Cicero; dari Oratoria hingga Panggung Politik.


Judul Buku : Imperium
Penulis : Robert Harris
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama edisi kedua Juli 2008
Tebal : 413 halaman

Bagi mahasiswa ilmu komunikasi atau filsafat dan tentunya bagi kita yang interest terhadap bacaan filsafat, tidak asing dengan sosok filsuf Cicero, Filsuf yang menggeluti Retorika. Kita mungkin hanya mengetahui bahwa Cicero melulu seorang Retoris/ Orator. Namun setelah membaca buku ini, segera terbelalak bahwa Cicero menjadikan keahliannya untuk membela orang-orang tertindas oleh kesewenang-wenangan hukum yang dibuat penguasa, dia adalah seorang politikus sekaligus negarawan kalem.


Ia pada awalnya bukanlah orang yang sempurna sebagai orator, seperti diceritakan oleh Tiro sang Sekretarisnya. ia orang yang seringkali gagap dan suaranya serak karena banyak berbicara, namun karena memiliki ambisi politik dan ketekunannya dalam belajar ia akhirnya mampu mencapai kekuasaan politik tertinggi di Romawi, menjadi Konsul, sebuah jabatan Imperium.

Di awal perjalanannya, sebagai pengacara muda, Cicero banyak belajar retorika kepada para retoris terkemuka pada zamannya. Demi keahliannya itu Cicero rela meninggalkan kota Roma. Cicero sama sekali tidak memiliki apa-apa selain keahliannya berbicara tersebut. Namun dengan sedikit kepicikan otaknya, bagaimana caranya agar dia bisa mencapai ambisinya menjadi politikus, dia sadar selain keahlian yang dimiliki dibutuhkan pula uang yang banyak sebagai cost politic untuk memuluskan ambisi politiknya kemudian. Cicero yang mulai terkenal sebagai pengacara muda berbakat dan cemerlang akhirnya rela menikahi gadis dari kalangan aristocrat yang kaya, walau tidak terlalu dicintainya, Terentia.

Selain kaya, Terentia juga cerdas dan pandai berbisnis. Walaupun Terentia tidak terlalu banyak berperan dalam karir politiknya dibandingkan adiknya Quintus dan Latullus, Terentia cukup mampu memotivasi Cicero ketika suami ambisiusnya tersebut dalam keadaan down, dan sekali waktu pernah membantu keuangan suaminya untuk kebutuhan kampanye dengan cara meminjaminya. Namun tentu saja harus diyakinkan Cicero bahwa kasus yang ditanganinya akan menjadi pemenang sehingga dapat menembus hutangnya terhadap Terentia.

Sebelum akhirnya memenangkan kasus ini, Cicero masih dianggap sebagai pengacara nomor dua setelah Hortensius. Ia adalah orang baru dalam Senator yang bukan dari kalangan aristocrat. Sedangkan pengacara utama yang sangat terkenal adalah Hortensius yang tenang dan bijak. Namun karena kemenangannya tersebut dan mengalahkan Hortensius pengacara nomor satu di seantero Romawi, Kehebatan Cicero cepat tersebar. Kehebatan dan popularitas Cicero tak dapat disangkal oleh semua orang, apalagi ia banyak membantu orang-orang yang membutuhkan jasa pembelaannya di Pengadilan, baik dari kalangan aristocrat sendiri ataupun dari kalangan masyarakat biasa. Dari sinilah Cicero mulai sadar bahwa dengan investasinya membantu banyak orang, maka akan cukup banyak dukungan terhadap dirinya sehingga dapat memuluskan jalannya sebagai penguasa Romawi tertinggi, yaitu Konsul.

Perjuangan Cicero sebagai politikus yang ia mulai dari menjadi Senator, kemudian aedilis yaitu semacam penguasa dalam bidang logistic terhadap wilayah Romawi kemudian Praetor yang memiliki pengawal pribadi pemerintahan dan akhirnya menjadi konsul bukanlah tanpa rintangan. Misalnya sebelum akhirnya menjadi aedilis, ia harus memenangkan tuntutan rakyat Sisilia dari mantan Gubernurnya, Galia Verres, yang jahat; perampok, pembunuh dan perampas juga pemerkosa. Membela Rakyat Sisilia berarti berhadap-hadapan langsung dengan pengacara nomor wahid; Hortensius. Namun karena keuletan dan ketekunannya, bukti kejahatan Verres menjadi senjata ampuh untuk membantunya berpidato secara memukau dalam memenangkan kasus yang diajukan rakyat Sisilia tersebut.

Sedangkan menjelang menjadi Praetor, Cicero harus dapat bermain dengan cantik untuk memuluskan jalan Pompeius, Sang Jenderal Perang, untuk menjadi Triumphus ( tanda jasa kehormatan untuk komandan Perang) yang berasal dari kalangan bawah. Sekutunya dengan Pompeius merupakan salah satu jalan agar dapat mengembalikan peran Tribunus, yaitu jabatan pemerintahan dimana rakyat diberi kekuasan untuk langsung memutuskan dengan pemungutan suara. Memperjuangkan Pompeius, sama saja dengan membuat permusuhan baru dengan rakyat pendukung Cicero dan sekaligus dengan Aristokrat termasuk Isterinya. Namun karena keahliannya ia akhirnya berhasil menjadikan Pompeius sebagai Triumphus, kemudian menjadikannya Konsul dan terakhir menjadikannya Komandan Tertinggi Perang dalam menumpas para Bajak Laut yang membahayakan keamanan seluruh Romawi termasuk daerah taklukannya seperti Afrika, Mesir, Italia.

Dengan usahanya ini, Tiro menceritakan,” Cicero terjun kembali ke forum yang penuh sesak untuk mempraktikan seninya—membujuk, menyanjung, bersimpati, bahkan sesekali mengancam—karena menurut Falsafahnya, tidak ada satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau diperbaiki dengan kata-kata”.(hal.286)
Di akhir perjalanan poltiknya, dengan sifat kenegarawanannya untuk membela keadilan dan kebenaran akhirnya Cicero dapat memenangkan pemilu, menjadi penguasa Romawi; Konsul. Dengan didukung oleh kalangan Aristokrat; Hortensius dan koleganya, namun dengan kesepakatan yang harus dibayar mahal, yaitu harus mengajukan Matulus dan Catulus menjadi Triumphus, yang artinya Cicero harus berhadapan dengan Pompeius, orang yang telah dibelanya.

Membaca buku yang ditulis oleh Robert Harris ini, ibarat pengalaman di negeri sendiri, dimana untuk mendapatkan sejumlah uang dan untuk memuluskan jalan poltiknya, orang rela untuk melakukan apa saja; membunuh, menyuap, merampok, korupsi. Namun tentu saja pelajaran positif yang dapat diambil adalah bahwa untuk menjadi orang besar, orang harus mau merangkak dari bawah, banyak belajar, harus mampu mengkonsep selain memiliki ketrampilan yang tetap dalam diri kita. Karena seperti diceritakan oleh Robert Haris, pengarang buku ini, Cicero pun pernah mengalami kegugupan dan demam panggung sebelum akhirnya dia menjadi orang nomor satu di Romawi.

Buku yang ditulis secara mendetail ini cukup dapat memotivasi bagi kita yang tertarik dalam public speaking, pengacara, mahasiswa ilmu komunikasi, mahasiswa hukum atau Fisip, politikus atau lainnya yang ingin menjadi pembelajar sejati, namun satu hal yang harus kita sadari bahwa kita tidak dapat berdiri sendiri, kita butuh dukungan dan bantuan dari orang-orang sekitarnya untuk menjadi orang hebat. Semua orang akan cukup membantu dalam menentukan takdir kita.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon