Spiritualitas Menulis

Menulis bagi sebagian orang sesuatu hal yang gampang-gampang sulit. Sesulit ketika harus presentasi bagi orang yang sering terkena demam panggung atau akan melakukan public speaking. Padahal tentu saja menulis tidak mesti berhadapan dengan orang-orang. Karena menulis dapat dilakukan di kamar sendirian tanpa harus ada orang yang mengetahui. Namun mengapa menulis begitu sulit? 


Satu hal yang menjadi catatan bagi saya adalah bahwa kita masih memiliki dinding pembatas antara ide; dunia yang berada di alam fikiran dan langit-langit luasnya ide. Begitupun ketika sudah merasa mampu menulis, kadang ide sering stak begitu saja sehingga jemari pun mendadak terdiam karena otak tidak mengirimkan sinyalnya. 

Orang-orang besar seperti Al-Ghazaly, Imam Syafii, Nitzche, Pramoedya Ananta Toer, Soekarno, Nurcholis Madjid, Gus Dur, atau para novelis masa kini seperti Dee yang menyelesaikan novel barunya (Perahu kertas) dalam hitungan bulan tidak mungkin tidak memiliki spiritualitas yang tinggi ketika ia menuangkan idenya tersebut yang kemudian menjadi tulisan yang bernas. Orang-orang yang saya sebutkan bukan besar karena jabatan kepresidenannya saja (Soekarno & Gus Dur) namun besar karena ia memiliki cukup banyak karya, atau karya yang monumental.

Spiritualitas bukan agama, ia juga tidak identik dengan agama. Namun spiritualitas bisa di dapatkan memalui jalan beragama. Menurut Jakob Sumardjo, seorang budawayan yang juga penulis mengatakan bahwa spiritualitas adalah ketika batas antara langit dan bumi tersingkapkan. Ia menyingkapkan batas-batas material, meleburnya alam materi dan alam immateri dalam wujud kesemestaan tubuh kita. 

Saya ambil contoh Al-Ghazali, seorang sufi besar Islam tersebut yang berangkat dari ranah filsafat yang kemudian dianggapnya menyesatkan, menghasilkan karya monumental Ihya Ulumuddin yang selalu dijadikan rujukan Ibadah oleh umat Islam, bukunya tidak pernah lekang oleh waktu dan zaman. 

Begitupun dengan Imam Syafi’I, ulama fiqh tersebut menghasilkan karya monumental juga dalam bidang ilmu fiqh dan fiqh. Begitupun dengan Nietzche, Pram, Nurkholis Madjid, Gus Dur, Dee. Ia adalah orang-orang yang telah mampu meleburkan antara alam immateri dengan alam materi. Ia mampu menyingkirkan sekat batas antara immateri sebuah ide dengan materi jemari ketika harus dituangkan dalam bentuk kata dan kalimat. 

Jakob Sumarjo lebih jauh mengatakan bahwa spiritualitas terjadi ketika mengalirnya secara terus-menerus ide-ide kita lalu diabstraksikan dalam bentuk verbal, mau rumus, ataupun tulisan. 

Dengan demikian orang-orang yang mampu menulis dalam sekejap waktu dan secara terus-menerus menghasilkan ide-ide kemudian menumpuk menjadi bentuk kata dan kalimat sehingga menjadi sebentuk tulisan yang dapat dimengerti dan difahami, maka ia lah orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. 

Begitupun jika dikaitkan dengan masalah agama, orang yang memiliki spiritualitas tinggi adalah ketika alam ghaib bersatu dengan alam immateri. Atau dalam bahasa Nurkholis Madjid dikatakan ketika keinginan kita sudah dapat menyesuaikan diri dengan keinginan Allah yang tentunya dalam bentuk ibadah apapun. 

Seorang yang memiliki spiritualitas tinggi ketika sholatnya mampu memberi efek social seperti yang Tuhannya minta. Ia mampu mencegah perbuatan keji dan munkar. Jika Sholat dan ibadahnya belum memberikan efek yang jelas dalam kehidupan sosialnya, maka tentu saja ia belum mampu meleburkan antara alam ghaib dengan alam materi. Ia belum mencapai spiritualitas karena sholatnya masih melahirkan kemudharatan seperti caci maki, sholat tahajudnya masih merelakan jika lidahnya berkata kasar dan merendahkan orang lain.

Sejatinya orang yang mampu menyingkapkan antara alam ghaib/ ide dengan alam materi yang kemudian melahirkan satu ide dalam bentuk verbal tulisan untuk memperjuangkan kepentingan masyarakatnya, ia adalah juga orang yang mampu menyingkapkan tabir antara Tuhan (perintah/ kewajiban) dengan keinginan dirinya sehingga keinginan diri dan Tuhannya tidak terjadi gap/ jurang pemisah yang sangat jauh. Ialah yang disebut oleh Cak Nur sebagai tasawuf modern. Mau memiliki ilmu tasawuf menulis? Belajarlah dari orang-orang besar tersebut.

Seperti halnya Iman, menulis harus selalu di asah agar dapat mencapai spiritualitas.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon