Teori Komunikasi Massa


Beberapa tahun ke belakang, cukup terkenal satu jargon/ pernyataan yang mengatakan “Ah teori!”. Dalam pemahaman kita akan teori yang dinyatakan tersebut sangat sederhana, bisa jadi hanya semacam kata-kata saja yang tidak pernah adakan kejelasannya, atau hanya sebuah pemikiran yang mengawang-ngawang sehingga mustahil untuk mewujud. Ada benarnya pemahaman kita akan teori tersebut seperti dikatakan oleh Turner (Nuruddin,2009: 161), yaitu”Cerita tentang bagaimana  dan mengapa sesuatu itu terjadi. Para ahli biasanya memulai dengan asumsi menyeluruh, termasuk seluruh bidang sosial yang dibentuk oleh aktifitas manusia, menyatakan landasan kepastian dan proses serta
sifat  dasar yang menerangkan pasang surutnya peristiwa dalam proses yang lebih khusus.” Sementara itu menurut Bowers dan Courtrigh mendefinisikan bahwa teori adalah seperangkat pernyataan yang menyatakan hubungan antarvariabel. Sedangkan Bailey menyatakan bahwa teori adalah penjelasan dan pemprediksian fenomena sosial yang berhubungan dengan subjek ketertarikan kepada beberapa fenomena yang lain.(Nuruddin, 2009: 162). Ilmuwan komunikasi, Stephen W. Littlejohn (2009) menyederhanakan teori sebagai pemikiran, konsep, penjelasan dan ilmu-ilmu dari beberapa aspek pengalaman manusia.

Menurut Littlejohn,”Semua teori merupakan abstraksi. Mereka selalu mengurangi pengalaman menjadi sebuah bentuk kategori-kategori dan sebagai hasilnya selalu meninggalkan sesuatu. Sebuah teori memfokuskan  perhatian pada sesuatu—pola, hubungan, variabel—dan mengabaikan yang lainnya. Tidak ada teori yang akan mengungkapkan semua kebenaran atau mampu untuk benar-benar menyampaikan subjek atau penelitiannya. Teori-teori berfungsi untuk sebagai panduan yang membantu kita memahami, menjelaskan, mengartikan, menilai dan menyampaikan.” (2009:22).

Abraham Kaplan seperti dikutif Littlejohn menulis bahwa bentuk sebuah teori bukan hanya penemuan dari sebuah fakta tersembunyi; teori adalah sebuah cara untuk melihat fakta, menyusun dan menunjukannya. Stanley Deetz menambahkan bahwa sebuah teori  adalah sebuah cara untuk melihat dan memikirkan dunia. Oleh karena itu, hal tersebut lebih baik jika dilihat sebagai kacamata yang digunakan seseorang dalam pengamatan daripada  sebuah cerminan alam. Teori merupakan tafsiran sehingga mempertanyakan kegunaan sebuah teori lebih bijaksana daripada mempertanyakan kebenarannya.  Kebenaran apapun dapat diperlihatkan melalui beragam cara, tergantung pada orientasi ahli teorinya.
Sebuah teori terikat dengan tindakan secara intim. Bagaimana kita berfikir menunjukan cara bertindak kita dan bagaimana kita bertindak menunjukan cara berfikir kita. Ia berisi seperangkat pelajaran untuk membaca dunia dan bertindak di dalamnya. (Littlejohn, 2009:23). Teori memperkenalkan ide-ide baru dan membantu anda melihat sesuatu dengan cara yang baru.
Untuk mendalami teori, ada beberapa dimensi teori yang harus difahami;
1.    Asumsi filosofis atau kepercayaan dasar yang mendasari teori.
Titik awal semua teori adalah asumsi-asumsi filosofis yang mendasarinya. Asumsi yang dipakai oleh seorang ahli teori menentukan bagaimana sebuah teori akan digunakan. Asumsi filosofis dibagi menjadi tiga jenis; asumsi ontologis atau pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaannya, apa yang mendasari keberadaannya; asumsi epistemologi atau pertanyaan tentang asal-usul pengetahuan, bagaimana sifat dan pengetahuan tersebut diperoleh; dan asumsi aksiologi atau pertanyaan-pertanyaan tentang nilai kegunaan, apakah teori tersebut berharga.

2.    Konsep atau susunan-susunan pembentukan
Konsep merupakan susunan materi-materi yang dikelompokan ke dalam kategori-kategori konseptual menurut kualitas-kualitas yang diamati. Konsep memberitahukan apa yang dilihat oleh ahli teori dan apa yang dianggap penting. Untuk menentukan konsep, ahli teori komunikasi mengamati banyak variabel dalam interaksi manusia dan menggolongkannya serta menandainya menurut pola-pola yang diterima.

3.    Penjelasan atau hubungan dinamis yang dihasilkan oleh teori, dan
Sebuah penjelasan merupakan dimensi selanjutnya dari teori dan di sini para ahli teori mengidentifikasi keteraturan atau pola dalam hubungan antarvariabel. Penjelasan terbagai dua; penjelasan kausal dan penjelasan praktis. Penjelasan kausal dihubungkan  sebagai hubungan sebab akibat dengan salah satu variabel yang dianggap sebagai hasil atau akibat dari variabel lainya. Sebaliknya penjelasan praktis menjelaskan tindakan-tindakan sebagai tujuan yang terhubung dengan tindakan yang dirancang untuk mencapai tujuan di masa yang akan datang.

4.    Prinsip atau panduan untuk tindakan
Prinsip merupakan acuan yang memungkinkan anda untuk mengartikan sebuah kejadian, membuat penilaian mengenai apa yang terjadi dan selanjutnya memutuskan bagaimana  bertindak dalam situasi tersebut. Sebuah prinsip memiliki tiga bagian: (1) mengidentifikasi sebuah situasi atau kejadian, (2) menyertakan seperangkan norma atau nilai, (3) menegaskan sebuah hubungan antara susunan tindakan dan akibat yang mungkin

Tradisi-tradisi Teori Komunikasi
1.    Tradisi semiotik; tradisi semiotik terdiri  atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda di merepresentasikan benda, ide, keadaan, situasi, perasaan dan kondisi luar di luar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tidak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi, melainkan hampir semua persfektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi. Semiotik dibagi ke dalam tiga wilayah; semantik, sintaktik dan pragmatik.  Semantik berbicara bagaimana  tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukan oleh tanda-tanda. Sintaktik atau kajian hubungan diantara tanda-tanda. Tanda-tanda sebetulnya tidak pernah berdiri sendiri. Hampir semuanya  selalu menjadi sistem tanda atau kelompok tanda yang lebih besar yang diatur dalam cara tertentu. Sedangkan pragmatik memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengarh tanda pada kehidupan sosial.

2.    Tradisi fenomenologis. Tradisi ini berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasikan pengalaman-pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Tradisi ini memperlihatkan pada pengalaman sadar seseorang.


3.    Tradisi Sibernetika. Sibernatika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang di dalamnya banyak orang saling berinteraksi, mempengaruhi satu sama lain.

4.    Tradisi sosiopsikologis. Kita memiliki tubuh, otak, dan kulit yang membedakan antara kita dan dunia luar atau orang lain. Walaupun kita berbeda dengna yang lain namun kita sadar bahwa kita merupakan bagian dari komunitas yang melakukan interaksi sosial. Pendekatan individualis memberi ciri tradisi sosiopsikologis yang merupakan hal yang umum dalam pembahasan komunikasi serta lebih luas dalam ilmu pengetahuan sosial dan prilaku.

5.    Tradisi sosiokultural. Tradisi ini mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni oleh manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita, tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas dan budaya.

6.    Tradisi kritik. Tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan yang mendominasi masyarakat. Tradisi kritik mencoba membuka kondisi sosial yang dianggap menindas oleh kekuatan dominan dan menawarkan emansipasi.

7.    Tradisi retorika. Berkaitan dengan seni penyusunan argumen dalam berkomunikasi. Fokus retorika mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan di sekitarnya dan untuk membangun dunai tempat mereka tinggal.



Teori-teori Komunikasi Massa
            Seperti dijelaskan sebelumnya, teori seringkali bersifat parsial dan sesuai dengan sudut pandangan dari ahli teori, maka dalam teori-teori komunikasi hampir semua teori tidak mencakup keseluruhan. Ada yang menekankan pada Media,efekmedia, dan komunikannya sendiri. Dalam hal ini teori-teori komunikasi massa menekankan salah satu elemen penting dalam komunikasi massa. Seperti yang menekankan pada medianya terdapat teori technological determinism, yang menekankan pada efek media terdapat teori use and gratification, agenda seting, kultivasi. Sedangkan menyangkut komunikannya terdapat intekasi simbolik, konstruksi sosial, kritis, kultural, semiotika.
1.    Hypodermic Needle Theory
Audience, anggota masyarakat dianggap mempunyai ciri khusus yang seragam dan dimotivasi oleh faktor biologis dan lingkungan serta mempunyai sedikit kontrol. Tidak ada campur tangan diantara pesan dan penerima. Artinya bahwa pesan yang sangat jelas dan sederhana akan jelas dan sederhana pula responnya. Jadi antara penerima tidak ada perantara  atau langsung diterimanya. Teori ini lebih menitikberatkan pada instuisi daripada bukti ilmiah, peneliti ilmu sosial yang agak kuno dan sedikit bukti empiris. Teori ini juga memiliki asumsi bahwa pengelola media lebih pintar dibandingkan dengan audience  sehingga audience dapat ditundukan dan dibentuk sedemikian rupa akibatnya audience dikelabui oleh siaran. Teori ini mempelajari masalah efek.
2.    Cultivation Theory
Menurut teori kultivasi, televisi menjadi media atau alat utama di mana para penonton televisi belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Persepsi apa yang terbangun di benak penonton tentang masyarakat dan budaya sangat ditentukan oleh televisi. Melalui kontak televisi, penonton belajar mengenai dunia, manusianya, nilainya serta adat kebiasaannya. Teori kultivasi mengkaji masalah media dan audience.
3.    Cultural imperialism theory
Teori ini menyatakan bahwa bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia. Hal ini berarti bahwa media massa Barat mendominasi  media massa di dunia ketiga. Adanya dominasi ini mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ke tiga.  Sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Saat terjadi peniruan budaya, maka terjadilah cultural imperialism.
4.    Media equation theory
Media equation theory menjelaskan bahwa media dianggap sebagai sejajar dengan manusia. Theory ini mengibaratkan bahwa media dapat berbicara. Persoalan-persoalan hidup dapat dicurhatkan kepada media.
5.    Spiral of Silence theory
Teori ini menekankan pada suara mayoritas atau dominan yang dapat membungkap suara minoritas. Teori ini ingin menjawab mengapa orang-orang dari kelompok minoritas sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas. Seseorang meras perlu menyembunyikan sesuatunya ketika berada dalam kelompok mayoritas. Teori ini menitikberatkan peran opini dalam interaksi sosial. Sebagaimana kita ketahui, opini publik sebagai sebuah isu kontroversial akan berkembang pesat saat dikemukakan melalui media massa. Ini berarti opini publik orang-orang juga dibentuk, disusun, dan dikurangi oleh peran media massa.


6.    Tecnological Determinism Theory
Teori ini mendasarkan pada perubahan yang terjadi pada berbagai macam cara berkomunikasi yang akan membentuk pula keberadaan manusia itu sendiri. Teknologi membentuk individu bagaimana cara berfikir, berperilaku dalam masyarakat dan akhirnya teknologi mengarahkan manusia untuk bertindak.

7.    Diffusion of Innovation theory
            Teori ini pada awalnya mendudukan peran pemimpin opini dalam mempengaruhi sikap dan perilaku masyarakat. Artinya, media massa mempunyai pengaruh yang kuat dalam menyebarkan penemuan baru. Apalagi jika penemuan baru tersebut disampaikan dan disebarluaskan oleh tokoh masyarakat. Difusi mengacu pada penyebaran informasi baru, inovasi, atau proses baru ke seluruh masyarakat.

8.    Use and Gratifications Theory
Teori ini mengatakan bahwa  pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media berusaha untuk mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenuhi kebutuhannya. Pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya. Teori ini merupakan kebalikan dari teori jarum hipodermik.
9.    Agenda setting theory
Teori ini mengatakan bahwa media tidak selalu berhasil memberitahu apa yang kita pikir, tetapi media tersebut benar-benar berhasil memberitahu kita berfikir tentang apa. Media massa selalu mengarahkan kita pada apa yang harus kita lakukan. Media memberikan agenda-agenda melalui pemberitaannya, sedangkan masyarakat hanya mengikutinya. Media memberitahu kepada kita apa yang penting dan apa yang tidak. Dengan kata lain, agenda media akan menjadi agenda kita. Agenda media juga bisa sengaja memunculkan yang satu dan menenggelamkan yang lain.

10. Media Critical Theory
Menurut teori ini, media tidak boleh hanya memberikan fakta atau kejadian yang justeru memperkuat status quo namun juga harus terus mengkritisi setiap ketidakadilan yang ada di sekitarnya. Hal ini juga berarti, media tidak boleh tunduk pada para pemilik modal yang kadang ikut menghegemoni isi media.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon