Ngabuburit di Bagendit

dokumentasi pribadi
Sebagai orang Indonesia yang mendiami tatar Sunda, tradisi munggah biasa dilakukan bersama keluarga. Hal ini sebagai bentuk pengakuan akan rindu sang Ibu yang selalu ingin berkumpul bersama anaknya dan juga sebaliknya bagi saya pribadi, berkumpul bersama keluarga adalah hal yang wajib dilakukan. Ada suasana yang berbeda ketika pertama kali sahur menyantap masakah orang tua sendiri, rasanya setiap orang akan sangat merasa lahap merasakan taburan bumbu keluarga dalam setiap masakan. Tentu saja persoalan Sahur dengan masakan Ibu merupakan persoalan lain karena yang lebih penting adalah suasana kasih sayang yang ditebarkan oleh sang Ibu yang menjadi penyemangat setiap orang untuk lebih bersemangat menjalankan kehidupan ini.



Ya Ibu, betapa pun diamnya seorang Ibu, Ia tetap berkomunikasi dengan sang anaknya untuk tetap bersemangat. Senyumnya dan perhatiannya adalah tiang penyangga hidup sang anak. Dan itupun yang selalu aku rindukan. Saat berbagai tekanan bertubi-tubi datang, tatapan sang Ibulah yang mampu menyingkirkan itu semua.

Walaupun badan masih terasa lelah setelah perjalanan sehari penuh dari Jakarta, tetapi tidak menyurutkanku untuk pulang menjelang hari pertama Ramadlan. Datang ke Kost di Bandung jam 21.00, langsung kunyalakan kudareyotku dan langsung cabut ke kota kelahiranku; Garut.

Sampe di Rumah jam 22.30, pintu rumah sudah terbuka dan sang Ibu sudah menyambut dengan senyum, itulah yang selalu memberiku kekuatan. Karena lapar, aku langsung makan tanpa harus merepotkan Ibu. Setelah makan, beberesih dan langsung istirahat.

Namun kebiasaan jelekku ketika di rumah adalah ngaso, tidak pernah bepergian kemana-mana, seharian di rumah, nonton TV, baca, tidur, makan. Sehari melakukan aktifitas seperti itu cukup menjenuhkan. Akhirnya memutar otak kemana mencari pelampiasan kejenuhan agar mataku dicuci dengan ciciptaan gusti Allah. Imajinasiku berhenti di Situ Bagendit. Sebuah danau yang sangat disayangkan, walaupun kini menjadi tempat wisata yang layak, namun pendangkalan situ tersebut menjadi masalah menyempitnya luas danau serta menambah rusaknya pemandangan. Eceng gondok di sekitar danau menambah keruwetan danau tersebut.
Situ Bagendit tidak hanya sekedar sebuah Danau belaka, namun juga memiliki legenda tersendiri hingga terciptanya sebuah Danau. Bahkan sudah menjadi bagian dari legenda Indonesia. Berikut adalah legenda tentang Situ/ Danau/ Talaga Bagendit yang saya cari dari mbah google (disini) atau lebih lengkap sebagai sebuah wilayah kajian akademis (disini) atau juga informasi wisatanya (disini)

Walaupun demikian tak membuatku surut untuk menempuh setengah jam perjalanan menuju Situ Bagendit. Aku pun sampai, pada hari kedua puasa tersebut, siswa SMA sedang melakukan latihan di area parkir Situ Bagendit, begitupun pemandangan remaja yang sedang dimabuk duriat tak terhalang oleh dahaga yang mereka tahan, mereka begitu asyik masyuk bercanda sambil sesekali berpegangan.

Bosan dengan pemandangan seperti itu, akupun menuruni tangga dan masuk ke arela Situ Bagendit,  sekitar pukul 16.00 s.d 17.15 aku nikmati pemandangan Bagendit. sungguh pemandangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Ternyata di Sore hari, Situ Bagendit menyuguhkan kemahabesaran Allah yang sangat luar biasa, indahnya Sunset atau titeuleumna panonpoe. Di tambah lagi dengan pemandangan lain, dua sejoli tepat di depan danau sedang memadu duriat he..he…

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
Jun 6, 2016, 2:17:00 AM delete

Your Article Is This Very Helpful Thanks For Sharing...!!!

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon