Tegal Lega dan Bandung Blue Sky

Selama 11 tahun hidup di Bandung baru pertama kali menginjakan kaki di salah satu ikon kota Bandung, Tegal Lega dengan tugu apinya. Tahu kan Tegal Lega? Ia merupakan taman kota berjarak beberapa sekitar 1 kilo dari Alun-alun kota Bandung. Selain taman kota disini juga terdapat lapangan-lapangan yang dikelilingi oleh jalan, berbagai macam bunga dan pohon, kolam, tempat berteduh, jalan khusus untuk manula dan lain sebagainya. Baru pertama kali saat hari minggu pagi yang biasanya ramai oleh pedagang kaget dan ratusan orang atau bahkan ribuan yang bertujuan menyegarkan badannya untuk berolahraga atau sekadar cuci mata. Sementara pada hari lainnya biasanya hanya numpang lewat belaka.


Minggu [21/11], sekitar pukul 08.00 saya berjalan kaki dari rumah yang berjarak tidak sekitar 500 meter, sengaja tidak menggunakan ojek karena ingin merasakan kesegarannya berolah kaki, sekedar mengeluarkan keringat rasanya tidak perlu pergi ke gym. Cuaca begitu cerah jalanan cukup ramai, lalu lalang kendaraan pun tak pernah sepi. Silih berganti berbagai jenis mobil dan motor hingga pedati. Akhirnya saya sampai di Taman Kota yang menanti.

Masuk melalui pintu samping, berbagai dagangan digelar dari fashion hingga kuliner, dari jualan motor hingga jualan motor boongan. Begitupun mainan anak dari mulai sewa sepeda hingga belajar menangkap ikan pun tersedia. 

Mengambil jalan yang mengarah pada pintu utama, saya melewati sebuah kolam yang tidak terurus, kumuh seperti dipinggir sungai bantaran, padahal jika saya diurus, rumput liarnya dipangkas dan dipapas, daerah sekitar kolam akan menjadi tempat favorit untuk bercengkrama. Begitupun air kolam seperti limbah pabrik. Saya telusuri jalanan tempat berjejernya pedagang kaki lima, beberapa sudut terdapat tumpukan sampah, inikah taman kota? Pikirku saat itu.

Menuju lapangan utama dipadati oleh lalu lalang orang yang sedang jogging dan bercengkrama, badminton, main bola atau sekedar janjian sesame lawan jenis yang saling tertarik barangkali.

Berdekatan dengan jalan utama inilah pemandangan mulai terasa nyaman dengan rindangnnya pepohonan membentuk seperti layaknya sebuah kota. Rimbunnya pohon menjadi tempat favorit untuk botram (makan bareng) keluarga dari mulai nenek hingga cicit. Begitupun jalanannya cukup bersih dan tempat parker yang terkelola rapi. 

Ingin membeli keringat dengan murah, akhirnya setelah berjalan-jalan cukup puas, saya pun menyewa raket dengan harga seribu perjam, cukup murah disbanding membeli sendiri he..he.., saya bermain badminton di pinggir jalan dan rimbunan pohon. Setelah keluar keringat dengan menyewa raket dan kok, akhirnya saya akhiri dan saatnya pulang ke rumah.

Selama perjalanan saya berfikir, pepohonan sepanjang jalan yang terdapat di kota Bandung jika dibiarkan rimbun barangkali Bandung tak akan sepanas ini, dan tentu saja tidak akan terjadi cuaca yang gak jelas. Kini rasanya di daerah manapun mencari lokasi tinggal dibayang-bayangi oleh bencana alam yang ditimbulkan oleh Manusia. Tinggal di dataran rendah terkena banjir kiriman dari atas, tinggal di daerah atas beresiko longsor. Huh!

Tahukah bahwa kini beberapa jalan di kota Bandung dilakukan pelebaran dan pohon-pohon ditumbangkan. Menambah cuaca menjadi panas dab kemarau jika kemarau dan kemungkinan banjir dan longsor jika musim hujan. Buat apa ada program satu juta pohon jika pada akhirnya rimbunan pohon penyeran karbondioksida kendaraan ditumbangkan. Buat apa ada program Bandung Clean and Blue Sky jika eksploitasi jalan dilakukan demi menampung kendaraan yang tak pernah dibatasi jumlahnya. Hhhmmm, apa dong makna program tersebut Pak Wali Kota? Pada satu sisi taman kota diperbaiki dan program sejuta pohon digalakan walaupun masih belum maksimal, namun pada sisi lain pepohonan penyangga rimbun kota ditumbangkan untuk menampung kendaraan? Saya kira itu pesan yang chaos Pak Wali.

12908544431755706673
12908545731688812509
Kolam tidak terurus, salah satu sudut Tegal Lega
1290854930469300432
Rimbunan Pohon di Taman Kota Tegal Lega

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon