Tersesat!

“Malu bertanya sesat di jalan”, itu kata pepatah yang pantas untuk menggambarkan beberapa kali perjalanan ketika menginjak kota baru. Hal ini terjadi beberapa kali dalam beberapa kesempatan. Hari selasa kemarin (20/10/09) mungkin untuk kesekian kalinya tersesat di jalanan kota Bandung sekitar Sarijadi. Saat itu rencananya saya menuju Dinas Sosial untuk kepentingan penelitian. Namun seumur-umur di Bandung, belum pernah mendengar jika SOTK Kota Bandung memiliki Dinas Sosial. Untuk menjawab keraguan akhirnya saya putuskan bertanya kepada seorang teman yang cukup dekat kegiatan pemerintahan kota Bandung, seorang aktifis. Namun seperti dugaan saya, ternyata Dinas Sosial itu katanya tidak pernah ada dalam SOTK Kota Bandung.
Wal Hasil, saya pun langsung berangkat ke Pemda Kota Bandung di Jalan Wastukencana. Namun lagi-lagi saya ragu, takut-takut Dinas Sosial itu ada. Akhirnya saya coba tanya petugas Satpol PP yang kebetulan sedang jaga di sekitar gerbang masuk komplek Pemda Kota Bandung. Ternyata Dinas Sosial itu memang ada, dan petugas Satpol PP memberikan alamatnya yang cukup jauh dari komplek Pemda. Namun tidak apa, toh ini merupakan proses yang harus saya lalui demi mendapatkan izin penelitian. Akhirnya saya berangkat ke Dinas Sosial seperti yang dialamatkan, yaitu di belakang Pasar Induk Caringin. Jarak tempuh yang cukup jauh dari Komplek Pemkot Bandung. Setelah saya tanya alamat yang dicari saya dapatkan juga.

Namun setelah berada dalam alamat yang dimaksud, saya Tanya ke salah seorang PNS ternyata sudah pindah ke daerah Sarijadi. Jarak tempuh dari Caringin ke Sarijadi bila diukur barangkali dua kali lipat dari jarak tempuh Pemkot – Caringin. Akhirnya setelah mendapatkan keterangan yang cukup mengenai posisi Dinas Sosial, saya mengayuh lagi sepeda motor yang sudah tampak kepanasan. Disinilah masalah mulai muncul, ternyata saya Tanya Sarijadi tidak semua orang menunjukan kesepakatan. Setelah saya sampai di daerah Sarijadi justeru orang mengarahkan ke arah yang sebaliknya. Saya Tanya Dinas Sosial tidak ada yang tahu persis. Saya bolak-balik hamper lima kali balikan di daerah dan tempat yang sama, setelah akhirnya saya bertanya kepada orang-orang yang kira-kira mengetahui daerah tersebut. Karena masih belum juga mendapatkan titik terang, dan perjalanan dari awal berangkat hingga kejenuhan tiba sudah hamper 3,5 jam akhirnya saya putuskan untuk bertanya kepada polisi, tepat 700 meter ke kantor Dinas Sosial.

Ternyata polisi pun tidak cukup tahu dan menguasai tempatnya bertugas, padahal jelas dia sedang nongkrong dengan mobil patrolinya, yang menunjukan bahwa daerah tersebut adalah daerah tempat tugasnya. Namun untung saja, seseorang yang menemaninya mengetahui posisi Dinas Sosial, dan Pak Polisi pun menunjukan Eureka-nya dan akhirnya menunjukan posisi Dinas Sosial dengan cukup ramah. Terima Kasih pak Polisi, akhirnya dengan saran dan petunjuknya saya sampai juga di kator Dinsos walaupun harus ditempuh dengan waktu 3,5 jam lebih.

Setelah di Dinsos, ternyata surat yang saya maksudkan untuk kepentingan penelitian harus mendapat Rekomendasai dari Badan Pengabdian Masyarakat dan Lingkungan (BPM) yang mengharuskan saya kembali lagi ke Pemda tempat awal saya tuju… Ya Allah.

Tentu saja ini bukan kali pertama mendapat pengalaman yang menyenangkan seperti ini. Ketika kecil tinggal di Jakarta. Pernah tersesat di daerah komplek, keliling-keliling di tempat yang sama, tentu saja saat itu saya pantas dikatakan tersesat karena enggan untuk bertanya. Begitupun ketika menginjakan kaki pertama kali di Bandung. Di bawa oleh Angkutan Umum ke arah sebaliknya karena enggan bertanya juga.

Namun, satu pengalaman yang lucu dan mungkin menjengkelkan ketika berhadapan dengan orang yang merasa serba tahu. Kejadian ini terjadi ketika kuliah. Saat itu, karena sebagai penggita organisasi, saya kebagian tugas dan tanggung jawab untuk mencari lokasi kegiatan training anggota organisasi. Karena merasa belum memahami daerah Bandung, akhirnya saya ajak seorang kawan yang betul-betul orang Bandung. Sebagai orang Bandung tentu saya, menduga bahwa dia sangat mengetahui seluk beluk wilayah Bandung.

Saat itu tujuan saya adalah daerah Ciwidey, sebuah tempat yang nyaman dan sejuk, salah satu daerah tujuan wisata, tentu saja orang sudah mengenal daerah tersebut, termasuk saya pernah sekali menggunakan bus ke situ Patenggang. Namun karena belum pernah pergi ke Ciwidey dengan menggunakan kendaraan sendiri saya putuskan mengajak kawan sebagai penunjuk jalan. Dengan percaya dirinya kawan saya mengatakan bahwa dia sangat menguasai wilayah yang dituju dan dia menyanggupi untuk mengantarkan saya ke wilayah Ciwidey. Selama dalam perjalanan saya heran dan bertanya-tanya apakah ini benar jalan yang dituju, setelah saya konfirmasi, kawan saya mengiyakan dan dia coba menenangkan hati saya. Dia bilang bahwa pergi bersamanya ga usah khawatir karena dia tau tempat tersebut.

Sebetulnya saya ragu, namun karena saya tidak tau akhirnya saya pun menasihati diri sendiri. Setelah merasa yakin jika wilayah yang dituju telah sampai di Ciwidey kemudian saya dan kawan bertanya tentang wilayah yang dimaksud. Tapi apa nyanya….

“Ini mah Pangalengan Sep”, Jawaban seseorang yang saya Tanya

Hah, Pangalengan!? Pangalengan kan beda jalur dengan Ciwidey, kenapa bisa tersesat seperti ini. Tentu saja agenda yang seharusnya saya lakukan hari itu gagal total karena tersesat. Apalagi jarak tempuh yang sangat jauh sekitar 30 Km ditambah dengan cuaca yang hujan. Walhasil saya pun tidak mendapatkan apa-apa kecuali pengalaman yang cukup unik ini, tujuan Ciwidey, malah nyampe pangalengan.

Ya, dalam kehidupan kita sehari-hari kadang orang gengsi untuk mengakui bahwa dirinya tidak tahu atau minimal menjawab halus dengan jawaban kurang tahu ketika orang bertanya atau meminta tolong terhadap kita. Ke sok tahuan itu bukan alih-alih menolong justeru malah menyesatkan. Barangkali untuk orang tertentu sangat sulit mengakui bahwa dirinya serba tidak tahu tentang segala hal. Seseorang mungkin tidak ingin kelihatan bahwa dirinya kurang mengetahui.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon