Hikayat Pak Polisi

Bukan rahasia umum lagi, bahwa citra polisi di mata masyarakat sangatlah negative, hal ini sering tercermin dari cerita kita sehari-hari, semisal ada kejadian yang mengharuskan memanggil polisi, misalnya kasus pencurian atau perampokan, seringkali masyarakat enggan melaporkannya, hal ini dikarenakan, alih-alih polisi

menyelesaikan masalah justeru malah menambah masalah karena harusnya keluar dana untuk biaya operasional polisi selama mengurus kasus masyarakat tersebut. Tentu saja ini cerita dari masyarakat dan cerita dari masyarakat bukanlah cerita yang dibuat-buat namun berdasarkan dari pengalaman lainnya. Ini adalah fakta, walaupun saya tidak bisa membuktikannya secara hukum.

Tentu saja cerita ini tidak hanya di alami oleh sebagian kawan-kawan kita, kita pun barangkali pernah atau sering mengalami hal yang serupa, misalnya ketika umur saya masih 17 tahun, saya menerobos tanda lalulintas overboden atau tidak boleh melewati jalan tersebut. Karena saat itu saya tidak melihat adanya tanda tersebut akhirnya saya terobos, kebetulan ada pak polisi lewat, akhirnya saya kena tilang, tilang sekaligus juga karena pada saat itu saya belum memiliki SIM dan mobil saya kendarai telah habis pajak STNKnya.

Saat itu saya di tawari apakah sidang atau tilang di tempat, saya tidak mengerti apakah ada tilang di tempat atau tidak. Karena saya panic, baru pertama kali mengalami tilang, akhirnya teman saya menyarankan untuk tilang di tempat dengan biaya masing-masing; tidak memiliki SIM A Rp. 20.000, Menerobos Overbodden Rp 20.000 dan habis Pajak Rp 20.000, jadi jumlahnya Rp. 60.000. Karena saat itu masih anak sekolahan, mana punya uang sebesar itu, ada juga uang dalam dompet tinggal Rp. 18.000, akhirnya semua saya kasih ke polisi dengan berbagai alasan, dan untuk ongkos pulang ke rumah saya terpaksa minjem.

Tentu saja itu bukan kali pertama saya ditilang, pada saat kuliah saya juga pernah ditilang, saat itu motor saya langsung diberhentikan, kemudian pak polisi tanya surat-surat, namun karena surat-surat kumplit, akhirnya polisi mempermasalahkan bodi motor saya yang warna warni.
“De, rangka motornya gak sesuai dengan STNK, kalo mau ganti harus lapor dan diganti di STNK-nya”, ujar Pak Polisi
“Lha pak, ini mah ga apa-apa, ini bodi pak”. Jawab saya
“jelas-jelas di STNKnya rangkanya warna hitam, ini malah ditempel skotlet”. timpal Pak Polisi

“Di tilang ya” lanjutnya
“eh pak, masa gini aja ditilang, apalagi saya lagi mengejar acara Bakti Sosial”. Kelakar saya
“udah ikut ke pos”, Pak Polisi gak menggubris
Akhirnya saya ditilang Rp.20.000, tanpa ditawari apakah sidang atau ditilang ditempat. Saya berfikir saat itu setelah menyesal harus mengeluarkan uang Rp. 20.000 dengan perasaan dongkol, gak salah apa-apa kok ditilang.
“Kok ada ya polisi begog alias belegug kacida (sangat bodoh), masa polisi ga bisa bedain bodi sama rangka”, keluh saya dalam hati.

Dalam pikiran saya saat itu, yang ditulis di STNK itu adalah warna rangka bukan warna bodi, karena salah satu nomor yang tercantum dalam STNK adalah nomor rangka sehingga saya berpendapat kalo warna yang ditulis juga warna rangka. Dalam pemikiran saya, dalam sebuah kendaraan terdapat Chasis, sebagai tulang utama, kemudian rangka dan bodi. Di ibaratkan rumah, Chasis itu pondasinya, rangka adalah tiang-tiang betonnya dan bodi adalah tembok dan gentengnya, nah yang saya warnai itu adalah bagian temboknya, sedangkan rangkanya tentu saja tidak saya warnai.
Kali lain saya melewati operasi rutin polisi. Saya langsung diberhentikan. Seperti biasa polisi meminta ditunjukan surat-surat dan saya dapat memenuhinya, namun karena teman saya tidak menggunakan helm akhinnya polisi minta tilang, saya ga mau, masa dalam jarang yang tidak sampai 1 km perjalanan harus menggunakan helm, apalagi saya tinggal daerah situ.

“Pak masa kita lagi ngadain acara untuk masyarakat (bakti sosial) kita di tilang”, Bela saya

“Gak usah lah pak” lanjut saya.
Akhirnya gak ditilang, namun masih di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda, saya diberhentikan kembali gara-gara lampu motor mati.
“Surat-suratnya pak”, pinta Pak Polisi yang kira-kira seumuran itu.
Setelah melihat surat-suratnya, polisi itu bilang,”ini malam hari pak, kenapa lampu motornya mati.”
“Kalo malam hari lampu motor harus dinyalain pak, bahaya”, lanjut pak polisi.
“iya pak, tadi pas turun ke jalan tiba-tiba lampunya mati, baru aja pak, kalo tadi sih nyala,” bela saya apa adanya.
“Kalo tadi lampunya nyala, ini dingin,” sanggah pak polisi sambil memegang kepala lampu motor
“Eh pak rumah saya deket, tuh di manisi, jadi wajar we (aja) kalo lampunya masih dingin”, ujar saya mulai kesel sambil nunjuk arah jalan manisi di Bunderan Cibiru.
“udah pak , tilang ya, bapak sudah melanggar karena lampu motor tidak dinyalakan”, desak pak polisi
“Pak, masa surat-surat saya komplit, saya juga pake helm, dan lampu juga baru aja mati, bukan karena mati dari kemarin, masa ditilang, mana toleransinya,” Desak saya melenguh eh mengeluh.
“udah pak ikut saya,”ajak pak polisi
“mau ditilang disini atau gimana pak,” Tanya pak polisi
“Pak piraku kieu kieu wae ditilang (pak masa karena salah seperti ini ditilang).” Keluh saya lagi
“iya itu motor ga ada lampunya,”ulang pak polisi
“Pak, lampu eta kerek oge bieu paehna bener pak (Pak, itu lampu barusan matinya, bener pak),” ulang saja juga
“jadi mau gimana nh,” Tanya pak polisi
Karena sudah terlalu kesal, akhirnya saya bilang,”udah tilang aja”
“cepet pak jangan bertele-tele lah, mau ditilang mah tilang aja, cepet lah,” saya memuntahkan kekesalan.

“yang jelas pak nulisnya,” pinta saya.
Akhirnya SIM saya ditahan dan besoknya saya ambil di Polresta Bandung Timur. Walaupun ditilang saya puas, karena sudah bisa memuntahkan kekesalan kepada polisi ha..ha..ha..

Suatu kali ditempat yang berbeda dan waktu yang berbeda pula, Polisi mengadakan operasi lagi di daerah By Pass Cicalengka. Saya kebetulan melewati jalan tersebut, ceritanya sedang melakukan perjalanan pulang ke rumah tepatnya di kota kecil Garut. Saya pun diberhentikan dan seperti biasa polisi meminta surat-surat, karena surat-surat saya tidak bermasalah, akhirnya pak polisi melirik-lirik motor saya. Saat itu kebetulan motor saya gak pake kaca spion dan akhirnya kaca spionlah yang menjadi kambing hitam pak polisi.

“Maaf dek, ini operasi kelengkapan kendaraan, jadi kendaraan yang adek gunakan harus lengkap, kemana kaca spionnya dek? Tanya Pak polisi paruh baya tersebut sambil memegang tangkai kaca spion yang masih menempel.
“Waduh iya pak, baru aja kemarin, saya jatuh didepan rumah pak, jadi cuma kacanya aja tuh yang pecah, tangkainya masih ada, belum sempet diganti pak,”jawab saya
“karena ini operasi kelengkapan, maka ade harus saya tilang,” ujarnya
“Adek bisa liat ini warnanya, ini adalah tanda operasi kelengkapan,” kata pak polisi sambil menunjuk pita yang ditempel pada lengan bajunya.
“Ya udah pak tilang aja,” jawab saya percaya diri
Namun seperti biasanya, pak polisi itu selalu memanjangkan obrolan, padahal saya sudah rela ditilang karena kendaraan saya tidak lengkap
“Adek tau kan dimana harus ngambilnya”, Tanya pak polisi sambil mengeluarkan nota tilang

“Tau pak, itu pengadilan Negeri yang di Bale Endah kan?,” jawab sekaligus Tanya saya
“ya, kalo adek tidak ingin di sidang, ade bisa mengambilnya di Polres Bandung sebelum tanggal (duh lupa lagi saya tanggalnya), tau kan?,” pak polisi nanya lagi
“ya taulah lah pak, itu di Soreangkan? Kapolresnya anu kan? Jawab saya sambil menyebutkan kepala Kapolresnya saat itu
Karena pak polisi terlalu berbelit-belit pada saat itu, dan saya merasa bahwa sebetulnya pak polisi ini inginnya tilang ditempat, dan kemudian sepertinya pak polisi ini sudah kena akal-akalan saya, dengan menyebutkan nama Kapolres, akhirnya saya Lobi tuh pak polisi.

“Pak toleransi atuh, kaca spion kan baru kemarin pecahnya, saya belum sempet ganti, bukan berarti tidak akan diganti, harusnya bapak ingetin saya dulu, kalo misalnya setelah diperingatin masih saja spion kayak begini, baru bapak tilang,” lobi saya panjang lebar

Eh tanpa disangka polisi itu akhirnya ga jadi nilang. Saat itu saya menyangka, kenapa polisi gak jadi nilang saya, karena saya nyebutin Kapolresnya. Namun dengan lagak bijaknya, pak polisi itu mengingatkan saya;
“Ok sekarang saya kasih toleransi, tapi jika besok atau lusa, adek ketemu saya dan kaca spionnya belom diganti juga, berarti adek saya tilang,” ucap pak polisi.
“iya pak siap”, jawab saya sumringah
“silahkan”, akhirnya pak polisi tidak jadi menilang dan mempersilahkan saya untuk melanjutkan perjalanan.

Dari beberapa pengalaman berhadapan dengan polisi ada benang merah yang dapat saya ambil, ketika kita akan ditilang, kenapa polisi selalu bertele-tele atau bahkan konfirmasi ke kita tentang penilanganya, seandainya kita memang salah seharunya, ya.. polisi gak usah nanya segala, ditilang apa nggaknya, tilang ya tilang saja. Konfirmasi ini seolah-olah menawarkan konfromi antara ditilang dan kita disidang di pengadilan, disisi lain polisi menawarkan kita tidak ditilang namun menarwakan kita membayar sejumlah uang kepada polisi. Dalam istilah polisi seringkali diistilahkan dengan “TITIP SIDANG” memangnya ada gitu “TITIP SIDANG”, kalo titip sidang kenapa surat-surat kita dikembaliin, ah saya pikir mengada-ada.
 
Sejumlah pengalaman berhadapan dengan polisi, tidak sedikit juga polisi yang bijak, mereka juga tidak bertele-tele bahkan mereka cukup bersahabat dengan kita. Pada suatu hari, pagi-pagi sekali polisi sudah menggelar operasi, saat itu kebetulan saya keluar rumah, karena saya pikir masih pagi-pagi banget, jalanan masih sepi dan saya pikir polisi juga belum pada ada. Saat itu saya tidak pake helm, ga bawa STNK dan juga SIM. Akhirnya saya diberhentikan, udah ga pake helm, saya juga ga bisa nunjukin surat-surat.

“Waduh pak kirain kan masih sepi jam segini, masa sudah ada operasi, jadi saya ga bawa apa-apa termasuk gak pake helm”, saya memberi alasan
“tapi STNK dan SIM ada pak, didompet, dompetnya gak saya bawa, dirumah kostan” ucap saya mantap
“bener nih? Dimana rumahnya?,” Tanya pak polisi
“bener pak, tuh masuk jalan Manisi, tapi masuk lagi ke dalam kira-kira 500 meter pak” Jawab saya

Eeh tanpa disangka pak polisi nganter saya ke rumah kostan. Setelah saya tunjukin dan sekalian bawa helm, akhirnya dengan baiknya pak polisi mempersilahkan saya untuk pergi.
 
Kebaikan pak polisi juga terjadi ketika pick up yang saya bawa menerobos overbodden khusus untuk kendaraan barang, angkutan umum dan bis di daerah Kadungora Garut menuju Bandung. Saat itu saya tahu jika jalan tersebut gak boleh dimasuki oleh kendaraan barang, namun karena saat itu saya berfikir saya ga bawa barang, jadi ga apa-apa.

Eeh tau-tau setelah melewati jalan tersebut, polisi sudah ada dipinggir jalan dan memberhentikan pick up yang saya kendarai.
 
“Maaf dek, tau kan kalo jalan itu ga boleh dilewati kendaraan barang?setelah pak polisi itu memberi hormat dengan sopan
 
“iya pak, tapi kan saya gak bawa barang,” jawab saya
“begini dek, ini bukan masalah bawa barang atau tidaknya, tapi jenis kendaraan yang dipake, nah kendaaraan adek ini jenis kendaraan barang kan?, jadi walaupun gak bawa barang tetep gak boleh masuk jalan ini, karena jenisnya,”pak polisi menerangkan
 
“O ya pak, saya baru tau,” jawab saya pura-pura gak tau.
“boleh lihat surat-suratnya,” pinta pak polisi
Setelah saya tunjukan, pak polisi nanya lagi,”adek asal dari mana?”
“dari garut pak,” jawab saya

“oh kumargi sami-sami urang garut, sok mangga dilanjengkeun, tapi kade ulah diulang deui nya, (oh karena kita sama dari Garut, silahkan dilanjutkan, tapi awas jangan diulang lagi ya),” kata pak polisi dengan simpatiknya.
 
Tentu saja kenapa saya tidak tilang, saya pikir bukan karena sama-sama dari Garut, tapi karena dasarnya saja polisi itu baik, jadi gak langsung ditilang.
 
Cerita kebaikan atau perjuangan polisi tidak berhenti sampai disitu, khususnya polisi bagian lalu lintas. Setiap pagi Polisi sudah harus siap-siap mengatur lalu lintas, bahkan seharian berada di jalanan, kena hujan dan kena panas polisi harus tetap berada dijalanan. Bahkan tahun lalu, polisi-polisi muda rela menghibur para pengendara dengan berjoget, agar pengendara tidak stress karena kemacetan lalu lintas di jalur nagreg. Luar biasa.

Bagitupun ketika lebaran tiba, berapa ratus/ ribu polisi harus rela berlebaran dengan jalanan, demi sebuah tanggungjawabnya yang mulia. Jika dilihat dari pekerjaannya, memang itu sudah menjadi tugas mereka, namun jika melihat lebih dalam, kita lihat dari sudut pandang kemanusiaan, siapa yang tidak rindu berkumpul bersama keluarga di saat lebaran, tentu saja polisi juga manusia, mereka merindukan berlebaran bersama keluarga dan sanak familinya. Namun mereka rela melepas itu semua.

Adanya kasus yang menimpa polisi akhir-akhir ini, membuat mereka semakin tersudut seperti halnya kasus Susno Djuadji, yang menurunkan citra dan martabat Polisi. Tidak sedikit orang yang menghujat keberadaan polisi, sementara kegigihan mereka untuk terus menjadi mitra masyarakat atau menumpas terorisme tidak disorot oleh kebanyakan masyarakat. Memang dalam tradisi kita dikenal istilah ‘1000 kebaikan akan pupus oleh satu kesalahan’, atau dalam pribahasa sunda mengatakan ‘halodo sataun lantis ku hujan sapoe’. Kita sering kali menonjolkan kesalahannya, tapi tidak mengedepankan kebaikan apa yang telah diperbuatnya.

So,mari kita bisa melihat lebih bijak setiap persoalan, jangan sampai terjebak oleh fallacy dramatic instance atau Kang Jalal mengistilahkannya dengan overgeneralisir dalam bahasa komunikasi disebut sebagai stereotip.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon