Ingin Cepat 'Orgasme', Jadinya Belepotan!


Ada istilah sunda yang cukup unik dan aneh, kemungkinan anak-anak jaman sekarang tidak mengenal istilah ini, orang tua sering mengistilahkan dengan ‘Kokoro Manggih Mulud’ atau Kakara Manggih Mulud. Istilah ini dipergunakan untuk menunjuk kepada orang yang merasa sangat baru menemukan sesuatu sehingga seolah-olah ingin berada terus disana. Misalnya jika kita baru pacaran rasanya ko ingin dekat-dekat terus dengan sang Pacar. Atau kebiasaan kita setelah bulan ramadhan, kala bulan syawal karena merasa dibebaskan untuk makan, segala jenis makanan kita masukan ke dalam perut hingga akhirnya perutnya menjadi pesakitan karena overdosis atau shock.


Begitu juga orang yang baru menikah, dalam satu malam melakukan hubungan badan tidak hanya satu kali tapi mungkin beberapa kali. Saya ingat cerita teman saya yang baru menikah yang menceritakan lagi temannya.”teman saya kikituan sampe 12 rit, edan euy dina sapeuting (teman saya melakukan hubungan badan sampai 12 kali),” ujar teman saya. Begitupun dirinya selama sebulan, hampir tiap malam melakukan hubungan badan bahkan satu malam bisa sampai tiga kali. Namun berbeda setelah sebulan, sudah jarang melakukan paling 2-3 hari sekali. 

Itu dia karena baru pertama merasakan maka inginnya sering melakukan. Begitupun dengan para kompasianer dan penulis pemula. Inginnya selalu cepat-cepat kelar saja. Istilah cepat kelar ini saya pinjam dari istilah seksologi yaitu Orgasme, kenikmatan klimaks. Tentu saja Orgasme dalam hal ini bukan istilah untuk seks, namun sudah melampaui dari seks yaitu untuk hal tulis menulis. Orgasme saya artikan sebagai keinginan untuk menyelesaikan klimaks dalam menulis. Makanya karena ingin cepat orgasme tersebut seringkali belepotan alias tulisan kita acak-acakan.

Beberapa kali tulisan saya pernah dimuat diharian local, Bandung Ekspress, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, juga Kompas Jabar. Namun karena memiliki sifat sebagai penulis pemula, dan menginginkan tulisan tersebut dikirim ke Harian, akhirnya dengan tergesa-gesa tuangan ide tersebut tidak pernah di edit dengan teliti. Hal ini menunjukan bahwa saya terkenai sifat kokoro manggih mulud dalam hal tulis menulis. Bahkan ketika menulis untuk kompasiana, jarang sekali melakukan proses editing, satu kali tulis langsung posting. Baru jika ingat ada yang salah kemudian di edit setelah posting.

Akhirnya setelah tulisan saya kebetulan di muat di Harian tersebut, tentu saja bangganya bukan main, karena jarangnya tulisan kita dimuat. Walaupun memiliki jargon bahwa ketika tulisan kita tidak dimuat bukan berarti tulisan kita tidak layak, namun ketika tulisan dimuat ceritanya menjadi lain karena bangganya tersebut. Barulah setelah menempel di Koran Harian cetak tersebut kita membaca ulang tulisan tersebut. Walhasil, saya jadi malu sendiri. Betapa tidak ternyata tulisan saya blepotan alias acak-acakan, padahal saya sudah edit. Namun karena terburu-buru ingin segera menuangkan ide yang sedang mengalir dan cepat dikirimkan ke media akhirnya editanya banyak yang terlewat. Baru kemudian setelah dipublish media besar tersebut, saya bisa bilang, Waduh tulisan saya tidak layak muat, masa kolomnya sama dengan penulis-penulis hebat. Tenu saja saya punya perasaan tersebut karena tulisan kita disebar diseluruh Jawa Barat atau setidaknya Bandung. Bahkan jika muncul di edisi dotkomnya dibaca juga oleh masyarakat nusantara. 

Namun pemuatan oleh media tersebut menjadi pelajaran dan kehati-hatian agar lebih kalem, sabar dalam menulis, tidak ingin cepat orgasme, agar kelak tidak lagi belepotan. Makanya seringkali berbeda antara apa yang ingin dikirim ke media dengan yang akan dipublish di blog.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon