Menulis, Perjuangan Melawan Lupa!


gambar dari triwahyudi.com
Saat duduk dibangku SMP atau SMA, Pak Guru di kelas sering mengatakan bahwa menulis catatan ibarat membuat cadangan, cadangan saat kita lupa akan apa yang pernah dipelajari dikelas. Jika memiliki catatan pelajaran kita dapat melihat kembali catatan yang telah lalu jika kita lupa. Begitu pentingnya catatan, Sampe-sampe sang guru sering menghukum murid-muridnya yang tidak membuat catatan pelajaran. Sampai hari ini, barangkali bagi murid SD-SMP-SMA, jika tidak memiliki catatan akan terkena hukuman dari gurunya.
Itu dulu, dan kini pun sebenarnya hampir tidak jauh berbeda. Hanya saja jika dulu hampir setiap  pelajaran kita catat semua dan merupakan satu kewajiban yang dititahkan kepada semua murid, kini kita hanya mencatat point-point yang kita anggap penting saja, saat kuliah. Saat kita lupa atau setidaknya saat kita menghadapi ujian, untuk mengembalikan memori kita akan semua pelajaran yang kita dapat, kita buka dan baca kembali catatan yang kita buat. Dan itulah gunanya catatan, mengikat agar tidak kabur dan mengingatkan kembali.

Memfungsikan Memori
Selangkah lebih maju, kesadaran akan sekedar mencatat sebagai pengingat dan pengikat bergeser menjadi sebuah kebutuhan. Kebutuhan melihat dunia secara baru. Kebutuhan yang tidak hanya melakukan tafsir atas dunia, tetapi menafsir untuk melakukan perubahan, walaupun hanya perubahan kecil yang ada pada diri. 

Setelah banyak masukan pengetahuan dan wawasan tentang dunia, tentang hidup dan tentang lainnya yang berserakan tak teratur, kita mencoba meramunya kembali. Ramuan baru tersebut adalah cara baru dalam melihat dunia, hasil dari catatan-catatan kita dari para pemasok ilmu dulu, kita muntahkan kembali melalui cara pandang kita yang baru. Memandang dunia yang sama dengan sudut pandang yang berbeda. Dalam bentuknya yang konkrit cara memandang tersebut kita ejawantahkan dalam bentuk tulisan. Menulis adalah persfektif baru kita dalam memandang dunia tersebut.

Menulis (bukan menulis catatan, tapi hasil olah pikir) merupakan hasil pemaknaan dan interpretasi terhadap sejumlah pengetahuan. Untuk memperoleh makna dan menguatkan semacam analisis terhadap pemaknaan dan interpretasi tersebut membutuhkan pemanggilan kembali file-file yang telah lama kita terima, sejak masuk masa sadar saat kita beranjak kanak-kanak sampai memiliki kesadaran penuh. 

File-file tersebut ada yang telah tersimpan sejak lama, ada pula yang baru. Bagi file yang baru, bukan hal sulit jika kita mengingat kembali atau sekedar menengok catatan kemarin, tetapi bagi file lama, tentu kita harus mengingat dengan keras peristiwa yang telah lampau tersebut.  JIka Otak diibaratkan dengan hardisk sebuah komputer, maka file lama tersebut harus kita cari melalui fasilitas search, sama halnya jika kita mencari file di mesin pencari google, yang muncul lebih dulu adalah file yang paling update.

Pekerjaan memanggil kembali file-file lama dalam otak kita adalah pekerjaan dalam memfungsikan memori secara optimal, memori yang memiliki fungsi merekam dan menyimpan file juga melakukan pemanggilan file-file tersebut. Salah satu optimalisasi dalam mengoptimalkan memori tersebut dalam dunia psikologi adalah dengan cara repetisi, yaitu mengulang-ulang memanggilnya. Memanggil bisa secara pasif bisa juga aktif, memanggil secara pasif bisa tanpa sengaja, teringatkan oleh satu peristiwa, namun juga secara aktif yaitu dengan sengaja mengingat kembali.

Meminimalisir Kepikunan
Menulis merupakan pemanggilan secara aktif file-file yang tersimpan di dalam memori tersebut. Seberapa sering kita menulis menunjukan seberapa sering kita mengingat. Diibaratkan kita sering bertemu seseorang maka kita tidak akan cepat lupa terhadap seseorang tersebut. Oleh Karena itulah bagi saya pribadi, menulis merupakan perjuangan melawan lupa, karena ketika menulis, kita melakukan pemanggilan ulang terhadap file-file yang tersimpan secara tidak beraturan dalam memori kita. Kita berusaha mengingat apa yang pernah kita pelajari, apa yang pernah kita baca, apa yang pernah dilakukan, apa yang pernah kita lihat, apa yang pernah kita dengar, apa yang pernah kita rasa—dengan kata lain, kita berusaha mengingat kembali peristiwa indra atau mental yang pernah kita alami. 

Proses mengingat tersebut merupakan bagian dari berfikir, menulis adalah bagian dari memuntahkan segala macam unek-unek otak kita (berfikir). Berfikir melibatkan sensasi sebagai proses indrawi, persepsi yang sudah mulai melibatkan proses mental dan memory sebagai proses mental. Kegiatan secara berulang dan disengaja proses berfikir ini merupakan perjuangan melawan lupa yang dapat dilakukan melalui proses menulis pandangan-pandangan kita. Proses ini kata seorang psikolog dapat meminimalisir kepikunan dalam diri seseorang menjelang masa lansia. Aktifitas menulis dengan demikian dapat juga meminimalisir kepikunan karena melibatkan aktifitas berfikir yang mengoptimalkan memory seseorang.


Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon