Postmodernisme dan Keserbamungkinan Kebenaran

Kedigdayaan Sains modern cenderung didominasi oleh analisis logis. Ia  menolak tiap pembicaraan penuh makna tentang yang transcendental dan yang spiritual. Menganggap pembicaraan metafisika adalah sampah dan omong kosong menghasilkan berbagai ragam pemikiran dan pilsafat.

Pemikirannya kemudian melahirkan ragam teknologi luar biasa yang mampu menghubungkan orang dari berbagai dunia, dengan satelitnya dan berbagai perangkat teknologi informasi. Teknologi informasi menjadikan dunia menjadi kecil, sehingga pepatah kita yang mengatakan ‘dunia tidak selebar daun kelor’ jelas tidak berlaku lagi. 

Justeru sebaliknya dunia kini menjadi selebar daun Kelor. Patricia Aburden dalam megatrend 2000 menyebut dunia sebagai global village atau desa Global. Orang-orang dari berbagai dunia kini bisa terhubung, dunia menjadi tanpa batas, letak geografis, lautan dan terpisahnya benua tidak menjadi halangan. Budaya dari berbagai peradaban pun tercampur aduk dalam satu nuansa, budaya global, atau dalam istilah Samuel P. Huntington di sebut sebagai universalisme budaya; Budaya pemikiran yang sering dicirikan dengan dominasi rasio, budaya fesyen, ekonomi kapitalis, free sex, eksploitasi Sumber daya alam, narkoba, globalisasi bola, gerakan feminsime ekstrim, terkuburnya spiritualisme dan juga religiusitas dan lain sebagainya.

Kecenderungan di atas memunculkan berbagai persoalan; bangkrutnya ekonomi dunia, globalisai penyakit aids yang sampai saat ini belum ada obatnya, individualism dan kehampaan jiwa-penyakit, global warming, kerusakan ekologi, hilangnya keunikan budaya dan tradisi local. Berbagai persoalan ini pada akhirnya mendorong sebuah kritik pemikiran atas berbagai kemelut yang terjadi dalam dunia yang semakin sempit dan sesak ini, yaitu arus pemikiran POSTMODERNISME.

Buku yang dikarang Kevin O’ Donnell ini secara komprehensif menyajikan pemikiran Posmodernisme dari berbagai sisi; mulai dari sejarahnya, Gender, Filsafat Konsumen, para tokoh, epistemologi kritik terhadap Modernisme, etika, eskatologi dan kredo postmodern sendiri.

Awal Postmodern
Postmodern pada awal kelahirannya merupakan kritik terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanism dari manusia sendiri, melahirkan materialism dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat. Ia (Posmodernisme) beraksi terhadap inti pilsafat modernism; Idealisme Descartes, Empirisisme Locke, dan Eksistensialisme Husserl, analisis logis Newton dan metode ilmiah Prancis Bacon.

Postmodernis awal, Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah mustahil. Bagi Nietzsche, penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang rumit (hal.42).

Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan disiplin netral seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan berkompetisi disana. (hal. 43) Sedangkan Baudrillard curiga terhadap peran media massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. “Apakah kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa mengatakan hal itu? Begitu kecurigaan Baudrillard. Bahkan ia curiga bahwa perang teluk hanyalah drama layar kaca, tidak benar-benar terjadi. ” Peperangan modern adalah peperangan cyber,” ungkapnya. (hal 44). Menurut kaum postmodernis Ia adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan dari agenda kapitalisme. Baudrillard melihat kapitlisme sebagai ssuatu yang mengubah manusia menjadi benda. (hal.113)

Metode dan kritik terhadap Postmodern
Salah satu metode dalam pilsafat baru ini adalah metode dekonstruksi Derrida, ia merupakan penyelewengan jalur komunikasi yang normal dan membuka makna dengan menemukan konsep yang tidak dapat diputuskan. Dekonstruksi sering diartikan sebagai skeptic dan destruktif seperti membongkar sebuah bangunan hanya demi kenikmatan membongkar. (hal.58). para pilsuf diluar jalur ini seringkali menilai dekonstruksi sebagai bebas nilai yang menghasilkan kekosongan dan kekacauan etika dan moral sehingga Posmodern pun tidak bebas dari kritik seperti ditulis oleh Scruton;

Dengan membuktikan bahwa semua hukum dan larangan, semua makna dan nilai, semua yang menyulitkan, melingkupi atau membatasi kita dalam penemuan diri kita sendiri, setan memperkuat kepercayaan bahwa segala sesuatu diperbolehkan…kalau begitu godaan menjadi seorang pembebas tak terelakan. ‘ Musnahkan kebenaran suci,’ kata arvel; ‘turunkan peraturan yag mengelilingi Anda’.”(hal 104)

Namun tentu saja bagi Derrida sendiri, apa yang disebut dekonstruksi tidak pernah menentang institusi sebagai institusi, filsafat sebagai filsafat, disiplin sebagai disiplin, Derrida hanya memiliki keyakinan bahwa institusi mengandung kemungkinan bahwa kita dapat mengkritiknya, mengubahnya agar membuka institusi yang bersangkutan lebih baik bagi masa depannya. Baginya metode dekonstruksi merupakan kegiatan cinta, yang mendorong keluar kebenaran yang jujur dan mengakui posisi yang berbeda-beda. (Hal 105) Dekonstruksi merupakan kegiatan keramahan dalam arti mengucapkan selamat datang kepada “yang lain”.

Kajian Postmodernisme cukup membingungkan bagi siapapun termasuk para pelaku kebudayaan dari berbagai ranah kehidupan. Ada yang mengatakan bahwa Postmodern merupakan simpton kapitalisme yang dilahirkan dari kelimpahmewahan paham dan kepastian ekonomi sehingga beberapa kelompok menolak Postmodernisme. Yang lain menegaskan bahasa dan kebiasaan local, nasional dan tradisional melawan perasaan ironis perpaduan dari postmodernisme. Yang lain lagi menerima postmodernisme dalam kebudayaan dan ideology. Musik etnis dapat dicampur dengan teknologi baru dan irama rock; dipinjam, ditukar, dan dipolakan lintas wilayah. Ekonomi Asia Tenggara telah mengikuti ide citra; tanda realitas virtual.

Persepsi Postmodern
Pandangan Posmodern jika dikaji sekilas seolah tampak menghalalkan segala cara sehingga cenderung bebas nilai, namun seperti dikatakan Derrida, dalam metodenya mengatakan bahwa ia hanya membuat kemungkinan bahwa terdapat kritik dalam sebuah institusi tetapi bukan berarti ingin menghancurkan institusi itu sendiri, ia ingin memperbaikinya dengan cinta. Postmodernisme ingin membuka berbagai penafsiran baru atas kekakuan yang diciptakan oleh paham modern. Dalam pandangan kaum postmodern , tidak ada yang hadir secara total di depan kita, apa adanya semua disaring melalui penafsiran, sekarang dan yang belum (hal.120). Kaum postmodern memiliki kesadaran bahwa kita dipengaruhi oleh zaman kita, karenanya kaum Postmodern tidak percaya bahwa ada kebenaran murniyang terentang sepanjang abad (hal.122). Dalam kosmologi misalnya kebenaran abad pertengahan menyatakan bahwa pusat alam raya adalah Geosentrik Ptolomy, kemudian muncul kebenaran baru dari penelitian Copernicus yang kemudian diperkuat oleh Galileo bahwa pusat alam raya adalah Heliocentris,. Pandangan ini serta radikal mematahkan kebenaran yang telah digariskan oleh Gereja dan Iman dan kini muncul kebenaran baru pada abad baru bahwa pusat alam raya bukan Geosentris atau Heliosentris tetapi Blackhole.

Oleh karena itu postmodernisme menghindari pembicaraan mengenai yang mutlak, sains bukan merupakan kebenaran murni yang seluruhnya objektif, seperti yang ia katakan tentang dirinya, dan pengamatan empiris mungkin hanya mampu membuktikan dan menaggapi realitas. Kaena segala sesuatu merupakan energy yang bergerak.

Kemutlakan Allah
Bagi kebanyakan orang di Dania barat, membicarakan Allah berarti ide kekanak-kanakan dan mitologis tentang orang tua di langit dengan jenggot dan jubah putih. Luce Irigaray, seorang posmodernis perempuan menginginkan bahwa Allah memiliki ciri-ciri keperempuanan, ia mencari kelahiran Allah yang baru yang belum terbentuk dan menolak yang lama , Bapak patriark, sebagai dasar dari metafisika Barat. Namun tentu saja pembicaraan yang ilahi melampaui kepala makhluk yang dapat mati. Ia selalu transenden: melampaui dan melewati batas. Mengatakan bahwa kita tidak dapat membayangkan atau merumuskan sesuatu yang mutlak bukan berarti Bahwa tidak ada sesuatu “di luar sana”.

Banyak orang merasa ketakutan dengan postmodernisme karena melepaskan semua pusat dan stabilitas, dan itu semua tujuan, iman dan nilai. Postmodern menolak narasi-narasi besar dan mengangkat lokalitas. Namun dibalik itu semua ada kebutuhan untuk mendamaikan masa lalu dengan masa sekarang, dan untuk bebas bergerak melampaui. Ada yang mengatakan bahwa kita memasuki “kawasan biru” yang berarti kepekaan terhadap spiritualitas dan perasaan yang menjadi ciri khas abad 21. Postmodern tidak berbicara seputar reltivisme total dan radikal, seperti yang sering ditakutkan. Karena Ide mengenai stabilitas dan kedalaman, iman dan harapan tidak mudah dihilangkan dari kesadaran manusia.

Kredo Postmodern
Postmodernisme memiliki kredo dalam mengejawantahkan pilsafatnya. Ia selalu terbuka terhadap kehidupan, terbuka terhadap ide, terbuka terhadap cinta, terbuka terhadap kehadiran yang lain. Postmodern sangat menghargai anugrah. Kehidupan yang mengalir melalui kita adalah anugerah. Postmodern juga sangat toleran terhadap orang lain dan pandangan mereka. Ia bebas untuk tidak setuju, namun bukan berarti tidak memberi tempat terhadap mereka. Ia mencegah sistem doktriner dan ideologis karena dianggap mencederai. Kemoderatan Postmodernisme berada dalam pandangan bahwa apa yang menurut pikiran kita ada memiliki kemungkinan tidak selalu benar. Janganlah coba menangkap alam semesta dengan pikiran kita karena sama seperti seorang anak yang berpikir dapat mengisikan air laut ke dalam sebuah ember, selalu ada yang lain.

Gerakan Postmodern selalu curiga terhadap factor kekuasaan, sehingga apabila diterjang oleh factor itu kita harus berani mengeluarkan alat dekonstruksi kita; lihatlah hal besar itu berantakan seperti Meccano yang tidak disekrup; temukan ketergelincirannya. Tetapi lakukan itu dengan cinta karena cinta lebih dahulu ada dari bahasa dan semua sistem kepercayaan. Bahkan kita bebas melakukannya termasuk melakukannya atas nama Allah, rasakan misteri Allah berembus di dalamnya, kita akan merasakan besarnya makna yang ada di dalamnya. Namun tentu saja itu semua harus dilakukan dengan menyertakan etika, karena kehidupan bukannya bebas untuk semuanya secara acak namun demi mengenali diri kita. Pandanglah ke dalam jiwa kita, tempat rahasiamu, carilah terang di dalamnya lalu sambungkan. Demikian buku ini ditutup penulisnya

Buku Kevin O’Donnel ini walaupun ada beberapa tema yang cukup berat untuk dipahami, namun cukup komprehensif untuk memahami apa itu Postmodern. Mulai dar sejarah, pemikiran, budaya, seni, bahasa, sosial, politik, psikologi, gender dan terutama kredo yang ada di dalamnya. Bagi pemula dan pembaca umum, buku ini tidak akan menjenuhkan karena setiap halaman selalu dibubuhi dengan ilustrasi gambar menarik kecuali isinya yang barangkali harus didalami secara seksama agar tidak terlepas dari realitas keseharian pembaca dan kemungkinan ada materi yang tidak akan dimengerti karena barangkali sama sekali baru bagi pembacanya.

Buku berjudul Postmodernisme ini diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Kanisius Yogyakarta tahun 2009 dengan ketebalan 164 menggunakan kertas lux seperti majalah-majalah ekslusif.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon