Mau ke Caheum Ko Nyampe Ledeng

“Malu bertanya sesat di jalan”, mungkin ini adalah ungkapan yang tepat atas pengalaman yang pernah saya alami 9 tahun lalu, tepatnya ketika saya baru saja menginjakan kaki di Bandung. Saat itu penulis baru saja dinyatakan lulus masuk perguruan tinggi.

Sebagai orang baru di kota sebesar Bandung, tentu banyak hal-hal yang tidak diketahui. Sebagai orang kampung, sifat dusun masih sangat melekat, Jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya rasanya sangat segan untuk bertanya kepada orang lain, peribahasanya “sok asa beurat kuletah, sehingga menjadi sok tahu. “kajeun atog-atogan itung jalan-jalan” itu merupakan slogan pembelaan terhadap diri yang sok tau.

Saat itu penulis diminta sodara sepupu untuk menemaninya untuk daftar ulang di salah satu Perguruan Tinggi swasta di wilayah Dipatiukur. Baik sodara sepupu ataupun saya sama-sama tak tahu menahu soal jalan-jalan di kota Bandung, yang tahu saat itu Cuma sekitar terminal ke terminal dan kampus, itu pun baru, karena memang terpaksa harus tahu.
 
Setelah melakukan daftar ulang, akhirnya kami naik angkot dengan jurusan Jalan Ir. H. Juanda, dan tepatlah kami berhenti sebelum jalan Merdeka. Dari situlah kami mulai kebingungan, naik yang ke arah mana, apakah naik yang menuju jalan merdeka, jalan Riau menuju Cicaheum, atau jalan menuju ke arah Jalan Sangkuriang (waktu itu kami tentu saja tidak hapal jalan-jalan tersebut) dan tujuan kami sebenarnya adalah menuju Cicaheum agar cepat sampai ke Cibiru. Namun pada saat itu karena ketidaktahuan dan kedusunan kami, akhirnya kami saling dorong untuk sekedar bertanya tentang arah angkutan umum yang menuju Cicaheum, alhasil tidak ada yang berani buka mulut untuk bertanya.
“Ah Hayu, mudah-mudahan we bener nu arah ka Cicaheum”, ajaku saat itu
 
Setelah beberapa lama, mobil angkutan umum tidak juga menunjukan tanda-tanda menuju ke jalan cicaheum, setidaknya Jalan Surapati yang pernah kutahu, malahan mobil menuju jalan menanjak yang tidak pernah kukenal (wilayah jalan setiabudi).
 
“Wah alamat nyasar sigana ieu mah kang”, ujarku saat itu
“Hah, tadina hayang ngirit ongkos”, balas sepupuku, sedikit kaget.
 
Setelah kami perhatikan, ternyata memang benar, angkutan yang kami tumpaki (tumpangi) sampailah ke sebuah terminal yang tidak pernah ku kenal, yang jelas bukan terminal cicaheum yang aku kenal (kalo sekarang saya terminal ini adalah terminal Ledeng).
 
Dengan polosnya aku nyeletuk ke sopir angkot,”ari ieu teh Cicaheum? Tanyaku
“Sanes ieu mah terminal Ledeng a”, jawabnya heran.
 
Jawaban itu membuat mukaku menjadi merah, bahkan bukan merah tapi geuneuk.
Karena tidak mau terulang kejadian yang sama, akhirnya aku beranikan bertanya lagi,”Terus kalo mau ke Cicaheum naek mobil apa?.
 
“Masih sami ‘a, naek mobil ieu, engke ieu muter heula teras ka cicaheum”. Jawabnya lagi.

Akhirnya dengan hati dongkol, aku menumpang angkot yang sama untuk sampe ke terminal Cicaheum.
Selama perjalanan, saya dan sodara sepupu saling ledek karena pengalaman tersebut, dan tentu saja ledekan-ledekan itu menjadi sesuatu hal yang lucu, karena enggan bertanya alias dusun, bukannya ngirit ongkos, malah ongkos jadi dobel dua kali lipat.
Dasar Dusun!!


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon