Burlesque dan Perjuangan Sang Bintang

“Mun hayang ngarih kudu ngarah, Mun hayang peurah kudu peurih” (Jika jingin menanak maka harus, ikhtiar Jika ingin hasil harus berjuang). Merupakan pepatah Sunda yang kerap saya dengar dalam keseharian hidup dari orang tua ataupun teman sebaya. Kurang lebih maknanya adalah, jika kita ingin berhasil dalam mencapai sesuatu, maka kita harus berusaha untuk mencapai tujuan tersebut, hasil tidak akan diperoleh tanpa adanya semangat juang yang nyata, tanpa mengenal lelah, apalagi cepat bosan. Itulah prinsip bagi orang-orang yang ingin berhasil dalam hidupnya.

Review
Menjadi seorang bintang tidak ujug-ujug (tiba-tiba), tetapi perlu kerja keras. Kita lihat karir para seleb dan public pigure di negeri kita yang tidak sedikit merangkak dari bawah. Mulai dari casting, ngontrak kostan sempit, bertahap mulai banyak tawaran manggung atau syuting hingga menjadi bintang yang paling besar honornya. Hal tersebut saya temukan dalam film Burlesque. Menceritakan perjalanan seorang bintang penyanyi cafe (Burlesque), Alice (Cristina Aquelera) yang bekerja sebagai pelayan Bar yang menginginkan kehidupannya berubah dengan mengadu nasib ke kota Besar. 

Alice, memutuskan resign dari sebuah Bar kota kecil tempatnya bekerja. Berbekal tabungan hasil bekerja di Bar, ia berangkat ke kota besar (LA). Berbekal Koran yang berisi iklan lowongan pekerjaan, ia mulai bergrilya dari satu tempat ke tempat lainnya, namun tidak menemukan hasil. Suatu malam, saat ia berjalan di tengah gemerlapnya lampur kota, ia melihat seorang penari latar di halaman sebuah Bar yang kemudian menariknya untuk masuk. Dari sinilah ia mulai berfikir jika tempat ini bisa mewujudkan mimpinya.

Merogoh kocek yang cukup besar (20 Dollar) untuk masuk Burlesque, ia menyaksikan pertunjukan music dari Tess (Cher) sang pemiliki Bar yang membuatnya terpesona. Berawal dari sinilah, ia mencoba melamar pekerjaan kepada pemiliki Bar, namun tidak memperoleh hasil. Di samping karena kesibukan Tess, kegagalan Alice juga karena situasinya tidak tepat, Bar tersebut berada diujung kebangkrutan. Namun Alice tidak patah semangat, Ia akhirnya rela menjadi pelayan Bar tanpa harus dibayar. 

Sepulang dari pekerjaannya yang tidak mendapatkan bayaran, ia mendapati kontrakannya berantakan, dan ternyata seorang perampok telah mengobrak-abrik kamarnya, uang perbekalan yang disimpannya di box closet pun raib. Ia mulai frustasi, namun ia ingat punya kenalan seorang bartender (Jack). Bermodal curhat dan rasa malu ia ditampung di kontrakan Jack.

Teringat buku ‘the power of kepepet’. Saat tidak ada lagi yang dimilikinya, kebutuhan yang mendesak, ia nekat untuk tampil di depan Tess demi mendapatkan pekerjaannya sebagai penari setengah telanjang. Kegigihan dan keuletannya membuahkan hasil, ia menjadi salah satu penari dan penyanyi lipsing. Saat seseorang yang iri terhadap dirinya, ia menemukan momentum yang mengantarkannya menjadi penyanyi sungguhan. Tess pun mempersiapkan untuk liveshow dirinya tanpa lipsing. Penampilannya menjadi pendongkrak membludaknya pelanggan Burlesque.

Kegigihan dan Kepemimpinan
Kesuksesan tidak akan pernah didapatkan seseorang tanpa adanya kegigihan untuk berikhtiar. Ikhtiar tidak hanya usaha, tetapi juga percobaan tanpa bosan dan lelah. Namun tentu, sebuah ikhtiar harus dibarengi dengan kemampuan (skill), dan itulah kunci agar bisa berkompetisi dengan siapapun dalam bidangnya masing-masing. Makna ini secara eksplisit tergambar dari film ‘Burlesque’
Di samping itu, salah satu makna yang ingin di sampaikan oleh film ‘Burlesque’, adalah keterbukaan seorang pemimpin. Tess sebagai pemiliki Bar sekaligus pemegang kebijakan, tidak sungkan untuk memberikan kesempatan kepada orang yang berikhtiar, ia pun tidak sungkan untuk menerima masukan dari anak buah yang dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Tess menjadikan lahan usahanya layaknya sebuah rumah yang memiliki anggota keluarga. Di sini setiap pekerja yang menjadi bagian dari keluarga perusahaan harus saling menjaga dan mengingatkan. Itulah kepemimpinan yang dijalankan oleh Tess; terbuka, demokratis, kekeluargaan, sekaligus juga tidak sungkan untuk terjun ke wilayah teknis.
Jangan Ditonton!
Bagi yang alergi dengan aurat, film ini jangan sekali-kali ditonton, karena suguhan penampilan panggungnya tidak lebih daripada mengumbar (maaf) belahan dada, udel dan pantat, bahkan dalam satu pertunjukan dengan sangat jelas mengarah ke bau pornografi walaupun dikemas dengan humor. Tetapi bagi yang mampu mengambil hikmah dari film ini, tidak ada salahnya belajar dari perjuangan Alice, bagaimana mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya, tentu harus kerja keras, ulet, memiliki skill, sedikit memaksa, cerdas serta mengedepankan persahabatan daripada tawaran hidup glamour. Pada sisi lain, bagi penggemar tarik suara, film ini menyunguhkan suara merdu dari Cher dan Cristina Aguelera yang menjadi pemeran utama sebagai Tess dan Alice. ‘Kecerdasan’ olah suaranya benar-benar membius, bahkan setiap penampilannya tidak dipotong oleh adegan lain sebelum lagunya diakhiri.

Kotributor Opini Media Massa, Pernah menjadi redaksi dua majalah 2011-2014. Sedang menggiatkan kembali membaca buku dan menulis. Tertarik mengkaji media dan komunikasi. #Tidak lagi idealis, tapi tidak jatuh pada pragmatisme, hanya mencoba realistis.#

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Salam. Terima Kasih telah berkunjung dan berkomentar, semoga jadi silaturahmi. Tunggu saya BW balik ya. Terima kasih EmoticonEmoticon