Poligami Realitas Dunia (Maya)

Ingin tau para plagiator di dunia maya, termasuk kompasiana? Ini dia para nominator plagiator tersebut. Para plagiator tersebut saya temukan dalam buku ‘Postrealitas’ Yasram Amir Piliang. Menurut pandangan Yasraf, para plagiator tersebut tidak hanya dalam bentuk tulisan namun juga berupa benda dan ide.


Yasraf meminjam para pemikir postmodern mengistilahkan plagiat tersebut dengan sebutan simulasi atau dalam bentuk tunggalnya simulacrum. Abad teknologi citra adalah abad simualsi, maka tidak heran jika sejak kemunculan teknologi citra yang menggabungkan dirinya dalam teknologi informasi urusan simulasi sudah menjadi bagian hidup dari para pengagum dunia maya.

Simulasi sendiri seperti dikatakan oleh Baudrillard adalah sebagai penampakan yaitu ketika kita meniru, mengkopi, menduplikasi, atau memproduksi sesuatu yang lain sebagai modelnya. Sementara Umberto Eco seperti dikutif oleh Yasraf mengistilahkan simulasi sebagai copy, replica, replication, imitation, likeness, dan reproduction. [nah catatan ini juga asli sebagai simulasi atau plagiat istilah lainnya dari Yasraf he..he..]

Sama halnya dengan istilah simulasi, plagiat merupakan kegiatan mengcopy, mereplica, imitasi, menyerupai tau memproduksi ulang baik itu tulisan, gagasan, ide, gambar, atau apapun yang dapat ditiru. Secara lengkapnya pengertian plagiat dalam pengertian konvensional ada di [sini]

Berkaitan dengan ramainya kegiatan plagiat di dunia maya termasuk di Kompasiana sendiri, saya menemukan beberapa tingkatan bloger yang melakukan plagiat. Namun sebelum saya memaparkan tingkatan tersebut, saya ingin membagi dua jenis plagiat, yang pertama plagiat dalam arti positif dan kedua plagiat dalam arti negative. Karena pengertian plagiat yang saya sebutkan tersebut merujuk pada pengertian postmodern maka barangkali pembaca juga tidak sepakat dengan yang saya utarakan tentang plagiat tersebut.

Lantas siapakah para plagiator tersebut? Pertama adalah para pewarta sendiri baik pewarta warga atau pewarta mainstream media [jurnalis/ wartawan]. Dalam pengertian postmodern, ia sesungguhnya telah melakukan kegiatan plagiat, karena ia telah mereplica ulang realitas dengan menggunakan bahasanya sendiri. Ia menciptakan ‘dunia’ di atas dunia yang diberi istilah postrealitas oleh Yasraf.

Pernahkah kita merasa haru, sedih atau marah terhadap suatu peristiwa? Namun keharuan, kesedihan, dan kemarahan itu karena informasi yang ditayangkan oleh media, tentu saja kita haru, karena sang wartawan mampu mencipta ulang realita melalui sentuhan kreatifnya, baik tulisan ataupun audiovisual. Tulisan berupa views atau news.

Replika ulang tersebut ada yang dilebih-lebihkan seperti kasus silet atau sepotong-sepotong seperti dalam banyak berita, ia sudah disetting sesuai dengan kepentingan korporasi media tersebut.
Jika berada dalam payung idealism, replica atau plagiat dari realitas tersebut akan menciptakan iklim positif, ia menjadi sumber informasi berharga bagi siapapun yang membutuhkan. Namun bisa menjadi hantu jika ia berada di bawah kepentingan popularitas seperti SILET.

Merujuk pada pengertian yang diajukan oleh kaum postmodern, ia merupakan Plagiat. Jadi sesungguhnya kita-kita ini adalah para plagiator sejati.

Kedua adalah para oknum dunia maya, yang ingin melakukan pencitraan dirinya secara berlebihan seperti pernah ditulis dalam tulisan saya tentang poligami realitas [klik disini]. Jika anak jalanan ingin menjadi anak jalanan yang serba pinter dan intelek, jika seorang aktifis ingin menjadi aktifis sejati, jika ia seorang pengusaha miskin ingin seperti pengusaha kaya. Jika ia memiliki wajah biasa ia ingin memiliki wajah yang sangat tampan dan cantik sehingga ia membuat replica dirinya dengan melalukan sentuhan teknologi citra. Dalam kasus ini, ia pun telah melakukan plagiarism terhadap realitas yang ada kemudian merubahnya menjadi bentuk lain.

Berkaitan dengan masalah citra mencitra, tidak sedikit dari kita [barangkali], yang ingin mencitrakan diri sebagai cerdas, intelek, smart, popular. Kita sesungguhnya tidak mampu menulis, namun karena ingin memiliki citra cerdas, intelek, smart atau popular maka dengan mudah kita mendomplang tulisan yang cerdas dan popular tersebut. Melalui tulisan orang tersebut kita mampu menggeser citra kita dari orang biasa menjadi luar biasa. Inilah yang dinamakan sebagai chaos identitas seperti diistilahkan oleh Yasraf.

Saya sendiri melakukan hal tersebut, bagaimana agar saya disebut sebagai orang yang cerdas dan intelek, maka saya banyak sebutkan nama-nama orang cerdas sekelas Plato, Socrates, Al-Ghazali dengan mengutif teori-teorinya. Bukankah pekerjaan kutif mengkutif adalah kegiatan plagiasi juga? Tentu saja itu adalah pekerjaan plagiasi dalam makna Postmo, ia ingin menciptakan realitas diri yang baru di luar realitas aslinya.
Namun dalam aturan main akademis, plagiasi tersebut tidak diharamkan sebab para plagiator menyebutkan sumber dan rujukannya. Namun tetap saja, jika para plagiator tersebut bekerja hanya menyimpulkan saja tanpa ada ide baru yang ia munculkan, ia tetap saja sebagai plagiator.

Berkaitan dengan inilah, saya dan anda sekalian, entah kita menemukan ide dari orang lain, atau menyadur gagasan dalam bentuk lain, atau mengutif sebagian, jika tidak memunculkan ide baru yang inovatif, saya kira kita pun adalah sebagai Plagiator, namun dalam batas yang diperbolehkan. Karena yang parah adalah ketika kita secara mentah-mentah mengkopipaste karya dah HAKI orang lain.

Bagi manusia postmo sendiri, yang bukan plagiat adalah ketika kita mampu menciptakan sesuatu yang merupakan diri kita sendiri, berbeda atau tanpa bersinggungan sama sekali dengan bentuk yang lain, baik itu tulisan, lukisan, replica realitas ataupun apapun. Itulah yang dinamakan sebagai identitas asli. Orang yang memiliki identitas asli inilah yang mampu melahirkan gagasan tanpa dirangsang oleh gagasan dari yang lain. Jadi hanya seorang penggagas baru yang layak dikakan sebagai bukan plagiator.

Bahkan wartawan dan jurnalispun adalah seorang plagiat realitas! Namun selama ia tidak mengkopipaste dari orang lain langsung melakukan penyaduran terhadap realitas itu sendiri ia berada dalam koridor yang seharusnya.

KITA ADALAH PLAGIAT REALITAS! Dalam bahasa Muhammad Ikbal, kita adalah Co-Creator,  Peniru Tuhan, karena kreatornya  sendiri adalah Tuhan. Kita adalah penjiplak karya Tuhan, karena yang tidak pernah menjiplak itu Tuhan. MAU MENYANGKAL JIKA ANDA BUKAN PLAGIATOR? Maaf Anda Bukan Tuhan!

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon