Sosial Blog dan Komunikasi Egaliter Rakyat VS Pemerintah

Dunia kehidupan sehari-hari yang real, dalam masyarakatnya masih terstratifikasikan oleh tingkat social. Baik social ekonomi, politik, budaya, pendidikan. Biasanya kita merasa segan ketika berbicara terhadap orang yang setingkat atau beberapa tingka lebih tinggi dari kita.
Sebagai mahasiswa kita akan segan berbicara terhadap
seorang Guru Besar atau Profesor. Seorang pekerja akan merasa segan untuk berbicara terhadap majikannya. Seorang staf akan segan untuk menyampaikan sesuatu terhadap atasannya di kantor.

Begitupun di antara orang yang baru dikenalnya apalagi memiliki tingkatan social yang berbeda dan dari dunia yang berbeda kita akan merasa segan ketika akan menyampaikan pendapatnya langsung akan suatu hal.

Perasaan segan ini menunjukan bahwa dalam konteks komunikasi antara pelaku (komunikati) tidak memiliki sifat dan sikap egaliter atau kesetaraan. Komunikasi di sini bersifat pilih-pilih. Egaliterianisme komunikasi hanya terjadi di antara komunikati yang memiliki tingkat kesetaraan dalam kehidupan sosialnya.

Namun tidak demikian halnya dengan komunikasi dunia maya. Seseorang yang dianggapnya berwibawa dan selalu disegani ketika bertemu di dunia nyata dan terkesan jutek, akan berbeda ketika bertemu di dunia maya. Kita ambil contoh fesbuk dan kompasiana. Di fesbuk seorang professor dapat berinteraksi secara egaliter dengan menuliskan status dan komentar tanpa melihat siapa yang mengomentarinya, apakah ia mahasiswa yang ‘bodoh’ atau ‘cerdas’, apakah ia seorang staf biasa atau tukang kebun. Ia akan menjawab dengan senang hati-komentar-komentar terhadap dirinya.

Komunikasi yang terjadi di Kompasiana pun demikian. Beragam latar belakang pendidikan dan profesi berkumpul. Seorang Wakil Presiden (kini mantan), seorang menteri (kini mantan), seorang Jenderal (purnawirawan), seorang dokter, jurnalis, Guru, dosen, penulis, orang biasa, mahasiswa, seorang cleaning service, politikus, ekonom, artis, pengusaha, dan lain sebagainya. Semua orang berinteraksi di Kompasiana tanpa tersekat oleh masalah latar belakang social yang disandangnya. Semua orang bebas mengutarakan maksud dan isi hatinya melalui tulisan tanpa harus malu apakah dibaca oleh orang ‘gedongan’ atau ‘kere’ sekalipun.

Begitupun ketika melakukan komentar, kita tidak malu untuk mengemukakan pendapat terhadap mantan-mantan jenderal, artis, jurnalis yang mahir menulis, pengusaha, dokter atau terhadap siapapun. Dengan demikian, tersibaknya tabir tingkatan social yang terjadi di dunia maya memunculkan pola komunikasi yang egaliter, setara, tidak terhalang kabut stratifikasi social.

Komunikasi egaliter dibangun berdasarkan atas keterbukaan masing-masing anggota. Pola komunikasi egaliter yang terjadi di dunia maya tersebut, sejatinya tidak hanya terjadi antar anggota sesama masyarakat sendiri, namun juga harus terbangun antar rakyatnya dan pemerintah. Antara yang diatur dengan pengatur, antara penguasa dengan yang dikuasai oleh aturan.

Media social seperti Kompasiana, pada akhirnya harus mampu menjadi kekuatan keempat untuk memberikan pressing terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak terhadap masyarakat. Sesuai dengan posisi media sebagai kekuatan ke empat. Namun nyatanya media social maya tampaknya belum mampu untuk melakukan fungsi media sebagai kekuatan yang mampu melawan kekuasaan dan kekuatan refresif terhadap kebijakan pemerintah yang tidak memihak terhadap rakyat. Alih-alih pemerintah sama-sama duduk dan membuat semacam hak jawab langsung terhadap permasalahan yang dihadapi oleh rakyatnya.
Belakangan, telah ada salah satu pejabat dewan, Marzuki Ali, yang duduk bersama di Kompasiana. Ia sudah merasakan bagaimana kekuatan kompasiana menjelma. Kekuatan kompasiana memanggilnya sehingga bereaksi ‘keras’ terhadap opini yang diwacanakan oleh Linda Djalil, seorang Kompasianer Tamu.

Namun tentu saja, kekuatan media social Kompasiana tidak hanya sebatas itu, namun juga mampu menekan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak pro poor. Kita berharap dengan banyaknya kompasianer yang aktif dalam berbagai latar belakang profesi yang berbeda mampu menyuarakan kepada pemerintah tentang kebijakannya yang timpang (jika ada/ banyak) sehingga mampu menekan pemerintah dan pada akhir mereka mau duduk bareng di rumah sehat Kompasiana sebagaimana halnya yang telah dilakukan oleh pendahulunya, Marzuki Ali. Ketika pemerintah telah duduk bareng dan berkompasiana memenuhi hak jawab masyarakat maka disinilah komunikasi egaliter yang sejati antar masyarakat dan pemerintahnya telah terbangun. Semoga!

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
Diana Sesarin
AUTHOR
Sep 24, 2011, 7:40:00 PM delete

Iya kadang orang yang kita ajak chatting, bisa berubah kalo diajak ngomong langsung.

Reply
avatar
Dudi Rustandi
AUTHOR
Sep 27, 2011, 3:51:00 PM delete

Yoi mbak, dunia maya dengan dunia nyata tetep aja beda ya

Reply
avatar

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon