Arok Dedes; Rebutan Kuasa Kaum Agamawan



Judul Buku : Arok Dedes
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara, April 2009
Tebal : xiii + 561 halaman

Siapa yang tak kenal Pram, sapaan akrab Pramoedya Ananta Toer, seorang Novelis Besar yang dihargai dunia namun diasingkan di negeri sendiri. Seorang Pembela Islam namun dituduh Komunis, yang karyanya telah diterjemahkan ke lebih 70 bahasa dunia. Melalui karya “Arok Dedes yang banyak dibicarakan orang sebagai novel “Sumbangan kudeta ala Jawa untuk Indonesia” pada sisi lain Pram ingin menceritakan periha ambisi kaum agamawan namun sekaligus mengangkat kearifannya di sisi lain.


Roman sejarah awal abad 13 ini, menceritakan secara detail-seperti disinggung dalam pengantarnya-yang menolak seluruh dongengan dan mistika sebagaimana yang pernah masuk dalam buku-buku sejarah diniyah. Cerita Arok Dedes adalah cerita politik yang menggetarkan. Menurut penerbitnya ini adalah roman politik yang seutuh-utuhnya. Berkisah tentang kudeta pertama di Nusantara. Kudeta ala Jawa. Kudeta merangkak yang menggunakan banyak tangan untuk kemudian memukul habis dan mengambil bagian kekuasaan sepenuh-penuhnya. Kudeta licik tapi cerdik. Berdarah, tapi para pembunuh yang sejati bertepuk dada mendapati penghormatan yang tinggi. Melibatkan gerakan militer (Gerakan Gandring), menyebarkan syak wasangka dari dalam, memperhadapkan antarkawan, mengorganisasi kelompok paramiliter (begundal-begundal dan jajaro), dan memanasi perkubuan. Aktor-aktornya bekerja seperti hantu. Kalaupun gerakannya diketahui, namun tiada bukti yang paling sahih bagi penguasa (Tunggul Ametung dan patih-patihnya) untuk menyingkirkannya.
Dalam pandangan saya, Arok adalah simpul dari gabungan antara mesin paramiliter licik, politisi sipil yang cerdik-rakus dari kalangan bawah dan legitimasi kaum agamawan. Arok mendapatkan semua legitimasi itu untuk mengukuhkan diri sebagai penyelamat Rakyat dari politik yang dijalankan oleh Orde Ametung secara sewenang-wenang.

Ibarat Robinhood, Arok menjadi perampok untuk kemudian hasil rampokannya dijadikan sebagai dana persiapan untuk menjatuhkan Orde Ametung. Di tangan Arok, hasil rampokan berhasil dikelola untuk menggerakan massa dari berbagai kalangan. Dengan gerakan massa yang dipimpinnya, Arok tak mesti memperlihatkan tangannya yang berlumut darah mengiringi kejatuhan Ametung di Bilik Agung Tumapel. Arok menggunakan tangan musuhnya, dengan memperdayakan Dedes untuk merayu musuh politiknya dari keturunan Ksatria. Arok berhasil menjadikan Dedes sebagai umpan, yang kemudian dapat menjadikan musuhnya sebagai umpan yang dituduh sebagai pembunuh penguasa Tunggul Ametung. Dengan siasatnya tersebut, Arok tampil ke muka tanpa cacat. Sementara, Dedes yang merasa sangat pantas menjadi Akuwu karena keturunan Kaum Agama, harus rela menyerahkan kekuasaannya kepada Tunggul Ametung dan Ken Umang sang Permaisuri dari Kalangan Sudra.

Satu hal yang menarik dari Roman Sejarah Arok Dedes adalah bagaimana besarnya peran kaum agamawan yang telah menjadikan Arok sebagai ‘bogalalakon’ untuk merebut kekuasaan dari kaum Whisnu. Arok sendiri adalah campuran antara penganut Shiwa, Wisnu dan Budha. Karena berangkat Dari masa kecilnya sebagai penganut Wishnu sebagaimana halnya pada keluarga Umang, sementara guru pertamanya adalah penganut Budha dan guru terakhirnya adalah penganut Shiwa. Sementara Dedes yang merasa pantas untuk tampill adalah penganut Shiwa dan Ken Umang sendiri yang menjadi permaisuri baru bersama Ken Dedes adalah penganut Wisnu.

Sedikit banyak, Pram mengisahkan bagaimana ambisi Kaum Brahmana titipan Kerajaan Kediri yang mengawasi Tumapel berambisi untuk menjatuhkan Tunggul Ametung, namun di sisi lain, stratifikasi sosial yang dibuat oleh kaum Wishnu membuat gerah kaum Shiwa karena membeda-bedakan manusia dari stratifikasi sosialnya. Tentu saja hal ini bertambah gerah ketika pemerintahan yang diperintah secara sewenang-wenang oleh tunggul Ametung. Sehingga membulatkan tekad kaum Brahmana Shiwa untuk menggulingkan Tunggul Ametung.

Menjadikan Brahmana Muda sebagai bogalalakon, yang berasal dari rakyat biasa kemudian menjadi Ksatria sekaligus Brahmana, Kaum Brahmana Shiwa berhasil menggulingkan Tunggul Ametung dengan cantik, tanpa harus mengotori tangan Arok atau Kaum Brahmana Shiwa sendiri. Melalui tangan musuhnya sendiri yang dijadikan wayang oleh kaum Brahamana Wishnu, Kaum Brahmana Shiwa dapat menggulingkan kekuasaan Tunggul Ametung tanpa ceda.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon