Menggugat Mainstream Media dalam Citizen Journalism

salah satu contoh reportasa dari mainstream media.


Pernahkah kita membaca satu topik yang disuguhkan bloger, tapi sesungguhnya kita pernah membaca di mainstream media, baik itu kompas.com atau pun situs berita lainnya seperti yahoonews room, kapanlagi.com, inilah.com, vivanews dan lain sebagainya.
Termasuk berita-berita dari situs online daerah maupun dari media cetak. Mudah-mudahan saja kita pernah barang satu kali membaca itu.

Apa yang ada dibenak kita jika berita yang disuguhkan ternyata pernah kita baca? Tentu menjadi basi beritanya bukan?. Bagi Kompasianer yang belum pernah membaca barangkali menjadi kabar baru. Namun tetap sajaberita tersebut mengandung reduksi atau saduran, substansi beritanya sama, karena mengandung unsur replika atau plagiasi.

Jikapun yang menjadi rujukan reportase adalah situs-situs berita luar negeri atau yang berbahasa asing lantas diterjemahkan, saya melihat masih ada nilai yang dapat kita ambil, ada upaya dari blogger menemukan ruang kreasinya dan semangat berbagi. Namun jika berita dari mainstream media dalam negeri yang notabene dapat kita baca disuguhkan kembali di Kompasiana, rasanya sudah menyalahi tujuan dari netizen journalism, yaitu memberitakan yang tidak terberitakan oleh mainstream media dan melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh jurnalis mainstream media.

Jika sudah demikian lantas apa uniknya berita tersebut? Apalagi rujukannya dari berita dalam mainstream media nasional. Tentu kita juga dapat membacanya sendiri walaupun tanpa Kompasiana.

Kehadiran ruang netizen journalism yang difasilitasi oleh Kompas ini tentu bukan untuk mengulang-ulang berita, namun untuk memunculkan keunikan berita, mengabarkan yang tidak terkabarkan oleh mainstream media, itu baru namanya berita. Dan disitulah saya kita Ruhnya Netizen Journalism.

Satu catatan, berita-berita mainstream media tersebut dapat dijadikan rujukan untuk melakukan analisis, ketika kita membuat Opini, tetapi tentu porsinya juga berbeda dengan bentuk reportase. Jika kita melakukan reportase dengan merujuk ke satu berita dari salah satu media, berita tersebut  menjadi tidak unik dan tidak ada lebihnya. Lebih baik kita berfikir ulang untuk melakukan reportase. Kecuali Reportase yang kita lakukan benar-benar turun ke sumber berita, realitas nyata.

Yasraf mengistilahkan jenis ini sebagai simulasi/ simulacrum; Pengulang-ulangan, replica, reproduksi, imitasi. Plis hentikan ini agar Kompasiana tetap unik dan memiliki nilai lebih. Alih-alih Kompasianers yang dijadikan rujukan oleh media mainstream, justeru malah sebaliknya, Kompasianers yang merujuk ke mainstream media. Sangat tidak unik!

Contoh kasus saya ambil media sosial Kompasiana

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon