Televisi Menebar Teror

Kata-kata terror, teroris atau terorisme kembali menghiasi layar kaca kita. Popularitas kata terorisme bangkit lagi pasca ledakan bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton 17 Juli lalu. JW Marriot pernah menjadi sasaran bom tahun 2003. Dengan peristiwa peledakan tersebut, Cendekiawan, pengamat intelijen, para pemburu bom adalah salah satu orang yang ketiban rezeki gara-gara ledakan tersebut. Betapa tidak, hampir semua stasiun televisi membahas peledakan yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab atau mungkin gila.

Kronologis serta bagaimana cara para pelaku Bom bunuh diri tersebut meledakan kedua hotel yang ditayangkan beberapa televisi pada akhirnya telah menjadi terror mental bagi pemirsanya. Salah satu peristiwa terjadi di Bandung. Seorang Anak usia Sekolah Dasar meneror Hotel berbintang lima karena terinspirasi oleh tayangan berita peledakan Bom JW. Marriot dan Ritz Carlton. Hal tersebut hanya salah satu kasus saja dari sekian banyak kasus terror yang disiarkan televisi. Teror nyata bagi penonton, pada akhirnya bukan lagi ledakan bom namun tayangan televisi yang menyiarkan secara berulang-ulang peristiwa ledakan bom tersebut.

Beberapa tahun ke belakang tahun 2006, kita pernah dikagetkan oleh perilaku anak-anak yang melakukan “smackdown” terhadap temannya sendiri hingga akhirnya membuatnya tewas. Acara “smack down” yang ditiru anak-anak tersebut merupakan acara salah satu televisi yang sering disiarkan. Kasus ini kemudian menjadi konsumsi media, untuk kemudian dikemas sedemikian rupa sehingga kemasan beritanya menarik. Stasiun berita membeberkan dengan detail bagaimana peristiwa tersebut sampai terjadi. Hingga sejelas-jelasnya dan akhirnya ditiru oleh anak lainnya untuk melakukan aksi seupa. Belakangan Dengan munculnya kasus tersebut jelas menjadi salah satu terror bagi ibu yang memiliki anak-anak seusia yang menjadi korban “smackdown”.

Kasus bombastis lain yang terinspirasi oleh berita adalah kasus mutilasi yang dilakukan oleh seorang isteri terhadap suaminya. Sang isteri mengaku terinspirasi oleh tayangan rekam jejak pembunuhan berantai yang dilakukan oleh Ryan. Pelaku kejahatan tersebut hampir persis meniru apa yang ditayangkan oleh televisi dalam menyiarkan beritanya secara mendetail.

Jika merujuk beberapa kasus tersebut, maka yang menjadi inspiratornya adalah televisi. Dengan berbagai julukan yang ditujukan terhadap kotak ajaib tersebut, televisi mampu menghipnotis para penontonya untuk melakukan sesuatu termasukan perilaku kejahatan criminal. Dahsyatnya televisi sebagai inspirator bagi para penontonnya, seorang cendekiawan, Kang Jalal (sapaan Jalaluddin Rakhmat) menyebutnya televisi sebagai Tuhan Baru bagi penontonnya. Dengan lasan bahwa hampir setiap penonton menirukan apa yang ditayangkan oleh televisi.

Sebuah lembaga survey menyatakan bahwa hanya 32 persen saja yang menilai acara televisi berkualitas (http://www.surya.co.id/2009/07/23/budaya-tandingan-televisi.html). Jika demikian berarti 68 persen menyatakan bahwa tayangan televisi tidak berkualitas alias buruk. Menurut data survey tersebut bahwa ke 68 persen tayangan yang buruk tersebut adalah sinetron. Sinetron-sinetron ini, berdasarkan survei itu, dinilai tidak mengajarkan empati, tidak memberikan contoh perilaku yang baik, tidak ramah anak, bias gender, dan penuh kekerasan. Bahkan jika kita tonton beberapa sinetron kerap sekali dibumbui oleh terror mental. Jika perilaku dalam tayangan tersebut di tonton oleh puluhan juta anak-anak Indonesia, maka masa depan Indonesia akan hancur. Coba kita perhatikan sinetron Inayah yang mengajarkan Poligami serta selalu ada bentak-bentakan dan keculasan dalam adeganya. Atau sinetron-sinetron lainnya yang banyak tayang hampir di semua stasiun televisi kita. Belum lagi tayangan reality show yang membodohi serta tidak menjaga etika jurnalistik.


Terror Mental

Jika kita cermati baik-baik dari acara televisi, seperti dinyatakan oleh lembaga survey di atas, yakni selebihnya sebanyak 68 persen berkualitas buruk, maka dalam pandangan saya acara-acara yang berkualitas buruk tersebut alias mengandung unsur-unsur terror tidak hanya sinetron namun juga tayangan-tayangan lain sebut saja acara infotainment, reality show, iklan, berita dengan berbagai macam kemasannya, acara debat, Film, acara-acara duplikasi dari luar seperti instanitas bakat, take me out, dan semacamnya.

Dalam salah satu Teori Efek Komunikasi Teori Norma Budaya ( Norm and Cultural Theory) berasumsi bahwa melalui media massa, informasi yang disampaikan dengan cara-cara tertentu dapat menimbulkan kesan yang oleh khalayak disesuaikan dengan norma budayanya. Media massa mempengaruhi budaya masyarakatnya dengan cara pesan yang disampaikan memperkuat budaya yang ada. Ketika suatu budaya telah kehilangan tempat apresiasinya, kemudian media massa memberi lahan yang pada awalnya sudah mulai luntur menjadi hidup kembali. Namun juga bisa sebaliknya justeru tayangan-tayangan tersebut lambat laun akan menumbuhkan budaya baru dan menggeser budaya lama, hal ini dikarenakan sifatnya yang menyebar, diulang-ulang dan jangkauannya yang luas. Dengan sifatnya tersebut budaya baru yang ditawarkan televisi akan banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Dengan pengulangan yang dilakukan oleh televisi maka masyarakat akan menganggap bahwa apa yang ditayangkan layak untuk ditiru.

Pada sisi lain kuatnya budaya popular yang menjadi basis ideology televisi akan mempengaruhi sebagian besar masyarakat kita bahwa apa yang ditayangkan adalah sikap umum yang menjadi etika masyarakat umum. Akan ada kesan jika kita tidak melakukan apa yang ada dalam televisi kita sudah ketinggalan zaman. Hal ini khususnya terjadi pada orang yang style oriented, mulai dari gaya rambut, warna kulit, fashion, accesoris dan lain sebagainya. Pada akhirnya televisi pun menjadi terror bagi para penontonnya.

Saya akan coba preteli sebagian pengaruh buruk tayangan yang sekaligus menjadi terror mental bagi masyarakat kita. Sebut saja misalnya sinetron. Sinetron lebih banyak memberikan pelajaran buruknya ketimbang yang bersifat edukatif. Alur dalam sinetron hampir seragam meniru gaya telenovela dimana seorang tokoh utama wanita miskin tiba-tiba menjadi kaya karena menikah dengan seorang pria tajir. Perhatikan saja sinetron cinta fitri, inayah, marvel. Tokoh utamanya pada awalnya adalah orang yang biasa-biasa. Fitri dinikahi oleh Farel, Inayah dinikahi oleh Doso, Marvel Ibunya dinikahi seorang pengusaha. Dalam alur cerita sinetron pun selalu menunjukan tentang kemewahan. Dan yang paling menonjol dalam alur sinetron adalah ketegaan para tokohnya memperlakukan seseorang secara sadis. Kita lihat peran Miska yang kelewat batas, aksi Doso yang kejam dan sering menikah. Selain itu sinetron-sinetron tersebut tidak pernah absent dari caci mencaci para lawan main lainnya dalan setiap episodenya. Jika merujuk pada teori di atas, dimana tayangan tersebut menyebar dan dilang-ulang maka lambat laun akan mempengaruhi sikap mental masyarakat kita yang pada akhirnya melumrahkan apa yang dilakukan oleh para tokoh tersebut.

Selain sinetron di atas belum lagi cerita sinetron remaja yang hampir sama alur ceritanya, tidak pernah absent dari terror mental mengajarkan bahwa caci mencaci, menjahili atau menjahati orang adalah suatu yang lumrah. Bagimana jika semua ini menjadi perilaku kebanyakan remaja kita? Dan hal itu sudah dianggap hal yang biasa dalam kebanyakan remaja. Tentu tak bisa dibayangkan bahwa dalam setiap sekolah akan ada banyak remaja yang menghalalkan sikap dan perilaku di atas.

Hal yang tak kalah buruknya adalah infotainment yang lebih mengeksplorasi kehidupan pribadi para selebrity Indonesia, mengajarkan pada kelumrahan kehidupan sang aktris. Perceraian, pemakaian narkoba, atau bahkan tindakan asusila yang dilakukan oleh selebrity seolah sesuatu hal yang biasa. Walaupun beberapa artis telah melakukan tindakan kejahatan namun tetap saja mereka di akomodir oleh media. Hal ini menunjukan seolah-olah bahwa apa yang mereka lakukan adalah lumrah. Sebut saja misalnya konsumsi narkoba yang dilakukan oleh beberapa aktris seperti Roy Marten, Sheila Marcia, Doyok, dan lain-lain. Setelah mereka melakukan perbuatan itu justeru mereka seolah makin popular. Lihat saja Faisal yang divonis memperkosa seorang gadis, setelah keluar penjara langsung diakomodir bermain sinetron.

Belum lagi kehidupan Glamor para selebriti kita akan menuntun masyarakat untuk bersikap seperti itu, sedangkan kebanyakan penonton kita adalah masyarakat menengah ke bawah yang menelan mentah-mentah setiap tayangan, sehingga bukan tidak mungkin mereka akan berimajinasi seperti para artis yang mewah. Jika sikap tersebut tidak diimbangi dengan kemampuan masyarakat, maka akan berakibat buruk. Bisa jadi kasus-kasus remaja yang menjadi penodong, atau mencuri Hape dalam sebuah counter karena terpengaruh hidup mewah para selebritis kita. Namun karena tidak mampu maka jalan keluarnya adalah dengan mengambil milik orang lain.

Begitupun acara reality show semacam rezeki nomplok, bedah rumah, tolong, atau semacamnya dengan mendapatkan rezeki yang tiba-tiba telah mengajarkan pada masyarakat kita bahwa hal tersebut tidak perlu diikhtiari karena banyak acara yang memberikan kita uang yang turun dari langit. Acara-acara tersebut mengajarkan kepada kita tentang instanitas, bahwa rezeki tidak perlu dicari namun tinggal tunggu giliran saja menjadi peserta reality show tersebut. Sehingga masyarakat tidak diajarkan bagaimana pentingnya sikap mental wirausaha atau ikhtiar dalam hidup sehingga melupakan proses yang menjadi sunatullah. Pada sisi lain, acara tersebut pun menjadikan kemiskinan sebagai konsumsi, menjadikan kemiskinan mereka menjadi barang dagangan bagi para kapitalis media, sementara para pembuat idenya menjadi dewa bagi mereka, sungguh tidak manusiawi dalam pandangan saya.

Acara reality show lain semacam termehek-mehek atau curhat, seolah-olah apa yang ditayangkan tersebut adalah benar-benar kenyataan hidup yang sangat lumrah. Kehidupan pribadi orang, urusan rumah tangga orang kini menjadi milik public. Pertengkaran menjadi sesuatu yang biasa dalam tayangan tersebut. Sungguh tidak mendidik.
Pada sisi lain, berita yang seharusnya mengangkat fakta dari realitas yang sebenarnya telah mengalami distorsi oleh kepentingan Media, sehingga berita-berita seperti kejahatan di blow up demi kepentingan institusi media. Kejahatan yang dibumbui dengan intimidasi, persekongkolan yang disertai dengan darah menjadi sesuatu hal yang biasa. hal ini dapat mengikis budaya dan mempengaruhi masyarakat kita bahwa perbuatan-perbuatan tersebut tidaklah dosa, sehingga dapat mendorong para pelaku lainnya karena dianggap biasa bahkan tidak dosa dalam masyarakat yang katanya religious.

Hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah Iklan. Iklan merupakan jantungnya televisi. Menyuguhkan berbagai kampanye dusta kepada masyarakat. Ingin cantik, ingin langsing, ingin diburu wanita, ingin tampil segar, tinggal menggunakan produk tertentu seperti apa yang diiklankan. Maka dalam waktu paling lama satu minggu penampilan kita sudah berubah 180 derajat. Ketika orang-orang menjauh kerana kita memiliki bau badan yang tak sedap kita tinggal menyemprotkan minyak wangi tertentu, maka dengan serta merta lawan jenis kita akan mendekat. Dan seterusnya dan seterusnya dengan iklan yang hampir serupa banyak menawarkan keinstanan. Dalam kenyataannya tentu saja tidak benar. Namun walaupun tidak benar, produk iklan tersebut pada akhirnya diburu oleh masyarakat kita. Masyarakat kita telah dibohongi oleh oleh tayangan tv. Lagi lagi sebuah terror, jika kita tidak menggunakan produk iklan tersebut, maka kita dapat dikategorikan tidak cantik, tidak menarik. Misalnya bagaimana krim pemutih wajah telah meneror puluhan juta masyarakat kita yang mayoritas berkulit sawo matang dan kuning. Dalam iklan tersebut, wanita cantik diidentikan dengan berkulit putih.

Bila dirangkum, akan kita saksikan tayangan-tayangan tersebut berbau imitasi, dusta, hiperealitas, kekerasan, plagiat, ketegaan dan kelumrahan atas ketabuan yang semua dapat mengikis substansi pendidikan masyarakat kita yang katanya berbasis religious.

Menangkal bahaya Televisi

Kebanyakan penonton televisi adalah anak-anak, remaja, dan ibu-ibu. Dan bisa jadi bahwa yang terpengaruh mayoritas adalah para penonton tersebut. Namun demikian anak-anak dan remaja sebagai generasi ke depan harus menjadi titik tekan dalam penangkalan terhadap terror mental televisi tersebut sedangkan seorang ibu layaknya menjadi pendamping bagi anak-anaknya. Lantas bagaimana penangkalannya?. Menurut hemat saya, seorang Ibu (+ Bapak) bertanggungjawab terhadap perkembangan mental seorang anak sehingga orang tua sedemikian rupa harus menjauhkan anak usia sampai tiga tahun dari tayangan televisi untuk menghindari ajaran langsung dari televisi. Sedangkan anak anak dan remaja layaknya didampingi oleh orangtuanya ketika menonton. Dan tontonan pun harus diseleksi oleh orang tua mana yang layak ditonton dan mana yang tidak, sehingga menonton hal-hal yang dapat merusak mentalnya dapat dibatasi bahkan dihindari. Selain itu televisi tidak disimpan diruang tengah, namun di ruangan khusus menonton televisi, sehingga ruangan tersebut dapat dikunci oleh orang tua dan dibuka pada jam-jam tertentu saja. Namun bagi remaja yang sudah baligh, layaknya orangtua memberikan pengertian-pertian yang dalam terhadap apa yang ditayangkan.

Eksplorasi di atas menunjukan bahwa terror nyata dan luas dalam kehidupan sehari-hari kita bukanlah bom seperti yang digembar-gemborkan televisi namun keseluruhan tayangan televisi. Dengan pendampingan, orang tua telah meminimalisir terror nyata televisi dari kehidupan generasi kita ke depan.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon