Hijrah Yu!

Buku ini merupakan karangan Syari’ati yang disengajakan untuk melacak sejarah Nabi periode madinah. Buku ini menekankan pentingnya hijrah, dimana didefinisikan sebagai suatu gerakan dan loncatan besar manusia. Hijrah meniupkan semangat perubahan dalam pandangan masyarakat dan pada gilirannya menggerakan dan memindahkan mereka dari lingkungan yang beku menuju tangga kemajuan dan kesempurnaan. Seraya mengutif QS al Baqoroh 2: 218, Syari’ati menekankan pentingnya hijrah pada bidang pemikiran dan akidah sebagai suatu kewajiban kemanusiaan, seperti halnya dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Syari’ati meyakinkan, bahwa bagi orang orang yang berjuang dan hijrah di jalan Allah nisacaya ia akan memperoleh keuntungan, atau dalam bahasa Syari’atiakan memperoleh ganti rugi yang lebih banyak daripada yang mereka tinggalkan.

Dalam memberikan pengertiannya Syari’ati tidak hanya menekankan Hijrah dalam bentuk fisik, yakni hijrah secara geografis, seraya mengambil pelajaran dari hijrah Rasulullah, Syari’ati menekankan pentingnya hijrah akidah dan pemikiran. Syari’ati mengatakan bahwa Hijrah tidak terbatas artinya pada meninggalkan tempat tumpah darah, tetapi juga mencakup hijrah untuk meninggalkan sesuatu yang melekat pada dirinya sendiri. Ia melanjutkan, bahwa Islam berusaha menggerakan masyarakat, memobilisasi individu dan menyeru mereka agar bergerak di luar dan melakukan revolusi dari dirinya sendiri untuk melindungi mereka dari kemerosotan dan kejumudan untuk selamanya bergerak, dinamis dan revolusioner.

Ada beberapa tujuan dan target dari Hijrah yang diajarkan oleh Raulullah, yaitu:
- Menyelamatkan kemerdekaan dan kehormatan individu dengan jalan meyakini kisah Ashab Al-Kahfi (para penghuni gua) yang mengesankan, dan kisah hijrah ke Habasyah.
- Tercapainya kemungkinan-kemungkinan baru dan ditemukannya lingkungan yang mendukung perjuangan di luar wilayah sosial-politik yang zalim guna melakukan perjuangan menentang kezaliman tersebut. Dengan kata lain, meninggalkan masyarakatnya untuk kelak kembali lagi dengan memperoleh kemenangan. Yakni, hijrah dari mekkah ke madinah, dan kisah eksodus Nabi Musa.
- Menyebarkan dan mengembangkan pemikiran dan akidah di wilayah dan lingkungan lain, dalam rangka menunaikan tugas risalah kemanusiaan yang universal yang merupakan kewajiban setiap muslim, serta melaksanakan tanggung jawab di tengah-tengah umat manusia dalam rangka menyadarkan, membebaskan dan memberikan kebahagiaan bagi mereka, seperti dilakukan Nabi dengan mengirim pengajar-pengajar ke luar madinah dan ke luar wilayah-ilayah Islam.
- Mempelajari alam secara ilmiah, khususnya geografi, fisika, biologi, ekonomi, humaniora, tumbuh-tumbuhan, air dan udara. Demikian pula halnya dengan seluk beluk manusa: antropologi dan etnologi, sosiologi dan cara-cara hidup masyarakat, politik, ekonomi, adat istiada, tradisi dan agama-agama.

Salah satu pesan yang diajarkan oleh Nabi, sebelum kita melakukan perubahan terhadap masyarakat dan bertindak untuk kepentingan masyarakat baik dari segi politis, teologis sosial dan moral tidak bisa tidak harus dimulai dengan memahami karakter masyarakat yang membentuk medan kerjanya. Hal ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika menyusun piagam Madinah. Dan pada pesan terakhir, dengan mengambil pelajaran dari Nabi Muhammad SAW, Syari’ati menekankan pentingnya kesadaran ikatan persaudaraan yang disatukan oleh iman Islam untuk meraih masa depan umat.

Pada periode Madinah inilah Nabi Muhammad melakukan risalahnya ke luar jazirah Arab, mengabarkan Islam kepada seluruh pemimpin dunia. Penyampaian risalah ini beliau sampaikan melalui surat resmi berupa ajakan yang tegas dan resmi, yang mengandung kemungkinan mendapat reaksi dari orang yang menerimanya. Nabi sadar betul akan kemungkinan tersebut, namun dengan berani dan teguh hati dan pada saat yang sama beliaupun mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kemungkinan tersebut, khususnya dalam bidang politik-kemiliteran.

Diantara pemimpin dan orang besar dunia yang beliau ajak untuk masuk Islam adalah Kisra, Heraclius, Muquqid, Al-harits Al-Ghisani, Raja Hiyarah, Al-Harits Al-Humairi, Raja Yaman, Al-Najasyi, Raja Habasyah.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon