Hiperrealitas Berita

Berita dan Opini (News & views) merupakan dua isi yang menonjol dalam sebuah media. Hal lain yang menonjol dalam media adalah iklan. Ketiga hal tersebut merupakan jantung isi sebuah media. Ketika kita membeli Koran misalnya tentu selain ingin membaca berita hal lain yang ingin kita dapatkan adalah ilmu yang berasal dari tokoh tertentu bisa jadi tokoh akademik atau peneliti yang biasanya dituangkan dalam bentuk opini. Namun tidak sedikit pula yang membeli Koran dengan tujuan ingin mencari iklan yang sesuai dengan kepentingannya. Ketiga kepentingan tersebut bisa jadi mengaduk menjadi satu pada satu individu, sehingga kepentingan akan ketiga isi tersebut seolah tak terpisahkan.


Lalu bagaimana dengan Kompasiana? Media social yang sempat menyabet penghargaan sebagai citizen Journalism di tingkat nasional dan internasional (Digital Media Award dari World Association of Newspapers and News Publishers (WAN - IFRA)) ini lebih menonjol dalam sisi isi, namun sudah ada beberapa sponsor yang menjadikan Kompasiana sebagai tempat beriklan.
Hal yang ingin saya soroti disini adalah bagaimana eksistensi keberadaan Kompasiana dalam menempatkan views & news-nya. Berkaitan dengan inilah saya ingin menyoroti salah satu diantaranya yaitu berita. 

Jika views berkaitan dengan pandangan pribadi seseorang yang bisa jadi tidak menginjak pada realitasnya pun tidak menjadi masalah, maka news harus benar-benar memiliki rujukan realitas yang nyata. Memang benar bahwa tidak sedikit media yang menggunakan sumber berita lain dengan cara berlangganan dan itu sah-sah saja, apalagi berlanggangan kepada agen berita seperti Antara atau kantor berita luar negeri, saya kira memang tidak perlu dipertanyakan lagi karena mereka memiliki kevaliditasan dalam mendapatkan beritanya. Apalagi sumber informasi yang digunakan adalah A-1. Bukan orang-orang disekitarnya yang hanya bisa menduga-duga. Namun tetap saja, kutipan berita yang tidak merujuk pada realitas tersebut dikategorikan sebagai berita yang hiper atau hiperrealitas Berita. tentang pengertian Hiperrealitas dapat dibaca di sini atau di sini.

Hal inilah yang sering saya temukan di Kompasiana, seandainya berita Hiperrealitas tersebut dapat memberikan manfaat nyata secara langsung untuk warga kompasiana saya pikir tidak menjadi masalah, namun bagaimana jika news tersebut justeru menuai kontroversi dan justeru memiliki nilai gossip? Membuat gerah kompasianer lainnya, Jadi masalah bukan? 

Hal inilah sebetulnya yang menjadi arena kritik dari tulisan saya yang berjudul Kompasiana: Rumah Gosip? Sebagai analisis sederhana terhadap tulisan Bu Linda. Saya tidak sedang melakukan kritik terhadap orangnya, begitupun saya tidak sedang membela sang tokoh dalam tulisan tersebut. Saya sekali lagi sedang mencoba belajar mengamati isi berdasarkan kemampuan saya yang minim.
Tentu saja itu bukan satu-satunya tulisan yang bersifat hiperrealitas atau justeru berpijak pada realitas masih banyak sebetulnya tulisan-tulisan yang tidak berpijak pada realitas namun dijadikan sebagai sumber berita. 

Hadirnya berita-berita yang hiperreal inilah menurut catatan Yasraf bahwa nilai sebuah berita menjadi dipertanyakan, ia telah tereduksi dan maknanya menjadi kabur, makna yang melampaui dari isi yang sesungguhnya. Bahkan menjadi memiliki makna yang keluar dari makna yang seharusnya, ia memiliki makna yang tidak sesuai lagi dengan makna aslinya.

Inilah juga yang menjadi arena kritik sahabat Mad Mizan dalam tulisan Mimisen Journalism dan juga tulisan Menggugat Mainstream Media di Kompasiana. Mad Mizan merasa gerah dengan banyaknya postingan yang tidak mencerminkan substansi Citizen Journalism, main kutip dan cendderung plagiat atau mengulang-ngulang tulisan yang telah ada di situs lain. Begitupun tulisan Menggugat mainstream Media di Kompasiana ingin melakukan kritik terhadap etika reportase atau setidaknya jika ingin melakukan reportase baiknya tidak dilakukan dengan cara mengutip dari media mainstream. 

Menulis reportase dengan cara mengutif dari media lain atau mainstream media lainnya, apakah ini Citizen Journalism? Tentu bukan. Kecuali jika kita menulis Opini dan melakukan analisis terhadap sebuah berita, berita hanya dijadikan alat penguat bukan membuat berita itu sendiri, hal ini nilainya sangatlah berbeda. Karena bagaimanapun antara News dan Views memiliki substansi yang berbeda.
Oleh karena itulah setidaknya jika ingin eksis melalui tulisan model CJ, dari pada membuat berita yang Hiperreal mending beropini atau curhat saja, ada juga pilihan yang lain yaitu bikin cerpen dan puisi yang lebih ekpressif. Kompasiana masih sangat terbuka selain posting reportase. Saya berharap bahwa Kompasiana tetap sebagai media warga yang disegani. Dan tentunya sangat asyik jika kita bisa berdiskusi secara santun dan fair. Kompasiana juga masih tetep bisa menjadi media silaturahmi menambah pertemanan, ilmu dan dinamika diskusi. Semoga.
Semoga bermanfaat.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon