Menanam Takwa Menuai Cinta


Kemasan Globalisasi yang menakjubkan mata dengan kemajuan teknologi, yang dianggap oleh para penganutnya sebagai “tuhan” baru, ternyata banyak menimbulkan masalah-alih-alih menyelesaikan masalah kemanusiaan, justeru menimbulkan petaka baru bagi kemanusiaan. Teknologisasi sebagai puncak kejayaan dari babak modernisme yang mengagungkan rasio menyeret pada kehampaan dan kekeringan spiritual dan moral. Eksploitasi alam dilakukan demi menunjukan kecanggihan teknologi, tanpa mengindahkan moralitas terhadap alam. Kemajuan hanya dinilai secara ilmiah dan lahiriah saja. Keuntungan hanya dinilai secara pragmatis, sehingga mendorong pada konsumerisme, kemajuan ditunjukan dengan kemewahan. Krisis pun mewabah, penyakit-penyakit pisik maupun mental silih berganti berkunjung tanpa mengenal waktu. Reaksipun bermunculan dari orang-orang yang sudah merasakan dan membaca akan krisis global tersebut, pada satu sisi positif orang mulai melirik agama dan spiritual hakiki sebagai solusi, pada satu sisi yang negatif, reaksi muncul dengan radikalisme seperti yang terjadi akhir-akhir ini.


Sambil menelususuri kekayaan sejarah peradaban dunia, dari mulai Yunani, Persia, Romawi dan peradaban Mesir, novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia ini seolah ingin menunjukan hal yang sama. Sejarah merupakan dialektika antara akal dan hati, dari Thales hingga hingga Descartes, dari Al-Kindi hingga Syariati.
Dengan kekayaan wawasan dan ketajaman intelektualnya, Sinta Yudisia mampu mengekslorasi dan mendeskripsikan tarik menarik antara akal dan hati, Sari’at fisik dan hakikat spiritual dengan kisah cinta yang menarik melalui tokoh utama, Armanusa, putri bangsawan Mesir yang bijak dan cerdas, rupawan nan bijak, yang akan menerima warisan tahta kerajaan, pada satu sisi ada Konstantin yang mewakili kaum intelektual yang kaya raya, bangsawan Romawi yang tak pernah tergantikan posisinya oleh rakyat, rupawan dan bijak, pada sisi yang lain ada Qays, pemuda tampan sederhana, panglima perang yang kapan saja bisa berganti posisi dengan para prajuritnya, tapi begitu mempesonakan dengan aura ketakwaan dan kecerdasan spiritualnya. Sehingga mampu menggoyahkan cinta Armanusa, Sang putri yang segera melangsungkan pertunangan dengan Konstantin putra Kaisar Heraclius penguasa Romawi.

Dengan kekayaan wawasan penulisnya, dua bab pertama novel ini, pada satu sisi menceritakan kekayaan dan kebesaran peradaban bangsa Mesir dan kebesaran Romawi pada sisi lain menceritakan tentang kejahiliyahannya. Salah satu warisan kekayaan ini ditunjukan oleh kecantikan Armanusa yang mewarisi kecantikan isteri Ramses II (hal.8). Seolah ingin menyindir keadaan negeri kita yang korup, bangsa Romawi digambarkan sebagai bangsa yang yang kaya namun bobrok oleh penulis, hal ini dideskripsikan dengan tidak dibayarnya gaji para prajurit demi kepentingan pribadi kaum bangsawan dengan membangun tempat-tempat istirahat (hal.18), pada sisi lain kejahiliyahan bangsa Romawi ditunjukannya dengan tidak adanya penghormatan terhadap HAM, yang ditunjukan dengan pertarungan para Gladiator sebagai tontonan kesenangan para bangsawan dan rakyatnya.


Secara menyeluruh novel ini merupakan novel Dakwah, dengan kelihaian tangan penulisnya, anggapan Barat bahwa Islam disebarkan dengan pedang dapat kita tangkis, Islam merupakan agama seruan damai yang mengajak menganut Tauhid, meng-Esakan Allah, seperti yang diserukan oleh Qays dan para pengikutnya. Agama Islam disebarkan dengan penuh kekhususan Ibadah dan keseriusan memerangi kedzaliman. Novel ini mengajari kita bahwa sumber kekuatan bukan ada pada jumlah dan kekuatan fisik tetapi sedalam mana keyakinan kita pada pertolongan dan kekuasaan Allah SWT, keyakinan harus dibarengi dengan ikhtiar manusia untuk meraih kemengan, tidak hanya berdo’a dan bertafakur, artinya keyakinan kita harus rasional, hal ini dijawab dalam novel ini dengan strategi dan taktik perang yang dilakukan oleh Qays dan pasukannya (hal.94)

Pada bab-bab terakhir, diantara pertemuan-pertemuan antara puteri Armanusa dengan Qays, seolah ingin menepis anggapan para pengiklan kecantikan dan fashion, dan menegaskan posisi manusia yang paling berharga adalah ketakwaannya terhadap Sang Pencipta. Hal ini ditunjukan oleh sosok Qays, walaupun dengan pakaian dan gaya yang sederhana, tanpa mahkota emas dan tanpa kemewahan pakaian sutera, tapi dengan ketakwaan yang tinggi terhadap Allah SWT, aura ketakwaanya mampu menggoyahkan hati Armanusa yang akan segera bertunangan dengan Konstantin. Aura ketakawannya menebarkan kesejukan dan kedamaian orang yang melihatnya, Armanusa merasa tenang, terlindungi, bahkan nyaman dan bahagia (hal.204) melihat dan berada di sisi Qays. Aura ketakwaan Qays telah mengundang cinta Armanusa, bahkan rakyat-rakyatnya.


Tapi sayang, pandangan keagamaan kedua insan ini sangat jauh berbeda, Armanusa belum faham apa yang menjadi tujuan hidup Qays untuk menegakan agama Allah, berjuang demi membebaskan ummat dari belenggu jahiliyah, walaupun telah dijelaskan oleh Qays. Armanusa hanya tertarik pada pribadi Qays bukan pada apa yang diperjuangkan oleh Qays.

Dalam bab terakhirnya penulis seolah mengajak para pembacanya merenung dan bertafakur bahwa dakwah yang dilakukan tidak hanya sebatas mengajak dan menyeru tapi harus memberikan pemahaman terhadap yang diajak dan yang sudah tertarik serta memberikan bimbingan lanjutan, jangan sampai menyisakan tanda tanya seperti yang terjadi pada Armanusa (hal.225)


Membaca novel ini seolah mengalami apa yang terjadi di dalamnya, terhanyut dalam percakapan para tokoh terlebih para tokoh utama, inilah kelayakan novel ini untuk dikonsumsi. Tidak hanya seolah -olah mengalami, tapi mengandung banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil oleh pembaca. Bahwa kekuatan/ keceradasan spiritual (ketakwaan terhadap Allah) akan lebih menentukan masa depan dan kesuksesan para pembaca dibanding hal lainya (kecerdasan rasio, harta, jabatan/ kekuasaan, wanita dan kecantikan) seperti yang ditunjukan oleh Qays dan pasukannya. Inilah yang membuat menusai bergetar dan pindah hatinya semua orang seperti yang dialami oleh Armanusa yang tidak mampu memerangi hatinya dan prajurit Balbis yang tidak sanggup menghadapi kekuatan kaum muslimin.


Buku yang berjudul “Armanusa, Kala Cinta Terbelah” dikarang oleh Sinta Yudisia dengan  ketebalan 228 diterbitkan oleh DAR Mizan

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon