Beruntung Menjadi Manusia Sunda

Gambar di Unduh dari Om Google
Manusia Sunda adalah manusia yang selalu beruntung. Istilah beruntung hampir selalu kita temukan dalam sikap dan aktivitas keseharian manusia Sunda. Secara kasatmata keberuntungan seorang manusia adalah ketika mendapatkan satu kemenangan atau kebahagiaan. Dalam kacamata orang awam, keberuntungan dapat direalisasikan, misalnya, ketika mendapatkan beasiswa, hadiah motor, rumah, dan mobil, atau ketika lamaran kita diterima seseorang yang sangat kita kagumi.

Namun, tidak demikian halnya dengan manusia Sunda. Konsep keberuntungan tidak hanya dituangkan ketika mendapatkan kesenangan atau kebahagiaan semata, tetapi juga dituangkan ketika manusia Sunda mendapatkan musibah, baik musibah leutik maupun gede.


Ketika seorang manusia Sunda mendapatkan satu musibah, ia selalu mencari celah di mana letak keberuntungannya walaupun secara fisik seorang manusia Sunda cilaka. Bagi manusia Sunda, hal tersebut tetap saja sebuah keberuntungan. Bahkan, sekalipun tangan dan kakinya mesti diamputasi dan seluruh harta kekayaannya habis, tidak ada yang tidak untung bagi manusia Sunda.

Kata beruntung atau untung dalam Bahasa Sunda sering kali terucap ketika seorang manusia Sunda, misalnya, mengalami kecelakaan, yaitu jatuh dari motor di tengah jalan raya, seraya mengatakan, “Untung tadi euweuh mobil ngaliwat (beruntung tadi tidak ada mobil lewat).” Jika ada mobil yang lewat, pastilah dia sudah tergilas. Oleh karena itu, walaupun kakinya patah karena tabrakan, ia tetap merasa beruntung karena masih diberi keselamatan oleh Nu Ngersakeun. Contoh lain adalah ketika kesusahan melanda seorang manusia Sunda dan masih bisa makan walaupun dengan nasi aking, ia menjadi orang yang beruntung karena masih bisa makan walaupun tanpa nasi.

Bersyukur
Untung yang diungkapkan dalam berbagai situasi, khususnya situasi terjepit bagi manusia Sunda, merupakan suatu konsep bersyukur terhadap sang Khalik atau Pencipta alam raya ini. Konsep ini pun direalisasikan oleh urang Sunda yang tidak pernah kabita harta dan tidak silau oleh pangaweruh orang lain. Yang ada adalah hormat dan saling menghargai.
Konsep yang sudah menjadi jati diri manusia Sunda inilah barangkali yang mendorong tidak adanya manusia Sunda yang dianggap pinunjul oleh sebagian kalangan, seperti yang selalu digembar-gemborkan Kang Asep Salahudin dalam banyak tulisannya. Namun, jika kita cermati secara lebih terbuka, manusia Sunda kiwari banyak yang mancala putra mancala putri walaupun tidak pernah menduduki kursi kepresidenan.

Hal ini juga berpijak pada falsafah manusia Sunda, moal hayang komo embung. Artinya, bahwa manusia Sunda tidak akan pernah mengharapkan atau berambisi menjadi sesuatu, tetapi tidak akan menolak dan akan bertanggung jawab jika diamanahi sesuatu. Seperti pernah terjadi terhadap Linggabuwana atau Prabu Wangi, kakek moyangnya Prabu Maharaja Siliwangi, penguasa Pasundan. Ia tidak pernah mengharapkan musuh dengan ekspansi wilayah sehingga wilayahnya tidak pernah besar sebesar Majapahit. Namun, ia juga tidak akan mundur sok sanajan salengkah jika berhadapan dengan musuh.
Hal ini juga tersurat dalam wangsit Prabu Siliwangi sebagai sosok manusia Sunda yang agung dan pinilih dalam merumuskan konsep hidupnya yang religius, tidak kabita ku aisan batur, selalu cukup dengan apa yang telah didapatkannya. Hal ini memengaruhi sikap hidupnya sebagai penguasa yang tidak ingin berkuasa secara berlebihan. Konsep ini tertulis dalam naskah Siskandang Karesian pada abad ke-16 atau tahun 1500-an, seperti dicatat oleh E Rokajat dalam Wangsit Siliwangi (2009):

Haywa paala-ala palungguhan, Haywa paala-ala pameunang, Haywa paala-ala demakan
Maka pada mulia ku ulah, Ku Sabda ku kedap si niti,
Si Nityagata, si aum, si heueuh, Si karungrungan
Ngalap kaswar, Semu guyu, Tejah ambek guru basa dina urang sakabeh
Taha kalawan anwam
(Jangan berebut kedudukan, Jangan berebut penghasilan, Jangan berebut hadiah
Maka berbuat mulialah dengan perbuatan, Dengan ucapan dan dengan tekad yang bijaksana
Yang masuk akal, yang benar, yang sungguh-sungguh, Yang menarik simpati orang
Suka mengalah, Murah senyum, Berseri di hati dan mantap bicara kepada semua orang
Tua maupun muda)

Tasawuf Ki Sunda
Berangkat dari ajaran di atas itulah barangkali mengapa manusia Sunda selalu ewuh pakewuh. Inilah sejatinya sufisme Sunda, yaitu ajaran yang mencerminkan tidak terlalu hookeun atau silau oleh harta dan jabatan. Hal ini tecermin dari inohong Sunda yang selalu menjadi panutan bagi rahayat-nya. Salah satu contoh nyata bentuk sufisme dalam kehidupan politik adalah ketika Jawa Barat melaksanakan pemilihan umum kepala daerah, tokoh yang kalah akan ngarojong terhadap calon yang menang, seperti terjadi pada tahun lalu ketika Agum Gumelar dan Danny Setiawan kalah dari Ahmad Heryawan. Tidak terjadi gugat-menggugat di antara para inohong tersebut sehingga pilkada Jabar terhitung aman dan tenteram, bahkan menjadi kiblat pilkada di daerah lain.

Dalam definisi agama (Islam) istilah ini merupakan suatu sikap qonaah, yaitu merasa cukup dengan apa yang sudah didapatkan, tidak merasa kabita atau silau dengan posisi, jabatan, atau kekayaan orang lain. Iniliah ciri pokok dari sufisme yang sudah tidak lagi mementingkan dunia.
Satu analogi untuk menutup tulisan ini, bagi manusia Sunda, tergambar dalam bobodoran kontemporer Sunda, Cangehgar, yang disiarkan sebuah radio di Bandung:

Hayam: Percuma anjeunmah ngendog teh meni laleutik puyuh, tah contoan atuh kuring ngendog mah kudu badag kieu yeuh.
Puyuh: Naha?
Hayam: Dina segi ekonomi mah kuring teh leuwih punjul, endog kuring bisa dijual 100 ari endog anjeunmah puyuh hargana ngan 100 perak.
Puyuh: Jadi sabaraha bedana kitu?
Hayam: Nya 900 perak atuh.
Puyuh: Tah kuringmah paling hoream-horeamna ngagawean picilakaeun.
Hayam: Ari maksud anjeun.
Puyuh: Saenyana kuring bisa nyieun endog nu sagede endog anjeun, tapi hoream, pira ge ngudag duit 900 perak ari kudu heug jebol bujur mah embung.

Bobodoran tersebut memiliki makna yang dalam tentang konsep tasawuf modern Ki Sunda, yaitu suatu sikap qonaah. Sang burung Puyuh sudah merasa cukup memiliki telur yang kecil. Ia bukan tidak mampu membuat telur sebesar milik ayam, tetapi karena asaknya jeujeuhan bahwa masa depannya masih panjang sehingga tidak ingin melakukan hal-hal yang dapat mencelakakan dirinya, memiliki telur kecil pun menjadi beruntung.
Inilah sejatinya yang harus dicontoh semua manusia Sunda yang selalu berebut posisi dan jabatan hingga akhirnya mencelakakan dirinya seperti yang sering tecermin dalam kerusuhan-kerusuhan pilkada di daerah lain. Mudah-mudahan inohong Sunda dapat ewuh pakewuh serta mengekang diri dan belajar dari sang Puyuh sehingga wewengkon Sunda tetap menjadi wilayah yang tengtrem.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon