Yu kita 'Rusak' Bahasa Nasional

Bahasa di dunia akan punah secara perlahan, dan yang paling parah adalah bahasa daerah di setiap negara. Hal yang sangat tampak misalnya di kota-kota besar di daerah. Katakanlah Bandung, Semarang, Surabaya, Lampung, Palembang, Medan, Makassar dan lain sebagainya. Selain karena pengamatan secara pribadi atas fenomena berbahasa di kalangan anak, remaja dan orang tua sendiri, inipun berdasarkan hasil penelitian sarjana bahasa dari Amerika seperti dikatakan oleh Ajip Rosidi, seorang Budayawan yang mendapatkan penghargaan dari The Habibie Centre tahun 2009. Menurut pengamatannya setiap Tahunnya Bahasa Daerah berkurang, lebih dari 6000 bahasa didunia akan punah.


Jika kita perhatikan, anak-anak di kota Besar, seperti Bandung, orang tua dan anak baik di perkampungan terlebih di perkotaan dan komplek perumahan akan nyaman menjadikan bahasa Indonesia (logat daerah) sebagai alat komunikasinya. Bahkan di daerah sendiri seperti Garut, Sumedang tidak sedikit diangkutan umum orang tua mengajak bicara anaknya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jika saja hal ini dilakukan oleh setiap orang tua yang berpendidikan maka hasil analisa dan kedua sarjana bahasa Amerika tersebut akan terbukti. Bagitupun hal ini tidak hanya dialami orang tua dan anak/ remajanya, namun juga orang mahasiswa-mahasiswa daerah lebih bangga menjadikan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi walaupun mahasiswa tersebut berasal dari daerah yang sama.
Menurut penuturan seorang teman, yang kebetulan seorang dosen Universitas Negeri di Lampung, hampir rata-rata orang yang tinggal di kota lampung tidak bisa berbasa daerah, baik anak-anak, remaja atau dewasa termasuk dirinya yang asli Lampung tidak bisa bahkan tidak kenal dengan bahasa daerahnya. Hal ini sangat mengkhawatirkan jika terjadi pada semua daerah. Bayangkan jika pada kota-kota besar di seluruh Indonesia semua warganya dari mulai orang yang berpendidikan, tokoh masyarakat, agen pemerintah selalu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa nasional? Dalam beberapa tahun kedepan maka bahasa daerah akan punah di kota besar tersebut.

Ibukota sebagai pusat kota di daerah akan menyebarkan karakter ini, sehingga tidak menutup kemungkinan akan cepat menyebar ke daerah dan pelosok seperti halnya tren berpakaian masa kini, antara orang yang tinggal di kota dan di desa tidak ada bedanya. Bahasa pun barangkali akan memegang prinsip yang sama, jika bahasa Indonesia terlebih gaya betawi mendominasi disetiap daerah hilanglah bahasa kita yang kaya, ratusan bahasa yang dimiliki oleh bangsa Indonesia akan punah. Kekayaan pun berubah menjadi miskin karena tidak akan ada lagi bahasa serapan dari daerah yang turut memperkaya bahasa nasional karena telah diganti rupa olah bahasa Indonesia gaya betawi itu sendiri. Jika sudah demikian barulah para budayawan menggugat kondisi ini, pemerintahpun melakukan program budidaya bahasa daerah karena gugatan budayawan kritis.
Kondisi ini tentu akan sangat memprihatinkan jika bahasa daerah sendiri sudah menghilang dari pergaulan sehari-hari seperti hilangan kaulinan/ mainan tradisional anak-anak. Bahasa daerah akhirnya hanya akan menghuni museum dan kenangan belaka seperti halnya benda-benda purbakala. Bahasa daerah hanya menjadi catatan sejarah yang dibukukan dimana orang sudah tidak lagi kenal dan faham.

Sebagai orang daerah dan memiliki bahasa Ibu bahasa daerah kita seharusnya memiliki kebanggaan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar dalam pergaulan. Begitupun untuk siswa didik dan mahasiswa ajarnya tidak haram untuk menggunakan selipan-selipan atau dominan dengan bahasa daerah agar bahasa daerah tetap eksis. Alangkah uniknya jika dan sungguh kaya jika kita pun bisa berbagi dengan selipan bahasa daerah dalam setiap tulisan. Tentu saja menjadikan bahasa daerah sebagai bahasa sehari-hari bukan berarti menafikan bahasa nasional dan bahasa internasional. Justeru dengan kekayaan dan keragaman bahasa daerah turut menyumbang keunikan dan keragaman bahasa nasional kita.

Bayangkan jika kita hanya memiliki satu bahasa, jika kita hanya memiliki satu alat musik daerah, satu pakaian daerah, satu suku bangsa, satu tarian saja. Apa jadinya Indonesia? Tentu bukan lagi bangsa yang kaya dan unik!
Oleh karena itu, yu kita ‘rusak’ bahasa nasional kita dengan sisipan bahasa daerah!

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

6 komentar

Write komentar
Anonymous
AUTHOR
Jun 30, 2010, 11:48:00 PM delete

bahasa menunjukkan identitas dan kepribadian sebuah bangsa… jangan pernah lupakan bahwa setiap kata menganung arti dan maknafilosofis di dalamnya… dan selalu ingat bagaimana pembentukan kata itu terjadi… bila semua itu dilupakan maka jadilah keadaan kita sepeerti sekarang ini…

Reply
avatar
Octa
AUTHOR
Jun 30, 2010, 11:51:00 PM delete

Berita dari Tempo Interaktif, Selasa 4 September 2007. Bahwa 10 bahasa daerah di Indonesia telah punah, 9 diantaranya dari daerah Papua dan 1 di daerah Maluku, bahkan menurut pakar bahasa dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Dr H Edi Subroto, 700 bahasa daerah di Indonesia rawan punah. Berita yang pernah saya baca di Kompas (maaf lupa edisinya) menyatakan ada satu bahasa daerah yang hanya memiliki satu petutur saja.

Itu bahasa daerah, belum lagi bahasa Indonesia yang seakan-akan masih banyak yang menjadi petutur tetapi berapakah yang benar-benar berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan banyak akademisi yang membuat penulisan dengan mencampur adukan dengan bahasa asing (Inggris) dengan berdalih tidak ada padanannya, benarkah hal tersebut? Padahal dalam bidang teknologi Informatika telah di susun acuan seranai dalam bahasa Indonesia (http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/21/mari-rumpi-di-ruang-rumpi/), belum lagi para pejabat dan generasi muda kita dengan alasan globalisasi, seakan lebih kelihatan keren bila memakai bahasa asing dalam setiap ucapannya.

Reply
avatar
Yogya
AUTHOR
Jun 30, 2010, 11:52:00 PM delete

Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan maksud (berkomunikasi) dari satu individu kepada individu di luar dirinya. Yang menjadi pertimbangan utama digunakannya bahasa tertentu adalah keefektivan tersampaikannya maksud. Pada masyarakat mula2, pergaulan masih sangat sempit, oleh karena itulah muncul bahasa2 lokal. Bahasa lokal itu bertahan kuat karena memang untuk saat itu,untuk lingkup pergaulan sesempit itu, yang paling efektif adalah bahasa lokal. Kemudian masyarakat berkembang luas, mulai ada komunikasi antar masyarakat, antar bahasa. Hal inilah yang menyebabkan seleksi alam terhadap bahasa, mana yang paling banyak digunakan tentunya menjadi bahasa yang paling efektif untuk menyampaikan maksud. Dengan kenyataan ini, seleksi alam terhadap bahasa memang tidak dapat terhindarkan. Eksistensi dari bahasa2 lokal akan tetap ada jika dia diberi perlakuan khusus, tidak diserahkan begitu saja kepada seleksi alam. Bahasa lokal akan tetap eksis, bukan sebagai bahasa utama, tapi sebagai bahasa khusus, bahasa ibu, mata pelajaran di sekolah, bahasa sastra, dll.. Mari masing2 dari kita tetap menjaga bahasa lokal, meskipun dalam keseharian kita menggunakan bahasa lain.

Reply
avatar
zainal
AUTHOR
Jun 30, 2010, 11:55:00 PM delete

Menurut saya ada baiknya orang2 yang berminat pada masalah bahasa atau umumnya sosiologi memulai usaha pelestarian bahasa daerah dan juga berusaha memperbaiki bahasa nasional (Bhs Indonesia) yang saat ini sudah sangat rusak (tanpa tatabahasa) sebagai kontribusi kita.
Semula saya menunggu bertahun-tahun berharap Pusat Bahasa mensosialisasikan Bahasa Indonesia yang teratur dengan tatabahasa yang benar. Ternyata itu tak kunjung ada.
Sekarang dalam kal;imat2 Bhs Indonesia sudah tak ada aturan pemakaian awalan dan akhiran, bahkan sepertinya tak ada aturan tentang penggunaan jenis kata. Semua campur aduk, tak tahu kata benda dipakai sebagai kata sifat, kata kerja dipakai sebagai kata benda dsb.
Akhirnya saya membuat blog yang berisi diantaranya: “Berbahasa Indonesia dengan tertib” diikuti tulisan tentang aturan standar Tatabahasa, dan “Cara Mudah Berbahasa Minang” yang mencakup juga sepintas tentang adat, sejarah dan budayanya.
Para Kompasianer yang ingin membaca silahkan kunjungi http://zainal-paracermat.blogspot.com/.
Semoga ada “voluntier” lain yang menulis hal sejenis, walaupun bukan bidang akademisnya, senoga hal yang merisaukan ini tidak betul2 terjadi. Salam.

Reply
avatar
Untorosurya
AUTHOR
Jun 30, 2010, 11:57:00 PM delete

Menurut pendapat saya, kepunahan bahasa dan globalisasi itu datang dalam satu paket. Jadi sangat sulit dihindari. Namun laju kepunahannya bisa kita tekan. Caranya dengan “menciptakan” momen-momen tertentu di mana orang-orang harus berbahasa daerah. Misalnya dengan mengadakan pelajaran bahasa daerah di sekolah, TV/ Radio/ Koran lokal harus lebih banyak menggunakan bahasa daerah dll. Sayangnya di berbagai kota besar, penyiar-penyiar radio seakan-akan merasa “kurang gaul” kalo mereka tidak berbicara dalam bahasa Indonesia ala orang Jakarta.
Buat saya sendiri, kemampuan berbicara dalam berbagai bahasa sangat baik dan berguna, terutama bahasa di mana kita tinggal. Saya keturunan Jawa yang tidak bisa berbahasa Jawa karena saya memang tidak pernah tinggal di daerah yang berbahasa Jawa. Bahasa daerah yang saya kuasai adalah bahasa Sunda atau Minang karena saya pernah tinggal lama di sana.

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
Jan 7, 2011, 9:01:00 AM delete

Trims semua atas komentarnya

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon