Aku Bersyukur Menjadi Waria

‘Aku bersyukur menjadi waria’ kata seorang staf ketika saya berkunjung ke kantor Srikandi Pasundan Bandung, salah satu LSM yang bergerak pada pemberdayaan kaum waria di Bandung pada hari Senin 29/08 minggu lalu.
Ade (nama disamarkan oleh penulis), nama Waria tersebut merupakan anak kedua dari 3 bersaudara, sejak kecil sudah ditinggalkan oleh ayahnya. Kehilangan akan sang ayah membuat Ade rindu pada sosok seorang ayah. Namun hal tersebut tidak menyurutkan Ade untuk terus sekolah, malahan sejak SMP Ade sudah dapat membiayai diri sendiri, hingga akhirnya menamatkan sekolahnya hingga SMA. Sejak SMP pula Ade dapat menyisihkan hasil kerjanya di yayasan untuk kemudian diberikan kepada orang tuanya untuk menyekolahkan adiknya. Ade satu-satunya lelaki di keluarga tersebut sehingga ia merasa harus ikut bertanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarganya.


Ketika ditanya sejak kapan ia merasakan ada sesuatu yang lain dalam dirinya, ia mengakui sejak SMP akhir atau tepatnya ketika menjelang masuk SMA. Ia merasa rindu akan sosok ayah, hal inilah yang membuat ia tertarik terhadap lawan jenis, namun buka dalam artian seksual, ia lebih menekankan akan pentingnya sosok ayah yang dirindukan oleh dirinya. Alasan inilah yang membuatnya jatuh hati pada sosok laki-laki.
Di lingkungan keluarga dan tempatnya tinggal ia layaknya laki-laki lain, hidup normal, tanpa terlihat jika ia seorang Waria, hanya sikapnya saja yang agak gemulai dan lembut. Ketika sholat tarawih dan sholat jum’at pun, akunya ia seperti halnya laki-laki lain ikut sholat tarawih dan sholat jumat secara rutin dengan mengenakan sarung karena ia faham walau bagaimanapun kodratnya adalah laki-laki. Ia dilahirkan sebagai laki-laki dan harus meninggal dalam keadaan laki-laki pula.
Ketika ditanya kenapa ia cenderung menjadi waria dibandingkan dengan gay, bagaimana ia mengidentifikasi dirinya bahwa ia seorang waria. Ia menjawab bahwa kenyamanannya ketika mengenakan busana wanita ketika ada acara tertentu yang diselenggarakan oleh LSM Waria di Bandung ia merasa bahwa dirinya Waria bukan gay, karena dalam pandangannya, Seorang Gay tidak pernah merasa nyaman dengan pakaian perempuan. Gay adalah seorang laki-laki yang memiliki orientasi seksual terhadap laki-laki. Sementara seorang Waria merasa bahwa jiwanya adalah perempuan nyaman dengan keperempuannya sehingga tertarik kepada seorang laki-laki adalah wajar.
Ade, sebagai seorang yang tidak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah merasa bersyukur menjadi seorang Waria, karena dalam pandanganya, tidak sedikit teman-teman dan laki-laki seangkatannya yang broken home atau ditinggal oleh ayah/ ibunya justeru emosinya tidak terkontrol dan dilampiaskan terhadap hal-hal yang negatif, pecandu narkoba, menjadi anak geng motor, dugem dan lain-lain. Ia bersykur karena dengan menjadi Waria justeru ia mendapatkan pekerjaan, karena perilakunya yang baik dan sopan. Bahkan ia dapat membantu keuangan keluarganya.
Setelah selesai SMA dan keluar dari yayasan di Jakarta, ia kembali lagi ke Bandung. Ia bekerja apa saja demi menafkahi dirinya dan membantu keluarganya, ia bisa mencuci baju tetangga, Memotong Rambut di Salon, Memasak. Terahir ia mendapatkan tugas memasak di LSM Srikandi Pasundan. Dan kini ia ingin memiliki Salon sendiri.
Menyangkut munculnya pesantren Waria dan maraknya waria yang berjilbab, ia berkomentar bahwa hal tersebut terlalu berlebihan, dirinya dandan pun jika dalam kegiatan tertentu saja. Ia merasa bahwa seorang waria tetap saja laki-laki yang akan kembali kepada Allah secara laki-laki. Ia tidak ingin membuat bingung warga jika kelak meninggal, apakah ia laki-laki atau perempuan. Ia ingin kembali kepada Allah sesuai dengan kodratnya.
Berkaitan dengan permasalahan hidup yang dihadapinya ia tidak terlalu ambil pusing, namun jika memang benar-benar ada masalah yang membuatnya tertekan ia lebih suka Sholat. Karena dengan berdoa kepada Allah dirinya merasa tentang dari segala permasalahan.
Ia tergolong seorang yang suka menolong, jika ada tetangganya yang ingin dibantu pekerjaannya, ia tidak pernah pandang bulu. ‘Kalo milih-milih pekerjaan mah jangan gengsian, nanti malah sulit dapat pekerjaan,’akunya.
Walaupun ia lebih tertarik terhadap sosok laki-laki, namun kelak ia harus menjalani kodratnya untuk meneruskan keturunan yaitu menikah, ‘karena bagaimana pun saya laki-laki, ya saya kelak harus ingin menikah,’akunya lagi.
Ade seorang waria yang terbuka dan baik, bahkan katanya jika saja ada hal-hal yang kurang tentang informasi yang dibutuhkan ia siap dimintai informasi lagi.
Ia, saat belum tergabung ke LSM Srikandi Pasundan, demi menyambung hidupnya pernah pula mangkal di jalan, tetapi itu dilakukannya beberapa kali saja saat ia benar-benar butuh untuk makan. Kini dengan kesibukannya ia tidak pernah lagi mangkal di Jalan, karena kebutuhannya pun sudah terpenuhi.
Jika saja, Waria seperti Ade tidak pernah mangkal di Jalan, sholat rajin, bertetangga dengan baik, membantu keluarganya, serta tidak macam-macam dan tentu saja masih banyak waria baik seperti Ade yang sama sekali tidak pernah mangkal di Jalan atau Taman Lawang di Jakarta, apakah mereka layak kita cemoohkan? Mereka adalah manusia seperti kita yang membutuhkan pengakuan dan eksistensi seperti apa yang disebutkan oleh Maslow dalam hirarki kebutuhan dasar manusia. Setelah kebutuhan biologis terpenuhi, mereka pun membutuhkan pengakuan dari lingkungannya. Sama seperti kita yang membutuhkan pengakuan dari orang-orang disekeliling kita. Sehingga rasanya kita tidak bijak menggeneralisir mereka dengan Waria yang berada di Jalan. Bahkan Ade sendiri sempat turun ke jalan bukan untuk menjajakan diri, tetapi mengajak teman-temannya untuk mengurangi aktifitas tersebut agar dapat hidup lebih sehat lagi.
Tulisan Kedua tentang Waria

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon