Poligami Realitas Dunia Maya

Seringkah kita berinteraksi dengan warga Kompasiana (kompasianer)? Apakah kita termasuk kompasianer yang suka bergabung dengan komunitas, seperti Negeri Ngotjoleria, Desa Rangkat atau Planet Kenthir? Dimana di sana ada semacam ketua rombongannya dengan istilah khas komunitasnya masing-masing? Apa yang kita rasakan ketika kita bergabung dengan komunitas tersebut? Merasa senang bukan? dan tentu eksistensi kita merasa lebih terwadahi disana.

Bagian sebagian kompasianer termasuk saya sendiri, bergabung dengan komunitas tersebut merupakan hal yang sangat menyenangkan, disana kita bertambah teman, saling bercanda atau ledek-ledekan. Saling mengomentari hingga demikian beruntun dan panjang. Berangkat dari komunitas tersebut pun ketua rombongannya membuat grup khusus di fesbuk yang bisa saling berinteraksi secara langsung. Komentar dan saling ledek-ledekan diantara teman satu komunitas dan kompasianer lainnya tersebut menambah suasana sangat berkesan dan hangat, akrab, merasa terikat sebagaimana layaknya satu keluarga besar. Keakraban pun terjadi seolah berada dalam realitas nyata, bukan lagi dunia maya, sehingga realitas virtual tersebut benar-benar telah dianggap sebagai realitas sebenarnya.

Padahal tentu saja satu sama lain tidak bertemu muka secara langsung (Kopdar). Bagian sebagian kecil, ya mereka pernah melakukan tatap muka di alam nyata, tapi sebagian besar yang lain, keakraban itu hanya terjadi di dunia maya saja. Namun keakraban di alam virtual tersebut benar-benar mewujud dalam bathin masing-masing kompasianer. Ketika alam virtual warga kompasianer telah mewujud dalam bathinnya masing-masing dengan berbagai ekspresinya baik marah, bahagia, haru, sedih, senang, tertawa terbahak dan lain sebagainya, maka alam virtual tersebut sudah mengambil alih peran alam nyata yang sebenarnya. Maka itulah media social telah melakukan poligami dengan realitas, ia menduakan realitas dengan alam virtual yang telah dianggapnya nyata.

Poligami realitas (realitas yang mendua atau lebih) merupakan istilah lain dari hiperrealitas atau postrealitas. Ia adalah sebuah kondisi yang di dalamnya prinsip-prinsip realitas telah dilampaui dan diambil alih oleh substitusi yang tercipta secara artificial lewat sentuhan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia menghancurkan asumsi-asumsi konvensional tentang apa yang disebut realitas. Menurut Yasraf Amir Piliang Postrealitas merupakan sebuah kondisi terhadap matinya realitas, yaitu diambil alihnya posisi realitas itu oleh apa yang sebelumnya disebut nonrealitas. Ia mewujudkan dirinya menjadi realitas artificial yang bersifat factual, lewat kemampuan sentuhan sains dan teknologi seni dan citra.

Realitas virtual yang telah mengkampanyekan dirinya sebagai realitas baru yang nyata tersebut memunculkan dirinya melalui pencitraan-pencitraan. Apakah pencitraan tersebut memiliki referensi dalam realitas nyata? Bisa memiliki referensi bisa juga tidak sama sekali. Namun ketiadaan referensi tersebut dalam alam nyata tidak pernah terdeteksi sebelumnya oleh masyarakat virtual. Masyarakat virtual hanya percaya pada citra yang dimunculkan oleh sesuatu tersebut entah itu berbentuk citra foto, citra tulisan, citra profil ataupun citra-citra lainnya yang menggambarkan seseorang.

Kompasiana sebagai weblog social dengan mengedepankan berbagai macam tulisan tidak terlepas dari penjelmaan realitas citraan melalui sifat virtualnya. Beberapa kasus pernah terjadi di Kompasiana. Saya ambil contoh yang paling ingat dalam benak saya yait;

Pertama adalah kasus Puri. Kasus Puri pernah menghebohkan warga kompasiana karena Profil Puri yang menggambarkan dirinya menderita satu penyakit. Warga Kompasianer turut mendukung perjuangan yang dilakukan oleh Puri, beberapa kompasianer bahkan turut menulis tentang profil Puri, apalagi ketika dikabarkan bahwa Puri meninggal Dunia, beberapa kompasianer dengan keahliannya dalam menulis mengungkapkan bela sungkawanya. Tapi setelah beberapa lama, heboh berita bahwa Puri sama sekali tidak ada dalam alam nyata, ia hanyalah rekaan seorang peserta lomba iklan. Sangat menyakitkan. Namun sebelum akhirnya terbongkar, Puri dianggap sebagai benar-benar nyata. Dalam kasus ini media social mampu mencitrakan seseorang yang sama sekali tidak memiliki referensi dalam realitas sebenarnya. Ia lah Puri sang ‘Pahlawan’ dari rekaan virtual. Seingat saya ini adalah kasus pertama di Rumah Sehat Kompasiana.

Kedua yang paling saya ingat adalah kenyataan gangguan yang dimunculkan oleh para warga Kompasianer yang merasa terganggu sehingga sampai mengadu ke Admin. Bayangkan sebuah tulisan yang dalam beberapa saat dapat lengser namun seringkali popular mengganggu dengan nyata para kompasianer lain. Gangguan ini seolah-olah nyata, bahkan sudah dianggap tidak sehat lagi. Padahal tentu saja ini hanya ekspresi warga virtual yang menganggap dunia maya sebagai realitas sebenarnya, sehingga tulisan-tulisan warga NN (Negeri Ngotjoleria) tersebut benar-benar dianggap mengganggu dan tidak menyehatkan. Padahal kita tentu dapat memilih-milih tulisan yang kira-kira bermutu menurut kita, kenapa mesti terganggu oleh tulisan ‘tidak bermutu’ ala warga NN. Inilah kenyataannya, realitas maya telah dianggap benar-benar nyata oleh sebagian warga virtual sehingga hal-hal yang menganggapnya tidak baik yang ada di alam virtual dianggap sebagai ancaman yang nyata. Padahal tentu saja hal tersebut tidak demikian adanya, karena hal tersebut hanya terjadi di dunia virtual saja.

Ketiga adalah terbentuknya komunitas-komunitas yang terjadi di Kompasiana, semisal Negeri Ngotjoleria, Desa Rangkat, dan Planet Kenthir. Komunitas tersebut yang sebagiannya sudah membuat grup di fesbuk mengikat satu sama lainnya dengan saling mengomentari dan melibatkan warganya dalam fiksi yang mereka ciptakan. Aktifitas di antara mereka membuat mereka merasa terhibur, terikat, dan saling memiliki satu sama lain. Mereka pun memiliki peran dan tugasnya masing-masing dalam komunitas tersebut. Peran dan pengakuan antar warga subkomunitas di Kompasiana tersebut menjadi pengikat eksistensi mereka. Ada yang berperan sebagai Raja, Permaisuri, Menteri, warga, kepala desa, ada juga yang saling berpacaran dan lain sebagainya. Mereka pun begitu asyik menjalani peran mereka masing-masing sehingga membuat mereka merasa lebih eksis lagi. Mereka bahagia, senang, terharu, sedih, marah, cinta dan ekspresi lainnya.

Apakah ekspresi mereka nyata? Saya merasakan dan mengiranya demikan. Namun apakah mereka terikat dalam komunitas yang nyata pula dalam alam sesungguhnya? Tentu saja tidak karena mereka berada dalam alam virtual. Namun apa yang mereka rasakan benar-benar nyata sebagaimana halnya dirasakan oleh beberapa warga NN yang merasa rindu akan negerinya tersebut. Namun komunitas tersebut telah menciptakan realitas yang seolah-olah nyata. Inilah bentuk lain dari poligami realitas atau hiperrealitas. Ia telah menciptakan realitas kedua di samping realitas sebenarnya.

Keempat, pernahkah kita dengar beberapa warga Indonesia diculik dan diperkosa oleh orang yang dikenalnya difesbuk? Mengapa mereka mau di ajak untuk bertemu. Dalam pandangan saya, karena fesbuker tersebut mampu menciptakan realitas yang diinginkan oleh lawannya, ia mampu menciptakan citra yang sesuai dengan selera lawannya sehingga dapat menarik lawan jenis, sementara setelah bertemu, citraan yang diciptakannya tersebut bertolak belakang dengan kenyataan yang dia tampilkan difesbuk. Inilah bentuk hiperrealitas media yang mampu menciptakan realitas citraan baru dalam sudut pandang dunia realitas manusia.

Masih banyak contoh dan kasus lain, empat contoh di atas adalah representasi dari wujud virtual yang seolah-olah nyata. Ia berhasil menciptakan rekaan yang dianggap nyata melalui citraan-citraan. Menurut Heidegger citra adalah sebuah model kenyataan yang tidak ada lagi referensinya pada realitas, ia bahkan telah mematikan realitas itu sendiri. Edmud Burke Fildman mendefinisikan citra sebagai bukan benda, ia adalah sensai cahaya yang jatuh pada retina ditransmisikan sebagai impuls energy pada otak yang secara simultan menerjemahkannya ke dalam entitas bermakna yang disebut citra. Ia adalah sebagai hasil pemuatan sensasi optis dengan makna.

Beberapa citraan yang dibangun oleh media virtual tersebut memenuhi beberapa tipologi citra yang diungkapkan oleh W.J. Mitchel (Yasraf, 2010) yang kemudian diistilahkan oleh Yasraf sendiri, yaitu; Pertama, Citra Fatamorgana. Citra fatamorgana adalah kategori citra yang membentuk dunia citra dan halusinasi di dalam berbagai ruang hiperealitas seperti dalam computer. Ia memunculkan halusinasi yang pada dasarnya tidak pernah ada di alam nyata. Adanya Raja NN, adanya Kepala Desa Rangkat, adanya planet Kenthir ia adalah wujud dari halusinasi. Ia ada dalam konsep namun tidak ada pijakan realitas.

Kedua adalah citra hantu. Hantu adalah roh tak bertubuh atau spirit tak berwujud, akan tetapi mampu menampakan dirinya di dunia nyata dalam wujud image, seakan sesuatu yang hidup. Ia mampu menciptakan efek-efek di dalam dunia nyata (Tertawa, senang, ketakutan, trauma, kematian). Contoh nyata adalah ketakutannya beberapa kompasianer terhadap eksistensi geng ngocol (NN), padahal NN sama sekali tidak berwujud, ia hanya mewujud dalam alam virtual, namun kenapa merasa terancam dengan ketakutan NN. NN dalam hal ini ibarat hantu bagi kompasianer yang ketakutan ancaman tulisan ‘tak bermutu’.

Ketiga adalah citra kamuflase. Ia merupakan kemampuan menyembunyikan diri dengan cara mengganti citra luar sesuai dengan lingkungan. Ia melakukan penyamaran melalui citra. Di Kompasiana seseorang dapat menjadi seorang anak jalanan, namun sangat pintar dalam memainkan logika. Begitupun di Kompasiana ada seorang yang seolah menjadi Dewa bagi anak jalanan karena menjadi penolong mereka. Ia mencitrakan dirinya baik melalui postingan tulisan ataupun melalui citraan profil yang dibuatnya sendiri. Dan hampir semua kompasianer melakukan pencitraan ini. Ada yang memang sesuai dengan referensinya di alam nyata, atau tidak sama sekali. Jika seorang dosen ia tulis pengajar, tentu ini ada rujukan realitas, namun jika kasusnya seperti Puri, tentu sama sekali tidak merujuk para realitas. Ia benar-benar tercabut dari realitas.

Keempat adalah citra nomad. Nomad merupakan ciri orang yang selalu berpindah-pindah (Nomaden). Citra ini diciptakan oleh orang-orang yang selalu mengganti-ganti profilnya, siapapun, termasuk saya sendiri. Ia mengganti-ganti profilnya sesuai dengan kemerasaan dirinya sebagai apa dan siapa.

Kelima adalah Citra Mutan. Mutan adalah sebuah entitas yang mampu mengubah totalitas dirinya lewat perubahan genus. Dalam citra mutan batas antara yang hak dan batil menjadi melebur. Ia menggabungkan antara kejahatan dan kebenaran, antara Tuhan dan Syetan. Melalui citra mutan orang meleburkan semua nilai menjadi nihilism. Citra mutan mudah-mudahan tidak ada di Kompasiana, karena citra ini dapat merusak generasi penerus dan meracuni Kompasiana.

Melalui citraan-citraan tersebutlah para bloger kompasianer membentuk realitas baru di alam virtual yang bisa jadi merujuk pada realitasnya atau realitas bayangan sehingga seolah menjadi nyata, maka munculah realitas kompasiana yang mendua dari alam realitas nyata kompasianer yang sesunggunya. Pada titik inilah Realitas sesungguhnya telah melakukan poligami dengan realitas maya.

Pelajaran yang dapat dipetik
Adanya anggapan bahwa realitas virtual sebagai alam nyata, mendorong kita untuk berhati-hati akan citra-citra yang diciptakan oleh kaum bloger, baik di kompasiana sendiri ataupun di media social lainnya seperti Fesbuk, Plurk, Koprol atau yang lainnya. Kasus Puri dan NN adalah kasus nyata nyata. Puri sama sekali tidak ada rujukan realitas dan NN dianggap nyata sebagai mengganggu dan tidak menyehatkan oleh sebagian kompasianer. Hal ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita agar tidak tertipu oleh citraan-citraan yang dibuat oleh kompasianer sebelum benar-benar kita menyaksikan rujukan realitasnya. Karena bagaimanapun dunia maya adalah dunia citraan. Ia dibangun oleh berbagai sentuhan teknologi citraan yang semakin mutakhir. Ia bisa jadi merujuk realitas namun bisa jadi sama sekali tidak ada rujukannya. Citraan dapat dibuat melalui jalan apa saja seperti dituliskan di atas, melalui gambaran profil, foro, atau tulisan yang menjadi focus dari sharing and connecting Kompasiana.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon