Pentingnya Mengkaji Komunikasi Massa


Ilustrasi dari Google Image
Kehidupan manusia modern, tidak bisa terlepas dari terpaan media massa, dari mulai buku, koran, radio, televisi, internet. Bentuk-bentuk media masa tersebut selalu mewarnai sikap dan perilaku seseorang dalam kesehariannya. Bahkan kenyataan paling ekstrem dalam kehidupan seseorang bahwa hidupnya dikendalikan oleh media Massa, sehingga pantas misalnya seseorang ada yang menghindari Koran karena menurut pandangannya Media Cetak tersebut memberikan informasi yang dapat meracuni sikap dan pola pikirnya.
Seseorang yang menghindari terpaan media cetak tersebut, tidak sebesar dan seramai ketika orang mewacanakan bahaya media elektronik seperti halnya terhadap televisi. Bahkan seorang mantan ketua MPR, Amien Rais, menjauhkan anak-anaknya dari televisi saat hari-hari sekolah, barulah ketika anak-anaknya libur, ia membolehkan anaknya untuk menonton televisi itupun dibatasi hanya pada tayangan yang dikiranya bermanfaat saja.
Menurut riset yang dilakukan oleh Veronis Suhler, televisi menempati posisi pertama yang banyak ditonton masyarakat, kedua radio, kemudian rekaman music, Koran, buku, film, majalah, dan terakhir internet. Menurut penelitiannya 40 persen dari dari waktu bangun digunakan oleh masyarakat untuk menonton televisi. Sehingga tidak heran jika Jalaluddin Rakhmat menyatakan bahwa televisi adalah tuhan baru bagi masyarakat modern. Hal ini bukan tanpa alasan,  karena hampir setiap program siaran dari televisi menjadi model atau rujukan bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupannya.
Meniru secara buta terhadap televisi yang sangat terasa dalam benak kita adalah aksi Satria Baja Hitam yang selalu ditiru anak-anak, kemudian aksi Smack Down, Peniruan gaya seorang Gay Ryan, Goyang Ngebor Inul bahkan ikut meracuni terhadap perilaku orang dewasa khususnya laki-laki. Bahkan belakangan konflik antara Indonesia dan Malaysia pun salah satunya karena gerncarnya televisi dalam memberitakan informasi tentang hubungan kedua negara; TKI, pemukulan, penangkapan terhadap orang Indonesia dll.
            Pola pikir seseorang juga lebih banyak dipengaruhi oleh Media Massa tersebut semacam buku, sehingga sangat masuk akal jika pada pemerintahan Bapak Soeharto, Ibu Megawatipun melarang buku tertentu untuk terbit alias dibredel karena dapat ‘merusak’ pola piker masyarakat. Kenapa misalnya FPI dan sejumlah Ormas Islam ngotot untuk melarang Playboy terbit, hal tersebut didasarkan pada side effect yang ditimbulkan oleh media tersebut.
            Namun tentu saja apa yang diungkapkan diatas adalah efek samping media yang bersifat negatif. Kehadiran media pada awal kelahirannya adalah untuk mempermudah informasi sampai kepada masyarakat. Menurut catatan Vivian (2008), media massa yang pertama kali muncul di dunia adalah buku (bible) yang diproduksi dalam jumlah cukup banyak pada massanya. Dengan produksi buku tersebut, orang dapat dengan mudah dalam waktu relatif singkat untuk mendapatkan informasi dari bible tidak seperti ketika bible disalin dengan menggunakan tulisan tangan.
            Efek samping positif terhadap pentingnya media massa telah menjadi jargon bagi orang-orang yang ingin menguasai dunia, jika ingin menguasai dunia maka kuasailah media. Maka tidak heran semisal Obama atau Presiden SBY memanfaatkan media massa untuk sosialisasi dirinya sehingga terpilih menjadi penguasa Negeri. Tak hanya itu dalam arti penguasaan media yang negatif dalam sudut pandang kita sebagai umat muslim, media dijadikan media propaganda negara tertentu untuk menyudutkan Islam, baik melalui televise, Radio, Koran, Internet, Buku, ataupun Film.
            Berdasarkan latar belakang tersebutlah, sebagai umat Islam harus mempelajari media untuk menyeimbangkan pemberitaan yang ada dimedia tersebut sehingga wajah Islam tampil apa adanya dan objektif.
            Merujuk pada persfektif ilmu komunikasi, mempelajari media erat kaitannya dengan Ilmu Komunikasi Massa. Dalam arti yang sangat sederhana Komunikasi Massa adalah interaksi social melalui pesan (social interaction throught massages) (Gerbner: 1067). Istilah ‘massa’ menggambarkan sesuatu (orang atau barang) dalam jumlah besar, sementara ‘komunikasi’ mengacu pada pemberian dan penerimaan arti, pengiriman, proses dan penerimaan pesan.
Definisi awal komunikasi massa diungkapkan oleh Janowitcz (1960) mengatakan bahwa komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan secara terlembaga dengan teknik pengiriman pesan melalui kelompok terlatih menggunakan teknologi untuk menyebarluaskan simbo-simbol kepada audien yang tersebar luas dan bersifat heterogen. (Morisan, 2010:8)
Sementara itu Bittner (Rakhmat, 2003: 188) mengatakan bahwa komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people). Hal senada dikatakan oleh Vivian (2008) bahwa komunikasi massa adalah proses penggunaan medium massa untuk mengirim pesan kepada audien yang luas untuk tujuan memberi  informasi, menghibur atau membujuk.
Gerbner mengemukakan definisi komunikasi massa lebih rinci yaitu produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry (Rakhmat, 2003:188)
Sedangkan menurut Wright, bentuk baru komunikasi massa dapat dibedakan dari corak-corak yang lama kerena memiliki karakteristik utama sebagai berikut; diarahkan pada khalayak yang relatif besar, heterogen dan anonym, pesan disampaikan secara terbuka, seringkali dapat mencapai kebanyakan kahalayak secara serentak, bersifat sekilas; komunikator cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang kompleks dengan melibatkan biaya besar.
Merujuk pada DeVito (1997), komunikasi massa  dapat didefinisikan dengan memusatkan perhatian pada lima variable yang terkandung dalam setiap tindak komunikasi dan memperlihatkan bagaimana variable-variabel ini bekerja pada media massa. Sumber atau komunikator massa adalah suatu organisasi kompleks yang mengeluarkan biaya besar untuk menyusun dan mengirimkan pesan. Audiens  adalah khalayak dalam jumlah yang tidak terduga atau sangat banyak. Pesan merupakan milik umum yang disampaikan secara cepat. Proses antara dua arah (melalui seleksi) dan satu arah. Konteks yaitu bahwa  komunikasi massa berlangsung dalam suatu konteks social, terjadi hubungan transaksional antara media dan  dan masyarakat. (Joseph A. Devito, 1997: 505).
Berkaitan dengan komunikasi massa yang tidak dapat dilepaskan dari aspek media, maka media merupakan hal yang mutlak dalam komunikasi massa. Denis McQuail memberikan metafora sebagai berikut; Media merupakan jendela (windows) yang memungkinkan kita untuk melihat lingkungan kita lebih jauh, penafsir (interpreters) yang membantu kita memahami pengalaman, landasan (platform) pembawa yang menyampaikan informasi, komunikasi interaktif  yang meliputi opini audiens, penanda yang memberi kita  instruksi dan petunjuk, penyaring yang membagi kita  pengalaman dan focus pada orang lain, cermin yang merefleksikan diri kita, penghalang  yang menutupi kebenaran. (Stephen W. Little John, 2009).
Berdasarkan pengertian dan eksplorasi masalah di ataslah salah satu hal yang menjadi alasan penting kenapa kita mempelajari komunikasi massa khususnya karena berkaitan dengan kekuatan besar media baik sebagai minat pribadi, kepercayaan akan kekuatan dan pengaruhnya, penunjukan fakta bahwa komunikasi massa memiliki kekuatan ekonomi yang besar, menjadi sumber informasi dan hiburan,  serta adanya konstruksi makna yang dapat menjungkirbalikan pandangan dunia kita. (Burton, 2008)
Melalui Media dan Komunikasi massa kita dikonstruk berdasarkan kepentingan media. Atau kita melakukan konstruksi realitas sesuai dengan apa yang kita inginkan di mana media menjadi alat. Media massa dapat melakukan reduksi dan konstruksi terhadap realitas, baik itu secara positif ataupun negative.
Dengan demikian serupa dengan pengantar di atas bahwa media dapat memperlihatkan wajah femininnya dan maskulinnya, dapat mengekspresikan wajah baik dan buruknya, dapat menolong sekaligus menjerumuskan. Sebagai calon jurnalis Muslim kita harus mampu menunjukan bahwa media massa adalah sebagai media informasi, edukasi, serta hiburan yang ramah tanpa harus kehilangan sikap kritisnya. Wallahu ‘alam

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon