Mulianya Mati Syahid


Setiap pejuang dan perjuangan selalu mewakili kelas dan jamannya. Begitupun salah satu pesan yang dapat ditangkap dalam buku ini, yang mendeskripsikan tentang konsepsi syahadah dalam Islam, mengambil setting sejarah pengorbanan seorang pemimpin kelas ummat yaitu Imam Husen. Imam Husen merupakan sosok pejuang yang diyakini sebagai pemimpin umat dalam tradisi Syi’ah.
Salah satu alasan merujuk seting sejarah mengenai konsepsi syahadah, karena begitu rumitnya konsep syahadah ini. Syari’ati membedakan konsep syahadah dalam Islam yang berarti rela berkorban dan bersaksi serta berarti mati untuk hidup denganpengertian dalam pandangan Barat dengan istilah martyr yang berarti memilih mati dalam mempertahankan keyakinannya.
Dengan merujuk karakteristik dari setiap pejuang dan perjuangan dalam agama Tauhid yang dipelopori oleh Nabi Ibrahim dan dilanjutkan dengan tradisi Nabi Muhammad SAW. Dalam perjuangannya Rasulullah SAW merupakan manifestasi perjuangan di mana kaum muslim sejati berhadapan langsung dengan kekuatan asing anti-Islam yang bersifat eksternal. Sementara Imam Ali merupakan manifestasi perjuangan untuk melestarikan gerakan Islam, di mana ia menghadapi kaum munafik. Senada dengan perjuangan Al-Hasan putra Ali yang menghadapi kaum munafik dan neojahiliyah. Al-Hasan menemui ajalnya karena dikhianati oleh keluarganya sendiri. Al-Hasan adalah pejuang terakhir yang diwarisi kekuatan kekuasaan.
Kini giliran Imam Husen meneruskan perjuangan Al-Hasan. Di mana Al Husein sama sekali tidak punya kekuatan kekuasaan, wilayah kekuasaan, senjata dan kekayaan pasukan senjata. Disinilah letak perjuangan al-Husein. Bahkan yang lebih berat dari perjuangannya karena ia menghadapai kaum munafik yang lebih lihai dan terpelajar dari kaum murji’ah baru, para penguasa yang munafik. Konsepsi Islam telah diselewengkan untuk mengeksploitasi rakyat dan menyesatkan ummat. Di tengah-tengah gelombang Neojahiliyah tersebutlah Imam Husein muncul tanpa pengikut yang terorganisir dan tanpa senjata, tetapi ia sangat yakin dengan perjuangannya, senjatanya hanya satu yaitu ‘Syahid’ yakni bangkit memberikan persaksian. Syahid dipilih dengan segala pengetahuan, logika penalaran, kecerdasan, pengetahuan, kesadaran dan kewaspadaan yang dimiliki manusia.
Tanpa pasukan dan senjata, beliau datang dengan segala keberadaannya, keluarganya dan shahabat-shahabat dekatnya agar kematian seluruh keluarga maupun kematian dirinya sendiri akan memberikan persaksian bahwa dirinya telah melaksanakan tanggungjawabnya di saat kebenaran tidak terlindung dan tak berdaya. Ia memberikan persaksian bahwa hanya itulah yang dapat dilakukannya.
Dalam bukunya ini Syari’ati berpesan bahwa mati syahid merupakan satu-satunya alasan bagi keberadaan, satu-satunya tanda kehadiran, satu-satunya alat untuk menyerang dan bertahan, serta merupakan satu-satunya cara melawan agar kebenaran dan keadilan dapat tetap hidup di suatu jaman yang sedang didominasi oleh suatu rezim, dimana kesia-siaan, kepalsuan dan penindasan merajalela. Dalam perkara inilah sebenarnya makna berkurban ditemukan. sudahkah kita berkurban untuk urusan umat dan bangsa?

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon