Keajaiban Bersahabat dengan Tuhan

Terharu, sedih, Bangga dan tentu saja berlinang ari mata. Begitu kesan setelah menonton film ‘Letters To God’. Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata penderita kanker.
 
Tyler merupakan satu anak dari puluhan, ratusan dan barangkali ribuan penderita kanker. Kehidupan Tyler mampu menginspirasi banyak orang, tidak hanya penderita kanker sendiri namun juga orang-orang sehat di sekelilingnya. Inilah barangkali yang mendorong kisah nyata ini diangkat ke dalam film layar lebar. Film ini mengisahkan Tyler, seorang penderita kanker, seorang anak yang berasal dari keluarga yang telah ditinggalkan oleh sang ayah. Tyler memiliki seorang Kakak Ben, Ibu, seorang Nenek, Samantha dan Alex teman sekolahnya yang sangat sayang padanya.

Semenjak tahu bahwa dirinya mengidap penyakit mematikan, selain keluarganya yang selalu memperhatikan dirinya ia juga membangun persahabatan dengan Tuhan. Baginya Tuhan adalah sahabat pena yang bisa diajak untuk berbagi. Setiap ia punya masalah, setiap ia bahagia, setiap ia memiliki cerita baru dalam hidupnya, ia berbagi dengan sahabat tersebut, ia lah Tuhan.

Setiap hari tak kurang dari 3-5 surat yang kirimkan kepada Sang Sahabat, lalu kemana Tyler mengirimnya? Tak lain ia simpan di pos surat. Sekian kali surat itu diterima oleh seorang mailman, sang mailman kebingungan dan mengadu kepada atasannya. Karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya itu sang mailman pun resign. Mailman baru pun datang, ia Brady yang sedang prustasi karena urusan pengasuhan anaknya, hidupnya tak teratur.

Ketika pertama kali menerima surat dari Tyler, Brady menyimpan surat itu di sakunya, karena tidak mungkin untuk mengirimkannya kepada Tuhan. Karena merasa bahwa tempat ber’semayam’ Tuhan adalah Gereja, maka ia pergi ke Gereja untuk mengirimkan surat tersebut. Kepergok oleh Pendeta ketika menyimpan surat, akhirnya ia curhat. Dan Surat tersebut akhirnya ia bawa ke rumahnya.

Di rumah ia membuka surat lain yang ditujukan kepadanya, ia membuka surat tersebut dan ternyata ia diminta segera untuk mengurus surat-surat pengasuhan anaknya untuk mantan isterinya. Ia prustasi dan tertekan. Di tengah ketertekanan itu ia mengambil satu botol minuman keras, namun ia membantingkannya. Ia lalu membuka satu surat, dua surat, tiga surat dan puluhan surat Tyler yang ia bawa ke rumah. Setelah membaca surat tersebut ia tersadarkan, mengapa dirinya yang telah dewasa bisa begitu rapuh, ia masih sehat dan perkasa, sementara Tyler, anak kecil penderita kanker begitu kuat dan tegar menghadapi kematiannya sekalipun.

Salah satu surat yang ia baca,” Ya Tuhan, aku beruntung hari ini, tapi Sam benar-benar ingin memanjat pohon. Aku sudah muntah tiga kali pagi ini sekalipun. Sam akan membutuhkan seorang teman Anda tahu. seseorang yang suka memanjat pohon. Kakeknya adalah sangat menyenangkan, tapi saya pikir dia bisa memanjat pohon.
 
“Ia mengajarkan begitu berartinya harapan dalam hidupku. Anak kecil yang mengajarkan pentingnya bersahabat dengan Tuhan”, celoteh Brady.
Dari situlah ia bangkit, dengan menggunakan sepeda, ia membagikan surat Tyler kepada orang-orang yang disebutkan dalam surat Tyler kepada Tuhan.
Orang-orang pun begitu terharu, saat pesta kesembuhan (sementara) yang kesekian kalinya Tyler mengundang orang-orang yang senasib serta orang-orang yang berada disekelilingnya untuk berbagi cerita bersama. Disitulah moment Brady sang mailman untuk menyampaikan kepada tamu undangan bahwa kekuatan dan persahabatan dengan Tuhan telah memberikan inpsirasi baginya untuk hidup lebih tabah lagi, begitupun dengan orang-orang yang senasib dengan Tyler, dengan apa Tyler kuat dan tabah? Tidak lain adalah karena bersahabat dengan Tuhan. Brady pun menunjukan 3 karung surat yang telah Tyler tulis dan dikirimkan kepada Tuhan yang ia simpan baik-baik di kantor pos tempatnya bekerja.

Kebiasaan Tyler untuk selalu berbagi cerita dengan Tuhan yang dianggapnya sebagai sahabat, guru dan teman menginspirasi banyak penderita kanker lainnya, hingga akhirnya setelah Tyler meninggal keluarganya yang dibantu Samantha, membuat Boxmail yang superbesar dan mengundang para penderita kanker agar bisa melakukan hal serupa yaitu selalu bersahabat dengan Tuhan agar bisa kuat dan tabah dalam menghadapi penyakitnya.

Luar biasa, inspirasi Tyler diikuti oleh para penderita kanker di Georgia untuk selalu bersahabat dengan Tuhan. Dan tidak sedikit penderita kanker yang dapat hidup lebih lama lagi bahkan bisa berkarir saat vonis kanker menimpa penderita kanker saat usianya masih sangat kecil.

Film yang diangkat dari kisah nyata tersebut memberikan pesan bahwa Tuhan sebagai kekuatan yang maha dahsyat dapat mematahkan vonis mati dokter terhadap keganasan kanker. Tyler yang divonis mati bisa hidup beberapa tahun lebih lama dari vonis yang diberikan dokter. “Bahkan saya pun tidak yakin jika ia akan sembuh setelah ini,” ujar dokter, saat kanker Tyler mengganas dan harus diopname beberapa hari, tapi ternyata Tyler malah sembuh walaupun pada akhirnya ia meninggal juga.

Brady yang telah putus asa atas masalahnya merasa beruntung mengenal keluarga Tyler, ia telah menginspirasinya untuk mencoba berhubungan dengan Tuhan dan memulainya mengunjungi Gereja.
Di akhir cerita, film ini mengisahkan beberap penderita Kanker yang bisa selamat dari penyakit mematikan setelah ia secara konsisten terus memupuk persahabatan dengan Tuhan.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon