Sex After Dugem; Filsafat Praktis untuk Menulis

Judulnya begitu menggoda, berbau pengalaman seks yang vulgar. Semua orang barangkali tertarik dengan kisah-kisah nyata yang berbau sex dan saya pun memprediksikan demikian terhadap buku ini. Pertama kali membaca judul ini sewaktu berselancar di sebuah blog—saya lupa lagi namanya, namun karena sudah merasa diulas, saya tidak tertarik dengan buku ini, walaupun judulnya menggoda.


Namun ketidaktertarikan saya sirna ketika berkunjung ke toko buku Toga Mas, di Jalan Supratman. Ketika saya melihat buku ini, saya langsung buka dan telanjangi ‘baju’(pembungkus plastik)nya. Walaupun tidak semua halaman saya buka, namun cukup untuk menyodorkan buku ini ke kasir Toga Mas.


Ha..ha..ha…, itulah kesan pertama kali ketika menyelesaikan bacaan dalam catatan pertama tentang ‘plesetan’, sebuah pengalaman penulis tentang orang yang tidak mengenal tempat ketika melemparkan plesetan. Awalnya plesetan bisa menjadi hiburan, namun kemudian, ketika plesetan tidak lagi mengenal waktu dan tempat, akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang menjadi semacam penyakit dan bikin kesal orang-orang di sekitar. Namun tentu saja kekesalan bagi satu orang mungkin menjadi bahan tawa bagi yang lain terlebih bagi yang membacanya.


Buku ini sebenarnya telah diresensi oleh kompasiaber Om Chappy Hakim (disini). Namun saya begitu tergoda untuk mengapresiasi kembali buku ini karena begitu banyak pelajaran yang dapat diambil intisarinya sebagai filosofi dalam belajar menulis.

Dari ke 34 catatan yang terdapat dalam buku ini, banyak pelajaran berharga yang dapat kita jadikan bahan renungan, dari mulai etika hidup, praktik beragama, kehidupan keluarga, pertemanan, masalah komunikasi, pemaknaan, kehidupan seksual yang ditulis dengan vulgar dan jujur namun tidak porno serta tentu saja dunia penulisnya sendiri sebagai seorang copywriter. Namun dari semua catatannya, yang paling saya suka adalah bahan renungan untuk dijadikan pelajaran menulis. Diantara beberapa catatan sangat berkaitan dengan dunia tulis menulis. Namun seperti dikatakan penulisnya dalam sebuah pengantar bahwa buku ini bukan buku teoritis, lebih bersifat pengamatan dari pengembaraan penulis.
Filosofi kejujuran diri


Salah satu contoh yang berkaitan dengan pembelajaran dalam menulis adalah dalam catatan ‘Tuhan itu selalu Online”. Dalam catatannya ini banyak orang tidak mampu menulis karena berangkat dari paradigma/ mindset bahwa menulis itu bukan dunianya, bahwa menulis itu harus memiliki otak encer dan pinter, seperti hermawan kartajaya atau seperti Dewi Lestari yang novelnya masuk pada jajaran best seller, sehingga menulis bagi kebanyak orang adalah sesuatu yang mustahil. Dari catatan inilah kita akan mendapatkan pelajaran bahwa sebetulnya semua orang mampu menulis. Menulis yang tentu saja tidak harus mengacu kepada para ahli tertentu seperti Hermawan Kertajaya sebagai ahli manajemen.


Dalam catatannya ini, Om Bud (panggilan akrab dari penulis) mengungkapkan bahwa menulis adalah ekspressi emosi sehingga bahan yang kita tulis adalah apa saja yang menjadi cerminan dan pemikiran diri kita. Bahkan menurutnya, bila pun sebuah buku harus melulu berisi pertanyaan saja tidaklah menjadi masalah. Penulis mengambil satu contoh tulisan yang khas kepolosan Anak Baru Gede (ABG) dalam sebuah blog yang sedang ‘Chating dengan Tuhan’. Tulisannya tentu saja curhat sehingga penuh dengan nuansa kejujuran dan apa adanya. Kejujuran dan apa adanya merupakan intisari ajaran dalam menulis.

Filosofi Nama

Catatan ini sebetulnya tentang Nama penulisnya sendiri, namun saya dapat menangkap dari catatan ini bahwa sering kali orang merasa tidak Percaya diri dengan tulisannya, atau dengan judul tulisannya. Mereka merasa minder dengan gaya tulisannya. Padalah penulis memiliki sejarah dan pengalaman yang berbeda dengan orang lain. Menulis adalah sebuah gabungan kata yang bermakna seperti halnya nama Dewi Ratna Sari jika dipisah-pisahkan tentu menjadi kurang ‘dapet’, misalnya namanya Dewi saja, atau Ratna saja, namun ketika menjadi Gabungan nama tersebut menjadi indah.

Filosofi Nama dalam catatan ini dapat dimaknai bahwa menulis adalah sebuah gabungan kata yang kita pilih, bagaimana agar tulisan kita enak untuk dibaca maka setiap orang yang akan menulis harus pandai memilih-milah kata yang akan dirangkaikannya. Tidak perlu minder jika tulisan kita tidak berbobot atau tidak akademis, jika kita sudah merasa yakin gabungan/ ungkapan katanya pas maka yakinlah bahwa orang kan senang terhadap tulisan kita.

Filosofi Berita

Berita adalah sebuah pelaporan peristiwa yang tidak biasa dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu dapat dianggap berita jika ada yang berbeda. Filosofi berita berada dalam catatan ‘Good News and Bad News’, dalam catatannya tersebut saya menafsirkan bahwa sesuatu dapat menjadi hal yang menarik untuk ditulis bila tidak biasa dari kebanyakan orang-orang. Jika mengamili isteri sendiri, tentu ini berita biasa, tetapi kalo menghamili isteri pejabat ini luar biasa, inilah berita. Dari filosofi berita ini saya mendapatkan ilmu menulis bahwa ambilah satu persfektif dalam menulis. Kita harus memiliki pandangan yang berbeda dengan kebanyak orang-orang sehingga tulisan kita menjadi menarik dan lain dari yang lain dalam menafsirkannya.

Filosofi Keluarga

Filosofi keluarga saya dapatkan dari catatan ‘Arnold Hakim’, dalam catatannya, penulis yang begitu cuek terhadap keluarga dapat tersentuh hatinya oleh kebaikan dan ketulusan seorang kakak, hingga akhirnya penulis merasa sangat ditolong oleh sang Kakak yang bernama Arnold Hakim. Dalam catatan yang cukup panjang ini saya mendapatkan barokah tentang pelajaran menulis, yang pertama kita harus berada lingkungan yang mendukung kita untuk menulis, seperti halnya sebuah keluarga yang sangat toleran dengan segala kekurangan kita bahkan sampai rela menolong sodaranya tanpa mengharapkan imbalan apapun.


Setidak-tidaknya bergaulah kita dengan orang-orang yang menganggap bahwa menulis itu penting atau bila perlu gabung dengan komunitas para penulis, seperti Forum Lingkar Pena yang sering menyelenggarakan training kepenulisan, saling berbagi pengalaman dan lain sebagainya, namun selama beberapa tahun belajar menulis saya mendapatkan apresiasi dari blog kroyokan tempat berbagi Kompasiana. Jika berada dalam lingkungan yang mendukung, kita akan dimotivasi dan termotivasi oleh orang-orang disekitar, mereka akan dengan tulus berbagi pengalaman, memberikan informasi, bimbingan. Sentuhan mereka akan membangkitkan semangat kita untuk terus belajar sekalipun kita termasuk orang yang malas. Keluarga (keluarga) kita akan menjadi therapy yang ampuh untuk menularkan kebiasaan menulis dan menghilangkan penyakit malasnya.

Filosofi Kegenitan

Jika kita sudah merasa bisa atau mampu menulis jangan sekali-kali kita menggurui orang lain untuk belajar menulis. Salah satu hal yang dapat memotivasi kita dalam menulis adalah ketika orang-orang disekitar mendukung kita dengan mengapresiasi tulisan kita walaupun sebenarnya tulisannya tidak bermutu atau jelek. Namun dengan apresiasi yang tinggi dari orang-orang di sekitar kita, kita akan terus belajar dan belajar untuk menulis apapun. Namun jika kita sudah berani menggurui orang, kita merasa paling bisa dalam urusan menulis, siap-siaplah orang tidak mengapresiasi tulisan kita, jangankan mengapresiasi atau berkomentar, membaca judulnya saja barangkali membuat orang malas.


Filosofi kegenitan saya dapatkan dari catatan ‘Abi. Kyai Wanna Be’, Abi yang baru saja menerima beberapa ajaran agama ini sudah berani-berani menceramahi orang seolah-olah orang-orang disekitarnya tidak lebih tahu dari pada dirinya, atau orang-orang disekitarnya tingkat kesolehannya lebih rendah daripadanya. Padahal ilmunya belum tentu lebih hebat dari orang-orang yang diceramahinya. Dalam lingkungan kita sering menemui orang-orang yang baru mengetahui sesuatu namun sudah merasa bahwa dia bisa dan tahu segalannya. Karakter seperti ini saya namakan genit atau kegenitan.


Dalam dunia tulis menulis pun, jika kita ingin tetap termotivasi/ dimotivasi atau diapresiasi tulisan kita oleh orang, jangan merasa bahwa kita tahu segalanya tentang sesuatu yang menjadi isi tulisan kita. Hal ini menyangkut dengan cara mengemas dan menyampaikan tulisan kita. Seperti halnya Abi, perubahan Abi adalah sesuatu hal yang positif termasuk mengajak orang untuk sholat, namun jika menyampaikannya tidak pas cara dan metodenya maka semua orang menjadi tidak simpatik terhadap ajakan positifnya.

Filosofi Proses

Menulis adalah sebuah proses. Allah yang maha tahu saja menciptakan seseorang dengan melalui proses, dari mulai sperma yang membuahi, darah, tulang dan selanjutnya. Begitupun dalam belajar menulis tidak akan langsung bisa dan mampu untuk menulis. Apalagi menemukan sebuah karakter tulisan kita, tentu butuh proses yang cukup lama.


Catatan tentang Filsafat menulis Praktis ini terdapat dalam catatan ‘creative attitude’. Saya menggaris bawahi dalam catatan ini bahwa menulis adalah sebuah proses dan begitupun kreatifitas menulis adalah berangkat dari proses pembiasaan. Kebiasaan kita untuk berproses menulis tentu akan mengantarkan kita pada kebiasaan berkreatifitas dalam menulis, kreatifitas itu pada akhirnya akan selalu kita dapatkan bila kita membiasakannya. Apapun akan menjadi bahan tulisan jika kita membiasakan diri menulis. Proses kreatifitas ini digambarkan sangat filosofis dengan proses membuat lingkaran, seorang Guru untuk membuat lingkaran itu sempurna berproses hingga puluhan tahun hingga pada akhirnya didapatkan sebuah lingkaran. Jika saja tidak dibiasakan maka belum tentu lingkaran yang dibuatnya akan sempurna. Seperti belajar membuat lingkaran yang benar-benar bulat, menulis pun adalah sebuah proses. Orang tidak akan langsung pintar/ atau mampu menulis tanpa harus terus belajar dan belajar menulis.


Selain terdapat dalam catatan ‘Creative Attitude’, Filosofi Proses’ terdapat juga dalam catatan ‘Rasa Nyaman itu Mahal’, untuk menemukan sebuah kenyamanan dalam menulis, orang harus terus mencoba dan mencoba, apalagi untuk menemukan karakter tulisan kita, tentu kita harus ‘bersenggama’ dengan catatan-catatan yang kita buat.

Filosofi menulis Gampang


Dari semua catatan, akan didapatkan pelajaran lainnya yang sangat berharga, bahwa buku ini memenuhi criteria, apa yang diajarkan oleh penulis sendiri dalam Kompasiana, yaitu memenuhi criteria Power 3, dengan judul yang menggoda membuat orang behenti untuk kemudian membacanya (stoping power). Tulisan ini juga memenuhi criteria 3 P yaitu pengalaman, pengamatan dan pengemasan, juga narasi dan deskripsi. Disampung itu semua karakterisasi para tokoh dalam buku ini begitu berbeda dengan yang lainnya, misalnya Karakter Nona Sang Feminis, Mu’an, Kirby, Abi, Arnold Hakim dan sejumlah tokoh lainnya.

*) Buku yang berjudul Sex After Dugem; Catatan seorang Copywriter ini dikarang oleh Budiman Hakim, diterbitkan oleh Galang Press Yogyakarta pada tahun 2009 dengan ketebalan 340 halaman dan telah dicetak 2 kali oleh penerbit.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon