Kemensos, Berdayakan Waria

Berbicara tentang Waria, pikiran sebagian kompasianer barangkali akan tertuju pada sebuah taman di Jakarta sebagai tempat mangkal atau nongkrong Waria. Dan tentu saja citra yang akan terbayang pada benak kita tentang waria akan melulu negatif; Menjajakan diri bagi laki-laki hidung belang alias menjadi Waria Penjaja Sex (WPS). Di samping itu dalam konstruksi social media, waria selalu digambarkan secara negative misalnya dikejar-kejar hansip; dianggap abnormal sehingga menjadi bahan cemoohan masyarakat atau anak-anak yang mengundang emosi waria itu sendiri sehingga kesan yang muncul tentang waria cenderung emosional dan meledak-ledak.

Kesan emosional dan meledak-ledak dari waria ini seringkali dikaitkan dengan kasus-kasus tertentu seperti kasus Ryan sebagai psikofat dikaitkan dengan perilaku waria. Padahal Antara Ryan yang seorang Gay dengan Waria tentu sangat berbeda. Begituplun ketika ada kasus tertentu yang berkaitan dengan perilaku waria yang negatif seringkali menggeneralisir semua Waria, padahal tidak semua perilaku waria demikian. Inilah kesalahan berfikir apa yang disebut sebagai Fallacy of dramatic instan seperti diungkapkan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam kuliah Rekayasa Sosial tentang kesalahan-kesalahan berfikir.
Fallacy of dramatic instan ini yang selama ini memenuhi pikiran kita (masyarakat) khususnya menyangkut permasalahan waria. Sudut pandang yang selama ini menjadi pola pikir masyarakat telah pula merembes terhadap lembaga perwakilan pemerintah seperti Madan jelis Ulama Indonesia. MUI sebagai badan fatwa resmi tanpa pandang bulu telah mengharamkan seluruh aktifitas Waria tanpa memilah-milah apakah seorang waria tersebut seorang WPS atau bukan, apakah ia baik dimasyarakat atau tidak seperti tercantum dalam suratnya tertanggal 9 Jumadil Akhir 1418 H, bertepatan dengan tanggal 11 Oktober 1997. Bahkan dinas Sosial sendiri memasukan Waria dibawah kordinasi bagian Tuna Sosial disamakan dengan pekerja seks komersil. Kini dinas social memasukan waria di bawah bidang Penyandang masalah kesejahteraan social.
Menanggapi permasalahan yang dihadapi oleh Waria secara umum, alih-alih MUI memberikan solusi justeru malah mengharamkan seluruh aktifitas waria. Padahal menurut salah seorang aktifis waria, Riri Wirayadi, Program Director LSM Srikandi Pasundan Jawa Barat, permasalahan yang dihadapi oleh Waria, kenapa mereka turun ke jalan atau mangkal di jalan, karena yang menjadi permasalahannya adalah factor kemiskinan yang dihadapi oleh waria. Bagi mereka yang turun ke jalan karena bagi mereka tidak ada lagi pilihan pekerjaan, karena masyarakat selalu menolak kalangan waria untuk mendapatkan haknya dalam mendapatkan pekerjaannya sehingga mereka menjadi miskin.
Hal inilah yang mendorong Riri Wirayadi dan kawan-kawan menggagas sejumlah kegiatan yang dapat mendorong pengembangan kapasitas dari Waria agar tidak turun ke jalan. Walaupun dari pemerintah belum mewadahi Waria dalam pekerjaan sector formal namun Riri tidak patah semangat untuk terus memotivasi para waria di wilayah Bandung bahkan Jawa Barat. Setiap tahun selalu ada program untuk melakukan advokasi, pelatihan serta pemberdayaan terhadap kaum Waria di Bandung dan Jawa Barat. Seperti pengenalan terhadap organisasi, Advokasi HIV Aids, Pelatihan menulis sampai mengelola sebuah website, menjadi instruktur dan fasilitator pelatihan.
Kegiatan-kegiatan positif tersebut di atas tidak dapat disamakan dengan kegiatan waria yang selalu mangkal di taman lawang atau taman-taman lainnya untuk mencari lelaki hidung belang. Kegiatan tersebut adalah kegiatan positif yang justeru dapat meringankan tugas pemerintah dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Sebagian kegiatan positif tersebut di­dukung oleh LSM Internasional seperti USAID, FHI, Oneworld dan LSM lainnya yang menyelenggarakan program-program pemberdayaan.
Khusus untuk tahun 2010, pemerintah khususnya Kementerian Sosial atau dinas social yang berada di bawahnya dengan paradigma baru yang di alamatkan terhadap kaum waria sebagai Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial mendorong para waria untuk hidup lebih mandiri, tidak hidup di jalanan. Kemensos mendorong melalui programnya tersebut agar para waria di sejumlah daerah dapat hidup lebih layak. Daerah-daerah yang menjadi proyek percontohan untuk mendorong kesejahteraan Waria adalah Bandung.
Waria Bandung mendapatkan bantuan program melalui dinas social Jawa Barat dan Bandung. Pada bulan Juni lalu mendapatkan program bantuan KUBE (Kelompok Usaha Bersama) dimana Dinas Sosial Kota Bandung memberikan bantuan dalam bentuk barang terhadap kelompok usaha.
Sementara itu sejak Kamis lalu, (02/09) Sejumlah Waria dari wilayah Bandung Raya (Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat) mendapatkan pelatihan selama tiga hari sejak Kamis (02/09) sampai dengan Sabtu (04/09) dengan program percobaan dari Kementerian Sosial melalui program Usaha Ekonomi Produktif (UEP). Acara pelatihan dilaksanakan sejal pukul 12.00 pukul 17.00 dengan materi diantaranya, Psikologi Sosial, Masalah pola pikir, Modal Wirausaha, membuat profosal dan pemberian modal secara perorangan terhadap para peserta pelatihan.
Sebelum mengikuti pelatihan, peserta diwajibkan membuat profosal usaha dan di akhir pelatihan profosal tersebut dievaluasi langsung oleh petugas dari Dinas Sosial Kota Bandung dan Jawa Barat. Ibu Ely, petugas Dinas Sosial Jawa Barat tersebut berharap bahwa program bantuan dari Kementrian Sosial tersebut dapat berjalan secara sukses seperti percontohan yang dilakukan di Yogyakarta. Sementara Ibu Bety dari bagian PMKS Dinas Sosial Kota Bandung menyampaikan kekurangan-kekurangan dari profosal yang diajukan.
Saya, kita dan mereka adalah manusia yang memiliki hak mendapatkan penghidupan yang layak. Saya manusia, kita manusia dan mereka juga manusia rasanya tidak layak jika kita saling menghinakan dan melecehkan antara sesama, karena yang berhak untuk melecehkan dan menghinakan mereka adalah sang Pencipta kita, Sang Khalik Azza Wajalla, jika kita menghinakan mereka sudah layakkah kita di hadapan Tuhan?
Siapapun yang peduli terhadap keberadaan mereka berharap bahwa kepedulian pemerintah terhadap kaum waria dapat mengangkat harkat dan martabat kaum waria sehingga dapat terbebas dari kemiskinan dan mengurangi kaum waria yang mangkal di jalan karena mereka memiliki penghasilan yang layak dari hasil usahanya tersebut.
(tulisan pertama tentang waria)

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon