Dosen Egaliter

Saat sharing tentang tugas akhir yang tak kunjung selesai, saya mendapat kenyataan pahit bahwa teman saya menggadaikan tugas akhirnya di dosen pembimbing selama enam bulan. Sampai waktu enam bulan pun ternyata tak kunjung dikoreksi. Sementara untuk anggota dosen pembimbingnya sudah dikoreksi beberapa kali. Lantas dimana tanggung jawabnya sebagai dosen pembimbing jika dalam waktu enam bulan—bukan waktu yang sebentar—tugas akhir mahasiswanya hanya nongkrong di meja kerjanya.


Miris juga memang, pantesan dulu ada seorang senior yang menyarankan agar jangan kuliah ke universitas tersebut. Ia malah menyarankan untuk kuliah di universitas lain. Namun ternyata berbeda dengan pengalamanku berhubungan dengan dosen pembimbing tugas akhir. Paling lama draft tugas akhirku nginep di kantor hanya satu minggu, bahkan seringkali dosen pembimbing langsung mengoreksinya. Saya nya saja yang males-malesan he..he…hingga kuliahnya tak kunjung usai. Namun setelah penelitian lapangannya selesai, berharap dapat dengan cepat membuat laporannya.

Semenjak minggu kedua bulan oktober, saya mulai mengoreksi revisi draft tugas akhir dan tentu saja harus disetujui oleh dosen penguji dan pembimbing. Selama berhubungan dengan dosen pembimbing tersebut, saya langsung mengontak, dan beberapa kali kejadian saya dikontak balik sama dosen pembimbing, padahal isu yang beredar biasanya dosen-dosen kelas professor sangat sulit untuk bersikap demikian. Bahkan ada dosen yang tidak ingin ketemu dengan mahasiswanya. Draft disimpan dikantor dan setelah sekian lama baru diambil. Jika dosennya tidak sibuk beruntung hanya nginap 2 minggu tetapi jika sibuk bisa berbulan-bulan seperti cerita teman saya.

Kamis, [25/11] saya menghubungi lagi pembimbing, dan seperti biasa, mereka mengontak balik mahasiswa, kalo kemarin hanya lewat sms balasan. Akhir cerita setelah menunggu beberapa lama, karena sang Profesor sedang mengikuti acara Rapat Senat/ Guru Besar, saya langsung menemuinya. Setelah bersalaman dan menyatakan maksud, lantas ngasong draft perbaikan ia langsung mengajak duduk di teras aula, tanpa canggung oleh rekan-rekannya. Ia baca dan teliti hasil revisi, lantas ada koreksian sedikit, dan menyarankan agar saya bertandang kerumahnya, tidak lain untuk memberikan pinjaman buku. Hmmm, baik banget ya ni Profesor.

Saya doakan ia, semoga Ibu tetap sehat dan kuat, karena sebelum janjian ketemu di kampus, si Ibu pernah bilang jika ia sakit, baru pulang dari Ausi, katanya. 

“Alhamdulillah tidak sulit untuk menemui dosen pembimbing”, ucapku dalam hati.

Semoga saja sampai akhirnya sidang akhir walaupun waktu tidak sesuai dengan rencana, namun dosen pembimbing cukup mudah untuk ditemui dan diajak diskusi. 

Jika di Kompasiana ada dosen, apakah yang termasuk memudahkan atau sebaliknya? Mudah-mudahan saja seegaliter membalas komentar dari kompasianer ya pak…

Kasian mahasiswa, tidak sedikit dari mereka yang tidak mampu, biaya sendiri pula, harus sambil kerja sampinga, jika harus lagi membayar uang SPP gara-gara lambat koreksian dari dosennya, apakah kita mau bertanggung jawab membayarkan SPP-nya?

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon