Anak dan Behaviorisme

-->
Setiap kali dilafalkan lagu Sulis yang berjudul Ya Toyiba, ponakan saya, Irgi namanya selalu ketakutan dan langsung minta dipeluk terus digendong mamahnya.

Lirik lagu inipun oleh mamahnya selalu dijadikan senjata bila si Irgi nakal, nangis gak berhenti-berhenti. Saya terheran-heran kenapa lirik lagu Islami seperti itu justeru membuat takut anak balita tersebut. Setelah diselidiki ternyata kejadiannya sangat sederhana.

Ceritanya seperti ini; Suatu hari, Neneknya pulang dari ibadah haji. Rasa sayang si Nenek membuatnya ingat kepada Irgi cucunya, hingga akhirnya dibelikan boneka Unta. Namun ternyata yang dianggap lucu oleh sang Nenek ternyata berkebalikan dengan sang Cucu si Irgi. Irgi malah takut sama boneka unta tersebut. Ketakutannya karena setiap kali unta dipegang oleh Irgi secara otomatis mengeluarkan nyanyian puji-pujian Ya Toyiba, Ya Toyiba dengan suara khas mengalun Sulis sang penyanyi yang berduet dengan Hadad Alwi.
Dari kejadian sederhana tersebut, setiap kali ada orang yang menyanyikan lagu Sulis, Si Irgi jadi ketakutan dan lari ingin digendong serta dipeluk oleh mamahnya. Namun juga ada hikmahnya bagi sang Ibu, karena setiap kali anaknya merengek atau nakal tinggal dinyanyiin aja lagu Ya Toyyiba. Alhasil Irgi pun langsung diam.

Setelah saya mendengar cerita tersebut, saya jadi ingat salah satu teori dalam aliran Psikologi, yaitu Behaviorisme. Behaviorism adalah satu aliran yang menolak bahwa manusia memiliki system kesadaran. Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata.

Untuk membuktikannya para psikolog membuat tikus percobaan yang sama halnya diceritakan di atas. Tidak hanya Tikus yang dijadikan sebagai percobaan, suatu kali pernah juga Bayi yang dijadikan percobaan seperti diceritakan oleh Sarlito dan kawan-kawan dalam Buku Psikologi Sosial yang diterbitkan oleh Salemba. Si Bayi diberi boneka Kelinci dengan bulu-bulu yang lucu, namun ketika boneka tersebut disodorkan tiba-tiba saja dipukul lonceng dengan bunyi keras, si anak pun takut dan kelincinya dilepaskan. Hal ini terus menerus dilakukan sehingga lama-kelamaan ketika boneka kelinci tersebut disodorkan kepada sang bayi tanpa pukulan keras lonceng maka si anak pun akan tetap ketakutan.

Berkaitan dengan contoh dan percobaan terhadap tikus dan bayi, saya dalam hal ini langsung mencontohkan kepada perilaku Irgi sebagai contoh nyata tanpa harus melakukan percobaan. Ketika boneka disodorkan kepada anak si anak dengan cekatan mengambil boneka, namun ketika itupula bonekanya mengeluarkan nyanyian yang membuat si anak takut. Peristiwa ini diulang secara terus menerus dan akhirnya walaupun tanpa disodorkan sebuah boneka Unta namun ketika dinyanyikan sebuah nyanyian ya toyyiba miliknya Sulis si Irgi jadi ketakutan.

Behaviorism sebagai sebuah pelaziman seperti dikatakan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam buku Psikologi Komunikasi, walaupun telah muncul berbagai aliran baru dalam dunia psikologi seperti psikoanalisis, humanism, atau aliran psikologi baru yaitu transpersonal namun ternyata dalam dunia nyata aliran ini masih menemukan pijakan kebenaran. Pijakan kebenaran ini dalam kacamata saya adalah ketika diterapkan pada sosok yang kesadaran dan kehendaknya dari sosok yang diteliti tidak muncul atau memiliki kesadaran yang minimal.

Kita tahu bahwa binatang memiliki akal yang pasif sehingga tidak memiliki system kesadaran, bagaimana agar hewan kita bias menuruti keinginan kita bukan berdasarkan pada kesadarannya namun pada sebuah pelaziman sehingga seolah-olah hewan tersebut pinter sebagaimana ada anjing pelacak, lumba-lumba atau gajah di dalam sebuah sirkus.

Jangan Sekali-kali Membentak Anak
Inilah barangkali pelajaran yang dapat kita ambil dari kejadian dan teori behaviorisme. Seorang bayi/ balita memiliki syaraf-syaraf impuls pada otaknya yang belum terbangun secara utuh sehingga memiliki kesadaran yang sangat minim. Dengan kondisi demikian, maka seorang bayi dapat terkena hukum pelaziman dari teori behaviorisme. Jika si anak dibiasakan untuk dibentak oleh orang tuanya ketika melakukan salah maka menurut teori pelaziman si anak tidak akan melakukan kesalahan yang kedua kalinya karena takut, hal ini tentu saja berbeda dengan manusia dewasa yang telah memiliki system kesadaran yang penuh. Namun negatifnya bentakan orang tua tersebut akan menekan system kreatifitas si anaknya kelak ketika dia dewasa, karena setiap kali akan melakukan sesuatu hal yang diluar kebiasaan maka bisa jadi akan dianggap sebagai suatu kesalahan sehingga memory masa lalunya terpanggil kembali; TIDAK BOLEH MELAKUKAN KESALAHAN! Walaupun perbuatan yang dianggap kesalahan tersebut belum tentu salah, hanya karena factor di luar kebiasaan saja.

Hal yang dapat diamati adalah banyak sekali orang-orang cenderung merasa minder dan rendah diri atau dusun, di hadapkan pada orang-orang yang sedikit lebih dari dirinya langsung merasa tidak PD atau minder. Hal inipun dalam benak saya dikarenakan ada proses pelaziman di masa lampau ketika dirinya tidak boleh ngarewong kepada tamu yang datang menemui orang tuanya, sehingga ketika besar pun seolah-olah menghadapi kondisi yang sama sebagaimana di’ajar’kan oleh orangtuanya. Tidak berani mencari pekerjaan sendiri, minder berhadapan dengan orang yang lebih keren atau dengan orang yang lebih pintar. Dengan demikian kreatifitasnya yang seharusnya menjadi potensi yang akan memajukan dirinya menjadi terkubur. Oleh karena itu jangan pernah bentak dan larang anak untuk melakukan sesuatu jika kita ingin anak kita maju dan kreatif.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon