Sholat di Tengah Kemacetan

Subhanallah, decak kagumku ketika menyaksikan seorang muslimah berjilbab yang akan melaksanakan sholat di tengah kemacetan. Tiba-tiba saja tengkuku merasa merinding, ingat tentang setiap perjalananku yang kadang kewajiban sholat diabaikan begitu saja, diabaikan ya diabaikan, sholat satu waktu disatukan dengan waktu lain, atau istilah fikihnya di jama, sholat yang disatukan dalam satu waktu. Selain di Jama, juga diqoshor yaitu penyingkatan jumlah rakaat shalat jika memang benar-benar darurat. Namun saya, ketika hendak bepergian, biasanya waktu sholat di Jama Takdim atau waktu yang akan datang ditarik ke waktu sekarang. Jika terlambat sholat maka waktu yang sudah lalu di jama takhir, artinya disatukan diwaktu akhir.

Sebagian teman-teman kompasiana barangkali sudah lebih faham masalah ini. Walaupun saya faham akan hal ini, tapi kadang mengabaikannya. Itulah yang membuat saya merinding, kok saya yang masih segar bugar, seringkali melalaikan sholat sementara yang sudah berusia setengah baya begitu getol melaksanakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan tersebut. Padahal kita tahu bahwa dalam sholat, selain dari maknanya sendiri yang berarti selamat, tetapi saya tidak mencerminkan ingin selamat.

Saat itu, Selasa sore sekitar pukul 17.30. Jalan Soekarno Hatta Bandung tepatnya di daerah persimpangan Gede Bage. Setiap kali Bandung diguyur hujan lebat, persimpangan Gede Bage selalu menjadi tempat nyamannya air untuk bermain, sehingga satu jalur sebelahnya nyaris tidak bisa dilalui oleh kendaraan, baik mobil ataupun motor, karena akan menggenangi mesin, kalo masih nekat melaluinya, air bisa marah dan merangsek mesin hingga akhirnya kendaraan mogok.

Karena itulah, Jalan Soekarno Hatta yang memiliki masing-masing jalur antara kanan dan kirinya, satu jalur dipindahkan ke jalur lainnya. Akhirnya satu jalur kendaraan itu rela berbagi tempat dengan jalur lainnya. Otomatis, kendaraanpun bertumpuk pada jalur tersebut sehingga mengakibatkan kemacetan.

Sebagai motoris yang sering tertimpa kemacetan akibat banjir di Soekano Hata tersebut, saya coba menikmatinya, apalagi ada pemandangan unik, yaitu diangkutnya motor-motor oleh warga setempat untuk dipindahkan ke jalur melewati bahu jalan untuk pindah jalur yang aman dari amukan air. Di samping itu di tempat yang agak sepi dari keramaian air, motor-motor berjejer karena mogok seperti sedang ada even saja.
Saat itulah saya melihat seorang muslimah berkerudung sangat tertutup, sedang menempelkan tangannya ke dashboard dalam sedan yang ditumpanginya. Ia mengusapkan telapak tangan ke lengan lainnya, begitupun sebaliknya, saya yang menyaksikannya begitu nyaman, tenang dan damai, namun diiringi oleh perasaan merinding. Ya, tidak lain ia sedang melakukan tayamum. Walaupun saya tidak melihatnya sholat, tapi saya yakin dia akan melakukan sholat. Subhanallah, decak saya.

Saya berefleksi, capek sedikit saja kadang urusan sholat menjadi nomer ke berapa, sibuk sedikit saja urusan sholat menjadi urusan terakhir. Padahal saya tahu kalo sholat adalah tiang agama. Siapa yang melalaikan niscaya ia sedang berusaha untuk meruntuhkan agama. Bahkan barangkali ketika kita sakit, kita seringkali menjadikan alasan untuk tidak melakukan sholat, padahal dalam keadaan apapun sholat tetap harus dilakukan kecuali untuk perempuan yang sedang haid atau nipas dan orang yang kehilangan kesadarannya (gila).

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon