan SDI tandingan di Betawi dan Bogor ?
buku api sejarah penuh kengawuran

Reply
avatar
dudi rustandi
AUTHOR
Dec 23, 2012, 5:10:00 PM delete

Buku Api Sejarah disebut-sebut sebagai buku sejarah yang sangat subjektif,,,tentu saja, Pak Mansyur sebagai penulis memiliki subjektifitas saat menulis buku tersebut tergantung dari data yang tersedia di tangan pak mansyur. Jika pun disebutkan bahwa minke sebagai kaki tangan Van Heutz sangat wajar, sebagai awalnya Minke menulis untuk koran-koran Belanda

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon